talfiq“Ustadz, lalu bagaimana dengan talfiq madzhab?” tanyaku lebih lanjut.

Pertanyaan itu memang kerap sekali muncul dalam benak. Karena terkadang banyak permasalahan yang dihadapi seorang yang bermadzhab, dirinya sendiri di beberapa masalah mengambil pendapat selain madzhabnya dengan sejumlah alasan. Alasan yang paling masuk akal adalah dalil yang dipakai oleh madzhab lain lebih kuat dan lebih menentramkan hati.

“Talfiq boleh saja,” kata beliau,”Asalkan jangan sampai berlebihan. Seperti misalnya dalam satu masalah ia mengambil pendapat-pendapat ulama yang mudah. Contohnya permasalahan nikah. Dalam hal wali, ia mengambil pendapat Imam Abu Hanifah yang menyatakan bahwa wali bukan termasuk syarat sahnya menikah, dalam masalah saksi ia mengambil pendapat Imam Ahmad yang menyatakan tidak wajibnya saksi. Yang semacam ini akan merusak.”

“Ini seperti perkataan ulama yang berbunyinya, ‘Siapa yang mencari-cari ketergelinciran ulama dalam berpendapat, berarti ia telah menjadi zindiq,’ ya, ustadz?’ timpalku.

“Benar.”

[Diskusi ilmiah bersama Dr. Muhammad Al-Hasan bin Ahmad Asy-Syinqithi]

Iklan