H. Husein Bahresy, Sosok Penulis Legendaris dan Dakwah Pembaharuannya


BahresyTulisan singkat ini merupakan aplikasi terhadap sebuah petuan baginda Nabi Muhammad r bahwa orang yang tidak berterimakasih pada manusia berarti tidak bersyukur pada Allah ‘Azza wa Jalla. Ya. Ini merupakan pertanda terimakasih dan rasa syukur penulis kepada sosok legendaris yang sekaligus ‘misterius’. Kelegendarisannya terletak pada usahanya yang tak henti sepanjang usia dalam mencerdaskan bangsa negeri ini melalui media bacaan walauapun kemudian ada saja orang yang mengingkarinya lantaran ketida ketertarikannya dalam dunia perbukuan dan kepustakaan. Sebagai kaum pelajar, kita masih merasakan keberadaannya walaupaun sosok jasmaninya tidak ada di tempat. Namun kiranya buah karyanya mampu mengurangi gelapnya dunia perpustakaan. Sebab, buku-buku yang beredar di pasaran lambat laun semakin tidak terkendali. Dalam artian kerap kali umat Islam merasa kebobolan dalam menyeleksi buku-buku yang layak dikonsumsi. Akibatnya tidak sedikit buku yang seharusnya tidak sehat dikonsumsi, namun ternyata banyak beredar di masyarakat. Terutama buku-buku yang membawa misi kristenisasi, pemikiran radikal ala Khawarij dan Mu’tazilah.

            Di saat yang sama, umat Islam mulai melemah dalam bidang ini dan terkesan tidak berkutik di ambang kenyataan. Namun demikian, janji tetaplah janji. Ketika Rasulullah r mengatakan bahwa akan terus ada pejuang-pejuang kebaikan yang selalu membela kebenaran dan melawan kemungkaran di setiap masa dan zaman meski jumlah mereka terbilang sedikit. Inilah yang kemudian membuat semangat umat Islam terus berkobar menyala-nyala dengan tidak mengenal istilah putus asa atau patah semangat.

            Sebagaimana yang penulis singgung di atas, bahwa seorang ulama yang oleh masyarakat dikenal sebagai Husein Bahreisy telah menjadi bukti kuat akan kebenaran kabar yang disampaikan baginda Rasulullah r itu. Melalui tulisannya, masyarakat Muslim kembali menemukan muara keimanan yang dibangun di atas ilmu dan hujjah. Di sinilah perannya sangat terlihat. Tidak saja menulis, namun beliau juga banyak sekali mengalihbahasakan berbagai literature kitab berbahasa ‘Arab kedalam bahasa ibu pertiwi agar masyarakat Muslim yang belum mampu memahami bahasa ‘Arab pun mendapatkan haknya mempelajari agama haq yang dianutnya melalu bacaan dan kepustakaan. Dengan demikian, mereka tetap bisa belajar di luar pengajian-pengajian Islam yang diberikan para guru Islam. Wawasan Islam pun terbuka lebar.

            Selama ini buku-buku yang bernafaskan Islam masih banyak yang ditulis dalam bahasa Melayu dengan aksara Arab. Walaupaun hal tersebut merupakan budaya yang layak dilestarikan, namun kenyataannya kaum muda mulai banyak yang menutup mata lantaran ketidak berdayaannya di depan khazanah kaum tua kita. Sehingga hal tersebut menghantarkan kitab-kitab keislaman dikerangkeng dan dimusiumkan di balik bilik rak-rak buku atau bahkan dicampakkan pemiliknya dan diserahkannya kepada rayap-rayap rumahnya.

            Kenyataannya ini kembali membuat sosok Husein Bahresy terlihat jelas akan posisinya. Pasalnya beliau telah sukses mengalihbahasakan banyak buku-buku berbahasa ‘Arab ke dalam bahasa Indonesia dalam artian sesungguhnya. Maksudnya beliau telah berhasil menerjemahkan literature-literatur itu secara mutslak, baik terjemah kosa kata mupun terjemah susunan kalimat. Sebab Banyak orang yang pandai memahami bahasa Arab namun tidak mampu menerjemahkannya ke dalam bahasa ibunya sehingga ilmunya pun tidak jauh tersalurkan. Ada lagi orang yang memiliki kemampuan demikian itu namun hanya mampu menerjemahkan kosa katanya, sedangkan tarkib-nya atau susunan katanya masih utuh seperti aslinya sehingga tidak dapat difahami orang yang benar-benar tidak memiliki latar belakang bahsa Arab. Pada gilirannya akan menimbulkan salah tafsir.

