Beradab Kemudian Belajar


adabAllah telah memberikan karunia-Nya kepada para hamba-Nya dengan diutusnya Muhammad bin ‘Abdullah Al-Qurasyi sebagai seorang rasul yang membawa kabar gembira, peringatan, dai kepada Allah, pelita, dan penerang. Allah telah menurunkan Al-Quran kepadanya sebagai kitab pedoman, petunjuk, pendidikan, dan perbaikan. Dia mengatakan:

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِن كَانُوا مِن قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُّبِينٍ

Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”[1]

            Maka dakwah Rasul Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mencakup tiga hal sebagaimana yang dinyatakan dalam ayat yang mulia ini, yaitu:

  1. Tabligh.
  2. Tazkiyyah (baca: mensucikan).
  3. Ta’lim (baca: mendidik).

Tazkiyyah adalah mendidik jiwa untuk mempraktekkan Islam, melaksanakan perintah-printahnya dan menjauhi seluruh larangannya, berakhlak dengan apa yang didakwahkan berupa akhlak yang mulia dan adab yang luhur. Dan tujuan ini sudah tergapai. Terbukti dengan munculnya generasi-generasi luar bisa yang sebelumnya adalah pribadi keras dan kasar layaknya manusia padang pasir, kini berubah sebaliknya. Jadilah para shahabat berkepribadian lembut dan halus berkat pendidikan yang diberikan Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Maka para shahabat –radhiyallahu ‘anhum– juga melakukan hal yang serupa. Mereka mendidik generasi setelahnya dengan pendidikan yang bermanhaj ala Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Dan demikianlah seterusnya.

  • Al-Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi Al-Qurasyi –rahimahullah– mengatakan, “Wahai anak saudaraku, pelajarilah adab sebelum mempelajari ilmu.”[2]

  • Yusuf bin Al-Husain –rahimahullah– mengatakan, “Dengan adab ilmu akan difahami.”[3]

  • Abu ‘Abdullah Al-Balkhi –rahimahullah– mengatakan, “Adab ilmu itu lebih banyak daripada ilmu.”[4]

  • Al-Laits bin Sa’ad ketika mengawasi ahli hadits melihat sesuatu yang kurang menyenangkan di antara mereka, beliau pun mengatakan, “Kalian lebih membutuhkan sedikit adab daripada banyak ilmu.”[5]

  • Al-Khathib Al-Baghdadi melaporkan dari Malik bin Anas, beliau berkata, Ibnu Sirin berkata, “Mereka mempelajari petunjuk (baca: prilaku) sebagaimana mereka mempelajari ilmu.”[6]

  • Dari Malik, dari Ibnu Syihab, bahwasannya beliau menyatakan, “Sesungguhnya ilmu ini merupakan adab Allah, dengannya Allah mengajari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– adab, dan dengannya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengajari umatnya adab, amanah Allah kepada Rasul-Nya untuk ditunaikan sebagaimana yang disampaikan padanya. Maka siapa yang mendengar suatu ilmu, hendaknya ia menjadikannya sebagai hujjah di depannya antara dia dan Allah ‘Azza wa Jalla.”[7]

  • Dari Ibrahim bin Habib, ia menceritakan, ayahku berkata padaku, “Wahai anakku, datangilah ahli fiqih dan ulama dan pelajarilah adab, akhlak, dan petunjuk dari mereka. Karena sesungguhnya yang demikian lebih kucintai darimu daripada kamu banyak meriwayatkan hadits.”[8]

  • Dari Ibnu Al Mubarak, Mukhallad bin Al-Husain berkata padaku, “Kami lebih membutuhkan adab daripada banyak meriwayatkan hadits.”[9]

  • Dari Zakariya Al-‘Anbari, bahwasannya beliau berkata, “Ilmu tanpa adab laksana api tanpa kayu bakar. Dan adab tanpa ilmu bagaikan roh tanpa jasad.”[10]

  • Diriwayatkan bahwa ibu Malik bin Anas menasihati anaknya, “Pergilah menemui Rabi’ah dan pelajarilah adab darinya sebelum mempelajari ilmunya.”[11]

