Izinkan Aku Berzina!


akhlakSebagai seorang nabi sekaligus rasul terakhir, Rasulullah Muhammad r benar-benar telah mengajarkan segala hal terkait apa saja yang dibutuhkan umatnya. Bukan saja mengajarkan umat melalui lisan semata, namun juga kerap kali melalui tindak-tanduknya yang begitu mempesona. Sebab, interaksi belajar-mengajar akan lebih berhasil manakala dilakukan melalui dua media informasi, lisan dan praktek.

Keberhasilan Rasulullah r dalam menyebarkan risalah Allah secara sempurna tentu memiliki faktor tertentu yang menjadi pelicinnya. Faktor inilah yang kemudian musti dicontoh oleh siapa saja yang datang kemudian mengganti tugas Nabi r dalam berdakwah dan menyampaikan pesan wahyu.

Faktor pelancar dakwah itu antara lain ialah akhlak mulia. Sebuah tindakan yang selalu menyejukkan siapa saja yang bergaul dan melihat pelakunya. Prilaku semacam ini walaupun tidak musti tabiat asli, namun bisa diusahakan dengan terus membiasakan diri berakhlak baik. Dan ini bukan Sesutu yang mustahil!

Dalam Al-Quran, Allah ‘Azza wa Jalla menceritakan bagaimana akhlak Rasulullah r. Dia berfirman yang maknanya, “Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur.” (QS: 68: 4)

Dia juga berfirman, “Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka akan manjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka.” (QS: 3: 159)

 

Suatu saat Ibunda ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha– ditanya tentang akhlak Rasulullah r. Beliaupun menjawab, “Akhlak Nabi adalah Al-Quran.”

Rasanya tidak lengkap jika kita hanya membicarakan teori semata. Baiklah, mari kita tengok sejenak bagaimana sikap Nabi Muhammad r menghadapi sasaran dakwahnya dengan akhlak yang begitu sangat lemah lembut dan menakjubkan. Sikap tersebutlah yang kemudian menjadi sebab sadarnya orang yang didakwahi.

Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy-Syaibani meriwayatkan dalam Al-Musnad (no. 22211),

حدثنا يزيد بن هارون، حدثنا حريز، حدثنا سليم بن عامر، عن أبي أمامة، قال

Yazid bin Harun telah bercerita pada kami, Hariz telah bercerita pada kami, Sulaim bin ‘Amir telah bercerita pada kami, dari Abu Umamah Al-Bahili, beliau menceritakan,

إِنَّ فَتًى شَابًّا أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، ائْذَنْ لِي بِالزِّنَى، فَأَقْبَلَ الْقَوْمُ عَلَيْهِ فَزَجَرُوهُ وَقَالُوا: مَهْ. مَهْ. فَقَالَ: «ادْنُهْ، فَدَنَا مِنْهُ قَرِيبًا» . قَالَ: فَجَلَسَ قَالَ: «أَتُحِبُّهُ لِأُمِّكَ؟» قَالَ: لَا. وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأُمَّهَاتِهِم ْ» . قَالَ: «أَفَتُحِبُّهُ لِابْنَتِكَ؟» قَالَ: لَا. وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِبَنَاتِهِمْ» . قَالَ: «أَفَتُحِبُّهُ لِأُخْتِكَ؟» قَالَ: لَا. وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِأَخَوَاتِهِمْ » . قَالَ: «أَفَتُحِبُّهُ لِعَمَّتِكَ؟» قَالَ: لَا. وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِعَمَّاتِهِمْ» . قَالَ: «أَفَتُحِبُّهُ لِخَالَتِكَ؟» قَالَ: لَا. وَاللَّهِ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ. قَالَ: «وَلَا النَّاسُ يُحِبُّونَهُ لِخَالَاتِهِمْ» . قَالَ: فَوَضَعَ يَدَهُ عَلَيْهِ وَقَالَ: «اللَّهُمَّ اغْفِرْ ذَنْبَهُ وَطَهِّرْ قَلْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ» فَلَمْ يَكُنْ بَعْدُ ذَلِكَ الْفَتَى يَلْتَفِتُ إِلَى شَيْءٍ

“Ada seorang pemuda menemui Nabi r seaya berkata, ‘Rasulullah, izinkan aku berzina.’ Orang-orang pun menoleh kepada orang tersebut dan menghardiknya seraya mengatakan, ‘Apa-apaan ini?!’

Nabi r bersabda, ‘Mendekatlah.’

Ia pun mendekat.’

Abu Umamah berkata, “Pemuda itu duduk.

Nabi r bertanya padanya, ‘Apakah kamu relah jika ibumu dizinai?’

Pemuda itu menjawab, ‘Tidak. Demi Allah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.’

Nabi bersabda, ‘Orang lain pun tidak rela jika ibunya dizinai.’

Nabi bertanya lagi padanya, ‘Apakah kamu rela apabila puterimu dizinai?’

Pemuda itu menjawab, ‘Tidak. Demi Allah, Rasulullah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusan untukmu.’

Nabi menimpali, ‘Orang lain pun tidak rela jika puterinya dizinai.’

Nabi kembali bertanya padanya, ‘Apa kamu rela apabila saudarimu dizinai?’

