Usaha Ulama Nusantara dalam Menjaga Hadits Nabi


26Walauapun perhatian ulama Nusantara terhadap penulisan yang menitik beratkan hadits dan ilmunya sangat tidak begitu menonjol layaknya penulisan yang bertemakan fiqih dan tashawuf, namun bukan berarti tidak ada sama sekali. Minimnya penulisan hadits dan ilmunya menorehkan pengaruh besar yang sangat dapat dirasakan hingga kini, antara lain dengan mudahnya tersebar hadits-hadits lemah dan palsu yang terus dikonsumsi dari masa ke masa. Hal ini dapat dijumpai di mimbar-mimbar dan tulisan-tulisan yang dibaca dan diwariskan yang kemudian membuat masyarakat dengan mudah menukilnya. Sangking tenarnya beberapa hadits lemah dan palsu itu sehingga apabila diberi tahu bahwa ternyata hadits tersebut berderajat lemah atau palsu itu, banyak kemudian orang yang tidak percaya.

Keberadaan hadits-hadits lemah dan palsu ini jika terus dipertahankan dan dibiarkan memasar di tengah masyarakat, niscaya lambat laun akan merusak tatanan ajaran Islam yang murni serta memasukkan ajaran di luar Islam ke dalam Islam yang suci. Padahal diantara motifasi dipalsukannya hadits adalah untuk menghancurkan ajaran agama Islam. Tentu ini amat sangat bahaya sekali.

Jika ada yang bertanya, apa sebab terjadi timbulnya hadits-hadits palsu tersebut?

Dalam muqaddimah Himpunan Hadits-Hadits Lemah dan Palsu hlm. 10, A. Yazid dan Qadsim Koho menjelaskan ada 5 di antaranya:

  1. Adanya kesengajaan dari pihak lain untuk merusak ajaran Islam.
  2. Untuk menguatkan pendirian atau madzhab suatu golongan, misalnya dari golongan Syi’ah, golongan tarekat, golongan Shufi, orang-orang Zindiq, orang yang menamakan diri mereka itu zuhud, golongan Karamiyyah, para ahli bid’ah, para khatib, ahli cerita, mereka yang biasa memberi nasehat,dan lain-lainnya.
  3. Atau dengan maksud mendekatkan diri kepada Sultan, Raja, Penguasa, Presiden, dan lain-lainnya dengan tujuan mencari kedudukan.
  4. Untuk mencari penghidupan dunia.
  5. Untuk menarik perhatian orang sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ahli dongeng dan tukang cerita, juru khutbah dan lain-lain.

Dalam penulisan ilmu mushthalah hadits, Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah At-Tarmasi menulis Manhaj Dzawi An-Nazharf i Syarh Manzhumah ‘Ilm Al-Atsar, Mahmud Yunus (1899-1982) bersama Mahmud Azis menulis Ilmu Mustalah Hadits, demikian pula Abdul Qadir Hassan juga menulis Min Al-Wahy (yang dipetiknya dari Qawa’id At-Tahdits min Funun Mushthalah Al-Hadits karya Muhammad Jamaluddin Al-Qasimi) dan Ilmu Mustalah Hadits. Penulisan musthalah hadits ini menjadi amat sangat penting karena hasilnya akan dapat diketahui dan dibedakan mana hadits yang shahih dan mana yang tidak.

Sedangkan penulisan buku yang menghimpun hadits-hadits lemah dan palsu untuk diingatkan mungkin ada pula. Namun sebatas informasi yang penulis ketahui adalah ‘Abdul Qadir Hassan pernah menulisnya dengan merujuk pada kitab Asna Al-Mathalib fi Ahadits Mukhtalif Al-Maratib. Jejak beliau ini kemudian diikuti A. Yazid & Qasim Koho dalam Himpunan Hadits-Hadits Lemah dan Palsu yang memuat 581 hadits lemah dan palsu yang disusun berdasarkan bab-bab berikut: Bab Wudhu, Bab Adzan dan Qamat, Bab Shalat, Bab Mandi, Bab Puasa, Bab Zakat dan Sedeqah, Bab Haji-Thawaf-Wuquf, Bab Masjid, Bab Membaca Selawat, Bab Membaca Quran dan Ayat-Ayat Tertentu, Bab Mati-Ziarah Qubur, Bab Ilmu-Ulama-Penuntut Ilmu, Penuntut Ilmu, Bab Mimpi Melihat Allah dan Nabi, Bab Keutamaan Nabi Muhammad, Bab Nabi-Nabi yang Lain, Bab Doa, Bab Dosa, Bab Kawin, Bab Keutamaan Aqal, Bab Hari Naas dan Kepercayaan Pada Benda-Benda, Bab Cincin dan Batu Permata, Bab Keutamaan Bulan dan Kejadiannya, Bab Binatang dan Berobat, Bab Makan, Bab zuhud, Bab Keutamaan Ali, dan Bab Lain-Lain.

