Ketika Jin Diwawancarai


dialogOwh….

Ternyata topik hangat yang tengah diperbincangan warga medsos belakangan ini tentang jin macan yang ‘kecanduan’ WA.

Alkisah bermula dari sebuah tulisan salah seorang anak Adam sebagai berikut:

“Kemarin alhamdulillah ada jin macan yang sejak korban (seorang akhwat) masih berusia 8 tahun berurusan dengannya: masuk Islam via WA. Setelah dia bicara kasar berlarut. Tapi hidayah milik Allah.

Dan cerita-cerita lain.

Beberapa orang tidak percaya bahwa jin bisa melakukan itu dengan izin Allah. Apa saya harus SS semua percakapan WA kepada semua jin yang pernah didakwahi via WA sampai mereka percaya? Tidak harus.

Cukup SS kemarin saja. Capek editnya.

Lucunya, mereka meski ga percaya, ternyata ketidakpercayaan mereka tidak bisa mengubah kenyataan yang sudah banyak terjadi. Malah makin menetapkan bahwa “orang yang ga tahu akan sesuatu memang akan menjadi musuhnya”.

Masalahnya kan ada jahil murakkab: ga tahu tapi lagaknya kayak tahu.” Selesai kutipan.

Catatan singkat:

  1. Hukum asal ucapan jin itu bersestatus dusta karena memang sukanya berdusta dan bohong. Hal ini berdasarkan sebuah hadits yang diketengahkan Imam Al-Bukhari, bahwa Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “…dia (jin) itu banyak berdusta.”

Jadi jika sekiranya ada jin yang berbicara melalui media tubuh manusia, maka pastikanlah bahwa jin tersebut tengah berdusta dan mengubar kata-kata kecuali jika ada indikasi kebenarannya. Dan mencari indikasi semacam ini amat sangat sukar sekali mengingat volumenya yang ghaib. Dengan demikian jangan sampai terbalik dengan ‘mengamini’ apa saja ucapan yang dilontarkan para makhluk yang bernama jin ini. Tentu saja, Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam- lebih mengetahui alam jin daripada manusia mana pun, termasuk orang yang mengaku para apnormal.

Poin pertama ini mengingatkan saya pada sebuah pelajaran sehari-hari di Masjid Pondok Pesantren Hamalatul Quran selepas zhuhur, yaitu sebuah majelis yang laik disebut sebagai majelis “Riyadh Ash-Shalihin” karena kitab yang dikaji memang kitab warisan Imam An-Nawawi tersebut.

Seperti biasa, setelah pembacaan hadits oleh petugas atau biasa disebut qari’, Ustadz Aris Munandar yang sudah sekitar 5 tahun lamanya mengasuh majelis ini bertindak mensyarah hadits yang baru saja dibaca oleh qari’. Nah di antara penjelasan yang beliau sampaikan adalah sebagaimana kesimpulan yang saya paparkan di atas, bahwa hukum asal ucapan jin itu dusta.

Jauh sebelum keterangan ini kami dengar, sekitar 2 atau tiga tahun sebelumnya ada salah seorang teman seperguruan berimisial “I” atau tepatnya Ismail Nuralamsyah yang memiliki buku bertajuk “Dialog dengan Jin Muslim” karya Muhammad Isa Dawud, terbitan Mizan Bandung. Buku yang dipinjam dari abahnya itu pun membuat banyak teman sekoleganya -termasuk pemilik tulisan ini- merasa penasaran akan isi buku tersebut. Wal hasil, jadilah buku itu topik terhangat di zamannya. Namun pada sebuah pelajaran, waktu itu kami masih duduk di kelas 1 MTs, Ustadz Aris memergoki keberadaan buku ‘hot’ tersebut sehingga beliau pun segera menjelaskan kerancuan buku itu. Dari mulai penulis, beliau katakan bahwa penulis merupakan seorang jurnalis alias wartawan berkebangsaan -saya lupa tepatnya-. Buku tersebut mengandung kerancuan di antaranya informasi-informasi yang ditawarkan sangat menuai kontrofersi, salah satunya tentang segi tiga bermuda yang hingga detik ini masih bersetatus misterius. Beliau berkata, “Kalau seandainya informasi yang dibawa jin itu benar, tentu saja akan membuat disiplin ilmu hadits -yang sudah dibangun para ulama sejak ribuan tahun lamanya itu- menjadi kacau tak berguna. Bagaimana tidak? Jin yang notabene berumur panjang hingga ribuan tahun bisa saja menghukumi kevalidatisan suatu hadits, karena tentu di antara mereka ada yang sempat menjumpai hayat Nabi Muhammad -shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun kenyataannya kan tidak demikian.” Alasan-alasan inilah yang kemudian membuat kami kapok membaca buku itu sehingga ritting ketenarannya pun turun drastis, bahkan lenyap dari permukaan para santri terhitung sejak keterangan yang beliau sampaikan.

Saya sendiri merasa lebih semakin puas dengan keterangan paling anyar yang beliau sampaikan, saat pelajaran “Riyadhush Shalihin” itu. Sehingga ketika ada seorang syaikh Saudi memberitahukan bahwa ada seorang jin yang mengaku bahwa bangsanya pun kerap menghadiri pengajian ulama di Masjidil Haram, saya merasa perlu menimbang kebenaran berita yang bersumber dari jin news itu.

“Memangnya gue bego? Mau dikibuli sama jin? Ih, enggak banget kali!”

  1. Alam jin yang tidak bisa ditembus oleh panca indra manusia menyebabkan kesamaran. Bagaimanakah kehidupan jin itu selanjutnya, atau minimal bagaimanakah keseriusan jin yang berbicara itu. Mana tahu kita dia bicara serius atau tidak. Apalagi via WA. Dak pacak dipercayo.

Dah, segitu dulu saja. Semoga bermanfaat dan menjadi penyeimbang informasi serta penetral suasana.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s