Mengenal Tauhid dan Macamnya


TauhidSebagaimana diketahui bersama bahwa bahwa tujuan Allah menciptakan jin dan manusia semata-amata agar mereka mentauhidkan Allah, sebagaimana firman-Nya, “Tidaklah Aku mencitkan jin dan manusia melainkan agar mereka mentauhidkan-Ku.” (QS: 51: 56)

Tauhid ini merupakan satu dari tiga ajaran yang disepakati oleh saluruh nabi dan rasul, seperti yang ditegaskan Asy-Syaukani dalam Irsyad Ats-Tsiqat. Sedangkan dua ajaran lainnya ialah konsep penetapan adanya hari kebangkitan dan konsep penetapan kenabian. Tiga ajaran ini kemudian Allah rinci dalam Al-Quran. Pada hlm. 4 dalam buku tersebut, penulis mengatakan, “Ketahuilah bahwa membawakan ayat-ayat Al-Quran untuk menetapkan setiap konsep dari konsep yang tiga tersebut dan menetapkan akan sepakatnya seluruh syariat atasnya, tidak diperlukan bagi orang yang membaca Al-Quran. Sebab jika ia mengambil mushaf, ia akan menjumpai pada bagian manapun yang dikehendakinya, di tempat manapun yang disukainya, serta di titik mana saja yang diinginkannya, ia akan menjumpainya bertebaran mulai dari Al-Fatihah hingga akhirnya.”

Sebelumnya, Ibnul Qayyim dalam Madarij-nya (III/449) juga menyatakan, “Jadi kandungan Al-Quran seluruhnya bertemakan tauhid dan ganjarannya serta bertema penjelasan kesyirikan, pelaku, dan balasannya.”

Jika demikian kenyataannya, maka alangkah parahnya jika ada orang yang mengaku muslim namun ternyata tidak tahu atau tidak mau tahu tentang konsep tauhid yang merupakan pokok ajaran Islam.

Kemudian ketahuilah bahwa menurut Islam, tauhid ada tiga macamnya, yaitu tauhid rububiyyah, ibadah, dan asma’ wa shifat. Hal ini mengingat firman-Nya, “Dialah Tuhannya langit, bumi, dan apa yang ada antara keduanya. Karenanya, sembahlah Dia dan bersabarlah dalam beribadah pada-Nya. Apakah kamu ada yang serupa dengan-Nya?!” (QS: 19: 65)

Asy-Syinqithi dalam Tafsir-nya (III/410) menulis, “Penelitian dalam Al-Quran mengatakan bahwa tauhid itu terbagi menjadi tiga.”

Jika pembagian tauhid menjadi tiga ini berdasarkan pengamatan terhadap ayat-ayat Al-Quran, maka dapat diketahui bahwa pembagian ini termasuk perkara syariat yang bersumber dari Kitab Allah, bukan semata-mata ajaran yang dibuat-buat ulama yang bertujuan untuk memudahkan pembelajaran.

Di Indonesia, konsep seperti ini juga bukan perkara yang baru. Hal ini bisa dilihat, misalnya, penegasan ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Muttalib Al-Mandili dalam Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah (hlm. 6-20) dan Anak Kunci Syurga (hlm. 7-10).

Tauhid Rububiyyah

Maksud tauhid rububiyyah ialah kita mengimani bahwa Allah satu-sayu Dzat yang menciptakan, mengatur, dan memberi rizki jagad araya ini. Maka tidak ada yang menciptakan, mengatur, dan memberi rizki melainkan Allah jua, bukan selain-Nya.

Macam tauhid ini disepakati seluruh manusia, tanpa terkecuali. Sedangkan segelintir orang yang menampakkan pengingkaran terhadapnya, sejatinya sanubari mereka mengatakan sebaliknya. Allah berfirman, “Dan apabila kamu bertanya pada orang-orang musyrik, siapakah yang menciptakan mereka, pasti mereka akan menjawab, Allah.” (QS: 43: 87)

Firman-Nya, “Katakan, ‘Siapakah yang memberi kalian rizki dari langit dan bumi? Siapakah yang memberikan pendengar dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Dan siapakah yang mengatur segala urusan?’ Niscaya mereka menjawab, ‘Allah.’ Sebab itu katakanlah, tidakkah kalian takut pada-Nya?’” (QS: 10: 31)

Al-Mandili mengatakan, “Tauhid rububiyyah ini diakui oleh orang-orang kafir pada masa hidup Rasulullah, namun tidak menyebabkan mereka memeluk Islam karena pengingkaran mereka terhadap tauhid ibadah berikut.” (Syarh ‘Aqidah Thahawiyyah hlm. 8)

Tauhid Ibadah                                     

Yang dimaksud dengan tauhid ibadah ialah kita mengesakan Allah dalam melakukan segala bentuk ibadah. Sedangkan ibadah diartikan sebagai sebuah istilah yang disematkan pada segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah, ucapan maupun perbuatan; lahir maupun batin. Kemudian seluruh ibadah memiliki tiga rukun yang harus mendasarinya, yaitu cinta, harap, dan takut.

