Wajahmu Tak Setampan Hatimu


hatiDari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ إِلَى أَجْسَامِكُمْ ، وَ لَا إِلَى صُوَرِكُمْ ، وَ لَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوْبِكُمْ وَ أَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak ‘menganggap’ jasmani kalian, tidak pula rupa kalian. Namun Dia akan melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (HR Muslim)

Fiqih Hadits:

  1. Seyogyanya penampilan lahiriah itu hanyalah fatamorgana yang kerap kali menyesatkan manusia. Berapa banyak orang yang penampilannya tidaklah menarik, bagaikan ‘Atha bin Abu Rabah yang hitam, namun lebih baik di sisi Allah daripada seribu manusia tampan mana pun.
  2. Isensi kesholehan orang itu bukan terletak pada tampilan lahiriahnya semata, akan tetapi lebih pada hati yang diterjemahkan oleh amal lahiriah.
  3. Hendaknya seorang muslim lebih banyak mendiagnosa hatinya daripada penampilan lahiriahnya.
  4. Hati merupakan pokok dari sebuah jasmani. Jika hati itu baik, maka semuanya pun akan stabil. Demikian pula sebaliknya, ketika hati sudah rusak, maka pupuslah harapan selamat di akhirat.
  5. Kelirunya ucapan sementara sebagian orang ketika tidak berpenampilan syar’i, “Yang penting hati baik.” Ungkapan ini merupakan ungkapan yang jelas kelirunya. Sebab kalaulah hati itu baik, tentu penampilan lahiriah akan baik, tidak sebaliknya.
  6. Optimalnya hati dapat dilakukan dengan cara melawan hawa nafsu. Artinya kalau ada orang merasa hatinya error, maka cara memperbaikinya dengan terus melakukan kebaikan. Karena tekat untuk memperbaiki hati itu sendiri sudah merupakan tanda kebaikan hati, sekecil apapun itu.
  7. Faishal bin ‘Abdul ‘Aziz Al-Mubarak menulis, “Dalam hadits ini memperhatikan kondisi hati dan sifatnya, serta perbaikan niat dan membersihkannya dari segala sifat tercela. Sebab amal perbuatan hati merupakan pelurus amal syar’i. hal tersebut dapat disempurnakan dengan adanya muraqabah, yaitu merasa terus diawasi oleh Allah Ta’ala.”
  8. Hadits ini bukanlah hujjah bagi kaum Murji’ah yang beranggapan bahwa iman itu tidak ada kaitannya dengan amal badan. Justru hadits ini menegaskan bahwa amal anggota badan terpatri kuat dengan hati. Sebab, sekali lagi, amal badan menjadi sinyal kuat-lemahnya iman seseorang.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– menyatakan bahwa tidak ada dalilpun yang dijadikan ahlul bid’ah sebagai pendukung ajarannya (melalui pemahaman yang menyeleweng), melainkan dalam dalil tersebut justru akan membantah pemahaman ahlil bid’ah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s