Aku, Guruku, dan Metode Belajar Sukses


bukuSeperti biasa. Suasana belajar hadits memang selalu menyenangkan. Bahkan mampu membangkitkan semangat para siswa yang malas sekalipun. Setidaknya itulah yang terlihat jelas dari wajah antusias mereka. Pertanyaan demi pertanyaan dilontarkan dari berbagai penjuru. Terkadang muncul dari depan sendiri, dan tidak jarang muncul dari baris paling belakang. Itulah kira-kira suasana belajar kami di kelas, di sebuah kampus yang selalu kami banggakan selamanya. Semoga Allah membalas kebaikan seluruh pihak yang berjasa di kampus “Biru” ini.

Dari sekian siswa, nampaknya akulah yang paling banyak mengajukan pertanyaan. Entahlah aku sendiri tak tahu. Selalu saja ada pertanyaan yang terlintas dalam benakku. Tidak hanya di pelajaran hadits saja, namun di hampir seluruh pelajaran, selain nahwu. Kadangpula diri ini merasa malu sendiri atau ada rasa tak enak dengan yang lain. Siapa tahu mereka terganggu dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin mereka anggap konyol. Tapi ya sudahlah. Daripada terbebani pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab sehingga menjadi beban pikiran dan terbawa tidur, lebih baik kuselesaikan saja di kelas.

Detik demi detik, menit demi menit. Tak terasa, akhirnya jam pelajari nampaknya telah usai. Bel kampus sudah meraung-raung bertanda siswa sudah harus segera menyudahi pelajaran hari itu. Tapi masalahnya, masih ada satu pertanyaan yang belum kutemukan jawabannya, Rasanya terlalu bodoh kalau saja kusimpan tak terjawab. Baiklah. Aku putuskan menyusul sang dosen yang sudah keluar kelas terlebih dahulu.

“Assalamu’alaikum,” Sapaku sembari kusodorkan tanganku berharap beliau berkenan menyambutnya dengan penuh senyum. Maklum kami memang belum akrab betul. Sebab beliau merupakan dosen baru di kampus kami. Baru semester ini beliau aktif yang datang dari negeri nun jauh di sana, negeri Syinqith, negeri yang masyhur terkenal dengan kecerdasan dan kekuatan hafalan penduduknya.

Di kisahkan bahwa ibu-ibu di Syinqith tidak pernah meninabobokan dengan nyanyian dan timang-timang, mereka lebih memilih meninabobokan bayi-bayi mereka dengan lantunan ayat Al-Quran dan kitab-kitab ilmiah supaya kelak mereka menjadi “orang” sungguhan. Makanya tak heran jika misalnya anak-anak kecil sudah hafal Al-Quran sedari dini mungkin. Jadi jangan salah kalau Anda dikatawakan karena bertanya, “Anda sudah hafal Al-Quran?” yang semstinya pertanyaan itu berlantun, “Apalagi yang sudah Anda hafal setelah Al-Quran?”

Kisah menarik yang tak kalah hebatnya ialah kisah ditulisnya kitab Al-Wasith fi Tarikh Udaba Syinqith. Alkisah, penulis kitab Syaikh Ahmad bin Al-Amin Asy-Syinqithi saat mengunjungi negeri Kinanah, Mesir, ditanya tentang siapa-sapa sajakah tokoh sastrawan Syinqith? Syaikh pun segera menyebutkan satu persatu sastrawan Syinqith beserta biografi dan contoh syair yang mereka punya. Dari dekta itu terkumpullah sejumlah besar biografi ulama Syinqith yang di kemudian dicetak setebal 610 hlm. Tentu saja, Syaikh mendektekan tarajim itu tanpa memegang satu catatan pun, apalagi refrensi kitab. Hal ini kiranya menunjukkan betapa kuatnya hafalan Syaikh, dan begitulah cermin orang-orang Syinqith.

“Ustadz, kata sebahagian ulama, Sunan At-Tirmidzi itu lebih mudah difahami tidak saja oleh orang-orang khusus, namun juga orang-orang umum pun akan mampu memahaminya. Hal ini akan lain ceritanya jika dengan Shahih Al-Bukhari yang hanya bisa dimengerti kalangan khusus. Kalau demikian, manakah kitab yang semustinya kita baca terlebih dahulu, ustadz?” tanyaku dengan penuh takzim.

“Shahih Al-Bukhari,” jawab Dr. Muhammad Al-Hasan Asy-Syinqithi. “Kalangan pemula semestinya memulai dari kitab yang sudah jelas keabsahan seluruh haditsnya.”

“Walaupun tak faham, ustadz,” tanyaku lagi berharap dijelaskan lebih lanjut.

“Ya, walaupun tak faham. Sebab kamu membaca dengan tidak membaca akan tidak sama. Bacalah walaupun belum faham,” jelas sang ustadz.

Kata-kata yang beliau ucapkan perlahan kucerna dan menampakkan raut wajah yang sok faham betul.

“Nah, kalau nanti ada waktu luang, buka-bukalah Fathul Bari. Jangan difahami sendiri. Lebih baik difahami melalui mudzakarah bersama,” lanjut ustadz.

Demikianlah salah satu episode obrolan saya dengan Dr. Muhammad Al-Hasan Asy-Syinqithi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s