Asy’ariyah Mengkafirkan Umat?


api

Lempar batu sembunyi tangan. Demikianlah oribahasa yang agaknya lebih cocok untuk kaum Asya’irah ini. Pasalnya mereka telah berperilaku melempar tuduhan kepada orang lain dan mengatakan orang lain melakukan tindakan anarkis, mengkafirkan umat, namun ternyata mereka sendiri pelakunya. Bahkan mereka ini cocok disebut sebagai pakar alibi tingkat kakap. Mereka menuduh kaum “Wahhabiyyah” sebagai tukang vonis kafir, namun ternyata mereka sendirilah yang tukang kafir. Bahkan shahabat pun mereka kafirkan! Bagaimana itu bisa terjadi, berikut kenyataannya.

Di dalam ‘aqidah Islam, yang pertama kali wajib diketahui dan dikerjakan atas sekalian mukallaf adalah dua kalimat syahadat, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Sehingga dalam makna seperti ini dapat pula kita katakana dengan ungkapan lain, bahwa kewajiban pertama atas setiap mukallaf adalah mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan beribadah kepada-Nya dengan tidak mencampuradukkannya dengan kemusyrikan. Demikian itu seperti yang terkandung dalam hadits Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu-.

Namun sayang, meski banyak dalil yang menegaskan ‘aqidah di atas, ternyata masih sahaja ada manusia-manusia yang tidak juga tunduk kepada dalil-dalil tersebut. Entah karena apa alasannya, yang jelas mereka merasa belum puas terhadap keputusan dan ajaran yang Allah turunkan atas hamba-Nya. Mereka, tepatnya adalah Asya’irah dan Maturudiyyah, berpandangan bukanlah dua kalimat syahadat yang kali pertama diwajibkan atas hamba Allah yang mukallaf, namun mereka masih bersinggung pendapat dalam masalah ini.

Sebahagian mereka ada yang berpendapat bahwa yang kali pertama diwajibkan atas mukallaf adalag mengetahui Allah Ta’ala.

Pendapat yang lain mengatakan bukan itu yang diwajibkan pertama kali atas mukallaf, akan tetapi adalah nazhar, maksudnya pengamatan yang benar yang menyampaikan seseorang pada ma’rifat Allah dan mengetahui adanya batasan-batasan alam.

Al-Qadhi ‘Abdul Jabbar, dari kalangan Mu’tazilah, mengatakan dalam Syarh Al-Ushul Al-Khamsah, “Jika ada penanya yang menanyakan, apakah kewajiban yang pertama kali Allah wajibkan atasmu, maka jawablah nazhar yang dapat menghantarkan pada makrifat Allah Ta’ala. Sebab, Dia tidak bisa dikenali dengan sendirinya tidak pula melalui musyahadah. Maka wajib baki kita mengetahui-Nya melalui tafakkur dan nazhar.”

Pendapat ketiga mereka mengatakan justru kewajiban pertama ialah maksud sahaja. Yang penting seorang mukallaf sudah memiliki maksud untuk mengamati dengan pengamatan yang benar, itu lah kewajiban awal.

‘Abdul Malik Al-Juwaini berkata dalam Al-Irsyad, “Kewajiban pertama atas orang yang berakal lagi baligh ialah bermaksud nazhar dengan nazhar yang benar yang dapat melahirkan ilmu, yaitu ilmu bahwasannya alam semesta ini sejatinya benar-benar ada karena diciptakan.”

Sekelompok Asya’irah dan Maturudiyyah mengatakan bahwa kewajiban pertama kali atas mukallaf ialah justru goncang dulu atau ragu terlebih dahulu. Pendapat ini dipilih oleh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad Al-Ghazali.

Al-Ghazali mengatakan, “Sebab, keraguan merupakan penghantar menuju kebenaran. Makanya orang yang tidak ragu tidak akan pernah melakukan nazhar!?”

Sebenarnya, permasalahan ini dibangun di atas permasalahan lain, yaitu cara memperoleh ma’rifat Allah, apakah hal tersebut tidak akan bisa digapai seorang insan kecuali dengan melalui nazhar, seperti yang dikatakan oleh Mu’tazilah, Asya’irah, dan Maturudiyyah, ataukah ma’rifat Allah dapat dicapai tanpa harus nazhar atau mencari terlebih dahulu, sebagaimana pendapat banyak orang-orang Shufi.

