Sangsi Untuk Mereka yang Suka Meminta


meminta_yang_terbaik-1365145607-linkBus itu masih juga belum beranjak berjalan kendati suasana sudah mulai sesak. Seluruh bangku bus satu per satu sudah terisi. Entahlah apa yang ditunggunya langi. Serakahnya orang memang taka da duanya. Apalagi dalam Al-Quran Allah mengatakan bahwa manusia memang cinta berat dengan yang namanya harta dunia.

Di tengah keramaian yang begitu sesak, dengan tak pedulinya beberapa orang laki-laki yang sebagiannya bertato turut menaiki bus beserta alat music. Seperti biasanya, memang di tempat ini sudah dijadikan langganan para pengamen jalanan tak jelas. Walaupun dengan alunan music yang kerap mengusik telinga dan hati, mereka tetap saja tak peduli. Suka tak suka mereka akan tetap melantunkan senjata-senjata setan itu.

Tapi prolog ini bukan soal musiknya yang jelas akan keharamannya. Namun pada sebuah lirik lagu yang biasa mereka dendangkan yang membuatku tertawa sedih. Aneh bukan? Tertawa tapi di saat yang sama juga sedih. Lirik yang mana gerangan?

Lirik yang dimaksud memang tidak saya hafal teksnya. Namun maknanya selalu membuatku tak nyaman. Teks itu maknanya bahwa “profesi” mengamen bukanlah sesuatu yang dilarang oleh pemerintah. Teks ini mungkin tidak bermasalah. Tapi masalahnya adalah pada teks lanjutannya yang intinya, profesi mengamen juga tidak dilarang agama!?

Dalam hati saya bergumam, sejak kapan agama membolehkan orang mengemis? Apatah lagi dengan cara-cara haram semacam bermusik dan mengganggu kenyamanan orang lain? Aduhai celakanya orang-orang itu. tapi apalah daya, mereka orang awam yang tak pandai agama. Pun mungkin belum ada yang memberinya tahu bahwa mengamen, mengemis, bermusik, mengganggu kenyamanan orang lain, adalah tindakan criminal berat.

Baiklah. Rasanya tak perlu saya memperpanjang prolog ini. Langsung saja saya bacakan sejumlah hadits Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– terkait kegiatan mengemis dan ancamannya. Mutiara-mutiara ini saya petik dari kitab “Mukhtashar At-Targhib wa At-Tarhib” karya Al-Hafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-‘Asqalani –rahimahullah-.

  • Dari Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-, ujarnya, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

“Salah seorang di antara kalian yang masih terus meminta-minta hingga berjumpa pada Allah ‘Azza wa Jalla dalam keadaan wajah yang tak berdaging sedikit pun.” HR Al-Bukhari & Muslim)

  • Dari Ibnu ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma-, ujarnya, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

“Siapa yang meminta-minta manusia dalam keadaan tidak miskin yang menimpanya atau keluarga yang ditanggungnya, maka kelak di hari kiamat akan datang dalam keadaan kurus tak berdaging.”

Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga bersabda, “Siapa yang membiarkan pintu meminta-minta dalam dirinya terbuka bukan karena kemiskinan yang menimpanya atau bukan karena keluarga yang masih mampu ditanggungnya, maka Allah akan bukakan pintu kefakiran untuknya dari arah yang tak pernah disangka-sangka.” (HR Al-Baihaqi)

  • Dari ‘Aidz bin ‘Amr –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasanya ada seseorang yang menghampiri Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ia meminta pada beliau kemudian beliaupun mengabulkan permintaannya. Tatkala ia meletakkan kakinya di palang pintu, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

“Seandainya orang-orang mengerti apa yang ada pada aktifitas meminta-minta, tentulah tidak ada seorang pun yang berani berjalan meminta-minta.” HR An-Nasa’i.

Ath-Thabrani meriwayatkan dari hadits Ibnu ‘Abbas, “Kalaulah orang yang meminta-minta itu tahu apa yang akan ia peroleh karena perbuatannya itu, tentulah ia tak akan berani meminta.”

  • Dari ‘Ali –radhiyallahu ‘anhu-, katanya, “Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

“Siapa yang meminta sesuatu pada orang lain dalam keadaan mampu, berarti ia telah memperbanyak bebatuan Jahannam karena hal tersebut.”

Para shahabat bertanya, “Apakah yang dimaksud “mampu” di sini?”

“Makan malam,” jawab beliau.

HR ‘Abdullah bin Ahmad dalam Ziyadat Al-Musnad dan Ath-Thabrani dalam Al-Ausath. Isnadnya berkualitas jayyid.

  • Dari Jabir –radhiyallahu ‘anhu-, katanya, “Rasulullah –shallalahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya ada orang yang menghampiriku untuk memintaku sesuatu, lalu aku pun mengabulkannya. Padahal tidaklah ia membawa sesuatu pada antara kedua ketiaknya (tas atau selainnya) melainkan neraka.”

Riwayat Ibnu Hibban.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s