Jibril Bertanya, Nabi Menjawab (Sebuah Ulasan Pokok Ajaran Islam)


IslamTeks Hadits:

عن عمر رضي الله عنه قال:

بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ –صلى الله عليه و سلم- ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ ، شَدِيْدُ سَوَادِ السَّعْرِ ، لَا يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ وَ لَا يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ –صَلى الله عليه و سلم- فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَ وَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَ قَالَ : يَا مُحَمَّدٌ ، أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلَامِ

       فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ –صلى الله عليه و سلم- : الإِسْلَامُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَ أَنَّ مُحَمّدًا رَسُوْلُ اللهِ ، وَ تُقِيْمُ الصَّلَاةَ ، وَ تُؤْتِيَ الزَّكَاةَ ، وَ تَصُوْمُ رَمَضَانَ ، وَ تَحُجَّ الْبَيْتَ إِنْ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلًا .

       قَالَ : صَدَقْتَ .

       فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَ يُصَدِّقُهُ .

       قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلِإيْمَانِ .

       قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ ، وَ مَلَائِكَتِهِ ، وَ كُتُبِهِ ، وَ رُسُلِهِ ، وَ الْيَوْمِ اْلآخِرِ ، وَ تُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ .

       قَالَ : صَدَقْتَ . قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلِإحْسَانِ .

       قَالَ : أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .

       قَالَ : فَأَخْبِرْنيِ عَنِ السَّاعَةِ .

       قَالَ : مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَم مِنَ السَّائِلِ .

       قَالَ : فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا .

       قَالَ : أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَ أَنْ تَرَى الْحُفُاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنْ فِي الْبُنْيَانِ .

       ثَمَّ انْطَلَق ، فَلَبِثْتُ مَلِيًّا .

       ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَر َ، أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟

       قُلْتُ : اللهُ وَ رَسُوْلُهُ أَعْلَم .

       قَالَ : فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

Dari ‘Umar bin Al-Khathtab –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menceritakan,

“Suatu hari ketika kami sedang duduk-duduk di samping Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tiba-tiba muncul sosok laki-laki yang berpakaian sangat putih, berambut sangat hitam, tidak terlihat adanya tanda-tanda orang yang bepergian, di antara kami pun tidak ada yang mengenalnya. Dia pun duduk di dekat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya. Ia membuka pembicaraannya,

‘Muhammad, beri tahu aku apa itu Islam!’

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, ‘Islam adalah Anda bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bahwasannya Muhammad adalah utusan-Nya, Anda mengerjakan shalat, menunaikan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, serta naik haji apabila engkau sanggup mengerjakannya.’

Dia menimpali, ‘Engkau benar.’

Kami pun terheran-heran. Dia yang bertanya namun juga mampu menilainya benar.’

Dia kembali bertanya, ‘Beritahu aku apa itu iman?’

Beliau menjawab, ‘Engkau beriman pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman pada qadar; yang baik maupun yang buruk.’

Ia bertanya, ‘Engkau benar. Beritahu aku apa itu ihsan?’

Beliau menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Apabila engkau tidak sanggup melihat-Nya, sejatinya Dia melihatmu.’

Dia bertanya, ‘Beritahu aku tentang hari kiamat?’

Beliau bersabda, ‘Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada yang mengajukan pertanyaan.’

Dia bertanya, ‘Kalau begitu, beri tahu aku apa saja tanda-tanda kedatangannya?’

Beliau menjawab, ‘Jika wanita budak sudah melahirkan tuannya, dan kamu menyaksikan orang-orang miskin yang biasa menggembalakan kambing berlomba-lomba saling mempertinggi bangunan rumahnya.’

Orang tadi selanjutnya pergi berlalu.

Setelah beberapa lamanya, beliau bertanya, ‘Umar, kamu tahu siapa yang bertanya?’

Jawabku, ‘Allah dan Rasul-Nya lah yang lebih tahu.’

Beliau bersabda, ‘Dia itu Jibril. Kedatangannya dalam rangka mngajari kalian agama kalian.’

HR Muslim (no. 8), Ahmad, At-Tirmidzi (2610), Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Mandah, Ath-Thayalisi, Ibnu Hibban, Al-Ajurri, Abu Ya’la, Al-Baihaqi, Al-Baghawi, Al-Maruzi, ‘Abdullah bin Ahmad, Al-Bukhari di Khalq Af’al Al-‘Ibad, dan Ibnu Khuzaimah.

Kedudukan Hadits

            Hadits tersebut di atas oleh para ulama biasa disebut sebagai Hadits Jibril –‘alaihissalam-. Keurgenan hadits tersebut terlihat jelas dari isi dan muatannya yang menjelaskan pokok-pokok ajaran Islam, baik secara lahir maupun batin.

            Al-Qadhi Abu ‘Ali ‘Iyadh –rahimahullah– pernah berujar, “Hadits ini mengandung penjelasan seluruh rangkaian ibadah, yang lahir maupun yang batin, berupa penjekasan iman, amal anggota badan, mengikhlaskan hati, serta menjaganya dari perusak amal. Bahkan, seluruh ilmu syariat kembali kepadanya dan bercabang darinya.”[1]

            An-Nawawi berkata, “Ketahuilah bahwa hadits ini menghimpun berbagai macam ilmu, pengetahuan, adab, dan makna yang agung. Bahkan ia merupakan pokok ajaran Islam, sebagaimana yang telah kami hikayatkan dari Al-Qadhi ‘Iyadh.”[2]

            Al-Qurthubi menuturkan, “Hadits ini bisa dikatakan sebagai induknya Sunnah. Sebab, ia mengandung sejumlah ilmu Sunnah.”[3]

            Ath-Thayyibi berkata, “Karena makna yang agung inilah Al-Baghawi membuka kitabnya yang bertajuk Al-Mashabih dan Syarh As-Sunnah dengan hadits ini sebagai bentuk mengikuti Al-Quran yang dibuka dengan surat Al-Fatihah.”[4]

            Ibnu Daqiq Al-‘Ied mengutarakan bahwa, “Hadits itu bak induk untuk Sunnah. Sebagaimana Al-Fatihah disebut Umm Al-Quran (baca: induknya Al-Quran), karena apa yang menjadi isinya berupa makna Al-Quran.”

            Ibnu Rajab menuturkan[5], “Hadits tersebut amatlah agung. Ia mengandung penjelasan seluruh urusan agama. Karenanya, Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pada akhirnya mengatakan, ‘Ini Jibril mendatangi kalian untuk mengajari kalian perkara agama kalian,’ setelah beliau menjelaskan tingkatan Islam, tingaktan Iman, dan tingkatan Ihsan. Beliau menjadikan seluruhnya sebagai agama.”

Oleh karena betapa pentingnya hadits itu, sampai-sampai Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad Al-Badr menulis satu kitab yang khusus mengulas dan membahas hadits Jibril tersebut. Kitab yang dimaksud adalah Syarh Hadits Jibril fi Ta’lim Ad-Din. Sebelumnya, Al-Qadhi ‘Iyadh juga menulis Al-Maqashid Al-Hissan Fima Yalzam Al-Insan.

Makna Hadits Secara Umum

            Pada suatu hari ketika para shahabat tengah duduk-duduk bermajelis di sekeliling Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mendengarkan petuah apa yang beliau sampaikan, tiba-tiba muncul seorang laki-laki asing yang berpakaian amat putih dan berambut hitam.[6] Keadaannya yang sangat rapi tersebut memudarkan perasangka bahwa ia penduduk desa. Namun jika dikatakan orang jauh, rasanya pun tidak ada tanda-tanda bekas berjalan umumnya orang yang berjalan di tengah padang pasir.

Kemudian setelah orang asing tadi semakin mendekat majelis Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para shahabatnya, ia mengucapkan salam[7] lantas duduk di hadapan beliau layaknya posisi duduk orang yang hendak mendengarkan pelajaran dengan penuh keseriusan. Ketika posisinya duduknya sudah mapan, orang asing tadi itu pun mulai berbicara mengajukan beberapa pertanyaan penting yang merupakan pokok-pokok ajaran Islam, yaitu tentang Islam, Iman, Ihsan, dan hari kiamat. Mendapat pertanyaan itu, Rasululullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang Allah angkat menjadi utusan-Nya agar beliau menyampaikan apa yang menjadi syariat-Nya pun segera memberikan penjelasannya terkait apa yang dipertanyakan tadi.

Setelah hajat dan keperluannya terpenuhi, orang asing itu kemudian berlalu tanpa terlebih dahulu memperkenalkan dirinya. Sesuatu yang masih membuat para shahabat bertanya-tanya. Siapakah gerangan? Apalagi ketika ia memperoleh jawaban dari Nabi atas apa yang tadi ia pertanyakan, ia malah berkomentar membenarkan jawaban Nabi. Tentu hal itu semakin membuat heran para hadhirin. Sebab hal semacam itu tidak seperti umumnya orang bodoh yang bertanya. Dan pembenarannya tersebut tidak akan keluar kecuali dari lisan orang yang mengetahui benar apa yang tengah dipertanyakannya, sedangkan di saat itu tidak ada yang mengetahui perkara-perkara ini selain Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam[8]. Kiranya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengabarkan bahwa barusan yang bertanya tadi tidak lain adalah malaikat Jibril. Beliau menjelaskan, bahwa kedatangan Jibril tadi bukan bermaksud mempelajari Islam, namun justru untuk mengajari para hadhirin akan hakekat agama Islam yang mereka peluk.

Ulasan Hadits

            Hadits Jibril tersebut merupakan hadits pertama Kitab Al-Iman dalam Shahih Al-Imam Muslim –rahimahullah-. Yang membawakan hadits tersebut ialah ‘Abdullah bin ‘Umar, dari ayahnya. Terkait periwayatan hadits ini, terdapat satu kisah yang melatarbelakanginya. Imam Muslim telah membawakannya di muka hadits ini dengan sanadnya, dari Yahya bin Ya’mur. Katanya, “Orang yang pertama kali berbicara tentang qadar di Bashrah adalah Ma’bad Al-Juhani. Aku dan Humaid bin ‘Abdurrahman Al-Humairi pergi menunaikan ibadah haji atau umrah. Kami berkata, ‘Sekiranya kita menjumpai salah seorang shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sehingga kita dapat menanyainya tentang apa yang mereka perkatakan dalam masalah qadar. Maka kami bertemu ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab masuk ke masjid. Aku dan kawanku pun mengapitnya; satu di antara kami berada di samping kanan sementara yang lain berada di samping kiri. Aku mengira bahwa rekanku bakal menyerahkan pembicaraan padaku. Kataku,

‘Abu ‘Abdurrahman (sapaan akrab ‘Abdullah bin ‘Umar), di tengah kami muncul orang-orang yang membaca Al-Quran dan mengumpulkan ilmu…’ Kemudian ia menjelaskan keadaan mereka[9]. ‘Mereka menyangka bahwa qadar adalah hal yang baru[10].’

Beliau menjawab, ‘Jika kamu menjumpai mereka, katakan pada mereka bahwa aku berlepas diri dari mereka dan mereka berlepas diri dariku. Demi Dzat yang dengan-Nya ‘Abdullah bin ‘Umar bersumpah, sekiranya salah satu di antara mereka memiliki emas sebesar gunung Uhud kemudian diinfakkannya, pasti Allah tidak akan menerimanya sampai mereka mengimani qadar.’

Kemudian beliau berkata, ‘Ayahku, ‘Umar bin Al-Khaththab, bercerita padaku, ‘….’

‘Abdullah bin ‘Umar lantas membawakan hadits di atas untuk dijadikannya dalil akan kewajiban iman kepada qadar.

Kisah di atas menjadi bukti bahwa munculnya bid’ah kaum Qadariyyah sedari masa para shahabat, tepatnya ketika ‘Abdullah bin Mas’ud masih hidup. Sedangkan beliau wafat pada tahun 73 H.