Di sini penulis juga akan menyampaikan nasehat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammmad As-Sadhan[12] kepada orang yang ragu-ragu menghadiri majlis-majlis ulama dan ustadz karena menganggap dirinya tidak memiliki kemampuan yang cukup untuk memahami ilmu yang disampaikan sang ustadz. Beliau mengatakan, “Terkadang ada orang yang mengeluh, ‘Apakah aku akan menghadiri pelajaran ustadz yang tidak kufahami kecuali sedikit yang tak berarti?’ Maka kita katakana padanya, tetaplah hadir, karena puncak tujuan dari menghadiri (majlis itu) untuk medapatkan faidah ilmiah saja, namun di sana bias memperhatikan akhlak ustadz dan mencontohnya.

Al-Imam As-Sam’ani dan selainnya melaporkan, bahwasannya majlis Imam Ahmad dihadiri 5000 orang. Periwayat mengatakan, “Yang 500 menulis dan sisanya mengambil prilaku, akhlak, dan adabnya.”[13]

Abu Bakar Al-Mathu’i berkata, “Aku menghadiri majlis Abu ‘Abdillah[14] -sedangkan  beliau sedang membacakan Al-Musnad kepada anak-anaknya- selama 12 tahun dan aku tidak mencatat, namun aku mengamati adab dan akhlaknya.”[15] Selesai perkataan Syaikh As-Sad-han.

Dalam lafazh lain disebutkan, “Aku bolak-balik menuju Abu ‘Abdillah selama 12 tahun sedang beliau mebaca Al-Musnad untuk anak-anaknya. Aku tidak menulis satu hadits pun darinya, namun aku memperhatikan prilaku dan akhlaknya.”

Habib bin Asy-Syahid –rahimahullah– berkata pada anaknya, “Wahai anakku, temanilah ahli fiqih dan ulama, belajarlah dari mereka, dan ambillah adab dari mereka. Sesungguhnya yang demikian itu lebih kusukai daripada banyak meriwayatkan hadits.”[16]

Demekianlah seharusnya. Menghadiri majlis ilmu merupakan sesuatu yang urgen dan mulia. Bahkan tedapat ancaman bagi siapa yang di sampingnya terdapat majlis ilmu namun dia malah tidak menghadirinya padahal ia tidak memeliki kesibukan yang berarti.

Dari Abu Waqid Al-Laitsi –radhiyallahu ‘anhu-, beliau mencintai

أن رسول الله صلى الله عليه وسلم بينما هو جالس في المسجد والناس معه إذ أقبل نفر ثلاثة فأقبل اثنان إلى رسول الله صلى الله عليه وسلم وذهب واحد قال فوقفا على رسول الله صلى الله عليه وسلم فأما أحدهما فرأى فرجة في الحلقة فجلس فيها وأما الآخر فجلس خلفهم وأما الثالث فأدبر ذاهبا فلما فرغ رسول الله صلى الله عليه وسلم قال

“Bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pada suatu hari duduk di masjid sedangkan orang-orang menyertai beliau. Tiba-tiba ada tiga orang yang lewat, yang dua ikut bersama Rasulullah sedangkan yang satunya pergi berlalu.” Ia mengatakan, “Keduanya berhenti bersama Rasulullah. Yang pertama melihat ada tempat yang longgar lalu ia duduk di sana, adapun yang satunya duduk di belakang hadirin, sedangkan yang orang kedua kebelakang pergi. Setelah Rasulullah selesai, beliau bersabda:

 أَلَا أُخْبِرُكُمْ عَنِ النَّفَرِ الثَّلَاثَةِ؛ أَمَّا أَحَدُهُمْ فَأَوَى إِلَى اللهِ فَآوَاهُ اللهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَاسْتَحْيَا فَاسْتَحْيَا اللهُ مِنْهُ وَأَمَّا الآخَرُ فَأَعْرَضَ فَأَعْرَضَ اللهُ عَنْهُ

“Maukah kalian aku beritahu tentang ketiga orang tadi? Adapun yang pertama, ia mencari perlindungan kepada Allah maka Allah pun melindunginya, adapun yang lain malu-malu maka Allah pun malu-malu darinya, dan yang lain berpaling maka Allah pun berpaling darinya.”[17] []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s