Ataukah makrifat Allah itu bisa diperoleh secara pasti dan muemungkinkan pula dicapai melalui nazhar. Pendapat yang terakhir inilah yang menjadi pendapat seluruh Ahlussunnah wal-Jama’ah, sebagaimana yang ditetapkan oleh Syaikhul Islam Abul ‘Abbas Ibnu Taimiyyah dalam Dar’ Ta’arudh Al-‘Aqll Al-Naql (VII/7353)

Pendapat-pendapat ini diserap Asya’irah dari Mu’tazilah, sebagaimana yang dikatakan oleh As-Samnani –salah satu imam Asya’irah- yang dinukilkan oleh Al-Hafizh Ahul Fadhl Ibnu Hajar dalam Fath Al-Bari dan Syaikhul Islam dalam Dar’ Ta’arudh Al-‘Aql An-Naql.

Al-Hafizh berkata dalam Fath Al-Bari (I/71), “Sang teladan, Abu Muhammad bin Abu Jamrah, telah menukil dari Abu Al-Walid Al-Baji, dari Abu Ja’far As-Samnani, bahwa ia mendengarnya berkata, “Permasalahan ini termasuk permasalahan Mu’tazilah yang terus mendekam dalam madzhab (Asya’irah).”

Sebelum mengutarakan perkaaan di atas, Al-Hafizh Ibnu Hajar terlebih dahulu membawakan pendapat Al-Juwaini dan selainnya lalu kemudian menyanggahnya, “Meski demikian, firman Allah Ta’ala, ‘Maka tegagakkanlah wajahmu untuk agama yang lurus. Fitrah Allah yang Allah fitrahkan pada manusia di atasnya,’ (Ar-Rum: 30) dan hadits, ‘Setiap yang bayi dilahirkan di atas fitrah…,’ keduanya amat jelas membantah asal permasalahan ini.”

Sebagaimana di atas, awal musibah pendapat batil kalangan Asya’irah dan Maturidiyyah ini terlahir dari pengingkaran mereka bahwa Allah tidak bisa diketahui melalui fitrah. Bahkan mereka menegaskan bahwa adanya Allah tidak dapat diketahui secara sendirinya, namun melalui nazhar dan pendalilan. Demikianlah yang diteriakkan Al-Qadhi ‘Abdul Jabbar dan kemuidan dibebekki oleh Al-Qadhi Al-Baqillani yang mengatakan terkait yang pertama kali diwajibkan atas seorang hamba meyakininya, tidak boleh tidak tahu tentangnya, “Dan hendaknya diketahui bahwa yang pertama kali Allah wajibkan atas seluruh hamba adalah nazhar pada ayat-ayat-Nya. Sebab, Allah Ta’ala tidak dapat diketahu dengan begitu saja, tidak pula dapat diraba dengan panca indera, namun keberadaan-Nya dan keadaan-Nya dapat diketahui hanya melalui pengaruh perbuatan-Nya melalui dalil-dalil yang kuat dan argument-argumen yang cemerlang.” (Al-Inshaf hlm. 22)

Padahal, menurut Al-Quran dan As-Sunnah bahwa yang pertama kali wajib atas setiap hamba yang mukallaf adalah beriman dan mentauhidkan Allah ‘Azza wa Jalla dalam beribadah, tidak mensekutukan-Nya. Sedangkan mengetahui-Nya, bukanlah termasuk hal yang diingkari kaum kuffar yang ada di zaman Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Namun demikian, mereka masih saja tetap mensekutukan Allah Ta’ala dengan sesembahan-sesembahan yang mereka buat sendiri dan juga mereka masih juga mendustakan para nabi dan rasul –‘alaihimussalam-.