Kisah tersebut juga menunjukkan bahwa para tabi’in selalu merujuk kepada para shahabat Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam urusan-urusan keagamaan. Inilah yang seharusnya dilakukan, yaitu merujuk pada ilmuwan dalam setiap saat, mengingat firman Allah Ta’ala, “Sekiranya kamu tidak tahu, bertanyalah pada ahli ilmu.” (QS Al-Anbiya’)

            “…tiba-tiba muncul sosok laki-laki yang berpakaian sangat putih…” Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Marbawi berkata[11], “Memakai pakaian putih, sungguhnya pada sepotong hadits dalam masalah 110 itu menunjukkan atas sunnah memakai pakaian putih pada waktu berjumpa dengan kepala-kepala dan duduk di dalam perkumpulan keramaian.”

            Katanya pula, “Dan padanya dalil atas bahwasannya sunnah memakai bersih karena datang khabar, ‘Bahwasannya Tuhan itu bersih, suka Ia akan bersihnya.’ Dan kata Siti ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ‘Adalah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– suka ia akan pakaian bersih dan benci ia akan pakaian kotor.’”

            Hadits tersebut di atas juga merupakan dalil bahwasannya malaikat pun terkadang mendatangi manusia dalam rupa manusia. Hal seperti ini dapat dijumpai pula dalam Al-Quran tatkala Jibril mendatangi Maryam dalam sosok manusia, datangnya malaikat dalam sosok manusia kepada Ibrahim dan Luth. Ini semua tidak lain kecuali karena kuasa Allah semata. Dia berfirman,

الْحَمْدُ لِلَّهِ فَاطِرِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ جَاعِلِ الْمَلَائِكَةِ رُسُلًا أُولِي أَجْنِحَةٍ مَّثْنَىٰ وَثُلَاثَ وَرُبَاعَ ۚ يَزِيدُ فِي الْخَلْقِ مَا يَشَاءُ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.(QS Fathir: 1)

            Menutut hadits yang terekam dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah melihat Jibril yang bersayap 600.

            Ia menyandarkan kedua lututnya pada kedua lutut Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- dan meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya.An-Nawawi menjelaskan[12], “Orang yang datang tadi meletakkan kedua tangannya pada kedua lututnya sendiri dan duduk seperti bentuk duduknya orang yang belajar. Allahua’lam.”

            Duduk semacam ini menggambarkan akan penghormatan dan pemuliaan.

            Demikianlah posisi duduk orang yang belajar saat berada dalam majelis ilmu. Bukan seperti kebiasaan sementara orang-orang yang jika duduk di majelis ilmu justru melepaskan kakinya ke depan menghadap sang guru. Lebih parahnya ada yang sambil memegang hp sambil SMS-an, BBM-an, bahkan sebagiannya sambil ngobrol tanpa ada sedikit rasa malu.

Apabila kita melihat bagaimana para ulama dahulu duduk di majelis ilmu, tentu hanya keajaiban yang menakjubkan yang akan kita jumpai dan kita akan menganggap hina diri kita di hadapan buku sejarah yang merekam adab mereka.

            An-Nawawi menuturkan, “Sebagian orang-orang terdahulu melakukan sedekah sebelum berangkat menemui gurunya seraya berdoa, ‘Ya Allah, tolong tutupi aib guruku dari hadapanku dan jangan Engkau hilangkan keberkahan ilmunya untukku.”

            Dahulu Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i –rahimahulah– menuturkan bagaimana dahulu beliau berada di majelis Imam Malik bin Anas. Beliau mengatakan bahwa apabila beliau berada di majelis gurunya yang bergelar Imam Darul Hijrah, Imam Malik bin Anas, beliau selalu membuka lembaran-lembaran bukunya dengan sangat pelan-pelan khawatir gurunya terganggu.[13]

            Ar-Rabi’ mengatakan, “Demi Allah, aku tidak pernah berani meminum air sementara Asy-Syafi’i melihatku, sebagai bentuk penghormatanku padanya.”

            Suatu saat ketika Syarik tengah mengisi pengajian, beberapa putera-putera Khalifah Al-Mahdi datang turut mendengarkan pengajiannya. Namun karena cara duduknya sambil bersandar tembok, ketika mereka mengajukan beberapa pertanyaan dan hadits, Syarik pun sama sekali tidak pernah menggubrisnya. Ada yang bertanya kepadanya, “Apakah Anda memandang remeh putera-putera khalifah?” “Tidak,” Jawab Syarik, “Akan tetapi ilmu itu lebih mulia di sisi Allah daripada aku meletakkannya di kedua lututnya.” Syarik melanjutkan, “Demikianlah menuntut ilmu.”[14]

            Lebih menakjubkan lagi apa yang dikisahkan tentang keadaan majelis ilmu Ar-Razi –rahmatullah ‘alaih-. Diriwayatkan bahwa hadhirin yang menghadiri majelisnya tidak berani menghembuskan nafas mereka tatkala ia tengah berbicara menyampaikan pelajaran. Baru ketika beliau berhenti berbicara, hadhirin pun segera bernafas.[15]

            Ketahuilah, bahwa dengan adab, ilmu akan lebih mudah dimengerti dan difahami. Sebaliknya, tanpa adab, orang akan merasa lebih sulit mencerna ilmu yang ia dengar dari sang guru. Makanya jangan heran jika dijumpai ada orang yang bertahun-tahun mengaji namun perilaku dan gerak-geriknya tidak mencerminkan penuntut ilmu. Ini menjadi semacam indikasi bahwa apa yang selama ini ia hadiri belum dapat merasuki jiwanya. Hal ini tidak lain karena kesalahannya sendiri yang enggan memperbaiki diri sendiri.

            Yusuf bin Al-Husain menuturkan, “Dengan adab, ilmu akan dapat difahami.”[16]

            Malik bin Anas mengatakan, “Adab ilmu itu lebih banyak ketimbang ilmu itu sendiri.”[17]

            Ketika Al-Laits bin Sa’d mengawasi ahli hadits dan ternyata beliau jumpai ada sesuatu yang kurang sreg, beliau lantas berkomentar, “Kalian lebih membutuhkan sedikit ilmu daripada banyak ilmu.”[18]

            Zakariya al-‘Anbari turut berkata, “Ilmu tanpa adab laksana api tanpa kayu bakar. Sedangkan adab tanpa ilmu bak roh tanpa jasad.”[19]

            As-Sam’ani melaporkan, bahwa pengajian Imam Ahmad bin Hanbal dihadiri oleh sekurang-kurangnya 5000 orang. 500 di antaranya menulis, sisanya mencukupkan diri mengamati adab, prilaku, dan akhlak sang guru.”[20]

            Abu Bakar Al-Muthawwi’i berkata, “Aku menghadiri majelis Imam Abu ‘Abdillah [Ahmad bin Hanbal] selama 12 tahun lamanya. Kala itu beliau tengah membacakan kitab Al-Musnad pada putera-puteranya. Selama itu aku tidak pernah mencatat sama sekali, namun aku hanya mengamati adab dan akhlaknya.”[21]

            Masih banyak lagi riwayat-riwayat yang diutarakan oleh orang-orang pendahulu kita yang intinya sama, yaitu adab itu tidak akan pernah lepas dari ilmu. Bahkan adab –di beberapa kesempatan- lebih urgen daripada ilmu.

            Riwatar-riwayat terakhir bukan berarti mendukung orang-orang yang berangkat mengaji belajar tanpa membawa alat tulis. Namun dimaksudkan agar para hadhirin tidak asal duduk di majelis ilmu tanpa tatakrama dan adab bermajelis. Walaupun sebenarnya jika ia hanya duduk tanpa menulis dengan tetap mempelajari etika dari sang guru, itupun sudah cukup. Dengan syarat, benar-benar memperhatikan.

            Kembali kita lanjutkan pembahasan.

            “Islam adalah Anda bersaksi bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah, dan bahwasannya Muhammad adalah utusan-Nya…” Yang dimaksud dengan syahadat (أشهد) ialah aku mengakui dengan hatiku dan mengucapkan dengan lisanku. Karena syahadat adalah ucapan dan pengabaran apa yang ada dalam hati.[22]

Makna syahadat dan persaksian (لا إله إلا الله) ialah “tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah”. Demikian makna yang paling tepat untuk syahadat tersebut. Adapun makna yang sering terdengar, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka kurang tepat dan malahan sangat fatal. Sebab, realita membuktikan bahwa ternyata ada tuhan-tuhan selain Allah yang disembah dan dipuja-puja. Ada pohon besar, ada batu, ada kuburan, ada akik, ada Ny. Roro Kidul, ada Ny. Blorong, ada kiai, dan ada-ada saja lainnya. Jika makna syahadat tersebut hanya sebatas ‘tidak ada tuhan selain Allah,’ maka konsekuensinya adalah tuhan-tuhan yang disembah tadi termasuk Allah. Sebab, jika dicermati lebih dekat, makna yang keliru ini ialah, tidaklah ada tuhan yang disembah dan dipuja-puja, kecuali itulah Allah. Mahasuci Allah terhadap apa yang mereka perasangkakan.

            Oleh sebab itu sangat disayangkan manakala masyarakat Muslim didoktrin makna keliru semacam ini. Parahnya sebagian mereka asal ikut saja. Dan kesesatan hanya akan laku di pasar kebodohan.

            Dan apabila diperhatikan, ulama-ulama Indonesia dari dahulu hingga sekarang pun sudah menggunakan arti yang benar di atas, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Mari kita ambil contohnya.

            Al-Ustadz Sulaiman Rasjid –rahimahullah– dalam buku fiqihnya bertajuk Fiqh Islam yang banyak dipelajari tidak saja di Indonesia, bahkan di Malaysia pula, ketika mengartikan syahadat (أشهد أن لا إله إلا الله) dalam azan, “Saya mengaku bahwa tidak ada tuhan yang sebenarnya patut di sembah melainkan Allah.”[23]

           Al-Ustadz Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy (w. 1975) –rahmatullah ‘alaih– juga demikian mengartikan syahadat tersebut. Misalnya dalam Tafsir Al-Bayan, Tafsir An-Nur, dan buku Pedoman Dzikir & Doa.

            Di tafsir ayat Kursi, beliau menjelaskan, “Allah yang diibadahi dengan sebenarnya, tidak ada tuhan yang diibadahi dengan sebenarnya, selain Dia.”[24]

            Al-Ustadz A. Hassan Bandung (w. 1958) –rahmatullah ‘alaih– ketika mentafsirkan ayat Kursi dalam tafsirnya yang bertajuk Tafsir Al-Furqan[25] menjelaskan, “Allah itu, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainakan Dia, Yang Maha Hidup, Yang Berdiri dengan sendiri-Nya.”

            Dalam Syarah Bulugh Al-Maram[26], misalnya ketika beliau mentafsirkan hadits berikut,

أحب الكلام إلى الله أربع ، لا يضرك بأيهن بدأت : سبحان الله ، و الحمد لله ، و لا إله إلا الله

Katanya, “Ucapan yang amat disukai Allah, empat, yang engkau tidak dipandang salah dengan mana saja engkau mulai: Maha-suci Allah, dan segala puji kepunyaan Allah, dan tidak ada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah, dan Allah Maha Besar.”

            Dikeluarkan-dia oleh Muslim.”

            KRH Hadjid, murid termuda daripada KH Ahmad Dahlan, dalam bukunya, Pelajaran KHA Dahan: 7 Falsafah Ajaran & 17 Kelompok Ayat Al-Quran[27], menjelaskan lebih detail makna syahadat,

            “Apa arti asyhadu alla- illa-hs illallah?

Arti kalimat syahadat ada tiga:

  • Aku menyaksikan, artinya aku ikrar mengakui dalam mulut, bahwa tidak ada sesembahan yang sebenarnya melainkan Allah Sendiri.
  • Aku percaya dalam hati dan membenarkan bahwa tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah sendiri.
  • Artinya aku sanggup menyerahkan diri 100% menjunjung tinggi mengerjakan segala perintah-perintah mengamalkan arti kata La- ila-ha illallah dengan sebenar-benarnya.

