Pentingnya Mempelajari Bahasa Arab


ArabBanyak orang yang berantusias dalam mempelajari Al-Quran, hadits, tauhid, fiqih, adab, akhlak, dan seterusnya. Walhamdulillah. Namun sangat sedikit orang yang mau mempelajari bahasa ‘Arab. Barang kali kelompok pertama lupa bahwa semua ilmu yang dipelajari selama ini sebetulnya berbahasa ‘Arab. Karena mereka hanya mencukupkan diri dengan buku-buku terjemahan yang mereka beli lau dipelajarinya. Sebenarnya hal ini tidak keliru, namun tatkala mereka ingin serius mempelajari Islam yang merupakan agama mereka, mau-tidak mau mereka harus mempelajari dasarnya dulu, yaitu bahasa ‘Arab. Hal ini tidak ada tawar-menawar.

            Bagaimana mungkin ada orang yang hendak masuk rumah sementara dia sendiri tidak membawa kunci rumah tersebut. Paling banter, ia hanya bisa mengintip isi rumah tersebut melalui celah-celah pintu.

Demikian kira-kira perumpamaan bahasa ‘Arab terhadap seluruh ilmu Islam. Tidak mungkin ada orang bisa benar-benar faham Islam sementara dia tidak menguasai bahasa ‘Arab?! Boleh jadi ia faham, namun hanya sebatas faham untuk dirinya dan orang-orang yang lemah. Ia hanya bisa mengintip dari celah-celahnya saja.

Dan berikut adalah beberapa riwayat dan atsar yang berkaitan dengan urgennya mempelajari kaidah-kaidah bahasa ‘Arab serta anjuran untuk mempelajarinya agar kita semakin terdongkrak untuk lebih giat dan serius dalam mempelajarinya.

Ketahuilah, bahwasannya telah diriwayatkan beberapa hadits marfu’ dan atsar mauquf. Di antaranya adalah sabda Nabi –shallallâhu ‘alaihi wa sallam-:

إِنَّ اللهَ لَا يَسْمَعُ دُعَاءً مَلْحُوْنًا

“Sesungguhnya Allah tidak mengabulkan doa yang keliru (tata bahasanya).”

Di samping itu, para ulama juga tidak membolehkan bermakmum di belakang imam yang berbuat lahn.

Di antaranya pula, apa yang diriwayatkan Al-Marhabi, dari Abu Ja’far Muhammad Al-Baqir bin ‘Ali bin Al-Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhum-, bahwasannya ia berkata, “Rasulullah –shallallâhu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

أَعْرِبُوْا الْكَلَامَ كَيْ تُعْرِبُوْا الْقُرْآنَ

“I’rablah ucapan itu, supaya kamu juga mengi’rab Al-Quran.”[1]

Al-Baihaqi meriwayatkan dari ‘Umar –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata:

تعلمو السنة و الفرائض و اللحن، كما تتعلمون القرآن

“Pelajarilah Sunnah, ilmu waris, dan lahn (kesalahan dalam tata bahasa ‘Arab), sebagaimana kalian mempelajari Al-Quran.”

Al-Baihaqi juga meriwayatkan, bahwa dulu Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma– memukul anak-anak mereka karena melakukan lahn.

Abu Thahir mentakhrij dari Asy-Syi’bi, bahwasannya Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu mengatakan, “Aku lebih suka membaca lalu terjatuh daripada membaca lalu melakukan lahn.”

Dalam Syu’abul Iman, Al-Baihaqi mentakhrij dari Syu’bah, bahwasannya beliau mengatakan, “Sekiranya seorang pakar hadits tidak pandai ilmu nahwu, maka ia laksana keledai di kepalanya ada keranjang yang tak berisi jelai/gandum (baca: tak berisi).”

Beliau juga meriwayatkan dari Abu Az-Zanad, dari ayahnya, bahwasannya beliau berkata, “Tidaklah orang zindiq di Barat menjadi zindiq kecuali karena bodoh terhadap ucapan orang ‘Arab.”

Apa yang beliau katakan ini benar adanya. Berapa banyak orang yang tersesat dalam beragama ‘hanya’ karena kebodohannya terhadap bahsa ‘Arab. Ia memahami nas-nas Al-Quran dan Sunnah tanpa didasari kemampuan bahasa ‘Arab yang memadai sehingga ia melenceng dari apa yang Allah inginkan.