Pada masa-masa berikutnya ulama-ulama Nusantara tambah semakin sadar akan bahaya hadits-hadits lemah dan palsu jika terus dibiarkan dikonsumsi di masyarakat. Karenanya, timbullah semangat untuk turut serta menjaga ajaran Islam dengan menyisihkan hadits-hadits lemah dan palsu dari peredaran di kalangan masyarakat. Maka setelah kedua ulama besar ini setidaknya diikuti oleh beberapa pakar berikut:

  • Ustadz Abdul Hakim bin ‘Amir ‘Abdat dalam Hadits-Hadits Dha’if & Maudhu’
  • Ahmad Luthfi Fathullah, MA dalam Hadits-Hadits Lemah & Palsu dalam Kitab Durratun Nashihin yang ditulisnya guna meraih gelar doktor falsafah dalam bidang ilmu hadis pada Fakulti Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Malaysia.
  • Ustadz Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam Koreksi Hadits-Hadits Dha’if PopulerKoleksi-Hadits-Dhoif
  • Ustadz Ahmad Sabiq bin ‘Abdul Lathif Abu Yusuf dalam Hadits Lemah dan Palsu yang Populerdi Indonesia

 

Tentang Buku Hadits-Hadits Lemah dan Palsu

Yazid QsimPada bagian akhir ini penulis akan memaparkan tentang buku kedua, Himpunan Hadits-Hadits Lemah dan Palsu (1397 H/1977) karya Syaikh A. Yazid & Qasim Koho –rahimahullah-.

Maksud dikarangnya buku ini adalah seperti yang disebutkan oleh penulis sendiri dalam muqaddimah, yaitu sebagai semata-mata selain menjadi satu sumbangan karirnya juga untuk menyelamatkan kita dari usaha orang lain untuk meruntuhkan dan mengacaukan ajaran Islam.

Apa yang beliau sebut itu, juga beliau ulangi tatkala membahas dua hadits palsu bernomor 342 dan 343, “Kalau salah seorang di antara kamu yakin terhadap sebuah batu, pasti batu itu membuat manfaat kepadanya,” dan “Kalau salah seorang di antara kamu menyangka baik kepada sebuah batu niscaya dengan batu itu Allah akan memberi manfaat kepadanya,” komentarnya, “Kedua riwayat tersebut merupakan contoh-contoh bagaimana usaha orang di luar Islam untuk menggoncangkan aqidah qaum Muslimin. Khususnya diadakan oleh orang-orang aliran kepercayaan dan kebatinan.”

Selain itu, penulis juga menyebutkan motifasi lain penulisan buku ini, “Juga untuk menghindari ancaman Rasulullah SAW sebagaimana sabda beliau:

من كذب علي متعمدا فليتبوأ مقعده من النار

Artinya: Barang siapa yang mengadakan dusta atasku dengan sengaja, maka hendaklah dia siapkan tempat duduknya di neraka. [H. mutawatir, diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Muslim dan lain-lainnya].

Yang dimaksud dengan berbuat dusta atas nama Rasulullah SAW dalam sabda ini: Sesuatu yang tidak diucapkan atau dikerjakan oleh Rasulullah SAW lalu kita berkata bahwa beliau pernah katakana demikian atau mengerjakannya, dengan maksud untuk menunjang pendapat, pendirian, madz-hab kita.

Hal yang demikian ini sering kita jumpai dimana-mana tempat. Khususnya yang dilontarkan oleh pihak lain untuk merusak ajaran Islam.”

