Meraih Kemerdekaan yang Sesungguhnya


merdeka_thumb[2]Kemerdekaan kerap kali dikaitkan dan didentikkan dengan terbebasnya suatu negeri dari penjajahan dan tindak perbudakan yang dilakukan oleh negeri asing. Definisi ini mungkin ada benarnya, namun jika diperhatikan lebih mendalam akan nampaklah bahwa definisi ini terlalu sempit dan hanya mewakili sebahagian kecil hakekat sebuah kemerdekaan. Kemerdekaan dalam pengertian ini sebetulnya lebih mementingkan kemerdekaan dalam kaitannya dengan raga lahiriah umat manusia. Adapun yang berkaitan dengan hati, maka tidak masuk ke dalam pengertian di atas.

Padahal kemerdekaan yang bersifat batin itu lebih penting daripada kemerdekaan yang sifatnya lahiriah. Karena sesungguhnya letak kebahagiaan ataupun kesengsaraan itu ada di hati. Tidakkah kita ingat ucapan fenomenal seorang Ibnu Taimiyyah yang bunyinya, “Aku tak peduli dengan sikap musuhku. Jika mereka memenjarakanku, maka penjara itu kuanggap sebagai saat-saat indah berkhalwat dan berduaan dengan Allah. Dan apabila mereka mengusirku, maka pengusiran dan pengasingan ke negeri lain ini justru kuanggap sebagai ajang tamasya dan jalan-jalan.”

Kepribadian yang seperti inilah yang sesungguhnya merupakan kepribadian penuh dengan kemerdekaan. Secara lahiriah memang mungkin terjajah, namun siapakah yang mampu menjajah hati seseorang?! Tidak ada! Hal ini tentunya mengingatkan kita pada sebuah cerita masyhur tentang seorang Shahabat ‘Ammar bin Yasir yang dipaksa mencela Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– oleh kaum musyrik. Beliaupun tidak memiliki pilihan lain kecuali mengikuti keiinginan kaum musyrik tersebut. Sebab jika tidak, mereka akan bertindak kejam kepadanya yang boleh jadi akan membuatnya binasa. Setelah kejadian itu, Ammar pun menceritakan semuanya pada baginda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan penuh rasa bersalah dan menyesal. Seketika itu pula, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- bertanya pada sahabatnya yang malang tersebut, “Bagaimana engkau dapati hatimu?”

“Hatiku tetap sreg dengan iman, wahai Rasulullah,” jawab Ammar.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun segera menimpali, “Kalau begitu jika mereka mengulangi lagi perbuatan itu padamu, maka ulangi lagi tindakanmu itu.”

Dalam Al-Quran, Allah Ta’ala mengatakan:

مَن كَفَرَ بِاللَّهِ مِن بَعْدِ إيمَانِهِ إِلاَّ مَنْ أُكْرِهَ وَقَلْبُهُ مُطْمَئِنٌّ بِالإِيمَانِ وَلَكِن مَّن شَرَحَ بِالْكُفْرِ صَدْرًا فَعَلَيْهِمْ غَضَبٌ مِّنَ اللَّهِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Orang yang kafir kepada Allah setelah sebelumnya ia beriman (maka dia akan mendapatkan kemurkaan dari Allah), kecuali orang yang dipaska melakukan kekafiran padahal hatinya tetap tenang dengan keimanannya (maka orang seperti ini tidak berdosa)…” (QS: 16: 106)

Lantas bagaimanakah kemerdekaan manusia yang terbesar?

Ketahulah, bahwa sesungguhnya konsep kemerdekaan yang terbesar sudah jauh-jauh hari diterangkan dalam Islam. Dalam Al-Quran, Allah banyak menyinggungnya. Bahkan semua ayat dalam Al-Quran pada hakekatnya menjelaskan konsep ini. Tidak hanya itu, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun juga sepanjang hidupnya terus mengingatkan umatnya akan kemerdekaan tersebut.

Itulah tauhid. Mengesakan Allah. Menunggalkan Allah dalam kekuasaan-Nya, ketuhanan-Nya, serta dalam nama dan sifat-Nya. Maka kita yakin tidak ada yang dapat memberi manfaat dan memberi mudharat kecuali Allah. Tidak ada yang mengatur alam semesta ini kecuali Allah. Tidak ada yang berhak disembah dan dipuja kecuali Allah Ta’ala. Berharap hanya kepada-Nya. Meminta hanya pada-Nya. Menghinakan diri pun hanya di hadapan-Nya, tidak di hadapan makhluk yang sma-sama kurang seperti dirinya. Inilah kemerdekaan yang sesungguhnya yang apabila mengakar kokoh dalam sanubaru seseorang, maka tidak ada yang dapat merobohkannya selain Allah. Dia tidak takut kepada makhluk mana pun. Tidak takut pada tempat keramat, tidak pula pada bebayangan yang konon makhluk membahayakan.

