Jangan Hanya Menahan Makan dan Minum Saja!


puasa            Al-Imam Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah Al-Bukhari (193-256) –rahmatullah ‘alaih– berkata dalam Shahih-nya, Al-Jami’ Al-Musnad Ash-Shahih Al-Mukhtashar min Umur Rasulillah –Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam- wa Sunanih wa Ayyamih (no. 1903), Adam bin Abu ‘Iyas telah becerita kepada kami, Ibnu Abi Dzi’b telah bercerita kepada kami, Sa’id Al-Maqburi telah bercerita kepada kami, dari ayahnya, dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَ الْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلّٰهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَ شَرَابَهُ

“Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dan perbuatan dusta, maka Allah tidak perlu dengan apa yang ditinggalkannya berupa makanan dan minuman.”

Hadits di atas dan yang semisalnya terdapat penjelasan hakikat ibadah puasa sebagaimana yang Allah jelaskan dalam firman-Nya,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaina diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS Al-Baqarah: 183)

Puasa tidak saja dimaknai meninggalkan syahwat perut dan kemaluan dari mulai terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari, akan tetapi maksudnya juga ialah mewujudkan takwa dengan meninggalkan segala bentuk perkara haram dan melakukan ketaatan-ketaatan.

Menjaga diri dari makan dan minum diumaksudkan agar jalan setan dalam tubuh manusia menjadi sempit sehingga sebab-sebab adanya gangguan setan menjadi lemah yang biasanya terjadi karena kenyang.

Lapar dalam puasa dimaksudkan agar seorang manusia menjadi tenang sehingga ia tidak melampaui batas atau dengan bahasa lain agar ia tidak banyak bertingkah, tidak bertindak zhalim, dan tidak menyakiti orang lain. Inilah maksud kenapa lapar dapat membuatnya menjadi tenag.

Dengan berpuasa pula seorang hamba akan menjadikan hatinya menjadi lunak, mengisi hati dengan dzikir, dan meminimalisir kerasnya hati yang biasa terjadi saat perut penuh dengan isi. Pernah suatu saat Al-Marwadzi bertanya kepada Imam Ahmad bin Hanbal –rahmatullah ‘alaih-, “Mungkinkah seseorang menjumpai hatinya lunak dalam keadaan kenyang? Mendengar pertanyaan itu, Imam Ahmad menjawab, “Aku tidak melihat adanya kemungkinan.” (Jami’ Al-‘Ulum wa Al-Hikam II/469)

Oleh karena itu tidak heran jika Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i –rahmatullah ‘alaih– pernah menyatakan, “Aku tidak pernah merasakan kenyang semenjak dua puluh tahun.”

“Hal ini,” komentar Al-Baihaqi, “Karena kenyang dapat menyebabkan kerasnya hati, menututpi sebagian akal, memberatkan tubuh dari kesungguhan dalam beribadah yang oleh para ahli ibadah dinilai tidak terpuji alias tercela.” (Manaqib Asy-Syafi’i : II/167)

Orang cerdas adalah orang yang apabila telah melihat hilangnya sebab-sebab maksiat dan penghalang-penghalang ketaatan, ia segera lari menuju Allah dengan melakukan ibadah dan memperhatikan betul kesempatan emas ini.

Kesempatan yang hanya ada selama 30 hari dalam setahun ini tidak akan pernah disia-siakannya begitu saja dengan melakukan hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat akhirat. Tentu sangat rugi sekali tatkala Ramadhan telah berlalu namun bekal akhirat tak juga kunjung bertambah sementara jatah hidup di dunia semakin berkurang.

Pada bulan Ramadhan setan dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, pintu-pintu surga ditutup, dan berkumpulnya orang-orang mengerjakan ketaatan, apakah masuk akal jika seorang muslim membiarkan bulan sejuta keberkahan ini berlalu layaknya bulan-bulan lainnya?!

Demi Allah, termasuk musibah terbesar yang menimpa banyak orang ialah tidak adanya perhatian khusus di bulan yang oleh banyak ulama menjadi sebab kenapa umat Muhammad yang umurnya jauh lebih pendek lebih unggul daripada umat-umat masa silam meski mereka berumur jauh lebih panjang.

Tentu saja ibadah puasa tidak saja meninggalkan makan dan minum saja, sebagaimana yang telah disinggung di atas. Namun juga puasa bermakna meninggalkan segala bentuk tindakan yang bernilai dosa dengan menjadikan puasa sebagai wasilah.

