Beramal dengan Hadits Dha’if?


palsuSyaikh Muhammad bin ‘Ali bin Adam Al-Atsyubi menjelaskan:

Wal hasil, sebagian ulama membolehkan bermudah-mudahan dalam menilai sanad dan meriwayatkan hadits dha’if yang tidak termasuk dalam kategori hadits palsu, tanpa perlu menjelaskan kelemahannya dalam masalah selain i’tiqad dan hukum, semisal nasehat, kisah, fadhilah amal, serta seluruh bab motifasi dan ancaman.

Ibnush-Shalah mengatakan, dia antara ulama yang menegaskan bahwa boleh bermudah-mudahan dalam permasalahan di atas ialah ‘Abdurrahman bin Mahdi dan Ahmad bin Hanbal. As-Sakhawi mengimbuhkan Ibnu Ma’in, Ibnul Mubarak, Sufyan Ats-Tsauri, Sufyan bin ‘Uyainah. Sementara itu Ibnul ‘Arabi Al-Maliki menolak mengamalkan hadits dha’if secara mutlak, sedangkan yang lainnya membolehkan secara mutlak.

Ringkasnya, ada tiga pendapat dalam permasalahan “berhujjah dengan menggunakan hadits dha’if”:

  1. Tidak boleh secara mutlak. Inilah pendapat Ibnul ‘Arabi, Imam Muslim, Ibnu Hazm, dan Syaikh Muhammad bin ‘Ali bin Musa Al-Itsyubi.
  2. Boleh secara mutlak. Demikianlah pendapat Abu Dawud dan Ahmad.
  3. Dengan merinci sebagaimana di atas, yaitu hanya pada fadhilah ‘amal dan semisalnya. Pendapat ini dianut oleh banyak ulama belakangan.

Pendapat ketiga ini memberikan sejumlah syarat untuk bisa beramal dengan hadits dha’if, yakni:

  1. Hanya pada bab fadhilah amal dan semisalnya.
  2. Status kedha’ifannya tidak terlalu parah.
  3. Hadits tersebut diamalkan pada bab yang sudah ada hadits shahih yang menyokongnya.
  4. Saat mengamalkannya tidak boleh beri’tiqad bahwa hadits tersebut berasal dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, namun hanya untuk kehati-hatian saja.

Catatan:

Al-‘Allamah Muhammad bin ‘Ali bin Adam Al-Itsyubi Al-Makki menulis dalam Is’af Dzawi Al-Wathar (I/318):

Dha'if

“Sebagian ulama berpendapat bahwa yang dimaksud dha’if di sini (baca: boleh beramal dengan hadits dha’if dengan berbagai syaratnya) ialah dha’if menurut pengertian ulama-ulama masa silam, yaitu hasan dalam pengertian ulama-ulama belakangan. Pendapat inilah yang dipegang Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Minhaj As-Sunnah, sebagaimana yang diketengahkan Al-Qasimi.


Saya katakan, pendapat ini perlu ditinjau ulang. Sebab “hasan” dapat dijadikan sebagai hujjah dalam permasalahan hukum, i’tiqad, dan selainnya  secara mutlak mutlak. Sedangkan dalam pembahasan ini, para ulama membatasi bolehnya mengamalkan hadits dha’if pada amalan-amalan fadhilah dan semisalnya. Juga, di sini mereka mensyaratkan sebagaimana yang telah disinggung sebelumnya. Sementara mengamalkan hadits hasan tidak perlu ada syarat satu pun dari berbagai syarat mengamalkan hadits dha’if itu. Oleh sebab itu, pendapat para ulama tersebut di atas akan lebih jelas jika difahami sebagai hadits dha’if (menurut istilah sekarang). Hanya saja, hadits dha’if memiliki tingkatan sebagaimana yang telah disebutkan di muka. Sehingga tidak setiap hadits dha’if boleh dijadikan sebagai hujjah. Makanya perlu ada syarat: hadits tersebut tidak terlampau parah kedha’ifannya. Camkan itu!”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s