Kemerdekaan semacam inilah yang tidak dimiliki kaum penggila khurafat dan takhayul. Sedikit-sedikit peristiwa selalu dikait-kaitkan dengan kejadian yang akan dating. Dalam keyakinan orang-orang Jawa, misalnya, banyak dijumpai mitos yang terus dilestarikan turun temurun yang pada gilirannya hanya akan membuat hidup tidak tenang dan tak terasa nyaman. Sebagai contoh, mereka beranggapan bahwa jika ada orang yang dijatuhi cicak, maka ini pertanda orang tersebut akan mendapat musibah. Apabila ada orang yang sengaja atau tidak sengaja menabrak kucing hingga mati, maka orang tersebut harus mengubur kucing tersebut beserta pakaiaan yang dikenakannya meski pakaiannya tersebut sangat mahal. Sebab jika tidak, menurut mereka, orang tersebut akan tertimpa musibah, cepat atau lambat.

Adalagi keyakinan wajib permisi jika melewati suatu tempat yang dianggap angker dan keramat. Permisi pada siapa? Permisi pada penghuni dan penjaga tempat keramat tersebut, kata mereka. Contoh lain, jika ada orang yang berkendaraan melewati suatu jembatan, maka ia diwajibkan mengklakson supaya selamat dan tidak diganggu si penunggu jembatan tersebut. Dan masih banyak lagi keyakinan-keyakinan menggelikan yang sekaligus memilukan semacam ini yang beredar di masyarakat Jawa. Apatah lagi mitos yang berkaitandengan wanita hamil dan bayinya, sungguh sangat banyak sekali yang tentu sebahagiannya sudah diketahui bersama. Pasalnya mitos ini lambat laun tidak saja dikonsumsi masyarakat Jawa, tapi juga sudah merambah ke hamper seluruh lapisan masyarakat negeri ini.

Jika kita perhatikan sebagian contoh kecil di atas, kita akan tahu betapa sengsaranya orang yang memiliki keyakinan itu. Sepanjang hidupnya dia tak akan merasa nyaman dan aman. Sebab setiap kejadian selalu dikait-kaitkan dengan kejadian yang akan datang. Padahal Allah, Dzat yang menciptakan dan mengatur segala sesuatu, tidak pernah memberitahukan hal tersebut, tidak pula mengatakan jika terjadi ini dan itu, maka pertanda begini dan begitu. Tidak pernah sama sekali. Lalu siapakah yang memberi tahu orang-orang semacam itu? Setan mereka? Entahlah!

Dalam hal ini, Allah berfirman:

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ

“Apakah mereka memiliki sekutu-sekutu yang membuatkan syariat dan aturan untuk mereka yang sama sekali tidak pernah Allah izinkan?!” (QS: 42: 21)

Adapun orang yang bertauhid, maka sangat jauh dari keyakinan-keyakinan yang menjajah semacam ini. Sebab mereka meyakini bahwa hanya Allah lah yang mengatur alam semesta, tidak ada selain-Nya. Tidak malaikat yang dekat dengan-Nya, tidak nabi dan rasul yang diutus-Nya, tidak pula wali yang dimuliakan-Nya, apalagi jin yang halus itu. Mereka semua hanyalah makhluk. Sama kedudukannya dengan makhluk Allah lainnya dalam hal ini.

Allah berfirman:

وَاتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ آلِهَةً لَا يَخْلُقُونَ شَيْئًا وَهُمْ يُخْلَقُونَ وَلَا يَمْلِكُونَ لِأَنْفُسِهِمْ ضَرًّا وَلَا نَفْعًا وَلَا يَمْلِكُونَ مَوْتًا وَلَا حَيَاةً وَلَا نُشُورًا

“Mereka mengkat selain Allah sebagai sesembahan-sesembahan yang tidak menciptakan apa pun dan tidak pula menguasai diri mereka sendiri, baik kemudharatan mupun manfaat. Dan mereka pun tidak menguasai kematian, tidak pula kehidupan, dan tidak pula hari kebangkitan.” (QS: 25: 3)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- pun mengajarkan yang demikian pun kepada umatnya sedari dini mungkin. Hal ini tercermin, misalnya, pesan beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam- kepada seorang ‘Abdullah bin ‘Abbas yang kala itu masih terbilang sangat belia. Apa isi pesan itu? Antara lain beliau berpesan sebagai berikut:

إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللَّهَ ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ ، وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ إِلَّا قَدْ كَتَبَهُ اللَّهُ لَكَ ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ ، وَجَفَّتِ الصُّحُفُ

