Mengapa Jumlah Persaksian Kasus Perzinaan Berbeda dengan Kasus Lainnya?


كتاب

Dalam Islam, persaksian merupakan salah satu hal yang sakral. Bahkan banyak hukum yang hanya bisa ditetapkan dengan adanya persaksian. Oleh karena itu, keriteria persaksian pun cukup diperketat. Mualai dari saksi hingga media persaksian.

Saksi, misalnya, para ulama memberikan syarat harus dari pihak yang baik agamanya ( Arab: ‘adl). Sebahagian ulama laiannya, semacam Imam Ahmad, menambahkan syarat lain, yaitu saksi merupakan orang yang selalu mengerjakan shalat witir. Sedangkan keriteria media persaksian, mereka mensyaratkan penglihatan, bukan yang lainnya. Artinya saksi harus betul-betul melihat apa yang disaksikannya dengan mata, bukan lainnya. Sehingga meskipun di masa digital dewasa ini, vidio tidak dianggap sebagai media persaksian yang sah karena beberapa alasan berikut.

Sebagaimana maklum diketahui, jumlah persaksian perbuatan zina lebih banyak dua kali lipat dibanding persaksian akhir bulan Ramadhan dan akad pernikahan yang hanya cukup dua orang saja. Atau empat kali lipat dibanding persaksian awal bulan Ramadhan yang sudah cukup satu orang. Jika kurang dari itu, maka persaksian dianggap tidak sah dan bahkan saksi akan dikenai hukum qadzaf,dicambuk 80 kali, kecuali jika yang dituduh berbuat zina mengaku sendiri.

Kenyataan ini memberikan pengertian bahwa Allah betul-betul memiliki sifat “Sittir”[1], yaitu Dzat yang Maha menyembunyikan dan menutup aib hamba-Nya. Oleh karena itu, ketika suatu perbuatan keji itu baru diketahui satu, dua, atau tiga orang saja, Allah tidak berkehendak menyingkapnya di khalayak yang lebih ramai. Dia lebih suka menutup-nutupinya. Karena itu, tatkala ada seorang muslim yang terlanjur terjerumus ke dalam lubang perzinaan sedangkan tidak ada seorang pun yang memergokinya, ia cukup dianjurkan bertaubat dari perbuatannya itu tanpa perlu menyerahkan diri ke pengadilan. Walauapun jika ia mau menyerahkan diri ke pengadilan pun tidak mengapa. Hal ini berdasarkan keumuman ayat ke-34 dari surat Al-Maidah:

إلا الذين تابوا من قبل أن تقدروا عليهم فاعلموا أن الله غفور رحيم

kecuali orang-orang yang taubat (di antara mereka) sebelum kamu dapat menguasai (menangkap) mereka; maka ketahuilah bahwasanya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Ayat di atas juga dikuatkan oleh kasus Ma’iz, wanita di zaman Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang terjerumus ke dalam jurang perzinaan. Ringkasnya, tatkala dirinya menyerahkan diri kepada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengakui perbuatannya, justeru beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Celaka kamu. Pulanglah dan mintalah ampun kepada Allah!” (HR Muslim)

Sementara itu apabila perbuatan zina itu sudah tersebar di masyarakat, minimalnya sudah disaksikan empat orang berdasarkan keriteria syariat, barulah Allah menghendaki ditegakkannya hukum hadd atas tersangka.

Dari sini dapat diketahui salah satu alasan mengapa media kamera tidak dianggap sah dalam persaksian perzinaan. Karena tentu kamera yang merekam perbuatan itu hanya baru diketahui perekam saja sehingga tidak dianggap perbuatan fahisyah itu sudah tersebar. Selain itu karena vidio di masa sekarang ini sangat mudah diedit dan dibuat-buat sehingga sangat tidak menutup kemungkinan akan terjadi mudharat besar.

Sedangkan persaksian awal bulan Ramadhan, akhir bulan Ramadhan, dan akan nikah hanya dibutuhkan 2 saksi, memberikan pengertian bahwa Allah lebih suka membuat kegembiraan hamba-hamba-Nya dengan memperingan syarat jumlah persaksian. Sehingga tidak perlu empat orang sebagai saksinya.

Demikian, semoga bermanfaat!

Wallahua’lam.

[1] Nama  Allah “As-Sittir” ini berdasarkan hadits yang diketengahkan oleh Imam Abu Dawud  dalam Sunan-nya (4012), bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ حَلِيمٌ حَيِيٌّ سِتِّيرٌ يُحِبُّ الْحَيَاءَ وَالسَّتْرَ ، فَإِذَا اغْتَسَلَ أَحَدُكُمْ فَلْيَسْتَتِرْ

Sesungguhnya  Allah ‘Azza wa Jalla itu Al-Halim (Maha Santun), Al-Hayiy (Maha Malu), dan As-Sittir (Maha menutupi aib). Dia menyukai sikap malu dan ketertutupan. Oleh karena itu apabila kaliam mandi, maka hendaknya kalian menutupnya.”

Adapun “As-Sattar” bukan termasuk nama Allah Ta’ala, tidak seperti yang dipahami sementara sebagian orang. Allahu a’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s