Ketika ‘Abdul Qadir Al-Mandili Berbicara ‘Aqidah Salafiyyah


Items_1339‘Aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah bukanlah suatu ajaran yang baru di bumi Nusantara. ‘Aqidah yang dibawa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang kemudian diajarkan secara estafet dari masa ke masa, dari tahun ke tahun, dari abad ke abad, dan dari zaman ke zaman hingga sampai pada kita detik ini. Walhamdulillah.

Sesuai apa yang disampaikan Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa pada umat ini akan terus ada sejumlah orang menampakkan kebenaran di tengah umat. Di Nusantara pun demikian. Dari semenjak cahaya Islam memancar di negeri ini ada saja ditemui kaum pembeharu dan pembawa kebenaran.

Sedangkan pada abad 14 H atau 19 H, jumlah pembaharu it uterus bertambah jumlahnya dari waktu ke waktu. Tempatnya setelah terusan swez dibuka, jama’ah haji pun terus bertambah dan mereka yang pergi ke Makkah tentu tidak hanya menunaikan rukun Islam ke-5, namun juga sembari mempelajari Islam semampu mereka. Bagi yang belum mampu berbahasa ‘Arab pun tidak perlu khawatir, di Masjidil Haram dapat dijumpai tidak sedikit pengajar dari bangsa Melayu yang mengajarkan Islam dengan bahasa Melayu yang memang sengaja diperuntukkan bangsa Melayu yang belum mahir berbahasa Al-Quran, termasuk jama’ah haji.

Nah, salah satu guru tersebut adalah Al-‘Allamah ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul Muthallib Al-Mandili yang sudah tidak asing lagi. Beliau, selain mengajarkan agama Islam di Masjidil Haram dengan bertumpu pada Al-Quran dan As-Sunnah. Beliau memang sadar, bahwa di tengah masyarakat di negerinya banyak faham yang kurang sesuai dengan Al-Quran dan As-Sunnah yang harus diluruskan. Maka dari keprihatinan dan kesadaran inilah beliau tidak hanya memusatkan kajiannya pada permasalahan furu’, namun juga ushul. Bahkan khusus masalah ushul, beliau sempat menulis kitab tersendiri dalam bahasa Melayu agar dapat dibaca banyak kalangan. Menariknya, dalam kitab-kitabnya beliau menempuh madzhab Ahlussunnah wal-Jama’ah dan merujuk pada dakwah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab –rahimahullah-. Ini Nampak jelas dalam setiap kitabnya yang beliau tulis, yang mana kita dapat merasakan dengan jelas akan metode beliau yang mirip dengan metode Syaikh Muhammad dalam berhujjah dan menulis kitab.

Dan berikut adalah salah satu tulisan beliau yang memaparkan ‘aqidah Ahlussunnah wal-Jama’ah, tepatnya dalam ‘aqidah Asma wa Shifat yang banyak disalahpahami banyak orang.

Beliau menulis dalam Syarah ‘Aqidah Thahawiyyah hlm. 12-14 (cet. Kedua Mathba’ah Al-Anwar Mesir 1380 H/1961 M) atau Perisai Bagi Sekalian Mukallaf Simpulan Iman Atas Madzhab Salaf:Copy of IMG_0073

Dan adapun tauhid al-asma’ wa ash-shifat, yaitu percaya dan membenarkan akan sekalian dating di dalam Al-Quran dan segala hadits yang shahih daripada segala nama dan shifat Allah Ta’ala, dan menshifatkan Allah Ta’ala dengan dia atas haqiqah, dengan ketiadaan menyerupakan dan memalingkan daripada zhahirnya. Bahkan diserahkan haqiqatnya kepada Allah Ta’ala. Karena seperti tiada mengetahui akan haqiqat shifat Allah Ta’ala melainkan Allah Ta’ala.

Maka wajib atas tiap2 mukallaf menshifatkan Allah Ta’ala dengan barang yang menshifatkan Dia dengan dia akan diri-Nya, dan dengan barang yang menshifatkan Allah dengan dia oleh Rasul-Nya, serta dii’tiqadkan bersalahan-Nya dengan segala shifat makhluk.

Maka kita I’tiqadkan bahwasanya Allah Ta’ala mendengar tiada seperti mendengar kita, dan melihat Ia tiada seperti melihat kita, dan berkata2 Ia tiada seperti berkata2 kita, dan marah Ia tiada seperti marah makhluk, dan turun Ia tiada menyerupai akan turun baharu (baca: makhluk).
Bahkan seperti marah dan turun yang layak keduanya dengan kebesaran-Nya.

Dan baginya tangan tiada seperti tangan hamba-Nya, dan baginya muka sebagai muka yang patut padan dengan Dia, bershifat Ia dengan istiwa’ (baca: bersemayam di atas ‘Arsy) tetapi tiada seperti istiwa’ baharu (baca: makhluk).

Bertanya seorang laki2 akan Imam Malik –rahimahullah– daripada ayat:
الرحمن على العرش استوى
Artinya, “Bermula Tuhan yang sangat pemurah tetap Ia di atas ‘Arsy.”

Maka menundukkan Imam Malik akan kepalanya pada masa yang panjang. Kemudian berkata ia, “Bermula tetap itu diketahui akan dia, dan kelakuan-Nya tiada dapat dengan ‘aqal, dan beriman dengan dia (baca: istiwa’) wajib, dan bertanya daripadanya bid’ah. Dan tiada aku sangka akan dikau melainkan sesat!

Maka menyuruh oleh Imam Malik dengan me[ng]halau laki2 yang bertanya itu, maka dihalau akan dia.

Pendeknya, shifat Allah Ta’ala bersalah2ah dengan shifat makhluk, seperti dzat Allah Ta’ala bersalah2an dengan dzat baharu. Dan tiada mengetahui oleh makhluk akan haqiqat shifat Allah Ta’ala sekalipun Rasul, Malaikat, seperti tiada mengetahui oleh yang baharu akan haqiqat Dzat yang Mahamulia. Dan kita serahkan akan haqiqatnya kepada Allah Ta’ala; patut padan dengan kebesaran-Nya. Seperti firman-Nya:
ليس كمثله شيء و هو السميع البصير
Artinya, “Tiada seumpama-Nya sesuatu dan Ia jua yang sangat mendengar lagi sangat melihat.” (QS Asy-Syura: 11)

Dan firman Allah Ta’ala:
قل هو الله أحد ، الله الصمد، لم يلد و لم يولد، و لم يكن له كفؤا أحد
Artinya, “Bersabda olehmu, hai Rasulullah, bermula Tuhan aku yang kamu bertanya daripada-Nya, Allah Ta’ala tuhan yang Mahaesa, dan Allah Ta’ala itu Tuhan yang diqashad pada segala hajat selama2, tiada Ia beranak dan tiada diperanakkan, dan tiada ada seorang yang menyamai dan sama tara dengan Dia.”
Wallahua’lam []

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s