Bermadzhab atau Tidak Bermadzhab?


bukuSalah satu fenomena yang banyak diperbincangkan masyarakat Muslim akhir-akhir dasawarsa ini ialah permasalahan bermadzhab. Dalam hal ini setidaknya ada dua suara yang lantang mencuat. Satu suara dengan lantangnya menolak bermadzhab. Kata mereka, bermadzhab merupakan salah satu bentuk taqlid dan cenderung meninggalkan teks-teks Al-Quran dan Hadits. Juga, masih kata mereka, bermadzhab merupakan upaya untuk tidak mau kembali pada Al-Quran dan Sunnah. Dalam panggung sejarah pun, tidak ada istilah bermadzhab sebelum datangnya imam-imam yang empat walaupun ada juga ulama-ulama besar di kalangan shahabat. Karenanya, Anda tak adan menjumpai istilah Bakri, Umari, ‘Utsmani, ataupun ‘Alawi. Sebab taqlid yang benar hanya kepada Al-Quran dan Sunnah.

Suara kedua lantang meneriakkan bahwa seorang muslim wajib bermadzhab. Karena mustahil orang akan mampu memahami Al-Quran dan As-Sunnah tanpa bermadzhab. Lagi pula pintu ijtihad sudah tidak terbuka lagi. Sejak wafatnya imam-imam mujtahid, sudah tidak ada celah berijtihad. Olehnya, jika ada teks imam madzhab yang secara lahiriah tidak bersesuaian dengan Al-Quran atau As-Sunnah, kiranya perlu ditakwilkan. Bahkan kalau perlu dipakai pula hadits-hadits palsu untuk mendukung madzhabnya itu.

Jika dicermati dan diteliti secara seksama, tentu seorang Muslim yang baik akan menolak dua suara yang sama-sama berlebihan. Dan telah menjadi semacam kaidah, di samping ada pikiran yang berlebihan, pasti ada cara pandang yang lebih moderat. Sebab, sebaik-baik perkara adalah pertengahan.

Dan ternyata benar. Ada suara yang dipandang lebih moderat dan masuk akal dibanding dua suara di atas. Suara tersebut dengan penuh santun mengatakan bahwa bermadzhab itu sah-sah saja. Bahkan boleh jadi wajib untuk konteks orang awam. Alasannya karena bermadzhab itu sebetulnya bukanlah tujuan, kan tetapi lebih sebagai sarana untuk memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Artinya pintu ijtihad masih tetap terbuka lebar sepanjang masa. Tentu saja untuk orang-orang yang sudah terkumpul pada dirinya alat-alat berijtihad.

Pendapat ini juga beralasan bahwa memang untuk melakukan syariat Islam, kebanyakan orang tidak akan mampu hanya dengan melihat Al-Quran dan As-Sunnah lantas ia menyimpulkan tata cara shalat, puasa, hukum pernikahan, secara sempurna. Kiranya ia perlu membaca kitab-kitab madzhab yang memberikan tafsiran dan menyimpulkan hukum-hukum Islam.

Sebetulnya, madzhab itu hanyalah alat untuk melengkapi pemahaman. Semua madzhab sepakat menjadikan AL-Quran dan As-Sunnah sebagai rujukan utama dalam membangun syariat. Namun ada hal lain yang diperlukan untuk menyempurnakan pemahaman. Ada yang kemudian menggunakan qiyas, ijma’, istihsan, praktek shahabat, dan seterusnya.

Dari sini Imam Abu Hanifah mengambil istihsan dan rakyu, Malik mengambil praktek ijma’ dan praktek shahabat di Madinah, Imam Syafi’i mengambil qiyas, Imam Ahmad mengambil fatwa shahabat. Lagi pula masing-masing madzhab ini ‘hanya’ meneruskan madzhab shahabat. Imam Abu Hanifah, misalnya, melanjutkan madzhab Imam ‘Abdullah bin Mas’ud. Demikian pula imam-imam yang lain.

Lebih lanjut, empat metode inilah kurang lebih orang mengambil jalur dalam membangun pandangannya. Kalau tidak ikut cara pandang Imam Abu Hanifah, boleh jadi ia ke cara pandang Imam Ahmad, atau Imam Malik, atau Imam Asy-Syafi’i. Ia tak mungkin keluar dari empat madzhab ini. Makanya jangan heran jika Imam Ibnu Rajab Al-Hanbali -rahimahullah- menulis risalah tentang tercelanya orang yang mengikuti selain madzhab yang empat.

Oleh karena itu jika ada orang yang mengaku tidak bermadzhab, maka sadar atau tidak sadar, orang tersebut sebenarnya bermadzhab pula. Walaupun mungkin tidak diakuinya. Lihatlah Imam Asy-Syaukani yang mendakwakan dirinya ijtihad. Kalau mau jujur, sebenarnya beliau ini bermadzhab Hanbali. Karena cara berfikirnya sama dengan cara berfikir pokok-pokok madzhab Hanbali.

Syaikh Dr. Yusuf Al-Qardhawi pun demikian. Dikatakan bahwa beliau mendakwakan ijtihad. Namun ternyata jika ditelusuri cara pandang beliau, nyatalah beliau bermadzhab Hanafi karena keselarasan berfikirnya dengan madzhab cetusan Imam Abu Hanifah ini.

Maka sangat disayangkan sekali ada suara-suara untuk meninggalkan kitab-kitab madzhab yang munurutnya tidak selaras dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh karena itu sangat berkesanlah apa yang disampaikan Syaikh Dr. ‘Amir bin Muhammad Fida’ Bahjat, bahwa di antara tujuan pokok memahami tarikh madzhab ialah menghormati pendapat para imam itu sendiri. Ternyata mereka tidak mungkin membangun pendapat tanpa mendasarkan pada Al-Quran dan As-Sunnah ataupun pelengkap pemahaman. Sehingga mungkin kalau tadi membaca Ar-Raudh Al-Murbi’, akan banyak berkomentar, “Pendapat ini bertentangan dengan hadits Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, atau, ‘Pendapat ini tak selaras dengan teks Al-Quran,’ dan berbagai komentar serupa lainnya.

Untuk konteks suara yang muncul di negeri ini, tidak jarang pula kita mendengar ajakan untuk tak bermadzhab. Madzhab yang benar hanyalah mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah. Maka kita katakan, orang yang mengikuti salah satu madzhab yang empat bukan bermakna tidak mengikuti Al-Quran dan As-Sunnah. Justru mereka menjadikan madzhab itu sebagai pelicin memahami Al-Quran dan As-Sunnah. Tentu saja dengan tidak memasukkan sikap ta’asub dalam dada.

Jadi, pentingkah bermadzhab?

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s