Salah satu kitab yang pernah diterjemahkan H Husein Bahresy

Salah satu kitab yang pernah diterjemahkan H Husein Bahresy

            Nah sosok Husein Bahresy dan juga rekannya Salim Bahresy ini termasuk sosok yang sukses menerjemahkan bahasa Arab dengan apik. Seakan buku yang diterjemahkannya bukan lagi karya terjemahan, namun Nampak seperti buku karangan asli. Lihat saja misalnya terjemahannya untuk “Riyadh Ash-Shalihin” karya Imam An-Nawawi dan “Ringkasan Tafsir Ibnu Katsir” karya Imam Abul Fida’ Ibnu Katsir Ad-Dimaysqi. Dua kitab inilah yang hingga detik ini masih banyak beredar di took-toko kitab dengan kualitas tinggi dilihat dari kualitas terjemah dan bobot ilmiahnya. Di banyak lembaga pendidikan macam pesantren, Anda tidak akan sulit menemukan keberadaan karya terjemahan Ustadz Husein Bahresy –rahimahullah– tersebut, termasuk di pesantren saya.

            Beberapa karya tulis beliau lain ialah sebagai berikut:

  1. Percakapan Bahasa Arab Sehari-Hari
  2. Kumpulan Kissah Orang Terkenal
  3. Hari Kehancuran Semesta
  4. Dari Tepi Sejarah Islam
  5. Seratus Satu Mutiara Doa dan Dzikir
  6. Islam dan Shalat
  7. Kehidupan di Akhirat
  8. Kamus Populer Arab-Indonesia

            Inilah yang kemudian membuat saya penasaran dengan sosok Ustadz Husein Bahresy ini. Siapakah sejatinya beliau? Akan sangat kecewa jika saya tidak berhasil menelusuri rangkaian perjalanan ilmiahnya sementara saya sudah melahap jerih payahnya. Namun setelah sekian lama saya mencari biografinya, ternyata belum juga membuahkan hasil. Google yang terkenal canggih saja tidak mengetahui keberadaan biografinya yang menunjukkan belum ada orang yang mengangkat biografi beliau walaupaun sangat penting diketahui. Inilah mengapa saya katakan sebagai sosok misterius, setidaknya untuk saya.

            Kekecewaan saya karena tidak berhasil menelusuri sejarah hidup Ustadz Husein Bahresy ini sedikit terobati setelah saya menemukan salah satu buah penanya yang terlihat sudah kusam namun masih tetap berkualitas. Buku tersebut bertajuk “Kamus Intisari Islam” yang diterbitkan pada tahun 1979 oleh Penerbit “Balai Buku” Surabaya. Sementara di sampul paling belakang tertulis “مكتبة سعد بن ناصر بن نبهان سورابايا”. Buku yang saya temukan ini pun segera saya bujuk dengan lembut supaya berkenan saya bawa. Saya pun membuka lembaran-lembaran yang ternyata menyimpan segudang informasi, terutama terkait madzhab yang dianutnya. Tentu saja ini merupakan informasi yang sangat berharga yang kadang lebih berharga daripada riwayat hidupnya sendiri. Oleh karena itu, apa yang saya temukan ini akan saya hadiahkan pula pada pembaca artikel sederhana ini. Dengan beberapa nukilan berikut ini kiranya kita akan mudah menyimpulkan pokok pemikiran dan dakwah yang diusung Ustadz Husein Bahresy, yaitu sebagai pembela dakwah pembaharuan Islam dari yang sebelumnya sudah tertutup kabut kebid’ahan menuju ajaran Tauhid yang murni. Apalagi simpatisannya terhadap tokoh-tokoh pembaharu semacam Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Ibnul Qayyim, Muhammad bin ‘Abdul Wahhab, dan Muhammad Rasyid Ridha. Tentu menjadi semacam bukti kongkrit akan semangat pembaharuannya.