Itulah arti syahadat yang sebenar-benarnya.”

Al-Ustadz Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani atau orang biasa mnyebutnya Nawawi Banten (w. 1314 H/1897 M)[28]rahimahullah– dalam tafsirnya[29] yang bertajuk Maroh Labid Li Kasyf Ma’na Quran Majid atau At-Tafsir al-Munir Li Ma’alim at-Tanzil Al-Musfir ‘An Wujuh Mahasin At-Ta’wil ketika mentafsirkan (لا إله إلا) mengatakan, “Maksudnya, tidak ada sesembahan yang benar yang ada di alam ini (إلا هو) kecuali Dia.”

            Dalam kitab-kitabnya yang pun beliau mengartikan demikian. Misalnya di Kasyifah As-Saja yang tak lain merupakan komentar untuk kitab Safinah An-Naja pada halaman ke-14.[30]

            Syaikh Salim bin ‘Abdullah bin Sa’d bin Sumair Al-Hadhrami Al-Batawi (w. 1271 H) penulis Safinah An-Naja Fima Yajib ‘Ala Al-‘Abd Li Maulah berkata demikian,

فصل : معنى لا إله إلا الله : لا معبود بحق في الوجود إلا الله

“Makna (لا إله إلا الله) ialah tidak ada sesembahan yang haq di alam semesta ini kecuali Allah.”

            Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Al-Minangkabawi (w. 1334)[31], imam, khathib, sekaligus pemateri di Masjidil Haram, menjelaskan dalam An-Nafahat ‘ala Syarh Al-Waraqat[32], “(لا إله إلا الله) dimaksudkan Tuhan yang disembah dengan benar. Namun jika dimaksudkan mutlak sesembahan, tentu yang ada malah kedustaan. Sebab, banyak tuhan-tuhan lain yang disembah secara tidak benar… Jika demikian, apa manfaatnya kalimat tauhid?!”

          Syaikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah At-Tarmasi (w. 1338)[33] berkata dalam Mauhibah Dzi Al-Fadhl ‘ala Syarh Ibn Hajar Muqaddimah Ba Fadhl (I/58)[34], “Ucapannya (لا إله إلا الله), artinya tidak ada tuhan yang haq di jagad raya ini selain Allah.”

            Syaikh Ahmad bin Shiddiq al-Lasemi berkata pula dalam manzhumahnya untuk Safinah An-Naja yang bertajuk Tanwir Al-Hija[35],

معناهما اعلم صدقن و عتقدا * أن ليس معبود بحق وجد

إلا الله الواحد الفرد الصــــمد * …………………………

“Maknanya ialah ketahuilah, benarkanlah, dan yakinlah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, Yang Mahaesa, Mahatunggal, Dzat yang dituju semua makhluk.”

            Dalam Sullam Al-Mubtadi fi Ma’rifah Thariqah Al-Muhtadi[36], Syaikh Dawud bin ‘Abdullah Al-Fathani (w. 1265) menjelaskan, “Dan maknanya engkau ketahui akan dia, dan i’tiqadkan akan dia, dan percaya ia, dan membenarkan dia akan bahwasannya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya daripada wujud ini melainkan Allah, Tuhan yang Esa lagi Tunggal di dalam keesaan-Nya.”

            Berikutnya Syaikh Muhammad Nur bin Muhammad Isma’il Al-Fathani[37] (w. 1363) menjelaskan sedikit lebih detail dalam Kifayah Al-Muhtadi[38], “Karena pada makna (لا إله إلا الله) itu menafikan ketuhanan daripada yang lain daripada Allah dan menetapkan ketuhanan itu bagi-Nya jua.”

            Musnidul ‘Ahsr Syaikh Abul Faidh Al-Fadani (w. 1410) mengatakan dalam Al-Fawaid al-Janiyyah[39], “Maksudnya ialah tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah semata.”

            Syaikh Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Fadani Al-Marbawi berkata dalam Bahr Al-Maadzi Syarh Mukhtashar Shahih At-Tirmidzi (IX/146) ketika menjelaskan potongan hadits di atas, “Islam pada syara’ itu ialah menurut dan menjunjung buat segala amal yang wajb lagi yang zhahir, sebagaimana diterangkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan sabdanya, ‘Naik saksi akan tida tuhan yang disembah dengan sebenarnya di dalam wujud melainkan Allah dan bahwasannya Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu hamba Allah dan pesuruh-Nya.’”

            Sengaja penulis menukil banyak ucapan ulama-ulama Indonesia agar pembaca yang budiman tahu bahwa dakwah yang selama ini kami serukan, khususnya agar lebih berhati-hati dalam mengambil ‘aqidah, bukanlah sesuatu yang baru. Sudah sejak lama didengungkan oleh pembesar-pembesar kita di masa silam.

            Adapun makna (محمد رسول الله) “Muhammad adalah utusan Allah” ialah melaksanakan apa yang menjadi perintahnya, menjauhi apa yang menjadi larangannya, membenarkan apa yang beliau kabarkan, dan tidak beribadah kepada Allah kecuali dengan cara yang beliau syariatkan.[40]

            KHR Hadjid –rahimahullah– mentafsirkan[41], “Adapun arti ‘Asyhadu anna muhammadan rasu-lullah’ ialah ‘Aku menyaksikan dengan percaya bahwa sungguh Nabi Muhammad itu pesuruh (baca: utusan) Allah yang wajib kita taati dan kita contoh dengan sebenar-benarnya dalam menjalankan perintah dan kepatuhan kepada Allah’.”

            Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dalam jawaban di atas mentafsirkan Islam pertama kali dengan dua kalimat syahadat. Dua kalimat syahadat tersebut harus diyakini, diucapkan, dan dibuktikan dengan anggota badan oleh siapa pun, baik manusia maupun jin, hingga datang hari akhir. Siapa yang enggan berpegang teguh dengannya, neraka siap menampungnya.

            Imam Muslim meriwayatkan, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

و الذي نفس محمد بيده ، لا يسمع بي أحد من هذه الأمة يهودي و لا نصراني ثم يموت و لم يؤمن بالذي أرسلت به إلا كان من أصحاب النار

“Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya. Tidak ada seorang pun umatku, Yahudi maupun Nasrani, yang mendengarku kemudian ia mati sebelum ia beriman dengan apa yang aku bawa, kecuali ia termasuk penduduk neraka.”

            Jika seseorang sudah bersaksi mengamalkan dua kalimat syahadat ini, maka konsekuensinya ialah ia harus berbuat ikhlas karena Allah dan mengikuti Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Maka setiap sesuatu yang berpotensi mendekatkan diri kepada Allah tidak akan pernah diterima di sisi-Nya kecuali jika memenuhi dua konsekuensi tadi. Apabila salah satunya saja tidak benar, maka perbuatan itu pun secara otomatis tidak akan membuahkan pahala, malahan dapat berubah menjadi dosa dan maksiat!? Dan dalam masalah ‘aqidah semacam ini, tidak ada istilah tawar menawar. Seluruhnya harus dilakukan sesuai ‘aturan mainnya’.

            Apakah dua kalimat syahadat ini dapat membuat orang yang mengucapkannya menjadi Muslim?

            Jawabnya, ya. Meskipun kita menganggapnya mengucapkan agar dapat perlindungan. Dalilnya ialah apa yang terjadi pada Usamah bin Zaid –radhiyallahu ‘anhuma-. Ketika ada orang musyrik lari darinya, ia kemudian mengejarnya hingga dapat. Beliau pun segera menghunuskan pedangnya, namun orang musyrik tadi mengucapkan syahadat dengan harapan agar Usamah mengurngkan niatnya membunuh. Akan tetapi Usamah tetap membunuhnya. Berita itu lantas terdengar sampai Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda kepada Usamah, “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan (لا إله إلا الله)?! “Rasulullah,” Jawab Usamah, “Orang itu mengatakan seperti itu hanya untuk melindungi diri.” Rasulullah –shallallahu ‘alai wa sallam- masih terus mengatakan, “Apakah kamu membunuhnya setelah ia mengucapkan (لا إله إلا الله)?![42]

            “Anda mengerjakan shalat…” Banyak orang yang terkecoh dan kurang jeli memberi tafsiran shalat. Mereka biasanya hanya mendefinisakan bahwa shalat itu gerakan dan ucapan yang dilakukan begini dan begitu, tanpa ada imbuhan lain yang sebenarnya lebih penting. Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin dalam Asy-Syarh Al-Mumti’[43] benar-benar telah mewaniti-waniti hal ini. Beliau menjelaskan,

            “Shalat menurut arti syariat ialah beribadah kepada Allah Ta’ala dengan ucapan dan perbuatan tertentu yang dibuka dengan takbir dan diakhiri dengan salam.

            Jika Anda mau, boleh diartikan, “Suatu ibadah yang memiliki ucapan dan perbuatan, dibuka dengan takbir dan disudahi dengan salam.”

            Selanjutnya beliau berkata,

“Sedangkan pendapat sebagian ulama bahwa shalat adalah ucapan dan perbuatan tertentu yang dibuka dengan takbir dan disudahi dengan salam, maka definisi semacam itu masih terbilang ada unsur kecerobohan. Kita harus katakan, ‘Suatu ibadah yang ada ucapannya…,’ atau ‘Beribadah kepada Allah ta’ala dengan ucapan dan perbuatan tertentu,’ sehingga jelas bahwa shalat itu memang bagian daripada ibadah.”

            “…menunaikan zakat…” Zakat ialah salah satu jenis ibadah dengan mengeluarkan sebagian harta yang sudah dianggap wajib dikeluarkan menurut syariat, pada harta tertentu, dan untuk diserahkan pada golongan tertentu.

            berpuasa pada bulan Ramadhan…” Maksudnya engkau beribadah kepada Allah dengan cara menjaga diri dari segala sesuatu yang dapat membatalkan puasa, dimulai dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari.

            “…serta naik haji apabila engkau sanggup mengerjakannya.Engkau pergi ke Makkah menunaikan manasik yang telah ditentukan dan pada waktu yang telah ditentukan pula sebagai bentuk ibadah kepada Allah. Hal tersebut wajib dilakukan apabila sudah sanggup melakukannya secara syariat.

            Allah berfirman,

وَلِلَّهِ عَلَى النَّاسِ حِجُّ الْبَيْتِ مَنِ اسْتَطَاعَ إِلَيْهِ سَبِيلًا

“Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (QS Alu ‘Imran)

“Dia menimpali, ‘Engkau benar.’ Kami pun terheran-heran. Dia yang bertanya namun juga mampu menilainya benar.’” Keheranan para shahabat didasarkan pada sesuatu yang tidak biasa terjadi. Umumnya orang yang bertanya itu dalam rangka mencari tahu terhadap apa yang dipertanyakannya. Orang semacam ini jika tidak sudah memperoleh jawaban tidak akan menjawab, ‘Engkau benar,’ sebab jika orang yang mengajukan pertanyaan menilai benar orang yang disodori pertanyaan, menunjukkan bahwa orang yang bertanya tersebut sudah tahu tentang apa yang ia pertanyakan. Itulah kenapa para shahabat merasa heran dan takjub melihat sikap penanya asing itu.

