Putera Indonesia yang Bergelar Sibawih di Zamannya, Abdullah Durdum Al-Makki


Indonesia_provinces_blank_map-ARSidang pengunjung blog saya yang saya cintai, kali saya hendak mengajak Anda mengenal salah seorang ulama negeri ini yang dikenal dunia sebagai Sibuwaih di zamannya. Gelar ini tentu membuat kita merasa bangga, ternyata bangsa ini bukanlah bangsa yang lemah. Banyak penduduknya yang berhasil mencapai tinggat tinggi di mata dunia, apa lagi dalam masalah agama. Tentu saja ketika kita selesai membaca biografi ulama yang akan kita telusuri ini, tidak terhenti takjub dan bangga saja, namun kita juga harus terdongkrak semangat untuk bisa mengikuti jejak mereka yang telah berhasil dan succes.

Sebagaimana yang dinyatakan Ibnu Khaldun dalam Muqaddimahnya dan dinukil oleh Al-Mubarakfuri dalam muqaddimah Tuhfah Al-Ahwadzi, bahwa kebanyakan manusia-manusia pengemban ilmu Agama itu berasal dari non Arab. Lihat saja, misalnya, Al-Imam Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, penulis Shahih Al-Bukhari, dan Sibuwaih yang dikenal pakar dalam bidang ilmu bahasa Arab. Lihatlah, yang pakar bahasa Arab ternyata bukan berasal dari kalangan orang Arab, namun justru dari luar Arab. Oleh karena itu, jangan pernah merasa kerdil ketika mempelajari Agama yang selama ini timbul kesan sulit. Anda bisa menjadi seperti imam-imam tersebut.

Dan berikut adalah salah satu contoh sekaligus cermin tokoh ulama yang pakar di bidang bahasa ‘Arab putera Nusantara yang digelari oleh para ulama sebagai Sibuwaih di zamannya.

Selamat menyimak!

Namanya:

‘Abdullah bin Ahmad ‘Abdullah Durdum Al-Fadani Al-Indunisi Asy-Syafi’i Al-Makki.Durdum

Kelahirannya:

Makkah Al-Mukarramah, daerah Al-Qasyasyiyyah pada tahun 1335 H.

Pertumbuhannya:

‘Abdullah Dardum tumbuh besar di pangkuan kedua orangtuanya –semoga Allah merahmati keduanya-. Beliau mulai menghafal Al-Quran kemudian belajar dasar menulis, sebagian ilmu, seni, dan sebagaimana belajar khath kepada Syaikh Ibrahim Halwani. Selanjutnya beliau masuk Madrasah Shaulatiyyah dan menimba ilmu dari guru-gurunya dan di waktu yang sama juga belajar dari para ulama Masjidil Haram.

Guru-gurunya:

Di antara sekian banyak guru Abdullah Durdum ialah:

  • Syaikh Ibrahim Al-Halwani.
  • Sayyid Muhammad Amin Kutubi Al-Hasani Al-Hanafi.
  • Sayyid Abu Bakar Al-Hibsyi.
  • Syaikh Ahmad bin Hamid Al-Abutiji.
  • Syaikh Muhammad Zakiyy bin Ahmad Al-Barzanji Al-Madani Asy-Syafi’i.
  • Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad Niyaz An-Namnaqani An-Najjari.
  • Sayyid ‘Umar bin Abu Bakar Bajuned.
  • Al-Muhaddits Muhammad ‘Abdul Baqi Al-Ayyubi Al-Lacknawi.
  • Syaikh Muhammad ‘Isa bin Muhammad Rawas.
  • Syaikh Muhammad ‘Ali bin Husain Al-Maliki.
  • Syaikh Al-Musnid ‘Abdullah bin Muhammad Ghazi Al-Hindi.
  • Sayyid ‘Abdullah bin Thahir Al-Haddad.
  • Sayyid ‘Idrus bin Salim Al-Bar.
  • Musnidul Haramain Syaikh ‘Umar bin Hamdan Al-Mahrasi.
  • Syaikh Al-Faqih Al-Musnid ‘Abdul Qadir Syilbi Al-Madani.
  • Syaikh Muhammad Khaer bin Muhammad Husain Al-Maidani.
  • Syaikh Muhammad Amin Suwaid Ad-Demasyqi.
  • Syaikh Sayyid Muhammad ‘Abdul Haiyy Al-Kitani.
  • Al-‘Allamah Muhammad Al-‘Arabi Al-‘Azuzi.
  • Syaikh Muhammad Aman Al-Kutubi Al-Hanafi.
  • Sayyid ‘Abdul Qadir ‘Idrus Al-Bar
  • Sayyid ‘Alawi Maliki.
  • Syaikh Muhammad Amin Mirdad.
  • Syaikh Hasan bin Sa’d Yamani.
  • Syaikh Hasan bin Muhammad Al-Masyath.
  • Syaikh Nuruddin Arsyad (suami saudarinya).

