Berikan Harapan Untuk Para Pendosa!


tubat“Saya yakin Fulan bisa berubah dan memperbaiki diri. Tapi tidak lagi di sini.”

Di atas merupakan seuntai kalimat “pelepasan” yang disampailan salah seorang guru kami, Fadhilatul Ustadz Abu Ubaidillah Amri Suajihafizhahullah– kepada salah satu kawan kami yang telah melakukan kesalahan fatal sehingga menyebabkannya harus segera meninggalkan sekolah.

Kalimat itu betul-betul masih kuuingat dengan baik dan kusimpan di memori ingatan walaupun sudah berusia lebih dari 7 tahun. Walaupun sederhana namun memuat sejuta makna.

Intinya adalah jangan pernah memandang mustahil perubahan seseorang walaupaun sebejat apa pun ia. Sebaliknya, berilah harapan besar untuk siapa saja yang terlanjur terlilit kesalahan dan belum mampu berlepas diri dari kesalahan serta kekeliruan itu. Harapan tersebut bisa berupa motifasi dengan mengatakan, sebejat apa pun tingkah laku seseorang, pasti Allah akan tetap membuka pintu ampunan-Nya. Bahkan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengatakan bahwa Allah bergembira manakala melihat ada hamba-Nya yang mau bertaubat dan berusaha memperbaiki diri.

ِAbu Hurairah radhiyallahu ‘anhu juga mengatakan, “Allah bergembira karena ada hamba-Nya yang bertaubat, sebagaiama kamu bergemberi karena menemukan barangmu yang hilang.”

Pada prinsipnya, setiap insan berhak memiliki masa silam, walaupun kelam sekalipun. Sebagaimana pula Anda pernah memiliki masa silam yang boleh jadi tak kalah buruknya dengan perbuatan teman Anda. Hanya saja Allah masih berkenan menutup kesalahan Anda dari tajamnya pandangan khalayak ramai.

Boleh jadi ketika Allah membuka aib seorang hamba-Nya, menjadi awal kebaikan untuknya. Dengan penuh penyesalan ia harus menanggung malu yang kemudian membuatnya bertekad kuat untuk tidak lagi mendekati masa lampaunya yang itu. Dan biasanya Allah tidak akan membuka aib seseorang melainkan jika orang tersebut telah melakukannya berulang kali.

Demi Allah, penulis mendapati seseorang yang ketangkap basah melakukan perbuatan tidak layak namun di kemudian hari ia justru berubah menjadi orang yang dibutuhkan banyak orang. Kehadirannya selalu dinanti. Sungguh benar, hidayah hanya ada di Tangan Allah semata.

Hal ini mengingatkan kita pada sebuah peristiwa memilikan yang dialami salah seorang di masa Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang terjerembab di luabang perzinaan. Dengan penuh penyesalan ia mendatangi Nabi supaya segera ditegakkan hukuman atas perbuatannya tersebut. Setelah melalui jalur hukum, Nabi pun akhirnya menjatuhkan vonis rajam terhadap orang yang telah mengakui kesalahannya itu. Di tengah ekskusi, Khalid bin Al-Walid melemparkan batu ke arah wanita tersebut yang kemudian menyebabkan percikan darahnya mengenai Khalid. Ia pun memaki dan mencela wanita tersebut. Namu apa komentar Nabi? Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

مَهْلًا يَا خَالِدُ فَوَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ تَابَهَا صَاحِبُ مَكْسٍ لَغُفِرَ لَهُ

“Tenangkan dirimu, Khalid. Demi Dzat yang jiwaku berada di Tangan-Nya, sesungguhnya wanita tersebut benar-benar telah bertaubat yang sekiranya taubat seperti itu dilakukan pemakan harta haram, niscaya ia akan diampuni pula.” (HR Muslim)

Celaan dan makian memang kerap sekali berdampak sangat amat buruk. Ia tidak saja akan mampu membentuk karakter penerima celaan dan makian tersebut, jika ia gagal menyikapinya, juga akan berakibat murka Allah Ta’ala.

Berapa banyak orang yang benar-benar menjadi pendosa berat hanya karena lontaran kalimat jahat yang diarahkan kepadanya sehingga kalimat tersebut sudah mampu membuatnya berkarakter buruk. Manakalah ada orang yang tertangkap basah mencuri, apa pun itu alasannya, kemudian justru Anda mengatakan kepada, “Dasar pencuri!” maka secara tidak sadar Anda sudah mendidiknya menjadi pencuri sungguhan. Ia akan merasa bahwa dirinya sudah dikenal masyarakat sebagai pencuri, maka taka da artinya lagi berbuat baik. Toh masyarakat akan terus memandangnya sinis. Di sinilah letak kefatalan komentar di atas.

Kasus yang mirip dengan hal ini ialah kisah seorang pemunuh 99 jiwa dari Bani Israil. Ketika ia menyadari bahwa apa yang selama ini diperbuatnya merupakan tindakan dosa besar, ia pun berniat untuk bertaubat dan menyudahi kebiasaan membunuh itu. Akhirnya ia mendatangi seseorang yang dipandang sebagai ahli ibadah perihal apakah ada jalan taubat untuknya. Sang ahli ibadah mengatakan, “Tidak. Aku tidak melihat ada jalan taubat untukmu!” Jawaban ahli ibadah ini membuat sang pembunuh justru naik pitam dan berhasil membuatnya merasa bahwa lebih baik menjadi pembunuh daripada orang shalih.

Jadi, hargailah usaha pendosa melalui jalan taubatnya!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s