“Dia kembali bertanya, ‘Beritahu aku apa itu iman?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beriman pada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman pada qadar; yang baik maupun yang buruk.’Jawaban ini mengandung penjelasan terkain rukun-rukun Iman yang 6. Berikut rinciannya:

Rukun iman pertama, iman kepada Allah. Iman kepada Allah memiliki empat rukun, yaitu:

  1. Beriman dengan keberadaan Allah ‘Azza wa Jalla.
  2. Beriman dengan keesaan-Nya dalam hal tauhid rububiyyah. Artinya seluruh jagad raya ini tidak ada yang mengaturnya kecuali Allah semata, tidak ada lainnya. Orang sembuh karena Allah lah yang menyembuhkannya. Ada orang yang wafat, karena Allah lah yang mewafatkannya. Ada daun yang gugur, karena Allah lah yang menggugurkannya. Ada tsunami dan gempa bumi, karena Allah lah yang menghendakinya. Seluruh alam semesta ini hanya Allah sajalah yang menciptakannya dan Dialah satu-satunya yang mengatur semuanya, tanpa terkecuali.
  3. Beriman kepada Allah dalam hal tauhid uluhiyyah. Oleh karena Dialah satu-satunya Dzat yang Mahamenciptakan dan yang Mengatur alam jagad ini, maka Dia pulalah satu-satunya yang berhak diibadahi. Tidak ada Tuhan yang berhak disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah semata, Dzat yang Mahatunggal.
  4. Beriman dengan nama-nama-Nya yang indah dan shifat-shifat-Nya yang husna. Yaitu menetapkan apa saja yang Allah tetapkan untuk diri-Nya serta apa yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tetapkan untuk-Nya berupa nama dan shifat-Nya, dan menafikan segala sesuatu yang Dia nafikan untuk diri-Nya sendiri dan apa yang dinafikan oleh Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dari Allah ‘Azza wa Jalla, berupa nama dan shifat. Hal itu dilaksankan tanpa ada usaha membagaimanakan, menggambarkan, mengingkari, dan menyamakan nama-nama dan shifat-shifat-Nya. Demikian definisi tauhid asma’ wa shifat menurut tinjaun Ahlussunnah wal Jama’ah.

Definisi di atas didasarkan atas firman Allah ‘Azza wa Jalla,

 لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat.[44]

            Beriman kepada Allah dan nama serta shifat-Nya akan membuahkan kecintaan kepada-Nya, lebih membuat seorang hamba semakin mengagungkan-Nya yang pada gilirannya perintah dan larangan-Nya akan semakin mudah dilakukan karena iman yang menadi motifasinya.

Rukun iman kedua, beriman kepada para malaikat Allah. Malaikat, adalah hamba-hamba yang dimuliakan, mereka itu tidak mendahului-Nya dengan perkataan dan mereka mengerjakan perintah-perintah-Nya.[45] Allah menciptakan mereka dari cahaya. Mereka selalu beribadah dan taat kepada-Nya dan sama sekali tidak pernah durhaka dan membantah-Nya. ‘Mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada henti-hentinya.[46]

            Jumlah malaikat itu sangat banyak. Tidak ada yang mengetahuinya secara pasti kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, bahwasannya sebuah tempat di langit ketujuh bernama Baitul Ma’mur, setiap harinya dimasukki 700.ooo malaikat. Kemudian mereka tidak akan pernah kembali lagi.

            Dan masing-masing malaikat memiliki tugas berbeda-beda. Jibril diberi tugas menyampaikan wahyu pada rasul-rasul-Nya, Israfil diberi kepercayaan meniup sangkhakala yang juga salah satu penyuggi ‘Arsy, sedangkan Mikail diberi tugas membuat hujan dan pada mengurusi tumbuh-tumbuhan, Malakul Maut diberi tugas mencabut nyawa, dan seterusnya.

            Jika ada yang bertanya, apakah mereka punya akal? Kita jawab, apa kamu punya akal?! Tidak ada yang menanyakan hal ini kecuali orang gila!? Allah sendiri telah berfirman, “Mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang Allah perintahkan pada mereka dan mereka selalu melaksanakan apa yang diperintahkan.”[47] Mungkinkah Allah memuji mereka seperti itu sedangkan mereka tak punya akal?!

“Mereka selalu bertasbih siang dan malam tak henti-henti.”[48] Apakah kita katakan mereka tidak berakal?! Mereka melaksanakan perintah Allah dan mengerjakan titah-titah-Nya, mereka menyampaikan wahyu, apakah mereka tidak punya akal?! Yang paling pantas dikatakan tidak punya akal adalah orang yang mengatakan, para mailaikat tidak berakal!![49]

Beriman kepada para malaikat akan membuahkan:

  • Ilmu tentang kebesaran, kekuatan, kekuasaan, dan keagungan Allah ‘Azza wa Jalla.
  • Rasa syukur kepada-Nya, bahwa Dia telah memberi tugas beberapa malaikat menjaganya, membelanya, merekam berbagai macam tindak-tanduknya, serta hal-hal lain yang maslahatnya kembali kepada hamba itu sendiri.
  • Rasa cinta pada malaikat atas apa yang menjadi tugas mereka, yang salah satunya istighfar mereka untuk kaum mukmin.

Rukun iman ketiga, beriman kepada kitab-kitab Allah. Maksudnya adalah kitab-kitab yang pernah Allah turunkan kepada para utusannya di dunia. Dan tidak ada seorang utusan pun kecuali Allah menurunkan kitab kepadanya. Allah berfirman,

كَانَ النَّاسُ أُمَّةً وَاحِدَةً فَبَعَثَ اللَّهُ النَّبِيِّينَ مُبَشِّرِينَ وَمُنذِرِينَ وَأَنزَلَ مَعَهُمُ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ

“Manusia itu adalah umat yang satu. (setelah timbul perselisihan), maka Allah mengutus para nabi, sebagai pemberi peringatan, dan Allah menurunkan bersama mereka Kitab yang benar.”[50]

            Beriman pada kitab-kitab Allah mengandung beberapa emat unsur:

Pertama, kita beriman bahwa Allah telah menurunkan kitab-kitab kepada para rasul-Nya dan bahwasannya kitab-kitab tersebut datang dari Allah ‘Azza wa Jalla. Akan tetapi kita tidak mempercayai bahwa kitab-kitab yang ada pada orang-orang saat ini itulah kitab-kitab yang Allah turunkan. Sebab, al-Quran telah mengatakan bahwa kitab-kitab itu sekarang sudah diselewengkan. Adapun kitab yang diterima para rasul dahulu, itulah yang benar dari Allah Ta’ala.

Kedua, kita beriman akan kebenaran kabar-kabar yang terkandung di dalam kitab-kitab tersebut selama belum diselewengkan, sebagaimana kita beriman dengan penuh keyakinan akan kebenaran dan keontentikan kabar-kabar yang dibawa oleh Al-Quran

Ketiga, kita mengimani hukum-hukum yang terkandung dalam kitab-kitab tersebut jika tidak menyelisihi syariat Islam, karena hukum-hukum yang tertera kitab-kitab terdahulu sudah dinasakh dan digugurkan seiring turunnya Al-Quran.

Keempat, kita beriman dengan nama-nama mana saja yang kita ketahui secara rinci, seperti Al-Quran, Taurat, Injil, Zabur, Shuhuf Ibrahim, dan Shuhuf Musa. Adapun nama-nama yang tidak kita ketahui, maka kita imani kitab-kitab tersebut secara gelobal.

Jika ada orang yang tidak beriman dengan adanya Taurat atau injil, maka orang tadi dihukumi kafir. Alasannya karena iman kepada Allah mencakup iman pada kitab-kitab yang Dia turunkan dan Al-Quran pun telah mengabarkan akan adanya kitab tersebut, sedangkan orang yang mendustakan satu huruf pun dalam Al-Quran, atau bahkan satu titik pun di dalamnya, selama bukan masalah qiraah, maka tentu orang yang ingkar tadi dinilai kafir. Bagaimana pula ada orang yang tidak beriman dengan apa yang Al-Quran kabarkan?

Beriman pada kitab-kitab Allah akan membuahkan:

  • Pengetahuan bahwa Allah benar-benar sayang dan memperhatikan urusan para hamba-Nya, karena Dia telah menurunkan satu kitab untuk setiap kaum sebagai pedoman hidup mereka
  • Nampaknya hikmah Allah Ta’ala, yang mana Allah telah mensyariatkan dalam kitab-kitab ini sesuatu yang sesuai dan cocok untuk masing-masing umat.

Rukun keempat, beriman kepada rasul-rasul Allah. Yaitu mengakui bahwa Allah ‘Azza wa Jalla memilih rasul dan nabi dari kalangan manusia yang bertujuan agar mereka memberi petunjuk manusia pada jalan yang haq dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya kebenaran. Allah Ta’ala berfirman, “Allah memilih dari kalangan malaikat rasul-rasul, dan dari kalangan manusia pula.”

Penulis Bahr Al-Madzi (XVIII/143), Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Marbawi, memaparkan, “Dan ketahuilah olehmu, bahwasannya Allah Ta’ala utuskan mereka itu kepada makhluk supaya memberi petunjuk akan mereka itu kepada jalan yang haq dan menyempurnakan kehidupan mereka itu dan akhirat mereka itu. Dan bahwasannya rasul-rasul itu benar semua pada apa-apa yang dikhabarkannya daripada Allah dan yang disampaikannya daripada-Nya. Dan sungguhnya mereka itu telah menerangkan bagi sekalian orang mukallaf akan barang yang disuruh akan mereka itu menerangkannya dan wajib dihormatkan mereka itu.”

Adakah nabi dan rasul di kalangan jin? Tidak ada rasul dan nabi dari kalngan jin, yang ada hanyalah para pemberi peringatan atau bahasa bebasnya da’i. Allah berfirman,

وَإِذْ صَرَفْنَا إِلَيْكَ نَفَرًا مِّنَ الْجِنِّ يَسْتَمِعُونَ الْقُرْآنَ فَلَمَّا حَضَرُوهُ قَالُوا أَنصِتُوا ۖ فَلَمَّا قُضِيَ وَلَّوْا إِلَىٰ قَوْمِهِم مُّنذِرِينَ * قَالُوا يَا قَوْمَنَا إِنَّا سَمِعْنَا كِتَابًا أُنزِلَ مِن بَعْدِ مُوسَىٰ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَإِلَىٰ طَرِيقٍ مُّسْتَقِيمٍ * يَا قَوْمَنَا أَجِيبُوا دَاعِيَ اللَّهِ وَآمِنُوا بِهِ يَغْفِرْ لَكُم مِّن ذُنُوبِكُمْ وَيُجِرْكُم مِّنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ * وَمَن لَّا يُجِبْ دَاعِيَ اللَّهِ فَلَيْسَ بِمُعْجِزٍ فِي الْأَرْضِ وَلَيْسَ لَهُ مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءُ ۚ أُولَٰئِكَ فِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ *

Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, Diamlah kamu (untuk mendengarkannya).’ Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata, Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus. Hai kaum kami, terimalah (seruan) orang yang menyeru kepada Allah dan berimanlah kepada-Nya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosa kamu dan melepaskan kamu dari azab yang pedih.’”[51]

Di antara para rasul itu ada yang diceritakan dalam Al-Quran dan ada yang tidak. Allah berfirman, “Dan beberapa Rasul yang telah Kami kisahkan kepada engkau sebelum itu –di dalam surat-surat Makkiyyah- dan beberapa rasul yang tidak Kami kisahkan kepada engkau.” (QS An-Nisa’: 164)

Para rasul yang dikisahkan dalam Al-Quran ada 25, delapan belas di antaranya Allah sebutkan dalam surat Al-An’am,

وَتِلْكَ حُجَّتُنَا آتَيْنَاهَا إِبْرَاهِيمَ عَلَىٰ قَوْمِهِ ۚ نَرْفَعُ دَرَجَاتٍ مَّن نَّشَاءُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ * وَوَهَبْنَا لَهُ إِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ ۚ كُلًّا هَدَيْنَا ۚ وَنُوحًا هَدَيْنَا مِن قَبْلُ ۖ وَمِن ذُرِّيَّتِهِ دَاوُودَ وَسُلَيْمَانَ وَأَيُّوبَ وَيُوسُفَ وَمُوسَىٰ وَهَارُونَ ۚ وَكَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ * وَزَكَرِيَّا وَيَحْيَىٰ وَعِيسَىٰ وَإِلْيَاسَ ۖ كُلٌّ مِّنَ الصَّالِحِينَ * وَإِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَيُونُسَ وَلُوطًا ۚ وَكُلًّا فَضَّلْنَا عَلَى الْعَالَمِينَ

Dan itulah hujjah Kami yang Kami berikan kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. Kami tinggikan siapa yang Kami kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. Dan Kami telah menganugerahkan Ishak dan Ya’qub kepadanya. Kepada keduanya masing-masing telah Kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) telah Kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. dan Zakaria, Yahya, Isa dan Ilyas. Semuanya termasuk orang-orang yang shaleh. dan Ismail, Alyasa, Yunus dan Luth. Masing-masing Kami lebihkan derajatnya di atas umat (di masanya).” (QS Al-An’am: 83-86)

            Sedangkan tujuh lainnya adalah Adam, Idris, Hud, Shalih, Syu’aib Dzul Kifl, dan Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi Al-Hasyimi –‘alaihish shalatu was salam-.

