Semuanya Terjadi di Bawah Kendali Allah Ta’ala


            kekuasaanSegala puji hanya milik Allah, Rab semesta alam. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurahkan pada junjungan baginda Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, dan siapa saja yang mengikuti serta membela ajarannya.

            Di antara perkara yang disepakati seluruh lapisan makhluk adalah bahwa tidak ada sesuatu pun yang terjadi di jagad raya ini melainkan berdasarkan ketentuan Allah ‘Azza wa Jalla. Dia jualah yang mentaqdirkan seluruh kejadian yang baik maupun yang buruk, tidak ada yang keluar dari taqdirnya sama sekali. Hanya saja sebagai bentuk adab antara hamba dengan Rab-nya, tidak pantas kejadian yang buruk itu langsung ditujukan pada Allah secara tegas. Itulah alas an kenapa Nabi Ibrahim –‘alaihissalam– ketika menyandarkan segala kebaikan yang ada pada dirinya pada Allah dan ketika menyebutkan suatu keadaan yang kurang baik digunakanlah ungkapan berbeda. Hal ini seperti yang Allah abadikan dalam Al-Quran,

و إذا مرضت فهو يشفين

“Dan jika aku tertimpa sakit, Dialah yang menyembuhkanku.”

            Lihatlah ungkapan Nabi Ibrahim yang amat beradab ini. Beliau tidak mengatakan, ‘Dan jika Dia memberiku sakit,” namun beliau mengatakan seperti ungkapan di atas meski sejatinya yang mentaqdirkannya sakit adalah Allah, sebagai bentuk adab beliau pada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara dalam hal kebaikan, dalam hal ini kesembuhan, beliau sandarkan pada Allah Ta’ala dengan ungkapan tegsnya, “Dialah yang menyembuhkanku.”

Hal semisal juga seperti ucapan Jin yang Allah ‘rekam’ dalam Al-Quran,

وَأَنَّا لَا نَدْرِي أَشّرٌّ أُرِيْدَ بِمَنْ ِفي الْأَرْضِ أَمْ أَرَادَ بِهِمْ رَبُّهُمْ رَشَدًا

“Dan sesungguhnya Kami tidak tahu apakah keburukan yang dikehendaki terhadap penduduk bumi ataukah Rab mereka menginginkan kebaikan bagi mereka.” (QS Al-Jinn: 10)

            Dalam ayat ini pun Jin tidak langsung mengungkapkan bahwa Allah lah yang mentaqdirkan keburukan di muka bumi, walaupun memang Dialah yang mentaqdirkan. Namun karena adab mengatakan agar keburukan tidak diungkapkan secara tegas Allah pelakunya, maka ungkapannya pun dirubah.

            Kenyataan ini berbeda dengan keyakinan sebagian sekte sempalan dalam Islam yang berpendapat bahwa Allah hanya menciptakan kebaikan saja. Sementara segala bentuk kejahatan dan keburukan bukan dari ciptaan-Nya, melainkan ciptaan makhluk itu sendiri. Tentu saja pendapat ini sangat tidak tepat dan bahkan termasuk kekufuran dalam tauhid rububiyyah di mana ada keyakinan bahwa ada pencipta lain di samping Allah Ta’ala. Dalil-dalil yang mematahkan pendapat ini sangat banyak sekali dan akal sehat pun akan membantahnya.

            Allah berfirman,

ألا له الخلق و الأمر

“Ketahulah bahwa penciptaan dan seluruh perkara itu hanya kepunyaan-Nya.” (QS Al-A’raf: 54)

            Juga firman-Nya,

هل من خالق غير الله يرزقكم من السماء و الأرض

“Apakah ada pencipta selain Allah yang memberimu rizki dari langit dan bumi?!” (QS Fathir: 3)

            Sementara itu dalam Surat Yunus ayat ke-31 dan 32 Allah menegaskan,

قل من يرزقكم من السماء و الأرض أمن يملك السمع و الأبصر و من يخرج الحي من الميت و يخرج الميت من الحي و من يدبر الأمر فسيقولون الله فقل أفلا تتقون فذلكم الله ربكم الحق فماذا بعد الحق إلا الضلل فأنى تصرفون

“Katakanlah, siapakah yang memberimu rizki dari langit dan bumi? Siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Merekapun (baca: orang-orang musyrik) pasti akan menjawab, ‘Allah.’ Sebab itu katakanlah, ‘Tidakkah kalian takut pada-Nya?’ Itulah Allah, rab kalian yang sebenarnya. Maka tidakkah setelah kebenaran itu melainkan kesesatan. Bagaimanakah kalian bisa berpaling?!”

            Demikianlah dengan gamblang Allah menegaskan bahwa tidak ada yang mengatur alam semesta melainkan Allah Ta’ala. Tidak ada yang pencipta segala sesuatu yang ada di jagad raya ini selain Allah Ta’ala. Dan tidak ada yang memberi rizki pada makhluk melainkan Dia jualah. Hanya saja Allah Subhanahu wa Ta’ala kerap melakukan hal tersebut dengan didahului sebab. Oleh karena itu jangan kemudian ada keyakinan bahwa sebab itulah yang memberi manfaat, namun Allah sajalah yang mentaqdirkan. Buktinya sering dijumpai orang mendatangkan sebab namun tidak juga membuahkan hasil. Namun demikian berapa banyak dijumpai sebagian orang yang lupa akan musabbibnya, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla.

