Turjuman Al-Mustafid, Tafsir Pertama di Bumi Nusantara


Tafsir TurjumanAnda tahu, ini merupakan tafsir pertama yang ditulis secara lengkap di bumi Nusantara? Ya, setidaknya itulah yang dinyatakan oleh para sejarawan. Memang ada juga naskah tafsir yang ditemukan beberapa lama sebelum tafsir ini, namun itu hanya sebatas tafsir surat Al-Kahfi saja, tidak lebih.

Tafsir yang terkenal dengan nama “Turjuman Al-Mustafid” ini dikerjakan oleh seorang ulama besar Singkil Aceh bernama Syaikh Abdurrauf bin ‘Ali Al-Jawi As-Sinkili Al-Fanshuri –rahimahullah– (1024 H/1615 M – 1105 H/1693 M) yang kemudian disempurnakan oleh muridnya yang bernama Baba Ar-Rumi.

Yang ‘ajib dalam tafsir ini ialah penulis sangat memperhatikan perbedaan qiraat yang ada dalam ayat. Sehingga kerap kali dijumpai imbuhan perbedaan qiraat. Sependek pengetahuan penulis, belum ada sarjana dan peneliti yang menganalisa alasan mengapa penulis selalu membubuhkan perbedaan qiraat. Lantaran itu penulis berusaha menganalisanya. Oleh karena itu, penulis katakan:

Pembubuhan qiraat-qiraat tersebut memberikan isyarat bahwa disiplin ilmu qiraat tengah banyak digandrungi oleh masyarakat. Sebab, kebiasaan dan adat seorang penulis akan mengangkat tema kekinian sehingga dapat memenuhi kebutuhan dan hajat masyarakatnya. Dan ini merupakan salah satu alasan penulisan sebuah kitab dan buku.

Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa masyarakat di saat itu bukanlah masyarakat awam walaupun mungkin masih banyak yang belum mampu berbahasa Arab. Namun ketidakmampuan mereka berbahasa Arab berbeda dengab ketidakmampuan masyarakat awam dewasa ini. Di masa itu walaupun orang buta bahasa Arab, namun banyak kosa kata dan perbendaharaan bahasa Arab yang mereka ketahui. Makanya tidak heran jika kitab yang ditulis dalam bahasa Melayu beraksatakan Arab sekalipun banyak menggunakan istilah Arab yang itu jika dibaca masyarakat awam saat ini akan merasa amat sangat kesulitan.

Di akhir tafsir, murid Syaikh Ibrahim bin Hasan Al-Kurani itu menulis:

“Dan telah sempurnalah tafsir al-Qur’an yang amat mulia yang dinamai Tarjuman al-Mustafid yang di jamikan oleh syaikh kita dan ikutan kita kepada Allah Ta’ala, yang alim allamah lagi waliyullah yang fanni fillah Ta’ala, Aminuddin Abdurrauf anak Ali Jawi lagi Fansuri yang dikasihi Allah Ta’ala jua kiranya akan dia dan diterima-Nya dan diberi Allah Ta’ala manfaat jua kiranya akan kita dengan berkat ilmunya di dalam dunia dan dalam akhirat, perkenankan olehmu hai Tuhanku….”

Dan diiringi tulisan: “Dan menambahi atasnya oleh sekecil-kecil muridnya dan sehina-hinanya khadimnya itu yaitu Daud Jawi anak Ismail anak Agha Mustafa All Rumi diampuni Allah Ta’ala jua kiranya sekalian mereka itu akan kisahnya yang diambil kebaikannya dari pada al-Khazin dan setengah riwayatnya pada khilaf qiraah dengan suratnya.”