            Timbul pertanyaan, apa beda antara nabi dan rasul? Jawaban yang paling membuat hati lebih menerima adalah seperti yang diketengahkan oleh Syaikh ‘Abdul Muhsin bin Hamd Al-‘Abbad al-Badr, ‘Para rasul ialah mereka yang diberi tugas menyampaikan syariat yang diturunkan pada mereka, berdasarkan firman Allah Ta’ala, ‘Sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan keterangan-keterangan dan kami turunkan pada mereka Al-Kitab dan mizan.’ Al-Kitab adalah satu jenis istilah yang dimaksudkan kitab-kitab. Sedangkan para nabi adalah mereka yang diberi wahyu agar menyampaikan syariat terdahulu, sebagaimana firman Allah, Sesungguhnya Kami telah menurunkan Kitab Taurat di dalamnya (ada) petunjuk dan cahaya (yang menerangi), yang dengan Kitab itu diputuskan perkara orang-orang Yahudi oleh nabi-nabi yang menyerah diri kepada Allah, oleh orang-orang alim mereka dan pendeta-pendeta mereka, disebabkan mereka diperintahkan memelihara kitab-kitab Allah dan mereka menjadi saksi terhadapnya.Dan para nabi dan rasul benar-benar telah menyampaikan apa yang seharusnya disampaikan secara sempurna dan pas. Allah berfirman, ‘Bukankah kewajiban para rasul itu hanya menyampaikan saja?’ Dia juga berfirman,

وَسِيقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ جَهَنَّمَ زُمَرًا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَاءُوهَا فُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا أَلَمْ يَأْتِكُمْ رُسُلٌ مِّنكُمْ يَتْلُونَ عَلَيْكُمْ آيَاتِ رَبِّكُمْ وَيُنذِرُونَكُمْ لِقَاءَ يَوْمِكُمْ هَٰذَا ۚ قَالُوا بَلَىٰ وَلَٰكِنْ حَقَّتْ كَلِمَةُ الْعَذَابِ عَلَى الْكَافِرِينَ

Orang-orang kafir dibawa ke neraka Jahannam berombong-rombongan. Sehingga apabila mereka sampai ke neraka itu dibukakanlah pintu-pintunya dan berkatalah kepada mereka penjaga-penjaganya: “Apakah belum pernah datang kepadamu rasul-rasul di antaramu yang membacakan kepadamu ayat-ayat Tuhanmu dan memperingatkan kepadamu akan pertemuan dengan hari ini?” Mereka menjawab: “Benar (telah datang)”. Tetapi telah pasti berlaku ketetapan azab terhadap orang-orang yang kafir.(QS Az-Zumar: 71)

            Az-Zuhri berkata, ‘Risalah itu berasal dari Allah ‘Azza wa Jalla, kewajiban para rasul adalah menyampaikan, sedangkan kita wajib berserah diri (melaksanakannya).’”[52]

            Kemudian di antara para nabi dan rasul di ada lima di antaranya yang paling mulia. Mereka biasa diberi gelar Ulul ‘Azm. Mereka adalah Muhammad, Ibrahim, Musa, Nuh, dan ‘Isa.

            Pada umumnya, dakwah yang disampaikan para nabi dan rasul itu sama, utamanya masalah tauhid dan ‘aqidah. Oleh karena itu jika ada orang yang mengingkari salah satu nabi, berarti ia juga mendustakan seluruh nabi dan rasul. Selain itu, hal lain yang sangat terlarang dilakukan ialah membeda-bedakan antara satu nabi dengan nabi yang lain.

            Dalil yang menunjukkan bahwa dakwah para nabi dan rasul sama adalah firman-Nya,

وَمَا أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ مِن رَّسُولٍ إِلَّا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا أَنَا فَاعْبُدُونِ

Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS Al-Anbiya’: 65)

“Kaum Nuh telah mendustakan rasul-rasul.” Telah diketahui bahwa tidak ada rasul sebelum Nuh. Akan tetapi di ayat tersebut Allah mengabarkan bahwa kaum Nuh telah mendustakan para rasul. Ini artinya mereka memang hanya mendustakan Nuh, akan tetapi karena dakwah para nabi dan rasul sama, maka seolah-oleh yang mereka dustakan adalah seluruh nabi dan rasul. Andaikata ada nabi lain selain Nuh mendakwahi mereka, tentu mereka juga akan mendustakannya, sebab materi dakwah yang disampaikannya pun tidak ada bedanya.

            Hal yang sama ialah kesamaan syariat suatu umat. Tidak diperkenankan bagi siapa pun mengimani sebagian syariat, namun di waktu bersamaan membenci syariat lain. Seperti jika ada orang yang mengatakan bahwa dirinya beriman shalat merupakan rukun Islam yang wajib ditunaikan, namun di sisi lain ia tidak mengimani syariat cadar, poligami, zakat, atau lainnya. Jika sudah demikian, berarti orang tadi dianggap telah mendustakan seluruh syariat.

            Allah berfirman,

فَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ ۚ فَمَا جَزَاءُ مَن يَفْعَلُ ذَٰلِكَ مِنكُمْ إِلَّا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَىٰ أَشَدِّ الْعَذَابِ ۗ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadaklah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.(QS Al-Baqarah: 85)

Kemudian dengan mengimani para nabi dan rasul, akan menumbuhkan:

  • Ilmu akan rahmat Allah dan perhatian-Nya pada hamba-hamba-Nya, yang mana Allah telah mengutus para nabi dan rasul guna memberi mereka petunjuk dan arahan ke jalan yang benar
  • Rasa syukur kepada Allah atas nikmat agung ini
  • Rasa cinta dan hormat pada para nabi dan rasul serta pujian yang layak untuk mereka.

Rukun kelima, beriman pada hari akhir. Yang dimaksud dengan hari akhir adalah hari kiamat. Mengimani hari akhir dengan mengakui dan membenarkan apa-apa yang akan terjadi setelah kematian sebagaimana yang telah disampaikan Al-Quran dan Sunnah. Wal hasil, beriman dengan hari akhir mencakup beberapa perkara:

Pertama, beriman bahwa hari qiamat benar-benar akan terjadi dan Allah akan membangkitkan siapa saja yang berada di alam qubur, baik mereka yang jasadnya dikebumukan maupun yang tenggelem, dimakan ikan, terbakar, atau semacamnya. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Kemudian kalian benar-benar akan dibangkitkan pada hari kiamat.” (QS Al-Mukminun: 16) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Pada hari kiamat orang-orang akan dikumpulkan dalam keadaan telanjang tak berkhitan.” (HR Muslim)

Kedua, beriman dengan apa yang Allah sebutkan dalam Al-Quran dan apa yang dikabarkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang apa yang bakal terjadi pada hari itu, seperti dikumpulkannya seluruh manusia, dari awal hingga akhir, di padang mahsyar dalam keadaan telanjang tak berkhitan. “Seperti ketika Kami pertama kali menciptakan, demikian pula Kami mengulanginya.” (QS Al-Anbiya’: 104)

Ketiga, beriman dengan apa saja yang ada di hari kiamat, seperti haudh, syafaat, shirath, surga, neraka, a’raf, dan seterusnya sesuai Al-Quran dan Sunnah.

            Keempat, beriman dengan nikmat kubur dan azabnya.

            Pada kesempatan ini penulis sebutkan peringatan Ibnu ‘Utsaimin –rahimahullah– terkait ucapan yang sering kita dengar ketika ada orang yang meninggal dikatakan, “Telah berpulang selama-lamanya” atau “Telah berpindah ke tempat peristirahatannya terakhir.” Sekilas nampaknya ucapan tersebut biasa, namun sejatinya akibatnya sangat fatal! Perkataan tersebut seakan-akan mengingkari adanya kebangkitan di hari kiamat. Sebab, jika dikatakan bahwa kubur adalah tempat peristirahatan terakhir, berarti setelahnya tidak ada peristiwa apa-apa; tidak ada kebangkitan, tidak ada surga, tidak ada neraka, dan seterusnya. Jadi, permasalahannya sangat bahaya sekali, namun sayang seribu sayang, banyak orang yang tidak menyadarinya dan bahkan menganggapnya remeh. “Mereka menyangka ringan, padahal menurut Allah besar!”

            Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dalam Wasithiyyah-nya menuturkan, “Termasuk mengimani hari akhir adalah beriman dengan apa saja yang diberitakan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– peristiwa-peristiwa yang akan terjadi setelah kematian. Maka mereka beriman dengan adanya fitnah kubur, azab kubur, dan nikmat kubur. Adapun fitnah, manusia akan diuji di kubur mereka. Dikatakan pada seseorang, ‘Siapa Rab-mu? Apa agamamu? Siapa nabimu? Maka ‘Allah akan mengokohkan orang-orang yang beriman dengan ucapan yang kokoh di kehidupan dunia dan akhirat.’ Orang mukmin akan menjawab, ‘Rab-ku adalah Allah, Islam agamaku, dan Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– nabiku.’ Sementara orang yang bimbang bakal menjawab, ‘Ha ha, aku tak tahu. Aku dengar orang-orang mengatakan sesuatu, aku pun ikut mengatakannya.’ Lantas orang tersebut dipukul dengan palu yang terbuat dari besi sehingga ia berteriak yang dapat didengarkan segala sesuatu kecuali manusia. Kemudian setelah ujian ini, kalau tidak kenikmatan maka siksa.”

Penulis Sullam Al-Muhtadi Ila Thariqah Al-Muhtadi (hlm. 3-4), Dawud bin ‘Abdullah Al-Fathani, mengatakan, “Dan wajib kita percaya akan hari kiamat lagi akan datang tiada mengetahui dia seseorang akan waktunya… Dan wajib kita percayakan azab kubur dan nikmatnya dan soal dua malaikat yang dinamakan fitnah kubur, yaitu munkar dan nakir, dan bangkit pada hari kiamat daripada kubur, dan hasyr, dan nasyr, dan hisab, dan dibalaskan segala amal yang baik dengan surga, dan yang jahat dengan neraka. Dan wajib kita percaya haudh (Indonesia: telaga) Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, dan mizan, dan shirathul mustaqim, dan surga negeri nikmat yang kekal selama-lama dan neraka nekeri azab selama-lamanya, dan melihat orang Mukminin akan Tuhan-nya. Maka adalah sekaliannya yang demikian telah datang khabarnya daripada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ialah khatamul anbiya’ dan penghulunya yang mempunyai syafaat kubra, padahal segala rasul berkata mereka itu, ‘Nafsi, nafsi.’ Hai Tuhan-ku, jadikan kami daripada ahli syafaatnya dan dibawah liwa’nya, dan beri bagi kami minum daripada bejana kolamnya –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.”

Rukun iman keenam, beriman pada qadar, yang baik maupun yang buruk. “…dan engkau beriman pada qadar, yang baik maupun yang buruk.” Potongan inilah yang dijadikan dalil ‘Abdullah bin ‘Abbas tatkala meriwayatkan hadits Jibril pada dua orang Bashrah yang datang meminta perimbangan kepadanya.