Pemuda itu menjawab, ‘Tidak. Demi Allah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.’

Nabi menimpali, ‘Orang-orang juga tidak rela jika saudari mereka dizinai.’

Nabi bertanya lagi, ‘Apa kamu rela apabila bibimu dizinai?’

Pemuda itu menjawab, ‘Tidak. Demi Allah. Semoga Allah menjadikanku sebagai tebusanmu.’

Nabi menimpali, ‘Orang-orang juga tidak rela apabila bibi mereka dizinai.’

Nabi kembali bertanya, ‘Apakah kamu ridha apabila tantemu dizinai?’

Pemuda menjawab, ‘Tidak. Demi Allah. Semoga Allah menjadikanku tebusan untukmu.’

Nabi menimpali, ‘Orang-orang juga tidak ridha apabila tante mereka dizinai.’”

Abu Umamah berkata, “Rasulullah pun memegangnya seraya berdoa, ‘Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya, sucikanlah hatinya, dan jagalah kemaluannya.’”

Abu Umamah berkata, “Setelah itu, pemuda itu pun tidak lagi kepikiran melakukan perbuatan zina.”

Dari kisah di atas, perhatikanlah baik-baik betapa lapangnya dada Rasulullah r saat menghadapi pristiwa aneh. Bagaimana tenangnya sikap Nabi r dalam memberikan pendidikan dan bimbingan di saat orang-orang di sekitarnya merasa gusar tak tahan menahan amarah menghadapi si pemuda yang tengah bergejolak nafsu syahwatnya. Tidak saja berhasrat melakukan tindakan hina, namun justru langsung menghadap sang pembawa risalah Allah Ta’ala. Orang lain mungkin menganggap ini sebagai pelecehan. Tapi tidak bagi Rasulullah r. Sikap pemuda tersebut justru ia manfaat sebagai ajang menyadarkannya betapa nistanya perbuatan yang hendak dilakukannya.

Rasulullah benar-benar telah memberikan jalan keluar dan solusi untuk sang pemuda di ujung syahwatnya. Mendengar ucapan sang pemuda itu, Rasulullah r tidak lantas mengeluarkan dalil-dalil bahayanya zina dari Al-Quran, karena beliau tahu betul situasi tersebut akan lebih cocok apabila dalil yang digunakan adalah dalil akal. Beliaupun dengan sabar mengajak si pemuda berfiki sejenak apakah perbuatan yang diinginkan tersebut sesuai dengan fitrah manusia atau tidak. Dari sini, nampaklah betapa cerdasnya baginda Nabi Muhammad r.

Pelajaran lain yang sangat mungkin bisa diambil dari kisah di atas ialah betapa dekatnya peserta didik dengan pendidiknya, para shahabat dan Rasulullah r. Kedekatan itu sekan taka da batas tabir yang berarti selain saling memahami kedudukan masing-masing. Hal tersebut membuat peserta didik tidak merasa canggung jika memiliki problematika dan masalah untuk segera mencari solusinya dari sang baginda Nabi Muhammad r. Ini tentunya membuat kita berkesimpulan bahwa Nabi Muhammad r benar-benar sosok yang terbuka. Tidak pernah mengecewakan siapa saja yang hendak mencari kebaikan dan solusi kehiodupan. Selama itu bermanfaat. Beliau tidak pernah menolak atau beralas-alasan tidak ada waktu atau tengah sibuk dengan urusannya ketika menerima orang yang berusaha mendatanginya untuk suatu urusan atau hanya sekdar curhat mengeluarkan uneg-unegnya.

Sekarang kita lihat di sekitar, berapa banyak peserta didik yang merasa ada tabit penghalang antara dirinya dengan gurunya. Atau bahkan ada banyak orang yang merasa seakan terhalangi dan terbentengi dari orangtuanya sendiri. Sehingga hal tersebut berdampak tidak harmonisan anatara kedua belah pihak. Masalah dan uneg-uneg peserta didik atau anak selalu tertimbun tak terpecahkan yang pada gilirannya hanya menimbulkan keresahan dan kegagalan sebuah pendidikan.

Kenyataan tersebut mungkin saja timbul lantaran tidak adanya keterbukaan seorang pendidik atau orangtua. Sehingga peserta didik dan anak akan mencari tempat curhat lain. Ya kalau tempat curhatnya orang baik-baik, kalau justru menjadi sebab hancurnya masa depan sang peserta didik dan anak, siapa yang disalahkan?!

Kemudian daripada itu, bayangkan jika saat itu berposisi sebagai orang yang dimintai izin seorang pemuda supaya Anda mengizinkannya berzina? Apa yang Anda lakukan? Tentu ada banyak respond dan tindakan di luar kendali yang kemungkinan akan muncul. Namun bagi baginda Rasulullah r tidak ada kamus dalam hidupnya tindakan kasar. Justru beliau dengan kecerdasannya mampu meredakan suasana yang sempat tak seimbang.

Sekelumit pelajaran ini kiranya dapat kita cerna dengan baik sehingga dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, pada diri Rasulullah terdapat suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan datangnya hari akhir serta yang banyak mengingat Allah.” (QS: 33: 21)

Semoga bermanfaat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s