Dalam Lathaif Al-Ma’arif Fima Lil Mawasim min Al-Wazhaif (hal. 292-Dar Al-Basya-ir), Al-Hafizh Ibnu Rajab –rahmatullah ‘alaih– menuliskan beberapa riwayat indah dari ulama-ulama masa silam terkait hal ini. Beliau berkata, “Sebagian salaf (para shahabat) berkata, ‘Kegiatan puasa yang paling ringan ialah meninggalkan makan dan minum.’

Selanjutnya beliau membawakan satu gubahan syair.

“Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhuma– menuturkan, ‘Jika kamu berpuasa, maka seharusnya berpuasa pula pendengaran, penglihatan, dan lisanmu dari kedustaan dan perkara-perkara haram. Jangan menyakiti tetangga. Seharusnya kamu bersikap tenang saat berpuasa. Dan jangan kamu jadikan harimu berpuasa dan harimu saat tidak berpuasa sama keadaannya.”

(Diriwayatkan bahwa) Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda,

رُبَّ صَائِمٍ حَظُّهُ مِنِ صِيَامِهِ الْجُوْعُ وَ الْعَطْشُ وَ رُبَّ قَائِمٍ حَظُّهُ مِنْ قِيَامِهِ السَّهْرُ

“Betapa banyak orang yang puasa hanya memperoleh lapar dan dahaga dan berapa banyak orang yang shalat hanya mndapat gadang.” (HR Ahmad dalam Al-Musnad dan Ibnu Majah)

Ibnu Rajab melanjukan, “Hal ini karena mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala dengan tidak melakukan perkara-perkara yang mubah tidak menjadi sempurna kecuali setelah mendekatkan diri kepada-Nya dengan tidak melakukan hal-hal yang haram. Maka siapa yang yang menerjang perkara-perkara haram kemudian mendekatkan diri kepada Allah dengan meninggalkan yang mubah-mubah, sama saja dengan orang yang meninggalkan kewajiban-kewajiban dan mendekatkan diri dengan melakukan perkara-perkara sunnah, meskipun puasanya sah menurut pendapat mayoritas ulama sehingga ia tidak diperintah mengulanginya lagi. Sebab, suatu amal hanya akan batal dengan menerjang apa-apa yang menjadi larangan di dalamnya secara khusus, bukan melakukan larangan secara umum.

Dalam Musnad Imam Ahmad (no. 23653 –dinilai lemah oleh para pentahqiqnya) disebutkan bahwa di zaman Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– ada dua wanita yang puasa nyaris wafat karena dahaga. Maka hal itu diceritakan pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, namun beliau tidak menggubris. Kemudian dua wanita tadi diceritakan (lagi) kepada beliau, maka beliau pun memerintahkan agar keduanya dipanggil kemudian disuruh memuntahkan (isi perutnya). Keduanya lantas memuntahkan semangkuk besar berupa nanah, darah, nanah, dan daging lembek yang belum masak. Oleh karenanya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya dua wanita ini berpuasa dari hal-hal yang dihalalkan untuk keduanya namun berbuka dengan perkara-perkara yang diharamkan. Keduanya saling bermajlis menyantap daging-daging manusia.”

            Dengan makna semacam ini –Allahua’lam—tertera dalam Al-Quran setelah menyebutkan haramnya makan dan minum atas orang yang berpuasa di siang hari, Allah menyebutkan haramnya makan makanan manusia dengan cara bathil. Sebab keharaman ini umum dalam setiap waktu dan tempat, berbeda halnya makanan dan minuman. Ini menjadi sinyal bagi siapa yang menjalankan titah Allah dengan menjauhi makanan dan minuman (baca : puasa) di waktu puasa di siang hari, seharusnya ia melakukan perintahnya dalam rupa tidak memakan harta dengan cara yang bathil karena hal itu haram dalam keadaan apapun, tidak diperkenankan dalam setiap waktu apa pun.”

Memang berkata dan melakukan kedustaan dan hal-hal semacamnya tidak membatalkan puasa sebagaimana di atas dan apa yang menjadi pendapat Ibnu Hajar dalam Fathul Bari saat menjelaskan hadits di atas, namun tentu hal-hal semacam ini sangat tidak pantas dilakukan seorang mukmin apalagi kepada saudaranya dan di waktu semulia ini.

Al-Bukhari dan Muslim telah meriwayatkan dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwa beliau mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Sesungguhnya seorang hamba berbicara dengan suatu ucapantanpa memikirkannya (terlebih dahulu) maka karena itu ia terjerembak ke jurang neraka yang lebih jauh daripada apa yang membentang antara timur dan barat.”