Kitab ini kali pertama dicetak di masa Othoman di Turki dengan tahqiq Syaikh Ahmad bin Muhammad Zaen Al-Fathani. Di kemudian hari, kitab ini mengalami cetak ulang di berbagai negeri semisal Mesir, Makkah, Bombai, Indonesia, Singapura, Malaysia, dan Beirut. Untuk lebih detailnya bisa dilihat data berikut ini:

  • Tarjuman Al-Mustafid, dua jilid, Maktabah Utsmaniyyah, Istanbul 1884 M; 2)
  • Tarjuman Al-Mustafid, edisi ke empat (Kairo), cetak ulang oleh Sulaiman Maraghi, Singapore 1951 M; 3)
  • Tafsir Baidhawi, edisi ke empat, (Kairo) setak ulang oleh Pustaka Nasional, Singapore 1951 M; 4)
  • Tarjuman Al-Mustafid, edisi ke empat, cetak ulang oleh Dar Al-Fikr, Jakarta 1981 M
  • Tafsir Anwar al-Baidhawi, tiga Jilid, Sulaiman Press, Penang 1961 M
  • Tafsir Al-Baidhawi, edisi Pustaka National Singapura Press
  • Turjuman Al-Mustafid, edisi Lajnah Pentashih Mushaf Al-Quran Kementeian Agama Indonesia
  • Taurjuman Al-Mustafid, edisi Khazanah Fathaniyah, Malaysia 2014 M, dalam satu jilid dengan mengcoppy edisi pertama

Ini merupakan sekapur sirih di akhir naskah yang dicetak oleh Mathba’ah Amiriyyah Makkah Al-Mukarraham Al-Mahmiyyah yang sudah mengalami pentashihan.

Akhir

Bismillahirrahmanirrahim, dengan pertolongan Allah yang Mahapengasih Mahapenyayang, hanya kepada-Nyalah kita memohon pertolongan. Aku bershalawat dan bersalam kepada Rasul-Nya yang terpercaya dan kepada seluruh keluarga dan shahabatnya.

Selanjutnya…

Aku telah menelaah dan mengamati tafsir mulia nun lurus karya Al-Imam Al-‘Allamah Al-Baidhawi yang terkenal itu, semoga Allah meliputinya dengan limpahan rahmat dan menempatkannya di dalam surga-Nya dengan ampunan dan karunia-Nya. Kami telah memolak-balik halamannya sehingga kami pun menjumpainya telah diterjemahkan ke dalam bahsa Jawi dengan terjemhan yang sesuai dengan naskah aslinya yang berbahasa Arab, tanpa adanya pengurangan, penambahan, ataupun perobahan. Hal tersebut dikarenakan penerjemahnya, Syaikh ‘Abdurrauf bin Syaikh ‘Ali Al-Fanshuri, merupakan salah seorang ulama terpandang dan terkemuka di zamannya. Penerjemah bermaksud supaya faidah yang ada bisa dapat dirasakan bersama, oleh sebab itu beliau berusaha menerjemahkannya ke dalam bahsa Jawi ini supaya penduduk negeri Jawi ini dapat mengambil manfaatnya lantaran mereka tidak pandai berbahasa Arab.

Semoga Allah membalasnya dengan balasan terbaik dan memberinya pahala yang banyak. Sesungguhnya Dia Mahamulia Maha Pemberi karunia.

  • Editor kitab-kitab Jawi di Mathba’ah Amiriyyah Makkah: Syaikh Ahmad Fathani
  • Editor kitab-kitab Jawi di Mathba’ah Amiriyyah Makkah: Syaikh Idris Kalantan
  • Editor kitab-kitab Jawi di Mathba’ah Amiriyyah Makkah: Syaikh Dawud Fathani

Walaupun para editor tersebut mengatakan bahwa Tafsir Turjuman Al-Mustafid diterjemahkan dari Tafsir Al-Baidhawi, namun sejumlah peneliti dan sarjana mengungkapkan pendapat lain. Mereka berpendapat bahwa tafsir Turjuman bukan semata-mata karya terjemahan utuh Tafsir Al-Baidhawi, namun juga ada sejumlah tambahan di sana sini yang disarikan dari Tafsir Al-Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Jalaluddin As-Suyuthi. Hal tersebut nampak dengan adanya tambahan yang tidak dijumpai dalam Tafsir Al-Baidhawi sekalipun.

Terakhir kali pentashihan tafsir ini dilakukan oleh Syaikh Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Marbawi Al-Azhari dengan muraja’ah Syaikh Muhammad Adh-Dhabbagh. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s