Beriman pada qadar meliputi empat hal:

Pertama, beriman bahwa Allah ‘Azza wa Jalla mengetahui segala sesuatu, secara global maupun detail; baik yang telah terjadi maupun yang akan terjadi. Allah Jalla wa ‘Ala berfirman, “Allah mengetahui segala sesuatu.” (QS Al-Baqarah: 282) Allah juga berfirman menceritakan ucapan Nabi Musa, “Rabku tidak salah dan tidak lupa.” (QS Thaha 52). Juga firman-Nya,

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS Ath-Thalaq: 12)

            Dalam Surat Al-An’am ayat ke-59, Allah Ta’ala juga menuturkan,

۞ وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَقَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْضِ وَلَا رَطْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

“Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh).”

Kedua, beriman bahwasannya Allah mencatat segala peristiwa yang terjadi hingga hari di Lauh Mahfuzh. Allah berfirman, “Dan segala sesuatu telah kami tulis di kitab yang jelas.” (QS Yasin: 12) Firman-Nya pula,

وَلَقَدْ كَتَبْنَا فِي الزَّبُورِ مِن بَعْدِ الذِّكْرِ أَنَّ الْأَرْضَ يَرِثُهَا عِبَادِيَ الصَّالِحُونَ

“Dan sungguh telah Kami tulis didalam Zabur sesudah (Kami tulis dalam) Lauh Mahfuzh, bahwasanya bumi ini dipusakai hamba-hamba-Ku yang saleh.” (QS Al-Anbiya’: 105)

            Imam Muslim merekam sebuah hadits, dari ‘Abdullah bin ‘Amru bin Al-‘Ash, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda,

إن الله كتب مقادير الخلائق قبل أن يخلق الله السموات و الأرض بخمسين ألف سنة ، قال و عرشه على الماء

“Sesungguhnya allah telah menulis taqdir seluruh makhluk lima puluh ribu tahun sebelum menciptakan langit-langit dan bumi.” Beliau bersabda, “Dan ‘Arsy-Nya berada di atas air.”

            Dan segala sesuatu yang tertulis dalam Luh Mahfuzh pasti akan terjadi. Tidak ada yang meleset dan tidak aka ada perubahan dan pernggantian. “Tidaklah sekali-kali sesuatu bencana yang terjadi di muka bumi dan tidak ada pada dirimu melainkan yang demikian itu adalah termateri dalam kitab sebelum Kami ciptakannya.” (QS Al-Hadid: 22) Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah bersabda kepada Ibnu ‘Abbas, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad bin Hanbal dan Abu ‘Isa At-Tirmidzi, “Ketahuilah sekiranya seluruh umat dari awal hingga akhir bersatu padu untuk memberimu manfaat, itu tidak akan pernah terjadi kecuali sesuatu yang telah Allah taqdirkan untukmu, dan sekiranya seluruh umat dari awal hingga akhir bersatu untuk mencelakaimu, hal itu juga tak akan pernah terjadi kecuali sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena sudah diangkat dan lembaran-lembaran pun sudah mengering.”

            Lalu bagaimana dengan firman Allah, “Allah menghapus apa yang menjadi kehendak-Nya dan Dia menetapkan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Ummul Kitab berada di sisi-Nya,” ? Ayat tersebut ditafsirkan berkaitan dengan syariat. Allah berhak menghapus (baca: menasakh) apa yang Dia sukai dan Dia pun berhak memutuskan apa yang menjadi keinginan-Nya, sampai kemudian risalah Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjadi pengganti seluruh syariat terdahulu.

            Sedangkan sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Qadha’ tidak akan bisa ditolak kecuali dengan doa dan umur tidak akan bisa bertambah kecuali dengan kebaikan.” Hadits yang dicatat Imam Abu ‘Isa At-Tirmidzi dan dinilai hasan oleh Al-Albani tersebut tidaklah membuktikan bahwa isi Lauh Mahfuzh dapat dirubah. Namun maknanya adalah Allah mentaqdirkan keselamatan daripada keburukan, dan Dia mentaqdirkan sebab-sebab sehingga terwujudlah keselamatan. Maknanya, Allah menarik hamba-Nya dari keburukan yang itu ditaqdirkan bersamaan dengan sebab yang dilakukan hamba tersebut, yaitu doa. Demikian juga Allah telah mentaqdirkan bahwa umur si orang itu panjang, lalu Dia mentaqdirkan orang tersebut dapat menggapai hal tersebut dengan sebab yang dilakukannya, yaitu banyak melakukan kebaikan dan menyambung tali silaturahmi. Kesimpulannya, sebab dan musabbab itu seluruhnya datang dari Allah ‘Azza wa Jalla.[53]

Ketiga, beriman bahwa segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini berdasarkan keinginan Allah dan tidak ada yang keluar dari masyiah-Nya. Apa yang Allah kehendaki bakal terjadi dan apa yang tidak dikehendaki-Nya tidak akan pernah terjadi.

            Allah mengatakan,

 وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلَ الَّذِينَ مِن بَعْدِهِم مِّن بَعْدِ مَا جَاءَتْهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَلَٰكِنِ اخْتَلَفُوا فَمِنْهُم مَّنْ آمَنَ وَمِنْهُم مَّن كَفَرَ ۚ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا اقْتَتَلُوا وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَفْعَلُ مَا يُرِيدُ

Dan kalau Allah menghendaki, niscaya tidaklah berbunuh-bunuhan orang-orang (yang datang) sesudah rasul-rasul itu, sesudah datang kepada mereka beberapa macam keterangan, akan tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada (pula) di antara mereka yang kafir. Seandainya Allah menghendaki, tidaklah mereka berbunuh-bunuhan. Akan tetapi Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” (QS Al-Baqarah: 253)

Firman-Nya, “Sekiranya Allah menghendaki, tentu mereka tidak akan melakukannya.” (QS Al-An’am: 137)

Pada Surat At-Takwir ayat ke-28 dan 29 Dia mengatakan, Bagi siapa di antara kamu yang mau menempuh jalan yang lurus. Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Keempat, beriman bahwa segala sesuatu di jagad raya ini adalah ciptaan Allah. Gunung, lautan, hutan, bumi, bulan, bintang, lembah, matahari, langit, surge, neraka, manusia, jin, hewan, tumbuh-tumbuhan, gerak-gerik manusia, dan seterusnya. “Allah menciptakan segala sesuatu.”

            Walhasil, segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini, yang baik maupun yang buruk, tidak lain karena qadha’ Allah dan taqdir-Nya. Hanya saja Allah tidak pernah mentaqdirkan keburukan kecuali mengandung hikmah tertentu, terkadang diketahui dan kadang pula tidak. Dan sebagai bentuk adab kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla, tidak sepantasnya taqdir yang buruk tersebut dinisbatkan pada Allah Ta’ala.

            Lihatlah bagaimana Nabi Ibrahim –‘alaihissalam- tidak menisbatkan sakit yang ‘dideritanya’ kepada Allah sementara kesembuhan yang diperolehnya datang dari Allah. Katanya, “Dan apabila aku jatuh sakit, Dialah yang memberiku kesembuhan.”

            Ini dia Jin juga melakukan hal yang sama. Ujarnya, “Dan kami tidak tahu bencana apakah yang dikehendaki untuk orang-orang yang ada di bumi, ataukah Rabb berkehendak memberikan petunjuk yang benar kepada mereka.”

            Beriman dengan taqdir termasuk perkara ghaib yang hanya diketahui oleh Allah saja. Adapun selain-Nya tidak ada yang mengetahui kecuali dengan dua hal:

Pertama, terjadinya suatu peristiwa. Jika terjadi sesuatu maka dapat diketahui bahwa sesuatu tersebut berada dalam lingkaran taqdir, sekiranya tidak ditaqdirkan tentu tak akan pernah terjadi.

Kedua, adanya berita dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tentang berbagai peristiwa yang bakal terjadi di masa depan. Misalnya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengabarkan akan munculnya Dajja, Ya’juj dan Ma’juj, turunnya ‘Isa bin Maryam di akhir zaman, datangnya Al-Mahdi, dan peristiwa-peristiwa lainnya yang akan terjadi di akhir zaman. Berita-berita tersebut menunjukkan bahwa semua ini akan terjadi.

            Bolehkah orang beralasan dengan qadar ketika ia tidak melaksanakan perintah Allah atau menerjang larangan-Nya? Jawabanya sebagaima kisah yang terjadi di masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu-. Alkisah ada seseorang yang tertangkap melanggar perintah atau mengerjakan suatu dosa lantas si tersangka berkilah bahwa apa yang dilakukannya itu tidak lain karena taqdir. Apa jawab ‘Umar? Beliau menjawab, bahwa hukuman yang ia putuskan pun juga berdasarkan taqdir.

            Sedangkan perselisihan Adam dan Musa tentang qadar, bukan bermakna beralasan dengan taqdir ketika melakukan dosa, namun beralasan dengan musibah yang terjadi karena maksiat. Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim bahwa suatu ketika Adam dan Musa tengah terjadi dialog. Musa berkata, “Adam, kamu yang dikeluarkan dari surga karena kesalahanmu.” Adam kemudian menjawab, “Kamu Musa, orang yang Allah pilih dengan risalah dan kalam-Nya, apakah kamu mencelaku karena sesuatu yang telah Allah tetapkan sebelum aku diciptakan?” Lantas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi komentar, “Adam pun dapat mengalahkan argument musa,” dua kali.

“Ia bertanya, ‘Beritahu aku apa itu ihsan?’ Beliau menjawab, ‘Engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau dapat melihat-Nya. Apabila kamu tidak sanggup melihat-Nya, sejatinya Dia melihatmu.’

Ihsan ada tiga[54], yaitu ihsan terhadap sesama, ihsan kepada sang pencipta, dan ihsan ketika berbuat. Ihsan model pertama bermakna berbuat baik, sementara ihsan jenis kedua memiliki arti sebagaimana yang didefinisikan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di atas, sedangkan yang terakhir yang maksudnya apabila seseorang mengerjakan sesuatu hendaknya ia mengerjakannya dengan baik dan sempurna.

Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani Asy-Syafi’i menjelaskan dalam Kasyifah As-Saja[55], bahwa dalam menunaikan ibadah, seorang hamba memiliki tiga tingkatan, yaitu:

Pertama, hamba yang melakukan ibadah sekedar untuk menggugurkan kewajiban, dalam artian bahwa syarat dan rukunnya dapat terpenuhi.

Kedua, seorang hamba yang melakukan ibadah seperti orang pertama namun telah tenggelam dalam lautan mukasyafah sekakan-akan ia menyaksikan-Nya.

Ketiga, seseorang yang mengerjakan ibadah semacam tadi dan dia merasa bahwa Allah tengah menyaksikannya.

            Ihsan sebagaimana yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– seperti di atas merupakan tingkatan paling tinggi. Di bawahnya didudukki Iman dan tinggkat di bawahnya lagi didudukki Islam. Setiap muhsin (baca: orang yang berbuat ihsan) adalah mukmin muslim, dan tidak sebaliknya. Oleh karena itu di surat Al-Hujarat ayat ke-14,

قُل لَّمْ تُؤْمِنُوا وَلَٰكِن قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ ۖ

Orang-orang Arab Badui itu berkata, Kami telah beriman,’ Katakanlah, Kamu belum beriman, tapi katakanlah, kami telah tunduk (berislam).”

“Dia bertanya, ‘Beritahu itu tentang hari kiamat?’ Beliau bersabda, ‘Orang yang ditanya tentangnya tidak lebih tahu daripada yang mengajukan pertanyaan.’” Hari kiamat adalah bangkitnya (qiyam) seluruh manusia dari kubur menuju Allah, Rabb semesta alam. Kiamat (Indonesia: sesaat) disebut kiamat juga dikarenakan terjadinya memang secara tiba-tiba dalam waktu sesaat.