“Apabila engkau meminta, memintalah kepada Allah. Apabila engkau memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Dan ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu padu hendak memberimu sesuatu manfaat, maka mereka tidak akan bisa melakukan itu kecuali dengan sesuatu yang sudah Allah tetapkan untukmu. Dan sekiranya mereka bersepakat mencelakaimu, maka mereka tidak akan mampu mencelakaimu kecuali dengan apa yang sudah Allah tentukan untukmu. Sebab, pena-pena penulis takdir sudah diangkat dan kertas tempat pencatatan takdir sudah mongering.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan lainnya)

Lihatlah betapa pesan yang serat dengan kemerdekaan jiwa. Sebuah wasiat yang hanya akan memperteguh jiwa. Sebuah untaian kata yang akan membangun dan memperkokoh jiwa. Inilah kemerdekaan sesungguhnya. Tidak takut pada makhluk mana pun. Tidak khawatir terhadap segala sesuatu selain hanya kepada Allah semata. Dan orang yang takutnya hanya kepada Allah, maka hal tersebut akan membawanya merasa gagah di hadapan selain-Nya. Sebaliknya, orang yang takutnya kepada makhluk, maka ia tidak lagi menyimpan rasa takut pada Allah. Padahal makhluk tidak bias memberi apa-apa. Tidak mampu memberi manfaat, tidak pula dapat memberikan mudharat. Semuanya datang dari Allah, satu-satunya Dzat yang mengatur jagad raya.

Sedangkan keyakinan-keyakinan khurafat dan takhayul di atas, selain sangat menjajah ketenangan jiwa seseorang yang meyakininya, juga sangat berpotensi menjerumuskannya ke dalam jurang kemusyrikan, suatu dosa yang tidak akan diampuni oleh Allah jika sampai dibawa hingga mati. Hanya kepada Allah kita memohon perlindungan dari perbuatan hina ini.

Allah berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ ۚ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni orang yang mensekutukan-Nya, namun Dia akan mengampuni dosa yang tingkatnya di bawah itu untuk siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesiapa yang mensekutukan Allah, maka sesungguhnya dia telah tersesat sangat jelas.” (QS: 4: 116)

Sementara itu dalam ayat lain dijelaskan pula:

إِنَّهُ مَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنصَارٍ

“Sesungguhnya Allah telah mengharamkan surga bagi orang yang mensekutukan-Nya sedangkan tempat kembalinya kelak adalah di dalam neraka. Orang-orang zalim itu akan akan memiliki pembela-pembela.” (QS: 4: 72)

Tidak hanya menjelaskan bagaimana hinanya kemusyrikan, Al-Quran juga tak lengah menjelaskan sebab-sebabnya. Seperti salah satu contoh mitos yang menjajah di atas yang mewajibkan permisi dan membunyikan klakson jika melewati suatu tempat.

Allah berfirman:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

“Dan sesungguhnya ada beberapa orang yang meminta perlindungan pada beberapa jin sehingga mereka bertambah sesat.” (QS: 72: 6)

Menurut tafsir kedua bermakna, “…sehingga jin-jin itu bertambah berani.”

Mengenai ayat ini, As-Suddi mengatakan:

كان الرجل يخرج بأهله فيأتي الأرض فينزلها فيقول : أعوذ بسيد هذا الوادي من الجن أن أضر أنا فيه أو مالي أو ولدي أو ماشيتي ، قال : فإذا عاذ بهم من دون الله ، رهقتهم الجن الأذى عند ذلك 

“Adalah kebiasaan orang-orang yang bepergian beserta keluarganya jika bersinggah di suatu tempat, ia selalu berkata, ‘Aku berlindung kepada penghulu lembah ini dari jin supaya diriku, hartaku, anakku, atu ternakku dicelakai.’” As-Suddi melanjutkan, “Apabila ia sudah berlindung dengan mereka, selain pada Allah, jin pun semakin berani mencelakainya.”

Dalam Tafsir-nya, Imam Ibnu Katsir mengatakan:

إذا نزلوا واديا أو مكانا موحشا من البراري وغيرها كما كان عادة العرب في جاهليتها ، يعوذون بعظيم ذلك المكان من الجان ، أن يصيبهم بشيء يسوؤهم

“Apabila mereka menyinggahi daratan lembah atau tempat angker, mereka pun berlindung kepada jin yang menjadi penghulu tempat tersebut agar supaya mereka tidak ditimpa sesuatu yang tidak diinginkan, sebagaimana ini kebiasaan orang-orang Arab jahiliyah.”

Demikianlah beberapa misal perbudakan yang menggerogoti dan merebut kemerdekaan jiwa manusia. Keyakinan yang menjajah jiwa ini akan sirna jika dilawan dengan tauhid seperti yang termaktub dalam Al-Quran dan Sunnah.

Akhirnya, marilah kita bersama-sama berusaha meraih kemerdekaan hakiki dan memohon kepada Allah semoga kita diberikan keistiqamahan dalam bertauhid hingga hembusan nafas terakhir.

Bekasi, 17 Agustus 2015

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s