            Ketika seorang sakit, ia akan berusaha mencari tabib yang handal agar dapat ‘menyembuhkan’ dan ‘mengangkat’ penyakitnya dari tubuhnya. Dalam kondisi semacam ini masih ada orang yang bertumpu secara totalitas pada sang tabib atau dokter dengan melupakan bahwa sebenarnya dokter tidak akan mampu berbuat apa pun jika tanpa kehendak dari Allah Jalla Jalaluh. Demikian pula ketika seorang yang menderita sakit meminum obat yang diyakini sebagai penawar penyakit yang mendekam dalam tubuhnya. Betapa banyak dijumpai di masyarakat yang terkadang keyakinan bahwa obat itu semata-mata hanya sebab dan yang dapat menyembuhkan itu hanyalah Allah jua, dilupakan begitu saja. Sengaja atau tidak sengaja. Sadar atau tidak sadar.

            Walaupun perkara ini terlihat mudah, namun akibat yang ditimbulkan keyakinan tersebut sangatlah fatal. Karena keyakinan tersebut, sadar atau tidak sadar, telah merusak tauhid rububiyyah seorang hamba. Karena sebagaimana yang telah disepakati di muka, bahwa segala kejadian di jagad raya ini semata-mata berdasarkan taqdir Allah ‘Azza wa Jalla.

            Karena itu, dalam masalah sebab ini kiranya perlu diperhatikan tiga hal, seperti yang diingatkan Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di (w. 1376 H) –rahimahullah– dalam Al-Qaul As-Sadid fi Maqashid At-Tauhid pada hlm. 41-42:

            Pertama, sebab itu memang benar-benar sebab menurut syariat ataupun menurut taqdir.

            Kedua, seorang hamba hendaknya tidak bertumpu pada sebab tersebut, akan tetapi seharusnya ia bersandar secara totalitas pada musabbib dan pentaqdirnya, yaitu Allah ‘Azza wa Jalla dengan melakukan hal-hal yang disyariatkan serta berambisius untuk memperoleh hal yang bermanfaat dari ‘sebab’ tersebut.

            Ketiga, hendaknya disadari dan diyakini sekuat dan sebesar apapun ‘sebab’ tersebut, namun ia tetap terikat dengan taqdir Allah dan qadha’-Nya, sama sekali tidak akan pernah keluar darinya. Allah berbuat sesuai kehendak-Nya terkait ‘sebab’ tersebut. Jika Dia berkehendak, Dia bisa saja membiarkan ‘sebab’ tersebut manjur sesuai dengan hikmah-Nya agar seluruh hamba-Nya dapat mengambilnya sebagai sebab dan dengan hal tersebut dapat diketahui betapa sempurnanya hikmah Allah, dimana Dia mengaitkan kejadian dengan sebab-sebabnya. Dan Allah pun bias saja berkehendak selain itu, sesuai keinginan-Nya agar hamba-hamba-Nya tidak bertumpu pada ‘sebab’ tersebut dan agar dapat diketahui betapa sempurn kemampuan-Nya dan bahwa aturan mutlak dan keinginan mutlaj hanya milik Allah semata.

            Mengenai pon pertama, nampaknyanya akan lebih jelas jika kita melihat keterangan Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin –rahimahullah– dalam Al-Qaul Al-Mufid pada hlm. ke-96. Beliau mengatakan bahwa cara mengetahui bahwa sesuatu itu bias dijadikan sebagai sebab ada dua macam.

            Pertama, melalui jalan syariat. Hal ini seperti yang ada pada madu yang Allah katakan dalam Surat An-Nahl ayat ke-69, “Padanya terdapat penawar (obat) bagi manusia,” dan demikian pula dengan bacaan Al-Quran yang bias dijadikan sebagai obat berdasarkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan Kami turunkan Al-Quran sebagai obat dan rahmat bagi orang-orang Mukmin.” (QS Al-Isra’: 82)

            Kedua, melalui jalan qadar. Misalnya apabila kita telah mencoba sesuatu kemudian kita jumpai hal tersebut bermanfaat untuk penyakit tertentu. Akan tetapi hal semisal ini disyaratkan pengaruhnya terlihat nampak dan langsung, seperti pengobatan dengan metode kai (besi yang dipanaskan) kemudian dapat bermanfaat yang sebabnya nyata dan jelas. Syarat ini kita sisipkan agar tidak ada lagi ada orang yang berdalih, dia mencoba sesuatu lalu merasakan ada manfaatnya, tapi tidak secara langsung, seperti gelang. Terkadang ada orang yang mengenakannya dengan penuh keyakinan bahwa gelang itu dapat bermanfaat kemudian terjadilah seperti keyakinannya itu. Hal ini mungkin saja terjadi karena sugesti pada sesuatu memiliki pengaruh yang jelas.(Namun tentu saja ini sangat tidak dianjurkan dan dapat menjerumuskan pada kemusyrikan).