Ibadah ini pun banyak macamnya, seperti shalat, zakat, puasa, haji, berdoa, sedekah, amanah, berbakti pada orangtua, jihad, rasa takut pada Allah, istighatsah, amar makruf nahi munkar, berbuat baik pada sesame makhluk, memohon perlindungan yang hanya mampu dilakukan Allah, dan seterusnya. Segala bentuk macam ibadah ini hanya berhak diberikan pada Allah semata, tidak untuk selain-Nya.

Allah befirman, “Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk Allah, tuhan jagad alam, tidak ada sekutu bagi-Nya. Dengan itulah aku diperintahkan dan aku adalah orang yang kali pertama melaksanakan perintah ini.” (QS: 6: 162)

“Dan bahwasanya segala tempat ibadah itu hanya teruntuk Allah. Olehnya, jangan kamu sembah satu juapun di dalamnya bersama Allah.” (QS: 72: 18)

Sementara itu At-Tirmidzi melaporkan, bahwa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah bersabda, “Apabila kamu meminta, mintalah pada Allah, dan jika kamu memohon perlindungan, berlindunglah pada Allah.”

Adapun orang yang mengalihkan ibadah ini untuk selain-Nya, seperti berdoa pada selain-Nya, menyembelih hewan untuk selain-Nya, memohon perlindungan pada selain-Nya, beristighatsah pada orang mati atau orang yang tidak ada, atau macam ibadah lain, maka ia telah terjerumus pada lubang kemusyrikan yang tidak akan Allah ampuni jika tidak bertaubat hingga mati.

Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni orang yang mensekutukan-Nya dan Dia mengampuni dosa di bawah syirik.” (QS: 4: 116)

“Dan sungguh, telah diwahyukan padamu dan pada orang-orang sebelummu, sekiranya kamu menyekutukan Allah, niscaya seluruh amalanmu akan gugur dan kamu pasti termasuk orang-orang bangkrut.” (QS: 39: 65)

Maka sebesar apa pun kebaikan seseorang, seperti rajin mengerjakan berbagai ibadah sunnah, dermawan luar biasa, khatam Al-Quran setiap pekan, haji berulang kali, dan ibadah lainnya namun jika diiringi dengan tindakan kemusyrikan –seperti masih menggandrungi kuburan atau tempat keramat-, maka ibadah yang selama ini dilakukannya tak akan bermanfaat dan. Kelak di akhirat, ia akan dicampakkan ke dalam api neraka selama-lamanya. Sebaliknya, sebesar apapun dosa yang dilakukan seorang hamba selama tidak menganggapnya halal, tetapi komitmennya pada tauhid terus dipertahankannya hingga akhir hayat dengan tetap menunaikan kewajiban penting, kelak di akhirat ia masih berpeluang memperoleh ampunan Allah.

Kemudian, antara tauhid rububiyyah dan tauhid ibadah ini memiliki hubungan yang erat. Maksudnya, orang yang mengikrarkan tauhid rububiyyah, selayaknya ia pun pengikrarkan tauhid ibadah. Ketika seorang hamba mengetahui bahwa Allah lah yang menciptakannya, memberinya rizki, dan mengaturnya, maka pada saat yang sama seharusnya ia hanya menyembah pada-Nya semata. Ketika menafsirkan firman-Nya, “Wahai manusia, sembahlah Rab-mu yang telah menciptakanmu dan orang-orang sebelumnya, dsb.” (QS: 2: 21-22) Ibnu Katsir mengatakan, “Dzat yang menciptakan segala sesuatu inilah yang berhak diibadahi.”

Tauhid Asma wa Shifat

Yang dimaksud dengan tauhid macam ini ialah menetapkan dan mengakui nama dan sifat yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya untuk diri-Nya tanpa membagaimanakan nama dan sifat tersebut atau mentamsilkannya, serta menafikan segala nama dan sifat yang dinafikan oleh Allah dan Rasul-Nya pada diri-Nya.

Dalam Al-Quran, misalnya, Allah menyatakan bahwa diri-Nya memiliki nama Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-‘Aziz, Al-Ghafur, Ar-Razzaq, Al-Muhaimin, maka kita wajib mengakui hal tersebut. Sedangkan sifat, Allah menetapkan bahwa dirinya memiliki tangan, bersemayam di atas ‘Arsy, memiliki sifat rahmat, dan sebagainya, maka kita pun wajib mengatakan demikian tanpa menyerupakannya dengan sifat-sifat yang ada pada makhluk karena kita yakin bahwa sifat yang ada pada Allah itu berbeda hakikatnya dengan sifat yang ada pada makhluk meskipun namanya sama. Jika sifat antara makhluk saja bisa berbeda, tentu antara sifat Allah dengan makhluk-Nya lebih layak berbeda. Karena seluruh nama dan sifat Allah itu di puncak kesempurnaan, sedangkan nama dan sifat makhluk masih dihinggapi banyak kekurangan. []

Abu Thahir Al-Marwadi

Artikel pertama kali diterbitkan oleh Buletin Al-‘Ilmu Palembang.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s