Menjawab Kerancuan: Sukakah Allah Melihat Hamba-Nya Sengsara?


sedihSebuah pertanyaan dilontarkan kepada saya setelah ia terkena syubhat dari sebuah selebaran yang diperolehnya dari seorang ibu-ibu di sebuah stasiun. Pertanyaan tersebut berbunyi:

Mengapa terkadang Allah membuat manusia merasa sedih, sengsara, dan menderita? Apakah Allah suka melihat hamba-Nya menderita?

Jawabannya:
Pertama, pada dasarnya perbuatan dan tindakan Allah tidak boleh dipertanyakan. Itu adalah hak mutlak Allah Ta’ala. Seorang hamba yang lemah tak pantas bertanya-bertanya tentang hal tersebut; kenapa Dia melakukan ini dan itu, apa tujuan Dia menciptakan ini dan itu. Ini amat sangat tidak pantas.

Allah berfirman:

لَا يُسْأَلُ عَمَّا يَفْعَلُ وَ هُمْ يُسْأَلُوْنَ

“Allah tidak ditanya tentang apa yang dilakukan-Nya, justru merekah yang akan ditanya terkait apa yang mereka kerjakan.” (QS: 21: 23)

Kedua, madzhab Ahlussunnah wal Jama’ah mengatakan bahwa segala perbuatan dan tindakan Allah Ta’ala mengandung hikmah tertentu. Madzhab ini berbeda dengan madzhab Mu’tazilah yang menyatakan perbuatan Allah sama sekali tak mengandung hikmah apa pun.

Oleh karena itu, Allah terkadang membuat hamba-Nya sedih dan menderita dengan berbagai cobaan serta ujian itu min bab tanwi’. Artinya sesuatu akan bertambah indah nun menawan apabila berwarna-warni. Bayangkan saja jika dunia ini seluruhnya hanya berwarna putih saja, atau berwarna hitam, atau warna apa pun yang tak diiringi dengan warna lain. Tentu semuanya akan hampa.

Lagi pula seseorang tak akan merasa nikmatnya kenyang kalau ia tak pernah lapar. Orang tak mungkin merasakan betapa nikmatnya sehat kalau tidak pernah sakit. Contoh sederhana, orang yang sebelumnya belum pernag sakit gigi boleh jadi tidak merasa nikmatnya sehat gigi. Nah manakala ia diberi cobaan dengan sakit gigi, di saat itulah ia baru merasa betapa nikmatnya hidup tanpa sakit gigi.

Pepatah Arab mengatakan:

و بضده تتبين الأشياء

Sesuatu itu akan bertambah jelas apabila disandingkan dengan lawannga. Tauhid dengan syirik, miskin dengan kaya, sakit dengan sehat, dsb. Percaya atau tidak, begitulah kenyataan yang ada.

Berikutnya, ujian, cobaan, penderitaan, dan bencana yang dialami seorang hamba itu boleh jadi sebagai peringatan Allah Ta’ala terhadap hamba yang bersangkutan karema mungkin telah melakukan suatu kesalahan sehingga dengan bencana itu Allah bermaksud mengingatkannya supaya dapat memperbaiki diri serta bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala. Ini menunjukkan betapa cintanya Allah Ta’ala terhadap hamba tersebut. Dia tidak ingin hamba-Nya itu larut dalam dosa dan kenistaan sehingga hanya membuatnya jauh dari jalan yang benar.

Dalam sebuah hadits yang direkam oleh Imam At-Tirmidzi, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

وإن الله إذا أحب قوماً ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya apabila Allah mencintai suatu masyarakat, maka Allah akan menguji mereka. Orang yang merasa ridha, maka ia akan memperoleh keridhaan dari Allah, sedangkan orang yang berkeluh kesah dan marah, maka kemurkaan Allah lah yang akan diperolehnya.”

Justru orang yang sama sekali tidak Allah tegur walaupun selalu melakukan kesalahan sekalipun pun, itulah yang disebut hamba yang nelangsa dan sengsara. Karena dengan begitu berarti Allah membiarkannya semakin jauh dari kebenaran, semakin melenceng dari kebaikan.

Allahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s