            Kesimpulannya, bahwa sugesti atau keyakinan seseorang pada sesuatu tidak bias dijadikan sebagai tolak ukur sebab.

            Jika ada orang yang masih bersikeras mempercayai gelang tersebut sebagai sebab atau bermanfaat dan semisalnya adalah jimat, maka ada dua rincian hokum untuk pemakainya:

            Pertama, jika ia meyakini bahwa hal tersebut hanya semata-mata sebab sementara yang menjadikannya bermanfaat hanyalah Allah semata, maka ia telah terjerembab pada lubang syirik kecil karena telah menjadikan sebab yang sebenarnya bukan sebab syar’i maupun qadari.

            Kedua, jika ia meyakini bahwa yang memberi manfaat itu adalah jimat itu sendiri, maka ia telah terperosok pada syirik besar yang dapat mengeluarkan dari agamanya.

            Al-‘Allamah Ibnu Sa’di –rahimahullah– menjelaskan, “Orang yang mengenakan gelang, benang, atau semisalnya dengan tujuan mengangkat bala’ setelah terjadi atau sebagai anti bala’ sebelum kejadian, maka ia telah berlaku syirik. Jika dia berkeyakinan bahwa gelang itulah yang mengangkat dan menolak bala’, maka ini syirik akbar.

            Syirik dalam kerububiyahan Allah karena dia telah meyakini ada sekutu bersama Allah yang menciptakan dan mengatur.

            Syirik dalam keuluhiyahan Allah karena ia telah tunduk pada semisal gelang itu dan menggantungkan hatinya padanya dengan penuh harapanmemperoleh manfaat darinya.

            Jika si pemakai tadi berkeyakinan bahwa Allah jualah yang dapat menolak dan mengnagkat bala’ namun dengan diiringi keyakinan jimat dan gelang sebagai sebab yang dengannya ia meminta pada Allah agar bala’ dapat tertolak, maka ia telah menjadikan sesuatu yang bukan sebab syar’i maupun sebab qadari sebagai sebab. Dan hal ini pun haram dan sebuah kedustakan atas nama syariat dan qadar.

            Dikatakan kedustaan atas nama syariat karena syariat telah melarang keras hal tersebut. Sedangkan segala sesuatu yang dilarang, maka tidak terhitung sebagai sebab yang bermanfaat.

            Dikatakan dusta atas nama qadar, karena hal itu bukan termasuk sebab yang diketahui sebagai sesuatu yang bermanfaat secara qadar yang dapat menyampaikan pada tujuan, dan tidak pula termasuk obat yang diperbolehkan nun bermanfaat. Kemdudian hal itu juga terhitung sebagai sarana menuju syirik karena pemakainya jelas akan bergantung dengannya yang tentunya termasuk kemusyrikan dan sarana yang menghantarkan pada kemusyrikan.”

            Suatu ketika, kata ‘Imran bin Hushain –radhiyallahu ‘anhu-, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– melihat seseorang yang pada pergelangan tangannya terdapat sebuah gelang yang terbuat dari kuningan. Beliau pun mempertanyakannya, “Apa ini?” Orang tadi menjawab, “Sebagai penyembuh sakit di lengan tangan.” Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun mengatakan,

انزعها فإنها لا تزيدك إلا وهنا، فإنك لو مت و هي عليك ما أفلحت أبدا

“Copot gelang itu! Karena dia hanya membuatmu bertambah sakit dan jika kamu meninggal sementara gelang itu masih ada padamu, kamu tidak akan pernah beruntung!” (HR Imam Ahmad dalam Al-Musnad IV/445, Ibnu Majah tanpa menyertakan kalimat فإنك لو مت …. إلخ, Ibnu Hibban dengan redaksi, “إنك إن مت و هي عليك وكت إليها”, dan lainnya)

            Dalam cerita ini betapa Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– benar-benar melarang keras umatnya agar tidak terpedaya dengan gelang, namimah, atau semisalnya yang dimaksudkan untuk kesembuhan dan untuk pendatang manfaat. Dan dengan keras pula beliau mengancam siapa saja yang mati dalam keadaan meyakini hal tersebut sebagai sesuatu yang bermanfaat padahal dia telah mengetahui akan keharamannya, kelak di akhirat tidak akan memperoleh kesuksesan dalam artian masuk surga.

Sementara dalam hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad dan Al-Hakim, disebutkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-,

من تعلق تميمة، فقد أشرك

“Orang yang mennggantungkan hatinya pada suatu tamimah (baca: gelang atau semisalnya yang dikenakan), maka ia telah berbuat syirik.”

            Akhirnya, semoga Allah Jalla wa ‘Ala berkenan menjauhkan kita dari segala bentuk kemusyrikan dan sarana-sarananya hingga akhir umur yang Allah tentukan untuk kita sehingga kelak di akhirat kita benar-benar termasuk golongan muwahhidun (orang-orang yang bertauhid).

            Semoga shalat dan salam terus tercurahkan pada baginda Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, dan siapa saja yang berjuang mempertahankan ajarannya. Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s