Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, Siapakah Gerangan?


WahhabiOleh Syaikh Abu ‘Umar Usamah Al-‘Utaibi

Sosok Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab memang telah harum namanya di kalangan Ahlussunnah dengan perhatiannya terhadap ‘aqidah salafiyyah dan jihadnya dalam mendakwahkan dan mensosialisasikannya. Namun demikian sebagian Ahlussunnah ada yang menyangka bahwa Syaikh tidak memiliki perhatian terhadap disiplin ilmu hadits dengan membedakan mana yang shahih dan mana yang bermasalah. Perasangka semacam ini sebetulnya tidak benar. Bahkan Syaikh merupakan imam dalam bidang hadits, imam dalam disiplin fiqih, dan imam tafsir dalam waktu yang sama.

Dalam pembahasan ringkas ini aku cukup menerangkan apa yang telah kusampaikan dalam muqaddimah tahqiq kitab Taisir Al-‘Aziz Al-Hamid.

Aku memohon kepada Allah Ta’ala taufiq, kelurusan, petunjuk, dan bimbingan.

Pembahasan ini kubagi dalam dua bagian:

Pembahasan Pertama: Biografi Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab

Pembahasan Kedua: Kepakarannya dalam Bidang Hadits Serta Studi Ringkas Kitab Tauhid

Pembahasan Pertama: Biografi Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab

Nama, Nasab, dan Kelahirannya

Beliau adalah Syaikhul Islam, sosok yang berpengetahuan luas, revormer ajaran Islam yang sempat hilang, Imam Abul Husain Muhammad bin ‘Abdul Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin Rasyid Al-Wuhaibi At-Tamimi.

Nasab Syaikh dikenal hingga suku Tamim yang amat terkenal itu. Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya beliau berkata, “Aku masih senantiasa mencintai suku Tamim karena tiga alasan yang pernah kudengar dari Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Mereka adalah orang-orang yang paling keras menghadapi Dajjal.’

Abu Hurairah berkata, “Ketika mereka menyerahkan zakat, Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Ini merupakan zakat masyarakat kita.’

Abu Hurairah menuturkan pula, “Saat hamba sahaya dari kalangan suku Tamim berada di tangan ‘Aisyah, beliau bersabda, ‘’Aisyah, bebaskanlah budak itu karena ia pun termasuk keturunan Nabi Isma’il.”

Syaikh Muhammad Lahir pada tahun 1115 H di ‘Uyainah yang merupakan daerah dekat kota Riyadh.

Pertumbuhan, Kesibukannya Belajar, dan Dasftar Guru-gurunya

Syaikh tumbuh besar di pangkuan ayahnya, Syaikh ‘Abdul Wahhab, sosok ulama pakar fiqih yang memegang jabatan qadhi. Muhammad belajar beberapa disiplin ilmu pada ayahnya itu.

Muhammad telah berhasil menghafal Al-Quran saat usianya baru 10 tahun. Sehingga ayahnya berani mempersilakannya maju mengimami shalat berjamaah yang ketika itu usianya menginjak 12 tahun. Pada usia itu pulalah Muhammad melangsungkan pernikahan. Kendati demikian, beliau merupakan sosok orang yang tekun belajar. Ia mempelajari fiqih madzhab hanbali, tafsir, hadits, dan aqidah dari ayahnya sendiri.

Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab merupakan sosok yamh sangat menggemari kitab-kitab Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dan Imam Ibnul Qayyim. Kecintaannya terhadap baitullah membuatnya harus melakukan perjalanan ke sana untuk menunaikan kewajiban berhaji serta meneguk ilmun dari ulama-ulama dua kota suci, Makkah dan Madinah.

Mulanya ia pergi ke Makkah guna menunaikan ibadah haji dan berjumpa dengan sejumlah ulama Makkah dan Madinah. Di antara yang ia jumpai ialah Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim Alu Saif, Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi, dan beberapa ulama lainnya. Selepas itu ia kembali ke kampung halamannya dan kemudian melawat menuntut ilmu ke Iraq. Ia lebih banyak belajar di Basrah manakala dirinya bertinggal di sisi Syaikh Muhammad Al-Majmu’i.

‘Abdurrahman bin Hasan, cucu Syaikh, meriwaqyatkan bahwa kakeknya tersebut menyusun Kitab Tauhid saat keberadaannya di Basrah yang dihimpunnya dari kitab-kitab hadits yang terdapat di madrasah-madarah Basrah.