Dalam Al-Quran surat Qaf ayat ke-18, Allah menegaskan, “Tiada satu ucapan pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang salalu hadir.”

Dalam masalah kesaksian palsu, Allah mengatakan, “Dan jauhilah perkataan-perkataan dusta!” (QS Al-Hajj: 30)

Juga firman-Nya, “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Isra’: 36)

Di surat Al-Fajr ayat ke-14, kita jumpai firman Allah, “Sesungguhnya Rabb-mu benar-benar mengawasi.”

Dalam suatu kesempatan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah bersabda, “Maukah kalian kuberi tahu dosa apa yang paling besar?” Para shahabat menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” “Berbuat syirik,” kata beliau, “Durhaka terhadap orangtua.” Lantas beliau bangkit dari duduk –yang semula bersandar- seraya bersabda, “Ingatlah! Dan persaksian palsu.” Beliau terus mengulang-ulanginya, sampai-sampai para shahabat membatin, “Andaikan Rasulullah diam.” (HR Al-Bukhari-Muslim)

Dalam Kitab Al-Minbar (hal. 155), Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairi –athalallah ‘umrah- mengingatkan, “Ketahuilah, bahwasannya perbuatan-perbuatan buruk akan menjadi besar kejelekannya dan menjadi lebih dibenci di bulan Ramadhan. Oleh karena itu, waspadalah! Waspadalah dari mennerjang dosa apa pun, kecil atau pun besar, di hari-hari suci nun abadi ini. Hari-hari Ramadhan merupakan bulan paling istimewa, paling tinggi, dan paling besar kadarnya. Itulah bulan umat terbaik, termulia, dan teragung. Oleh karena itu, ketahuilah, wahai hamba-hamba Allah, kemuliaan Ramadhan dan jauhilah kecil dan besarnya dosa. Dan hal yang akan membantumu menjauhi dosa ialah pengetahuanmu berupa ancaman yang besar.

Di antaranya ialah sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Puasa merupakan tameng selama tidak dirusak.” Lantas ada yang bertanya, “Dengan apakah puasa dirusak?” Beliau menjawab, “Dengan kedustaan atau menggunjing. Oleh sebab itu, maka waspadailah kedustaan meskipun saat bercanda. Hati-hatilah terhadap ghibah, sebab ia adalah pemudar. Semoga Allah melindungi kita.”

Juga sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Siapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak butuh ia meninggalkan makan dan minumannya.”

Ucapan dusta itu semacam persaksian dusta, yaitu setiap kedustaan dan kebatilan yang menyebabkan seorang mukmin laki-laki maupun perempuan tersakiti badan, kehormatan, atau hartanya.

Dan juga sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Jika salah seorang kalian berpuasa, maka hendaknya ia tidak berkata kotor, tidak marah, dan jika ada orang yang mencacinya atau menyerangnya, maka selayaknya ia mengatakan, ‘Aku tengah berpuasa, aku tengah berpuasa.’” (HR Al-Bukhari-Muslim)

Maka hendaknya kita tidak menyakiti seorang mukmin meski pun kecil. Mari kita ingat sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Setiap muslim atas muslim yang lain adalah haram; darah, kehormatan, dan hartanya.” (HR Muslim)

Wahai hamba-hamba Allah, jagalah lisanmu di bulan ini dan bulan lainnya dari dusta, ghibah, dan serta namimah. Dan jagalah tanganmu dari mengambil apa yang tidak halal untukmu. Jagalah kakimu, maka janganlah berjalan dan berusaha menuju apa yang tidak dihalalkan untukmu.

Dengan ini, berarti kamu telah mengagungkan bulan Ramadhan dan akan kamu peroleh kemenangan dengan hadiah-hadiah besar yang di antaranya ialah dikabulkannya doa orang yang berpuasa di bulan ini.”

Selanjutnya beliau membawakan beberapa hadits terkait bulan Ramadhan yang sudah banyak kita dengar.

Akhirnya, semoga Allah Ta’ala memudahkan kita mengarungi bulan yang penuh keberkahan ini dengan sebaik-baik amal shalih dan Allah memperkenankan kita berjumpa Lailatul qadar. Aamiin.

Semoga shalawat beriring salam senantiasa terlimpahkan kepada baginda Nabi Muhammad, keluarga, shahabat, dan pengikut setianya hingga hari akhir kelak. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s