Memaknai Teks Al-Quran dan Hadits Sesuai Masanya


BenarMerupakan sebuah kemakluman bersama bahwa Al-Quran dan Hadits diturunkan dalam bahasa Arab supaya dapat dimengerti maksudnya oleh umat. Alasan lain ialah karena bahasa Arab merupakan bahasa paling indah yang pernah ada di jagad raya. Sehingga tidak ada bahasa lain yang sepadan dengannya, apalagi sampai mengunggulinya.

Di saat Al-Quran dan Hadits diturunkan, masyarakat Hijaz benar-benar bisa dikatakan tengah berada di puncak kemacuan dalam sisi bahasa. Sehingga kerap sekali diadakan audisi-audisi kebahasaan, terutama dalam hal syair atau puisi. Tidak jarang setiap kali ada kesempatan berkumpulnya orang-orang diadakan saling membalas puisi. Atau terkadang seni berpidato pun disayembarakan pula. Tidak seperti sekrang, mereka dahulu benar-benar dapat membuat syair secara sepontan tanpa ada persiapan terlebih dahulu. Namun demikian, hasil yang mereka peroleh sangat mengagumkan. Bahkan lebih hebat daripada hasil gubahan syair dewasa ini meskipun dibuat dalam jangka waktu yang panjang.

Sesuai zamannya, Al-Quran dan Hadits sangat memperhatikan konteks pembicaraan dan bahasa yang dipakai masyarakaat kala itu. Dalam hal ini bahasa Arab. Lalu bagaimana dengan orang asing non Arab? Sepanjang sejarah, tidak ada orang non Arab yang protes mengapa Al-Quran diturunkan dalam bahasa Arab. Justru sikap protes muncul dari kalangan orang Arab yang sombong dan angkuh. Merekalalah orang kafir yang masuk dalam kategori ayat, “…sama saja apakah kamu mengingatkan atau tidak mengingatkan mereka. Mereka tetap saja tidak akan beriman. Hati dan pendengaran mereka telah Allah kunci, sedangkan pada penglihatan mereka telah tertutup. Kelak mereka akan memperoleh azab yang pedih!”

Karena alasan tersebut, generasi yang datang kemudian tidak akan mungkin dapat memahami maksud teks Al-Quran dan Hadits kecuali setelah mempelajari bahasa orang-orang Arab saat Al-Quran dan Hadits diturunkan. Bukan saja dalam masalah nahwu (gramatika) dan sharaf bahasa Arab, namun juga kosakata yang mereka pergunakan saat itu. Sebab, setiap bahasa selalu mengalami perkembangan dari masa ke masa. Sedangkan dalam bahasa Arab, perkembangan bahasa lebih terlihat pada penggunaaan kosa kata. Sedangkan dari segi kaedah, tidak ada yang berubah sama sekali. Karena kaedah tersebut telah dilestarikan dalam Al-Quran dan Hadits.

Untuk memudahkan penjelasan di atas, berikut penulis bawakan dua contoh saja.

Pertama, kata-kata “dzarrah”. Dalam Al-Quran dan hadits, kata-kata ini kerap dipakai untuk mengungkapkan sesuatu yang sangat kecil. Hal ini tercermin, misalnya, dalam ayat:

فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره و من يعمل مثقال ذرة شرا يره

Artinya, “Orang yang berbuat kebaikan sebesar bizi dzarrah, kelak di hari kiamat akan dapat melihatnya. Begitu juga orang yang berbuat keburukan sebesar bizi dzarrah akan melihatnya.”

Dalam hadits, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

لا يدخل الجنة من كان في قلبه مثقال ذرة من الكبر

Maknanya, “Orang yang memiliki kesombongan meskipun sebesar biji dzarrah dalam hatinya, maka ia tak akan masuk surga.”

Oleh orang Arab, “dzarrah” dipahami sebagai bagian terkecil pada segala sesuatu. Sebagaimana mereka juga memahaminya sebagai kata untuk menyebutkan “semut kecil” dan “debu yang lembut”.

Dalam Al-Mu’jam Al-Wasith disebutkan:

الذرة: هي النملة الصغيرة، أو الهباء الصغير، الذي يرى في ضوء الشمس إذا دخلت من نافذة. والمراد: أدنى ما يكون من الأعمال

“Dzurrah” merupakan semut kecil atau debu yang lembut yang terlihat apabila tersinari matahari saat bertebaran melalui jendela. Dan di sini maksudnya adalah amalan yang paling ringan.”

Oleh karena itu, Ibnu ‘Utsaimin mengatakan:

والمراد بالذرة: صغار النمل كما هو معروف، وليس المراد بالذرة: الذرة المتعارف عليها اليوم كما ادعاه بعضهم، لأن هذه الذرة المتعارف عليها اليوم ليست معروفة في ذلك الوقت، والله -عز وجل- لا يخاطب الناس إلا بما يفهمون

“Yang dimaksud dengan “dzarrah” ialah semut-semut kecil seperti yang telah diketahui bersama, bukan maksud “dzarrah”: dzarrah yang akrab dikenal dewasa ini (baca: atom), seperti dakwaan sebagian orang. Karena dzurrah yang akrab diketahui saat ini, bukan dzurrah yang dimaksud saat Al-Quran diturunkan. Padahal Allah hanya berbicara dengan bahasa yang dipahami orang-orang.”

Dari sini, maka tidak benar jika dzurrah seperti dalam ayat di atas diartikan sebesar biji atom. Ini keliru.

Kedua, kata-kata “shurah”. Dalam Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

أشد الناس عذابا يوم القيامة المصورون

“Orang yang paling pedih siksanya pada hari kiamat ialah tukang gambar.”

Dalam Sunan At-Tirmidzi disebutkan:

من صور صورة عذبه الله حتى ينفخ فيها ـ يعني الروح ـ وليس بنافخ فيها

“Orang yang menggambar kelak akan disiksa Allah sampai ia meniupkan ruh kepada gambar yang dibuatnya, padahal dia tidak akan bisa melakukannya.”

Berkaitan dengan ancaman di atas, tidak sedikit ulama yang memahami haram mengambal makhluk bernyawa secara mutlak, baik dengan tangan maupun dengan alat modern semacam camera dan vidio. Hal tersebut berangkat dari pemahaman mereka mengenai gambar (shurah) yang dilihatnya saat mereka hidup, yaitu berupa lukisan makhluk bernyawa di atas kertas. Oleh karena itu, patung dan relive lebih kuat hukum keharamannya.

Akan tetapi di lain pihak ada ulama yang memahami larangan menggambar terbatas pada sesuatu yang menonjol (relive) atau patung. Alasannya karena kata-kata “shurah” (baca: gambar) di masa wahyu diturunkan tidak memiliki makna melainkan sesuatu yang menonjol serta yang ditenun pada bagian kain. Sehingga gambar yang tidak menonjol dan tidak ditenun pada kain, seperti yang ada pada kamera, tidak masuk dalam larangan di atas. Sekali lagi, pemahaman ini dibangun berdasarkan bahasa wahyu saat diturunkan, bukan makna yang sudah mengalami perubahan atau perluasan seperti akhir-akhir ini. Wallahua’lam.

Semoga bermanfaat!
(Penjelasan terakhir penulis ambil dari muhadharah guru penulis, Dr. Muhammad Al-Hasan Asy-Syinqithi beberapa hari yang lalu)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s