Pengajiannya:

Syaikh ‘Abdullah Dardum Al-Fadani ikut serta bersama para ulama dalam mengajar di Masjidil Haram, di serambi Bab Ziyadah, Bab Shafa, Bab Nabi, Masjid Nabawi ketika ziarah, dan rumah beliau, seperti umumnya para ulama Tanah Haram.

Murid-muridnya:

Syaikh ‘Abdullah Dardum Al-Fadani –rahimahullah– memiliki murid-murid dari berbagai penjuru dunia, khususnya Asia Tenggara.

Karya Tulisnya:

Syaikh ‘Abdullah Dardum belum pernah menulis, namun beliau memiliki beberapa catatan terhadap kitab-kitab yang beliau ajarkan, terutama dalam ilmu nahwu, sharaf, balaghah, ditambah beberapa kitab fiqih syafi’i sampa-sampai beliau digelari sebagai Sibuwaih di zamannya. Beliau juga memiliki perpustakaan yang berharga yang di kemudian hari dihadiahkan kepada Syaikh Muhammad bin ‘Alawi Al-Maliki Al-Hasani.

Tugasnya:

  1. Guru di Masjidil Haram.
  2. Guru di Madrasah Shaulatiyyah.
  3. Guru di Madrasah ‘Aziziyyah.
  4. Guru di Tahdhirul Ba’atsat.
  5. Guru di Ma’had I’dadul Mu’allimin.
  6. Guru di Madrasah Mutawassithah Ummul Qura.

Wafatnya:

Syaikh ‘Abdullah bin Ahmad Dardum Al-Fadani –rahimahullah– wafat pada ‘Ashar hari Jum’at 27/08/1407 H di kediamannya dan dimakamkan pada Sabtu pagi 28/08/1407 H di pemakaman Ma’lah sedang umurnya saat itu ialah 72 tahun.

Beliau meninggalkan keturunan yang diberkahi, yaitu:

  1. Al-Ustadz Ma’tuq.
  2. Al-Ustadz Salim.

Untuk menambah informasi tentang perjalanan hidup beliau, bisa merujuk:

  1. Al-Aswar Al-Musyrifah ‘ala Masyikhah wa Asanid Shahibi Syaikh Makkah Al-Musyarrafah, karya Sayyid Nabil bin Hasyim Al-Ghamri.
  2. Al-Jawahir Ats-Tsaminah fi Bayan Adillah ‘Alim Al-Madinah, karya Syaikh Hasan bin Muhammad Al-Masyath (muqaddimah: Dr. ‘Abdul Wahhab Abu Sulaeman.
  3. Wawancara dari puteranya, Al-Ustadz Ma’tuq –hafizhahullah-.

[Dikutip dan diterjemahkan secara bebas: http://www.makkawi.com/Articles/Show.aspx?ID=179]

17:25 Selasa, 17 September 2013 M

Depan stasiun KA Jatinegara, Jakarta Timur

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s