Kiamat biasa dipakai untuk tiga artian[56]:

  1. Kiamat Kecil, yaitu kematian seseorang. Jadi orang yang meninggal bisa dikatakan bahwa dia telah menghadapi hari kiamatnya.
  2. Kiamat pertengahan, yaitu kematian seluruh penduduk pada suatu abad.
  3. Kiamat besar, yaitu dibangkitkannya seluruh manusia dari alam kubur untuk dihitung amal perbuatannya lalu diberi balasa. Artian inilah yang dimaksudkan dalam Al-Quran.

Selain hari tersebut tersebut dinamai Qiyamah, setidaknya ada 18 nama lain yang dapat mewakili hari mengerikan itu. Masing-masing adalah Yaum Al-Ba’ts, Yaum Ad-Din, Yaum Al-Hasrah, Ad-Dar Al-Akhirah, Yaum At-Tanad, Dar Al-Qarar, Yaum Al-Fashl, Yaum Al-Jam’, Yam Al-Wa’id, Yam Al-Khulud, Yaum Al-Khuruj, Al-Waqi’ah, Al-Haqqah, Ath-Thammah Al-Kubra, Ash-Shakhkhah, Al-Azifah, dan Al-Qari’ah.[57]

Kapan terjadinya hari kiamat, tidak ada yang mengetahui kecuali Allah ‘Azza wa Jalla saja, tidak ada yang lain. Allah berfirman, “Orang-orang bertanya padamu tentang terjadinya kiamat, katakanlah, ‘Hanya Allah yang mengetahuinya.’ Dan siapa yang dapat memberi tahu kamu, boleh jadi waktunya sudah dekat.” (QS Al-Ahzab: 63) “Mereka bertanya kepadamu tentang terjadinya kiamat. Katakanlah, ‘Hanya Rabb-ku yang mengetahuinya. Tidak ada yang bisa menjelaskan kapan waktunya selain Dia sendiri. Kiamat itu amat berat (huru-haranya bagi makhluk di) langit dan di bumi. Kiamat tidak akan datang kepadamu kecuali dengan cara tiba-tiba.” (QS Al-A’raf: 187)

Namun sangat aneh apa yang termuat dalam Al-Hawi karya As-Suyuthi setelah memaparkan jawaban atas pertanyaan tentang hadits yang masyhur di mulut, “Bahwasannya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berada di kubur hanya selama 1000 tahun,” ujarnya, “Saya katakan bahwa hadits tersebut batil. Tidak ada asal-usulnya!” Kemudian beliau mengatakan bahwa beliau menulis sebuah kitab terkait tema itu yang kemudian diberinya judul Al-Kasyf ‘an Mujawazah Hadzih Al-Ummah Al-Alf. Di situ beliau mengatakan,

Pertama, menuriut riwayat-riwayat yang ada bahwa umur umat ini lebih dari 1000 tahun dan tidak lebih dari 1500 tahun. Alasannya terdapat riwayat dari beberapa jalur bahwa umur dunia 7000 tahun, sedang Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diutus di akhir ribu keenam.”[58]

Kemudian beliau menyebutkan berbagai riwayat yang dijadikannya sebagai penopang pendapatnya itu yang ternyata setelah diteliti keseluruhannya bermasalah.

Dalam Al-Manar Al-Munif[59], Ibnu Qayyimil Juziyyah menyebutkan beberapa hal yang membuktikan akan kepalsuan hadits yang digunakan As-Suyuthi sebagai argumennya, “Antara lain menyelesishi hadits dan ketegasan nash Al-Quran, di antaranya hadits yang menyebutkan umur dunia yang 7000 tahun. Padahal saat ini kita berada di ribu ketujuh. Ini menunjukkan kedustaan yang nyata. Seandainya benar, tentu masing-masing orang tahu bahwa saat ini hari Kiamat tinggal 251 tahun lagi.”

Bukti lain yang merobohkan pendapat As-Suyuthi dan semacamnya ialah bukti realita. Saat ini kita sudah berada di abad ke-15, namun Dajjal pun belum juga keluar, ‘Isa belum turun, dan Al-Mahdi belum nampak.

“Dia bertanya, ‘Kalau begitu, beri tahu aku apa saja tanda-tanda kedatangannya?’” Di antara sekian banyak kasih sayang Allah kepada para makhluk-Nya adalah Dia memberikan beberapa tanda sebelum terjadinya hari kiamat agar mereka bersiap-siaga menghadapinya sebelum ia benar-benar terjadi. Meski sebetulnya hari kiamat tidak akan terjadi kecuali di zaman penuh kejahatan dan kembalinya manusia di martabat paling rendahan. Lebih rendah daripada hewan tak berakal!

Oleh para ulama, tanda-tanda hari kiamat itu dibagi menjadi tiga:

Pertama, tanda-tanda yang telah terjadi dan sudah selesai

Kedua, tanda-tanda yang masih berlangsung terjadi.

Ketiga, tanda-tanda hari Kiamat besar yang akan terjadi menjelang terjadinya hari kiamat.

            Ada ulama lain yang memabagi tanda-tanda hari kiamat menjadi dua, yaitu:

Pertama, tanda-tanda kecil, seperti diutusna Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sebagai rasul terakhir, dicabutnya ilmu, munculnya kebodohan, menjamurnya peminum khamar, tersebarnya musik, banyaknya perzinaan, seringnya bencana alam, dan seterusnya.

Kedua, tanda-tanda besar, yaitu munculnya Al-Mahdi, nampaknya Dajjal, turunnya ‘Isa bin Maryam di akhir zaman, Ya’juj dan Ma’juj, tiga khusuf, dukhan, terbitnya matahari dari Barat, munculnya binatang melata yang mampu berbicara layaknya manusia, dan api yang menggiring manusia. Jika salah satu dari tanda-tanda besar ini keluar, maka tanda-tanda lain akan cepat keluar mengiringinya, seperti ikatan kalung yang terlepas.

            Adapun tanda-tanda yang Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sebutkan di sini termasuk satu dari sekian banyak tanda kecil hari kiamat, yaitu munculnya budak yang melahirkan tuannya sendiri dan orang-orang miskin penggembala kambing yang berlomba-lamba mempertinggi bangunan.

            Pertama, munculnya budak yang melahirkan tuannya sendiri. Maksudnya kelak akan muncul orang-orang yang mendurhakai orangtuanya sendiri. Aanak-anak itu mnyikapi orangtuanya seperti seorang tuan yang menyikapi budaknya, dengan cara memukul, merendahkan, menganggapnya pembantu, dan tindakan hina lainnya. Demikian makna yang dipilih Al-Hafizh Ibnu Hajar[60]rahimahullah– ketika membawakan berbagai perselisihan ulama terkait makna budak yang melahirkan tuannya sendiri.

            “الحُفَاة” bermakna orang yang tak memiliki sandal atau alas kaki. “العراة” orang yang tidak memiliki pakaian memadai sehingga sebagian badannya yang kiranya perlu ditutupi tidak tertutup. Sedangkan makna “العالة” ialah orang-orang faqir.

          Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, “Kiamat tidak akan terjadi… sampai orang-orang saling mempertinggi bangunan.”

            Al-Hafizh Ibnu Hajar menjelaskan, “Makna saling meninggikan bangunan adalah setiap orang yang membangun rumah berantusias menandingi ketinggian bangunan lain. Boleh jadi maknanya saling bermegah-megahan dengan perhiasan dan kemewahan, atau lebih umum lagi. Hal seperti itu banyak dijumpai dan terus bertambah.”[61]

“Orang tadi selanjutnya pergi berlalu. Setelah beberapa lamanya, beliau bertanya, ‘Umar, kamu tahu siapa yang tadi bertanya?’ Jawabku, ‘Allah dan Rasul-Nya lah yang tahu.’ Beliau bersabda, ‘Dia itu Jibril. Kedatangannya tadi dalam rangka mngajari kalian beberapa perkara agama kalian.’

“مليا” “Beberapa lamanya” lebih detailnya, mari kita persilahkan An-Nawawi[62] menjelaskan apa maksud “مليا” di sini:,

“Adapun ‘مليَا’ dengan mentasydid huruf ‘الياء’ maknanya waktu lama. Menurut riwayat Abu Dawud dan At-Tirmidzi bahwa beliau mengatakan hal tersebut setelah tiga. Disebutkan dalam Syarh As-Sunnah karya Al-Baghawi, setelah tiga. Nampaknya setelah tiga malam. Menurut zhairnya ini, berarti menyelisihi ucapannya yang terdapat dalam hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, setelah itu laki-laki itu berlalu. Maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa salam- bersabda, ‘Kembalikan orang tadi.’ Para shahabat pun mulai mengerjarnya namun mereka tidak lagi melihat apa-apa. Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bersabda, ‘Itu Jibril.’ Boleh jadi untuk mengkompromikan dua riwayat itu dengan dikatakan bahwa ketika Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakn seperti itu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu– tidak hadir. Ia malah pergi meninggalkan majelis. Maka Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memberi tahu hadirin saat itu dan memberi tahu ‘Umar setelah tiga (malam) sebab ketika beliau mengabarkan ‘Umar tidak hadir. Allahua’lam.”

Fiqh Hadits:

  • Pada kisah yang dipaparkan Imam Muslim sebelum membawakan teks hadits terdapat beberapa faidah, antara lain:
  1. Bid’ah keyakinan bahwa tidak ada qadar mucul di Bashrah saat para shahabat masih bertebaran.
  2. Pencetus sekte Qadariyyah yang oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dikatakan sebagai Majusinya umat ini adalah Ma’bad Al-Juhani.
  3. Bertanya dan merujuk kepada orang yang berilmu.
  4. Ketika terjadi permasalahan kontemporer, hendaknya segera dipecahkan hukumnya tidak malah dibiar berkepanjangan.
  5. Seyogyanya bagi jama’ah haji dan ‘umrah memanfaatkan keberadaan mereka di Makkah dengan menambah pengetahuan agama mereka.
  6. Tidak mengapa membarengi guru saat berjalan dan memanfaatkan momen tersebut buat menanyakan berbagai permasalahan.
  7. Anjuran mendermakan ilmu.
  8. Terkadang setan menyesatkan manusia melalui keyakinan-keyakinan sesat.
  9. Bahayanya bid’ah.
  10. Dianjurkannya berfatwa dan berbicara masalah agama dengan mendasarkan pada dalil yang shahih, bukan bualan omong kosong.
  • Penjelasan tentang mulianya akhlak Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang biasa bermajelis bersama para shahabatnya. Walauapun status beliau sebagai makhluk termulia sejagad raya, namun tidak ada rasa canggung bermajelis bersama.
  • Terkadang malaikat dapat berubah, dengan seizin Allah, wujud menjadi wujud bukan malaikat.
  • Dorongan selalu beradab dalam setiap-setiap saat.
  • Dianjurkan berpenampilan sebaik mungkin ketika hendak belajar dan mengajar. Diceritakan bahwa Imam Malik jika hendak mengisi pengajian, terlebih dahulu mandi, bersiwak, dan mengenakan parfum.
  • Di antara metode menyampaikan pelajaran yang dianggap efektif adalah dengan diadakan tanya-jawab.
  • Terkadang pertanyaan dilontarkan untuk mencari jawaban, namun terkadang bisa digunakan untuk metode mengajar. Hal serupa juga bisa disimak ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– hendak memberi penjelasan apa itu ghibah. Sabdanya, “Apakah kalian tahu apa itu gibah?” Kemudian beliau bertindak menjawab pertanyaan tersebut. Seringkali metode semacam ini lebih membuat pendengar lebih memperhatikan daripada metode mengajar secara lepas.
  • Islam diartikan sebagai amalan lahiriah.
  • Iman ditafsirkan sebagai amalan hati.
  • Ketika Islam dan Iman disebutkan dalam satu ungkapan, maka makna keduanya berbeda. Namun jika disebutkan sendiri-sendiri, maka maknanya mencakup amalan hati dan amalan lahiriah.
  • Seyogyanya ketika melakukan sesuatu, dimulai dari yang terpenting baru yang penting.
  • Rukun Islam ada lima.
  • Rukun Iman ada enam.
  • Rukun Ihsan ada satu.
  • Ikhlas dan mengikuti petunjuk Nabi merupakan syarat mutlak diterimanya suatu amal ibadah. Jika salah satunya saja hilang, maka ibah tersebut tidak membuahkan pahala.
  • Dorongan agar melakukan ibadah dengan khusyu’ dan ikhlas.
  • Benarnya pribahasa yang berbunyi, “لا أدري نصف العلم” Artinya jawaban “saya tidak tahu” untuk pertanyaan yang memang tidak tahu jawabannya dianggap setengahnya ilmu.
  • Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak mengetahui hal yang ghaib kecuali melalui kabar dari Allah ‘Azza wa Jalla. Hal tersebut menjadi bantahan terhadap igauan sebagian kaum shufi yang meyakini bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga mengetahui yang ghaib.
  • Tidak ada yang mengetahui kapan terjadinya kiamat kecuali Allah semata.
  • Penjelasan betapa Allah meyayangi para hamba-Nya, yang mana Dia memberikan tanda-tanda sebelum datangnya hari kiamat besar.
  • Bersegera melakukan amal shalih sebaik mungkin untuk menyongsong hari akhirat.
  • Ketika menyampaikan pelajaran, guru diperbolehkan menggunakan perumpamaan. Di hadits Jibril di atas menggunakan perumpamaan seorang budak yang melahirkan tuannya sendiri sebagai gambaran tentang banyaknya anak-anak yang mendurhakai orangtuanya sendiri.
  • Tidak mengapa seorang guru ngaji datang dan berdakwah tanpa diundang.
  • Memanfaat momen berkumpulnya manusia untuk menyampaikan dakwah.
  • Anjuran tidak memotong pembicaraan orang lain selama memungkinkan.