Metode ini kemudian telah disanggah oleh Asy-Syahrastani dalam Nihayah-nya dan Ar-Razi dalam Al-Mathalib dan Nihayah Al-‘Uqul. Mereka menyanggah orang-orang yang mengingkari bahwa ma’rifat Allah bersifat fitrah yang sudah ada sedari lahir dan bahwasannya dua kalimat syahadat merupakan kewajiban pertama kali yang harus dijalankan. Ibnu Taimiyyah telah menukilkan hal tersebut dalam Dar’ Ta’arudh Al-‘Aql An-Naql ketika membantah ‘aqidah sekte Asya’irah dan dalam kesempatan tersebut beliau juga bertindak menampakkan akan kesaling berbenturan ‘aqidah Asya’irah. Setelah menukilkan pendapat Ar-Razi, beliau mengatakan, “Kukatakan, pendapat yang disalahkan Ar-Razi ini adalah apa yang disebutkan Al-Juwaini dalam Al-Irsyad. (Dar’ Ta’arudh Al-‘Aql An-Naql V/290)سفر الحوالي

Beliau juga menyatakan saat menguatkan madzhab Ahlussunnah wal-Jama’ah, “Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tidak pernah mendakwahi seorang makhluk pun agar yang pertama kali dilakukan adalah nazhar, tidak pula hanya sekedar menetapkan adanya sang pencipta, bahkan yang kali pertama beliau dakwahkan pada makhluk ialah kepada dua kalimat syahadat, seperti yang beliau katakana dalam hadits Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu-, “Hendaklah yang pertama kali dakwahkan ialah pada persaksian bahwa tiada tuhan yang berhak diibadahi dengan benar kecuali Allah dan bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah…’” (Dar’ Ta’arudh Al-‘Aql An-Naql VIII/6)

Kembali pada pembicaraan, Syaikh Dr. ‘Abdullah bin ‘Abdul ‘Aziz Al-‘Anqari mengatakan dalam ‘Aqidah Al-Imam Asy-Syafi’i –rahimahullah-, menyatakan bahwa pendapat-pendapat Mu’tazilah dan sekte-sekte yang mengikuti mereka ini mengatakan bahwa asas di atas kemudian mengharuskan pengkafiran orang-orang awam. Sedangkan jika dirinci lagi, sejatinya merka pun masih memperselisihkannya. Sebahagian mereka ada yang benar-benar menilai orang-orang awam sebagai kafir, ada yang menilainya fasiq, ada pula yang merinci sesuai kemampuan mereka melakukan nazhar, dan pendapat lain mengatakan mereka tetap beriman dengan tetap menjadikan nazhar sebagai syarat sempurnanya iman, bukan syarat sah.

Dalam Syarh Al-Kubra hlm. 39, As-Sanusi –sang pembesar Asya’irah- membawakan berbagai pendapat tentang status iman orang yang taqlid. Ia kemudian menyimpulkannya pada tiga pendapat, yakni kafir, bermaksiat, dan beriman. Sedangkan ia sendiri memilih pendapat yang mengatakan kafir orang-orang awam itu.

Sementara itu Al-Bajuri menyatakan dalam Syarh Jauharah At-Tauhid hlm. 32 dan seterusnya saat membawakan berbagai pendapat tentang iman orang yang taqlid yang salah satunya pendapat kafir, “Maka orang yang taqlid dalam imannya itu kafir. Demikian yang dipilih As-Sanusi dalam Al-Kubra.”

Adapun Ad-Dasuqi dalam Syarh Umm Al-Barahin, maka ia telah membahas secara panjang tentang perselisihan iman orang yang taqlid ini.

Berdasarkan ini pula, madzhab mereka sebenarnya tidak hanya menyebabkan pengkafiran orang-orang awam, namun juga mengkafirkan kaum Salaf dari kalangan Shahabat dan Tabi’in. Sebab, iman mereka tidak seperti iman yang ditetapkan orang-orang Asy’ariyyah. Pengkafirang orang yang imannya paling sempurna ini sudahlah cukup bagi kita sebagai dalil akan kebatilan madzhab ini.

Jika memang kenyataannya demikian, lalu siapakah yang suka mengkafir-kafirkan kaum muslimin?! “Wahhabiyyah” ataukah Asya’irah?! Sungguh ini merupakan permainan yang curang dan tidak diterima akal sehat siapa pun!!! Mereka menuduh “Wahhabiyyah” biang keroknya tukang kafir-mengkafirkan, namun ternayat madzhab merekalah yang justru suka kafi-mengkafirkan kaum muslimin, bahkan kalangan shahabat dan tabi’in!? La haula wa la quwwata illa billah!!!

Refrensi: Naqdh ‘Aqaid Al-Asya’irah wa Al-Maturidiyyah hlm. 183-185. Karya Khalid bin ‘Ali Al-Mardhi Al-Ghamidi dan Manhaj Al-Asya’irah fi Al-‘Aqidah karya Dr. Safar Al-Hawali.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s