Selanjutnya beliau bermaksud melawat ke Syam namun terhalang. Sehingga ia harus kembali ke Nejed. Dalam perjalanan pulangnya ke Nejed, ia sempat melewati daerah bernama Ahsa’, Di situ ia menyempatkan menimba ilmu dari sejumlah ulama setempat.

Dakwah dan Jihadnya di Jalan Allah

Sekembalinya Muhammad dari merantau menuntut ilmu, ayah dan keluarganya berpindah ke Huraimila, sebuah tempat yang berdekatan dengan kota Riyadhn yang jaraknya kurang dari 100 km. Di situ ia mulai mengajarkan menyebarkan ilmunya dan mengajarkan ilmu-ilmu yang diperolehnya dari dua kota suci, Iraq, dan Ahsa’ sesuai yang Allah tafiqkan padanya.

Muhammad adalah sosok yang amat cerdas, cemerlang, tekun belajar, serta tekun berdakwah, pemberani, tidak khawatir mengatakan kebenaran dan menentang kebatilan. Ia sendiri telah banyak mengambil pelajaraan dari beberapa ulama yang darinya ia belajar terkait kecintaan terhadap aqidah dan memandangnya sebagai sesuatu yang amat agung, yang paling utama ialah Syaikh Muhammad Hayat As-Sindi dan Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim Alu Saif yang dijumpainya di Madinah. Mereka berdualah yang mengarahkan Muhammad bin ‘Abdul Wahhab pada jalan aqidah salafiyyah.

Muhammad bin ‘Abdul Wahhab sangat mengingkari bid’ah dengan amat keras. Keberaniannya terlihat nampak saat ia mengingkari bid’ah manakala ia belajar di kota Basrah. Beliau mengingkari fenomena-fenomena kemusyrikan yang ada kaitannya dengan kubur serta orang-orang mati, pepohonan, serta bebatuan. Basrah memang lebih didominasi orang-orang Syi’ah-Rafidhah di masa beliau dan hingga masa kita sekarang ini. Sikapnya itu kemudian membuatnya disakiti orang-orang Rafidhah dan para penyembah kuburan semisal mereka. Beliau pun akhirnya pergi dari kota tersebut hingga hampir mati sekiranya bukan karena karunia Allah Ta’ala. Datanglah seorang laki-laki dari penduduk Zubair yang mengamankannya, dan memberinya makan dan minum, kemudian diantarkannya ke tempat yang diinginkannya.

Ringkasnya, Syaikh Muhammad merupakan sosok penasehat untuk kembali pada Allah, Kitab-Nya, dan Rasulnya; penasehat pemerintah kaum muslimin dan masyarakatnya. Inilah episode pertama kehidupan Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di masa mudanya yang ternyata diterima di tengah banyak masyarakat namun di saat yang sama juga memperoleh penentangan dari mayoritas yang membuatnya lebih berani lagi, lebih lantang, dan antusias pada masyarakat negerinya yang baru, Huraimila. Banyaknya gangguan yang diterimanya menyebabkan ayahnya memintanya untuk meminimalisir kegiatannya itu.

Manakala ayahnya telah meninggal, Syaikh melanjutkan dakwahnya. Beliau mulai menasehati orang-orang dan mengajari mereka. Syaikh juga menolak para perusak di muka bumi dari kalangan kaum-kaum fasik, pelaku bid’ah, hingga orang-orang sebagian perusak di bumi berkumpul di Huraimila untuk membunu Syaikh dan mengepung rumahnya di malam hari. Sebagian orang memberi tahu Syaikh dan memergoki orang yang naik ke atas rumah Syaikh dengan niat membunuhnya. Syaikh pun disarankan supaya pergi saja dari Huraimila. Saran itu pun didengarnya. Beliau akhirnya ke Uyainah. Pristiwa ini terjadi pada tahun 1155 H.

Di Uyainah itu Syaikh berjumpa dengan kepala daerah bernama Utsman bin Muammar. Syaikh mengajaknya supaya menerapkan hukum syariah, mengajaknya bertauhid, dan menjamin akan datangnya pertolongan dan kesuksesan, seperti yang Allah janjikan dalam al-Quran. Utsman bin Muammar pun menerima ajakan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Kemudian Syaikh bergegas menghancurkan pepohonan yang dikeramatkan di maysrakat, kubah-kubah kuburan, menolak kemungkaran, dan menyelenggarakan hukum had di atas pertolongan Utsman bin Muammar.

Bersambung….

Sumber: http://saaid.net/monawein/t/9.htm

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s