Allahua’lam. Semoga shalawat beserta salam tetap tercurahkan kepada junjungan baginda Muhammad, keluarga, shahabat, dan siapa saja yang komitmen menghidupkan ajarannya.

Perpustakaan Pribadi,

Belitang Madang Raya

Senin, 9 Syawwal 1435 H

Firman Hidayat Marwadi

[1] Syarh Shahih Muslim (I/158), Al-Mathba’ah Al-Mishriyyah 1347 H/1929.

[2] Syarh Shahih Muslim (I/160).

[3] Fath Al-Bari (I/125) cet. Al-Maktabah As-Salafiyyah.

[4] Fath Al-Bari (I/125).

[5] Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam (I/97), tahqiq ‘Abdul Qadir Al-Arnauth.

[6] Bahr Al-Madzi Syarh Mukhtashar Jami’ At-Tirmidzi (IX/140-141) karya Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Fadani Al-Marbawi.

[7] Tuhfah Al-Ahwadzi (VII/289) cet. Dar Al-Kotob Al-‘Ilmiyah.

[8] Syarh Shahih Muslim (I/157).

[9] An-Nawawi menjelaskan, “Ucapan ini dilontarkan oleh sebagian perawi, selain Yahya bin Ya’mur. Nampaknya, diucapkan oleh Ibnu Buraidah, seorang perawi dari Yahya bin Ya’mur.” (Syarh Shahih Muslim I/156).

[10] Baru diketahui keadaannya oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, belum ada qadar dan Allah tidak mengetahuinya kecuali setelah kejadiannya.

[11] Bahr Al-Maadzi (IX/141).

[12] Syarh Shahih Muslim (I/157).

[13] Fiqih Adab Menuntut Ilmu (hlm. 16), oleh penulis (manuskrib). Lihat pula Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (I/32).

[14] Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab (I/32).

[15] Demikian yang penulis dengar dari guru penulis, Al-Ustadz Abu ‘Ubaidillah Amri Suaji, Lc –jazahullah ‘anni khaira– sekitar 8 tahun silam.

[16] Fiqih Adab Menuntut Ilmu (hlm. 18).

[17] Ibid.

[18] Ibid.

[19] Ibid.

[20] Ibid.

[21] Ibid.

[22] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah (hlm. 23) karya Ibnu ‘Utsaimin.

[23] Fiqh Islam (hlm. 65). Perlu diketahui bahwa buku ini diberi kata sambutan oleh Buya Hamka.

[24] Tafsir Al-Bayan hlm. 42, cet. Pustaka Rizki 212.

[25] Tafsir Al-Furqan (hlm. 81), Pustaka Tamaam Bangil 2014..

[26] Syarh Bulugh Al-Maram hlm. 699, cet. ke XXVIII Diponegoro 2011.

[27] Pelajaran KHA Dahlan (hlm. 137).

[28] Di dalam Al-A’lam (IV/318), Khairuddin Az-Zarkali mencatat bahwa penduduk Taimur memberinya gelar ‘Alim Al-Hijaz atau Sayyid ‘Ulama Al-Hijaz. Lihat biografinya dalam Faidh Al-Malik Al-Wahhab Al-Muta’ali (III/1637), Fihris Al-Muallifin di Perpustakaan Azh-Zhahiriyyah, Al-A’lam (VI/318), A’lam Al-Makkiyyin (II/969-970), Tarikh Asy-Syu’ara’ Al-Hadhramiyyin (III/171), Mu’jam Al-Muallifin (XI/87), Mu’jam Al-Mathbu’at (hal. 1879-1883), Hadiyyah Al-‘Arifin (II/394), Al-Makhtashar min Nasyr An-Nur wa Az-Zahar (hal. 504), Nazhm Ad-Durar (hal. 503), Siyar wa Tarajim (hal. 325), Fihrisah Al-Khadyuwiyyah (II/11, 12, 134, VI/157, 158), Fihrisah At-Taimuriyyah (III/307-308), dan Fihris Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah (II/65).

Natsr Al-Maatsir Fiman Adraktu min Al-Akabir (hal. 21), Al-Jawahir Al-Hissan (II/608), Natsr Al-Jawahir wa Ad-Durar (II/1391), Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad Ke-19 (hal. 117-127), Thabaqatus Syafi’iyyah Ulama Syafi’i dan Kitab-kitabnya dari Abad ke Abad (hal. 391) karya Siradjuddin ‘Abbas, Dari Haramain ke Nusantara (hal. 109-156), Mekka in the Latter Part of 19th Century, Ensiklopedi Ulama Indonesia (hal. 652), Kamus Al-Munjid (hal. 543), Pawai Jejak Imam Nawawi Al-Bantani dalam Majalah Amanah (no. 29, Agustus 1987), Pemikiran Syaikh Nawawi Al-Bantani dalam Pesantren (no. 1/Vo. VI/1989), Mengenag Kebesaran Imam Nawawi Banten dalam Suara Bengawan (16 November 1986), Sayyid ‘Ulama Hijaz; Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani dalam Majalah Riwayah vol. 2/Syawwal/1435 H oleh Firman Hidayat Marwadi.

Sejarah Hidup dan Silsilah Syaikh Muhammad Nawawi, Riwayat Singkat Al-‘Allamah Syaikh Nawawi Al-Bantani, Sejarah Pujangga Islam Syech Nawawi Al-Bantani, Sayyid Ulama Hijaz Biografi Syaikh Nawawi Al-Bantani karya Syamsul Munir.

[29] Maroh Labid (I/93).

[30] Cet. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah 1429 H.

[31] Biografinya Al-Qaul At-Tahif fi Tarikh Hayat Ahmad Khathib bin ‘Abdul Lathif karya Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib, Siyar wa Tarajim Ba’dh ‘Ulamaina fi Al-Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar li Al-Hijrah karya ‘Umar ‘Abdul Jabbar, Natrs Ad-Durar karya ‘Abdullah bin Muhammad Al-Ghazi Al-Makki, Ahmad Al-Khathib Ba’ist An-Nahdhah Al-Islamiyyah karya ‘Abdul Hamid bin Ahmad Al-Khathib Al-Makki, Ahmad Khathib Ilmuwan Islam Pertengahan Abad Ini akrya Akhria Nazwar, Waliullah Ahmad Khathib Al-Mianngkabawi karya Dahlan, Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Imam dan Khathib Masjidil Haram oleh Firman Hidayat Marwadi di Muslim.Or.Id.

[32] Hlm. 7 cet. Dar Al-Kutub Al-‘Arabiyyah Al-Kubra Mesir 1332 H dengan tash-hih Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawi.

[33] Lihat biografinya di awal tahqiq kitabnya Ghaniyyah Ath-Thalabah Syarh Ath-Thayyibah oleh Dr. ‘Abdulllah Al-Jarullah yang pada awalnya risalah dukturah S3 Universitas Islam Madinah, Muhibah Dzil Fadhl, akhir Kifayah Al-Mustafid, Siyar wa Tarajim, dan lainnya.

[34] Cet. Dar Al-Minhaj Jeddah.

[35] Hlm. 5 bersama syarahnya Inarah Ad-Duja karya Muhammad ‘Ali bin Husain Al-Maliki Al-Makki cet. Mushthafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh 13 Muharram 1379 H/19 Juli 1959 M.

[36] Hlm. 2-3.

[37] Beliau termasuk salah satu ulama Ahlussunnah yang menandatangani piagam kesepakatan ‘aqidah Ahlussunnah yang kemudian diterbitkan dalam judul Al-Bayan Al-Mufid Fima Ittafaqa ‘Alaih ‘Ulama Nejd min ‘Aqaid At-Tauhid. Lihat biografinya di Manaqib Asy-Syaikh Muhammad Nur bin Isma’il Al-Fathani oleh Muhammad bin Muhammad Nur Al-Fathani, Siyar wa Tarajim karya ‘Umar ‘Abdul Jabbar, Faidh Al-Malik Al-Wahhab Al-Muta’ali, Al-Mukhtahsar min Nasyr An-Nur wa Az-Zahar karya ‘Abdullah Abul Khair Mirdad, Nazhm Ad-Durar karya ‘Abdullah bin Muhammad Al-Ghazi Al-Makki, dan Muhammad Nur Al-Fathani Ketua Ulama Jawa di Makkah oleh Firman Hidayat Marwadi di Muslim.Or.Id.

[38] Hlm. 9.

[39] (I/25) cet. Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah Beirut.

[40] Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hlm. 139) beserta komentar Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, cet. Dar Al-Imam Ahmad 1427 H.

[41] Pelajaran KHA Dahlan (hlm. 140).

[42] HR Al-Bukhari.

[43] Asy-Syarh Al-Mumti’ (II/5).

[44] QS Asy-Syura: 11.

[45] QS Al-Anbiya’: 26-27.

[46] QS Al-Anbiya’: 19-20.

[47] QS At-Tahrim: 6.

[48] QS Al-Anbiya’: 20.

[49] Syarah Al-‘Aqidah Al-Wasithiyyah (hlm. 43) oleh Ibnu ‘Utsaimin.

[50] QS Al-Baqarah: 213.

[51] QS Al-Ahqaf: 29-31.

[52] Fath Al-Qawiyy Al-Matin (hlm. 24).

[53] Syarh Hadits Jibril fi Ta’lim Ad-Din (hlm. 64-65).

[54] Syarh Al-Ushul Ats-Tsalatsah (hlm. 171-172) oleh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan.

[55] Kasyifah As-Saja hlm. 26.

[56] Asyrath As-Sa’ah hlm. 62.

[57] Asyrath As-Sa’ah.

[58] Al-Hawi yang dinukil dari Asyrath As-Sa’ah (hlm. 52) karya Yusuf bin ‘Abdullah Al-Wabil.

[59] Al-Manar Al-Munif (hlm. 80).

[60] Dalam Fath Al-Bari (I/122).

[61] Fath Al-Bari (XIII/88)

[62] Syarh Shahih Muslim (I/160).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s