Contoh, misalnya, ada sebagian orang yang bodoh terhadap bahsa ‘Arab beranggapan bahwa Nabi Adab itu homo –wal’iyadzu billah-, karena Allah menyebut pasangan Adam dengan kata-kata “zauj”.[2]

Lihat betapa bodohnya orang semacam ini yang hanya setengah-setengah mempelajari bahasa ‘Arab! Kata “zauj” memang berarti pasangan laki-laki, sedangkan untuk pasangan wanita disebut “zaujah”, namun ini bahasa ‘Arab modern. Adapun bahasa ‘Arab di saat Al-Quran diturunkan, maka “zauj” bisa dimaknai pasangan pria ataupun wanita. Adapun menggunakan kata-kata “zaujah” untuk mengungkapkan pasangan wanita, maka sebenarnya ia merupakan ungkapan yang saru.

Contoh lain, banyak orang menyangka bahwa makna “yadullâh” adalah nikmat Allah. Ini memang ada benarnya, namun kata-kata “yad” yang berarti nikmat memiliki bentuk plural “ayyâdiyy”. Adapun “yad” dalam “yadullâh” oleh Allah dalam Al-Quran dipluralkan dengan “aidi” yang menunjukkan bahwa maknanya adalah tangan.[3]

Lihat, karena kebodohannya terhadap bahasa ‘Arab, orang ini telah melakukan tahrif yang tercela dalam memaknai Al-Quran.

Beliau juga mentakhrij dari Ibnu Al-Mubarak yang mengatakan, “Tidak akan diterima satu pun ilmu seseorang sampai ia menghiasinya dengan bahsa ‘Arab.”

Di dalam Syarah Alfiyah-nya, Imam Jalaluddin ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi mengatakan:

و قد اتفق العلماءعلى أن النحو يحتاج إليه في كل فن من فنون العلم لا سيما التفسير و الحديث ، فإنه لا يجوز لأحد أن يتكلم في كتاب الله حتى يكون مليا بالعربية ، لأن القرآن عربي و لا تفهم مقاصده إلا بقواعد العربية ، و كذا الحديث

“Semua ulama sepakat bahwa ilmu nahwu itu dibutuhkan dalam semua disiplin ilmu, terlebih ilmu tafsir dan ilmu hadits.  Karena sesungguhnya tidak diperkenankan bagi siapa pun berbicara mengenai Kitabullah (Al-Quran) sampai ia menguasai bahasa ‘Arab. Sebab Al-Quran berbahasa ‘Arab dan maksud-maksudnya tidak akan bisa difahami kecuali dengan kaidah-kaidah bahasa ‘Arab. Demikian pula hadits.”

Ibnu Ash-Shalâh mengatakan, “Seyogyanya bagi pakar hadits tidak meriwayatkan haditsnya dengan bacaan lahn.” Kemudian diriwayatkan dari Abu Dawud, ia berkata, aku mendengar Al-Ashma’i mengatakan, “Sesungguhnya yang paling kukhawatirkan terhadap penuntut ilmu ialah apabila ia tidak menguasai ilmu nahwu masuk dalam sabda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, ‘Siapa yang sengaja berdusta atas namaku, hendaklah ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.’ Sebab beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak pernah melakukan lahn. Kapan pun kamu meriwayatkan dari beliau dan kamu melakukan lahn, maka kamu telah berdusta atsa nama beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Sebagain penyair mengatakan:

Orang yang terluputkan dari ilmu nahwu, dialah yang bisu

Pemahamannya dalam setiap ilmu bakal bangkrut

Kedudukannya di mata manusia terinjak

Jika ia didebat, ia akan terbungkam

Ia tidak tak akan bisa mengikuti hikmah yang teringat

Dan ia tidak bisa memahami permasalahan yang njelimet

 

[Dinukil dengan beberapa tambahan, pengurangan, dan penyesuaian dari muqaddimah Syaikh ‘Utsman Syatha Ad-Demyathi terhadap syarah Syaikh Ahmad bin Zaini Dahlan Al-Makki untuk Al-Muqaddimah Al-Ajurrumiyyah, cet. Darul Kutub Al-Islamiyyah, ta’liq ‘Alawi Abu Bakar Muhammad As-Saqqaf]

Selesai disusun pada 14:46 Jum’at, 13 Sept 2013 M

Kontrakan Jatinegara, Jakarta Timur


[1] Sabdanya, “I’rablah ucapan itu…,” artinya pelajarilah i’rabnya. “…supaya kamu juga mengi’rab Al-Quran,” artinya agar supaya kamu mengucapkannya dengan benar, tanpa kelahenan.

[2] Lihat misalnya ayat ke-19 dari surat Al-A’raf.

[3] Lihat pembahasan seputar hal ini dalam kitab Al-Ibanah ‘an Ushul Ad-Diyanah, karya Imam Abul Hasab Al-Asy’ari.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s