Tuntunlah, Mereka ‘Hanya’ Salah Jalan


jalanSetiap muslim berkewajiban menyampaikan kebenaran kepada orang di sekitarnya, kapan pun, dimana pun, kepada siapa pun. Setiap kali ada kesempatan, tidak ada salahnya mengajak orang melakukan kebaikan meskipun hasilnya belum seperti yang diharapkan. Namunsetidaknya sudah ada usaha yang dilakukan. Adapun hasil, itu urusan lain. Tidak ada sangkut pautnya dengan kewajiban.

Seringkali saya selipkan, bahwa termasuk keegoisan tingkat akut ialah manakala seseorang mengetahui jalan menuju surga, ia lantas enggan memberitahukan kepada orang yang dijumpainya. Seakan hidayah hanya milik pribadi. Padahal sejatinya, mereka yang sibuk dengan dunianya itu sebetulnya sangat ingin merasakan kenikmatan sebagaiaman kita merasakan kenikmatan dalam menjalankan Islam secara kaffah. Hanya saja, mungkin belum ada orang yang secara baik menyampaikan hal tersebut kepada mereka.

Abu Yusuf pernah mengatakan:

لو علم الملوك وأبناء الملوك ما نحن فِيهِ من النعيم والسرور لجالدونا بالسيوف أيام الحياة عَلَى ما نحن فِيهِ من لذيذ العيش وقلة التعب ، فقلت له : يا أبا إِسْحَاق ، طلب القوم الراحة والنعيم فأخطأوا الطريق المستقيم ، فتبسم ثُمَّ قَالَ : من أين لك هَذَا الكلام ؟

“Kalau saja raja-raja dan keturunannya mengetahui kenikmatan dan kebahagiaan yang kita rasakan ini, tentulah mereka akan akan merebutnya dari kita meskipun dengan memenggal leher-leher kita, di saat kita bernafas dalam kondisi penuh senyum dan tanpa rasa bosan yang berarti.”

Ibrahim bin Bassyar menimpali, “Abu Ishaq, orang-orang berlomba-lomba mencari kenyamanan dan kenikmatan hidup namun ternyata mereka salah jalan.”

Abu Ishaq pun tersenyum mendengarkan ucapan Ibrahim itu, lantas berkata, “Dari mana kamu mendapatkan kata-kata semacam ini?”

(Kisah di atas diketengahkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam kitabnya, Tarikh Dimasyq)

Mereka yang tinggal di istana itu belum tentu merasakan nikmatnya hidup. Mereka yang bergelimpang harta serba wah belum tentu telah merasakan kebahagiaan. Dan mereka yang selalu mandi dengan lumpur dosa, belum tentu bangga dengan apa yang mereka lakukan. Siapa sangka, kehidupan yang mereka jalani itu merupakan jalan hidup yang membosankan dan menjenuhkan. Hanya saja mereka terpaksa berada di jalan itu lantaran belum menemukan pengganti jalur kehidupan lain yang lebih baik menurut mereka. Nah di saat kondisi seperti inilah mereka berharap besar ada orang yang menyambahi mereka mengulurkan tangan, kiranya dapat ditihat ke jalur yang lebih baik.

Orang yang sama sekali tidak pernah ke masjid, atau jarang ke masjid, bukan berarti orang tersebut enggan ke masjid. Dimungkinkan ada faktor lain yang membuat mereka tidak mengganderungi masjid secara fisik, namun ada keinginan kuat kelak akan ke masjid pula. Namun tidak hari ini. Kenapa? Mungkin malu, canggung, dan ragu. Malu karena merasa dirinya sudah terlalu kotor, sedangkan orang yang berada di masjid dianggapnya sebagai manusia-manusia pilihan nun suci. Canggung karena ada saja mulut-mulut busuk yang kerjaannya hanya mengomentari tindak-tandunk orang lain. Ragu karena khawatir tidak konsisten sehingga hanya akan menjadi bahan omongan manusia-manusia bermulut kotor.

Pada kondisi di atas, kiranya tidak ada salahnya kita mengulurkan tangan kepada mereka dengan penuh kelembutan dan sopan santun, tanpa bermaksud menggurui. Bukan malah menyalahkan dan menghina, bak manusia tak berdidik yang oleh Buya Hamka diiistilahkan sebagai manusia tak memiliki sopan-santun beragama.

Satu hal yang perlu diingat, bahwa prinsip yang perlu ditanamkan sejak dini kepada masing-masing jiwa pendakwah ialah: jangan terburu-buru menyalahkan orang lain yang masih belum berhenti berbuat dosa dan maksiat. Tanyakan saja pada diri sendiri, sudahkan aku mengajaknya berhenti berbuat dosa? Sudahkah tangan ini kuulurkan tangan untuknya? Intinya, jangan terlalu mengandalkan orang lain.

Dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah bersabda:

انصر أخاك ظالماً أو مظلوماً، فقال: رجل يا رسول الله صلى الله عليه وسلم أنصره إذ كان مظلوماً، أفرأيت إذا كان ظالماً كيف أنصره؟! قال: تحجزه أو تمنعه من الظلم، فإن ذلك نصره

“Tolonglah saudaramu, baik yang menganiaya[1] maupun yang dianiaya.”

Seketika ada orang yang bertanya, “Rasulullah, mungkin aku akan menolong orang yang dianiaya, bagaimana pula dengan orang yang berbuat aniaya, bagaiamna cara menolongnya?”

“Cegahlah atau tahanlah orang tersebut dari tindakan aniayanya. Karena hal tersebut sudah dikatakan menolongnya,” jawab Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Makanya jangan heran jika banyak orang yang setelah menemukan jalan kebenaran, berkomentar dengan penuh penyesalan, “Kenapa baru sekarang kami merasakan hidup bahagia? Kenapa baru kali ini kami merasakan hidup penuh arti? Kenapa kalian tidak memberi tahu kami jauh-jauh hari?! Kemana saja kalian selama ini?! Apakah karena ego kalian sehingga kalian biarkan kami terlantar hidup tak jelas terarah?!”

Intinya adalah, jangan pernah bosan mengulurkan tangan untuk siapa saja yang membutuhkan. Dan semua orang yang denyut nadinya masih berjalan, akan sangat membutuhkan hal tersebut bahkan mereka selalu menanti, menunggu, dan mengharapkan uluran tangan kalian!

Semoga bermanfaat!

[1] Aniaya (Arab: zhalim) merupakan segala tindakan yang bernilai buruk, dosa, dan maksiat. Baik itu dilakukan kepada orang lain maupun pada diri sendiri. Melakukan tindakan zhalim kepada orang lain sudah jelas maksudnya. Sedangkan bersikap aniaya terhadap diri sendiri ialah tindakan maksiat yang dilakukan seseroang merupakan tindakan kezhaliman terhadap diri sendiri. Karena dengan perbuatan zhalim tersebut dapat menjerumuskannya ke dalam sengatan api nereka.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s