Ibnu ‘Allan Ash-Shiddieqy (980-1058) dan Orang-orang Jawa


Ibnu AllanSiapa yang tak mengenal sosok Muhammad bin ‘Ali bin ‘Allan Ad-Dimasyqi? Ulama tersohor Makkah di zamannya. Karya tulisnya dipelajari di seluruh seantero alam Islam. Kendati hidup dalam keadaan fakir, namun hal tersebut tak menghalanginya lesu belajar. Bahkan ia sudah berhasil mengahfal Al-Quran sedari dini. Di antara guru terpentingnya ialah ‘Abdurrahim bin Hasan Al-Hanafi, Ahmad bin Ibrahim bin ‘Allan Al-Makki, Muhammad bin Muhammad bin Jarullah Al-Hasyimi, ‘Umar bin ‘Abdurrahim Al-Bashar. Keberhasilannya belajar dari ulama Makkah membuatnya banyak menulis karya ilmiah yang terus digandrungi oleh kaum siak dan ulamanya. Sebut saja misalnya:

  • Dhiya’ As-Sabil Ila Ma’ani At-Tanzil (Lentera Jalan Menuju Makna Al-Quran)
  • Dalil Al-Falihin ila Thuruq Riyadh Ash-Shalihin
  • Al-Futuhat Ar-Rabbaniyyah ‘ala Al-Adzkar An-Nawawiyyah
  • Tanbih Dzawi Al-Idrak bi Hurmah Tanawul At-Tanbak (Rambu-rambu Untuk Orang-orang Cerdas Terkait Haramnya Rokok)
  • I’lam Al-Ikhwan bi Tahrim Ad-Dukhan (Pemberitahuan Pada Handai Taulan Akan Haramnya Rokok)
  • Badi’ Al-Ma’ani Syarh ‘Aqidah Asy-Syaibani
  • Husn Al-‘Inayah fi Syarh Al-Kifayah
  • Raf’ Al-Iltibah bi Bayan Isytirak Ma’ani Al-Fatihah wa Surah An-Nas (Pelebur Kerancuan Terkait Hubungan Makna Makna Surat Al-Fatihah dan An-Nas)
  • Ittihaf Ats-Tsiqat li Al-Muwafaqat
  • Dan banyak lainnya.

Ibnu ‘Allan Ash-Shiddieqy dan Orang-orang Jawa di Makkah

Syaikh ‘Abdurrahman Al-Khayari meriwayatkan, “Beliau merupakan Suyuthi di zamannya. Beliau biasa membuka majelis dekte hadits dan lainnya.Antara Maghrib dan ‘Isya’, beliau mengisi pengajian Shahih Al-Bukhari. Setiap malamnya, beliau memberikan ceramah dengan tema yang sesuai dengan makna hadits yang dibacanya itu. Beliau biasa membawakan pendapat para pensyarah hadits melalui hafalannya yang membuat pendengar merasa takjub nun kagum.

Kendati demikian, masyarakat Makkah tidak memiliki minat belajar darinya. Sedikit orang Makkah yang menghadiri pengajiannya. Satu atau dua saja. Justru hadirin didominasi oleh orang-orang Jawa dan Yaman…”

“Di akhir umurnya, beliau menjadi orang yang kaya raya dikarenakan banyaknya pemberian dari orang-orang Jawa dan hartanya yang dimudharabahkan kepada penduduk Makkah…”

Refrensi:

Ibnu ‘Allan wa Hayatuh wa Atsaruh

Khabaya Az-Zawaya

Al-Mukhtashar min Nasyr An-Nur wa Az-Zahar

Nazhm An-Nur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s