Membaca Bismillah Tatkala Minum Khamer?


bismillah-wallpaper-hdJika Anda ditanya, “Bagaimana pendapat Anda tentang hukum orang yang minum khamer tanpa terlebih dahulu membaca bismillah?” Boleh jadi Anda akan kesulitan menjawab pertanyaan yang sekilas ‘ngaco’ ini. Kalau Anda ditanya, “Apa hukum minum khamer?” Pasti Anda akan segera menjawab dengan tegas, “Haram!” Namun jika untuk menjawab pertanyaan pertama, bagaimana seharusnya? Untuk itu, mari kita telusuri jawabannya.

Di sini saya tidak akan mengajak Anda untuk mencari jawaban pertanyaan pertama, namun saya akan mengajak Anda menelusuri jawaban untuk pertanyaan, “Apa hukum orang yang membaca bismillah ketika minum khamer?” Berikut adalah pernyataan Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathîf Al-Khathîb Al-Minangkabawî Asy-Syâfi’î –rahmatullâh ‘alaih–  dalam salah satu kitabnya yang fonumental, Hâsyiyah An-Nafahât ‘alâ Syarh Al-Waraqât (hlm. 18, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah Beirut), ketika menyebutkan lima hukum untuk bacaan bismillah:

و أما التحريم ففي كل محرم ذاتي كشرب الخمر و الزنى فتحرم البسملة عند ابتداء الزنى و شرب الخمر لما فيه من امتهان اسم الله بجعله وسيلة للمحرم بل قد يؤدي ذلك إلى الكفر إذا استحل ذلك، لأن استحلال المحرم كفر

“Adapun (hukum membaca bismillah) yang diharamkan adalah pada setiap yang haram dzatnya. Seperti (ketika) minum khamer atau zina. Maka diharamkan membaca bismillah ketika memulai zina dan minum khamer. Hal itu karena termasuk menghinakan nama Allah dengan menjadikannya sebagai sarana untuk melakukan perbuatan haram. Bahkan bias jadi menghantarkan pada kekufuran jika memandangnya halal. Sebab, menghalalkan yang haram adalah kekufuran.”

Kesimpulannya: tidak selamanya membaca bismillah itu baik. Bahkan boleh jadi makruh dan haram.

Di dalam kitabnya yang bertajuk Mauhibah Dzi Al-Fadhl atau Al-Manhal ‘Amim ‘ala Masail At-Ta’lim (I/53 cet. Darul Minhaj KSA), Al-‘Allamah Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah At-Turmusi Asy-Syafi’i mengatakan, “Kemudian, membaca bismillah itu terkadang wajib sebagaimana dalam shalat, terkadang dianjurkan kepada setiap orang sebagaimana ketika wudhu’, atau dianjurkan secara kifayah contohnya ketika makan berjama’ah. Ar-Ramli berkata, ‘Dan dimakruhkan untuk sesuatu yang makruh. Dan zhahirnya sebagaimana yang dikatakan oleh Al-Adzra’i, ‘Haram untuk sesuatu yang haram.’”

Maka membaca bismillah itu bisa haram jika dibaca ketika melakukan sesuatu yang haram, semisal ketika hendak minum khamer, berzina, berjudi, sabung ayam, mencuri, menpu, dan seterusnya. Bahkan bisa mengantarkan pelakunya pada kekufuran. Sebab dalam hal ini terdapat istihza’ (mengolok-olok kalimat Allah).

Sebenarnya, menggunakan kalimat-kalimat Allah, baik bismillah atau ayat Al-Quran, untuk sesuatu yang haram merupakan tindakan istihza’. Misalnya ada seorang laki-laki yang memandang wanita bukan mahram yang cantik parasnya dengan menyitir firman Allah, “Ya Allah, tidaklah Engkau ciptakan ini sia-sia…” Allahua’lam. []

Selesai disusun di kontrakan Jatinegara, Jakarta Timur, 18:46, Rabu, 11 Sep 2013 M

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s