Adapun refrensi penulisan yang dilakukan A. Yazid & Qasim Koho ini juga beliau utarakan di muka, yaitu:

  • Al-Ahadits Adh-Dha’ifah wa Al-Maudhu’ah karya Syaikh Abu ‘Abdirrahman Muhammad Nashiruddin bin Haji Nuh Najati Al-Albani
  • Al-Maudhu’at karya Imam Abul Faraj Ibnul Jauzi
  • Al-La-ali Al-Mashnu’ah fi Al-Ahadits Al-Maudhu’ah karya Jalaluddin Abul Fadhl ‘Abdurrahman bin Abu Bakar As-Suyuthi
  • Al-Mashnu’ fi Ma’rifah Al-Hadits Al-Maudhu’ karya Syaikhul Islam Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani
  • Al-Kalim Ath-Thayyib karya Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah dengan takhrij Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani
  • Al-Maqashid Al-Hasanah fi Bayan Katsir min Al-Ahadits Al-Musytahirah ‘ala Al-Alsinah karya Al-Hafizh Syamsuddin Abul Khair Muhammad bin ‘Abdurrahman As-Sakhawi
  • Mushthalah Al-Hadits karya Al-Ustadz Abdul Qadir Hassan
  • Mizan Al-I’tidal karya Al-Hafizh Adz-Dzahabi

Selain kitab-kitab di atas, penulis ternyata menggunakan refrensi lain, seperti yang dapat dijumpai di tengah kitabnya, seperti Khulashah fi ‘Ilm Al-Hadits, Al-Ba’its Al-Hatsits fi Syarh Ikhtishar ‘Ulum Al-Hadits karya Syaikh Ahmad Muhammad Syakir, Minhah Al-Mughits, As-Sunan wa Al-Mubtada’at, Tafsir Adhwa’ Al-Bayan karya Syaikh Muhammad Al-Amin bin Muhammad Al-Mukhtar Asy-Syinqithi, Tafsir Fathul Qadir karya Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani, Tafsir Imam Abul Fida’ Ibnu Katsir,

Berikut contoh pemaparan penulis dalam menjelaskan hadits dha’if atau palsu, yaitu hadits yang biasa dijadikan dalil sunnahnya shalat hajat, pada hadits no. 104 dari kitab ini:

من كانت له إلى الله حاجة أو أحد من بنى آدم فليتوضأ وليحسن وضوءه وليصل ركعتين  ليثني على الله تعالى ويصلي على النبي (صلى الله عليه وسلم ) ثم ليقل ” لا إله إلا الله الحليم الكريم , سبحان الله رب العرش العظيم والحمد لله رب العالمين أسألك موجبات رحمتك وعزائم مغفرتك, والغنيمة من كل بر والسلامة من كل ذنب , لا تدع لي ذنبا إلا غفرته ولا هما إلا فرجته ولا حاجة هي لك رضا إلا قضيتها يا أرحم الراحمـين

 

Artinya: “Barang siapa yang mempunyai sesuatu hajat kepada Allah atau kepada salah seorang dari bani Adam, maka hendaklah ia berwudlu dan membaguskan cara wudlunya. Kemudian hendaklah dia melakukan shalat dua raka’at untuk memuji nama Allah dan berselawat atas Nabi saw. Apabila telah selesai hendaklah mengucapkan: laa ilaaha illallaah, alhalimul karim, subhaanallahu rabbul ‘arsyil Adhiim, alhamdulillahi rabbil ‘alamiin…dsb”

Beliau mengatakan:

“Penjelasan: Hadits ini gharib. Demikian yang dikaytakan oleh Imam Tirmidziy.

  • Dalam sanadnya ada rawi yang bernama Faa-id. Sebab rawi inilah maka hadits ini derajatnya menjadi dha’if.
  • Imam Ahmad mengatakan, “Hadits ini matruk.”
  • Dalam Mizan Al-I’tidal, Adz-Dzahaby ,emgatakan, “Rawi yang bernama Faa-id ini nama lengkapnya: Faa-id bin ‘Abdirrahman. Sedang kunyahnya Abu Al-Warqaa Al-Kuufy Al-‘Aththar. Dia telah menira hadits dari Abu Aufaa.
  • Imam Ahmad dan beberapa imam lainnya tidak mau menerima hadits yang dia riwayatkan.
  • Imam Bukhari mengatakan, “Dia suka meriwayatkan hadits-hadits mungkar.”

Dalam kitabnya ini A. Yazid & Qasim Koho tidak lupa membahas berbagai isu dan permasalahan kontemporer yang tengah ramai diperbincangkan di zamannya. Hadits-hadits lemah dan palsu yang ramai dikonsumsi umat Islam di masanya dihabis secara detile dengan keterangan tambahan tentang mana hadits shahih yang bisa menggantikan hadits yang lemah atau palsu tersebut, sebagaimana metode penulisan Abu Ubaidah Yusuf bin Mukhtar As-Sidawi dalam bukunya. Di antara permasalahan kontemporer A. Yazid Qasim Koho bahas ialah permasalahan ziarah kubur, syafaat, tawasul, syirik, bid’ah, jimat, dan selainnya. Wallahua’lam. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s