  • Konsep Ahlussunnah wal Jama’ah dalam Perspektif Husein Bahresy

Pada halaman 11 hingga 12, beliau menulis, “AHLUS SUNNAH WAL JAMAAH – adalah golongan umat Islam yang betul-betul berpegang atau berpedoman dengan Qur’an dan Hadits Rasul yang shahih serta tidak mau bertaqlid, di samping mengikuti norma-norma yang dipakai oleh para Khulafaur Rasyidin. Golongan ini juga berpendapat bahwa segala apa yang dilaranag Tuhan adalah buruk, dan apa yang diperintahkan adalah baik. Orang-orang yang dan mati dalam keadaan tidak bertobat disebut Mukmin Ashi (baca: mukmin yang berdosa-pent) di mana di neraka mereka tidak kekal dan akhirnya mereka akan masuk syorga. Sedangkan bagi golongan Muktazilah bahwa mereka ditetapkan sebagai orang Fasiq yang akan kekal di dalam neraka.

Ahlussunnah dalam Islam meliputi Ahlul Atsar yaitu pengikut Ahmad bin Hanbal yang berdalil Qur’an dan Hadits, berdasar logika dan tidak menggunakan takwil dalam sifat-sifat Tuhan (Mujassamah). Juga golongan Asy’ariyah yaitu pengikut Abu Hasan Al-Asy’ari yang menafsirkan hukum Islam dengan dalil aqli dan naqli dengan menjauhi tafsir sifat-sifat Tuhan yang sama dengan makhluk. Golongan lain pula adalah Maturidiyah yaitu pengikut Abu Mansur al-Maturidi yang masalahnya ampir bersamaan dengan Asy’ariyah.”

  • Pembagian Tauhid Menurut Husein Bahresy

“TAUHID – mengesakan Tuhan yang hal tersebut dibagi dua macam yaitu (1) Tauhid Uluhiyah yang mengesakan sifat-sifatnya dan perbuatan Tuhan (2) Tauhid Ubudiyah yaitu beribdat kepada Tuhan dengan melaksanakan apa yang diperintah dan menghindari diri terhadap apa yang dilarang disamping menyampaikan doa dan harap kepadaNya. Baik Tauhid Uluhiyah mupun Ubudiyah hukumnya wajib bagi ummat Islam.”

  • Kesalafiyan Husein Bahresy

Dalam pada halaman ke-20 beliau menulis, “ARSY – singgasana Tuhan pada pusat kekuasaanNya dan alam semesta dan menunjukkan adanya kebesaran Tuhan dalam menguasai segala sesuatu. Dan jika Tuhan berada di atas “kursi”Nya berarti Ia berada dalam kekuatan dan kekuasaanNya.”

  • Husein Bahresy dan Wahhabi

“WAHABIYAH – aliran Islam yang menyatakan bahwa syahadat semata tidak cukup sebagai syarat Islam kecuali harus dilengkapi dengan Shalat dan kewajiban-kewajiban Islam yang lain. Aliran ini terbentuk di Saudi Arabia dengan mempersiapkan Juru Paksa (baca: pemerintah resmi-pent) yang akan menindak orang-orang yang berbuat jahat. Quran diakui sebagai kalam Allah yang asli, sedangkan nama-nama dan sifat-sifat Tuhan dalam Qur’an harus dijelaskan tanpa tafsiran, dan aliran bermadzhab Hambali. Aliran yang timbul pada abad ke 18 di Arabia Tengah itu dipelopori oleh Ibn Abdul Wahhab (1703-1787) yang berusaha menggerakkan Islam dengan cara baru dengan memprotes kemerosotan pengamalan Islam yang dilakukan ummat Islam yang akan diajaknya kepada mengikuti ajaran-ajaran Islam yang murni melalui Quran dan Hadits dan kembali kepada Islam Klassik.” (KIS, hlm. 170-171)

  • Husein Bahresy dan Ziarah Kubur

“ZIARAH KUBUR – yaitu mengunjungi kuburan untuk berziarah kepada mereka yang mati dan untuk mengingat akhirat dan hal itu hukumnya Sunnat. Dibenarkan dalam berziarah itu untuk mendoakan si mati, dilarang menentukan musim-musim ziarah, dan jika tujuan hanya untuk menambahkan kesedihan maka ziarah itu hukumnya haram, baik untuk laki2 maupun perempuan. Adapun menziarahi kuburan orang2 saleh sama dengan menziarahi orang2 biasa. Adapun doa yang dipakai yaitu:

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَ الْمُسْلِمِيْنَ وَ إِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ بِكُمْ لَاحِقُوْنَ نَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَ لَكُمْ الْعَافِيَةَ

Selamatlah kamu sekalian wahai penduduk kubur, baik orang2 Mukmin mupun Muslim dan bahwa kami jika dikehendaki Allah akan berjumpa dengan kamu sekalian, kami memohon kepada Allah semoga kami dan kamu sekalian sama-sama mendapat kebaikan (HR Muslim).” (KIS, hlm. 182)

  • Talqin Mayat Setelah Dikubur

“Adapun talqin sesudah yang bersangkutan mati yang diajarkan oleh orang yang hidup di atas kuburannya maka hal itu tidak dipraktekkan oleh Rasul maupun sahabat2 tabiin, juga tidak oleh Syafii, Maliki, Hanafi maupun Hambali. Dengan ketetapan ini bahwa talqin setelah dianalisa oleh para mujahidin (mungkin maksudnya mujtahidin-pent) dinyatakan bid’ah jika dibacakan di atas kuburannya bahkan dianjurkan sebelum yang bersangkutan meninggal.” (KIS, hlm. 160)

  • Hesein Bahresy Menentang Taqlid

“TAQLID – menerima segala hokum dari seorang Imam atau ulama tertentu yang diakui bahwa perkataannya seperti berasal dari Quran dan Hadits dan diterimanya tanpa menanyakan lebih dalam apalagi membantah, dan pelakunya disebut Muqallid, dan hal itu tidak dibenarkan dalam Islam. Adapun taqlid yang berkenaan dengan keduniaan selagi tidak ada garis-garis yang membatasinya dalam Islam maka hal itu boleh dikerjakan.” (KIS, hlm. 160-161)

  • Menjadikan Al-Quran Sebagai Jimat

“’AZIMAH – adalah tulisan2 penangkal kejahatan baik untuk penolak jin atau setan dan sihir yang kemudian dibungkus dan dikalungkan kepada seseorang untuk membawa keselamatan atau penyembuhan, yang hukumnya haram. Rasul bersabda: Barangsiapa yang menggantungkan azimah hukumnya musyrik (HR Ahmad) Dalam hal ini ayat2 Quran tidak boleh dijadikan azimat ataupun untuk penyembuh penyakit yang ditulis dan dimasukkan ke dalam air untuk diminumkan kepada mereka yang sakit, karena setiap penyakit memiliki obat-obat khusus yang dapat ditanyakan pada dokter. Quran dalam hal ini adalah obat bagi mereka yang bodoh, yang ragu-ragu dan yang mengikuti hawa nafsunya yang akan disembuhkan dengan petunjuk-petunjuk Quran. Segala azimat pada umumnya haram untuk dpakai oleh setiap orang.” (KIS, hlm. 27)

  • Refrensi Penulisan Buku “Kamus Intisari Islam”

Daftar Kepustakaan

  1. Ibnu Rusyd : Bidayatul Mujtahid.
  2. Muhammad Mahmud Shawwaf : Ta’limush Shalah
  3. HAR Gib : Mohammadanism.
  4. Ibn Taimiyyah : Al-Kalimut Tayyib.
  5. Saad Sya’ban : A’maqul Kaun.
  6. Abbas Mahmud Al-Aqqad : Abqariyyah Muhammad.
  7. Anthony Nutting : The Arabs.
  8. Zaki Mubarak : Al-Akhlak Indal Ghazali.
  9. Hossein Bahreisj : Perkembangan Ilmu Kedokteran Islam (“Mimbar-Ulama” No. 8/1977).
  10. Mahmud Syaltut : Al-Fatawa.
  11. Ali Husni Kharbutly : Al-Mujtama’ul Arabi
  12. Muhammad Imaduddin : Halamatul Iman.
  13. Muhammad [bin] Abdul Wahhab : Kitabut Tauhid.
  14. Ibn Hajar Al-Asqalani : Bulughul Maram.
  15. Majallah Al-Wa’yul Islami (Kuwait, 1973, 1974, 1976).
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s