Diskusi Seputar ‘Aqidah Imam Asy-Syafi’i, Ahlussunnah wal-Jama’ah


الشافعيProlog:

14: 11, 4 Februari 2015

Saya iseng mengupload cover kitab I’anah Al-Mustafid bi Syarh Kitab At-Tauhid karya Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan –hafizhahullah– di wall akun facebook saya. Pada photo tersebut saya beri keterangan sebagai berikut,

من أفضل الشروحات لكتاب التوحيد تأليف الإمام محمد بن سليمان التميمي -رحمه الله-، و هو -أعني الشرح- من أمالي الدكتور صالح بن فوزان الفوزان -حفظه الله-

و كذلك يوجد شرح موسع باللغة الأندونيسية باسم: شرح كتاب التوحيد لمحمد بن عبد الوهاب تأليف الشيخ محمد طاهر بدري الجاوي -رحمه الله-، من أصحاب العلامة محمد عمار فقيه المسكومنباني رحمه الله، و هو من مطبوعات فانجيماس بجاكرتا العاصمة.

“Salah satu ulasan terbaik untuk Kitab At-Tauhid Imam Muhammad bin Sulaiman At-Tamimi –semoga Allah merahmatinya- yang didektekan oleh Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan –semoga Allah menjaganya-.

Demikian pula terdapat ulasan luas dalam bahasa Indonesia berjudul Syarah Kitab Al-Tauhid Muhammad bin ‘Abdul Wahhab karya Syaikh Moehammad Thahir Badrie Al-Jawie –semoga Allah merahmatinya-, salah seorang rekan dan murid Al-‘Allamah Muhammad ‘Ammar Faqih Maskumambang Al-Atsari –semoga Allah merahmatinya-. Kitab ini dicetak oleh Pustaka Panjimas Jakarta.”Kitab Tauhid

Sebenarnya keisengan saya itu dilatarbelakangi atas kecintaan dan kerinduan atas kitab tersebut yang sudah menjadi ‘buron’ saya sejak lama karena isinya yang serat akan makna dan faidah ilmiah. Walaupun versi cetakannya belum ada di tangan saya, namun saya sudah memiliki versi PDF sejak lama dan sehagaiannya sudah sempat terbaca. Walhamdulillah.

Kitab semacam ini memang sangat penting dipelajari dan alangkah baiknya setiap rumah seorang Muslim memiliki satu naskahnya karena tema ‘aqidah-tauhid adalah pondasi agama Islam. Sehingga jika sampai ‘aqidah-tauhidnya rapuh dan tidak kokoh atau malah keliru, tentu hanya akan mengakibatkan bangunan runtuh tak berguna. Akhirnya hanya penyesalan sajalah yang diperoleh.

Sebagaimana diketahui bersama, kitab ini mengajak seluruh kaum Muslim untuk memurnikan ibadah hanya untuk Allah semata, tidak menduakan-Nya dengan apa pun. Tidak dengan malaikat-Nya yang dekat kedudukannya atau dengan para nabi dan rasul yang diutus. Sehingga kitab ini telah meruntuhkan segala keyakinan syirik, bid’ah, takhayul, khurafat, dan segala bentuk jalan yang memungkinkan mengarah kepada tindakan kemusyrikan. Semoga Allah melindungi kita semua dari sengatan kemusyrikan. Aamiin.

Namun perlu diketahui, kitab ini bukanlah satu-satunya kitab yang menjabarkan ‘aqidah-tauhid, namun banyak kitab yang bertema semisalnya, seperti Ma’arij Al-Qabul syarh Hushul Al-Ma’mul karya Syaikh Hafizh Al-Hakami –rahimahullah-. Atau bisa juga dilihat dalam kitab-kitab hadits enam yang standart (Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Kembali ke pembicaraan.

Tidak lama saya mengopload sampul kitab di atas –I’anah Al-Mustafid-, tiba-tiba ada seorang ustadz berkebangsaan Malaysia nyletuk komentar yang sangat terlihat akan ketidaksukaannya dengan kitab yang saya upload tadi. Entah mungkin karena fobi atau bagaimana, yang jelas beliau mengutuk kitab tersebut dan mengkategorikan sebagai kitab bid’ah!? Memang beliau tahu bid’ah itu apa?! Kayaknay peduli amat.

Oleh karena saya tidak ingin mencederai kepribadian atau mencemarkan namanya di public, maka saya sengaja tidak mencantumkan nama beliau. Dengan demikian, udah-mudahan apa yang saya lakukan ini lebih bermanfaat dan diterima oleh kalangan luas.

Baiklah. Kita mulai diskusi ini.

Sang Ustadz mulai berkomentar: apa ini? aqidah sunnah? atau bidaah?

Saya: Ustadz Kami ini masih awam, ust. Kitab di atas di mata kami belum tahu ada bid’ahnya. Kalau misalnya Ustadz menjumpai ada hal-hal bid’ah atau kelirunyanya tolong kami diberi tahu agar kami peroleh manfaat pula. Barakallah fikum.

Sang Ustadz: اهلا وسهلا بوصية رسول الله
bagi yang baru belajar dianjurkan membaca kitab syarah jauharah tauhi yang dikarang imam sowi.. sangat berfaedah..

Saya: Sebenarnya saya pribadi beraqidah Asy’ariyyah, sebagaimana aqidah keluarga Al-Kitani seperti yang dijelaskan Syaikh ‘Abdul Hayy Al-Kitani dalam “Al-Mazhahir As-Samiyah fi An-Nisbah wa Ath-Thariqah Al-Kitaniyyah”. Namun Asya’irah yang berpedoman pada Al…

Sang Ustadz: Dikala ini manusia mendakwa dia beraqidah asyairah akan tetapi secara langsung dia sebenar tidak beraqidah seperti ashairah bahkan menyimpang jauh kerana itu mereka mula mendakwa beraqidah imam syafie sedangkan aqidah imam syafie yang bermethod salaf tidak ditadwin sehingga menyatakan terus berpegang pada aqidah ibnu khuْzaimah yang tidak terang dan kabur.

Saya rasa syarah usul iktiqad itu bukan tulisan laknawi tetapi lalakaii [dalam hal ini saya berterimakasih kepada beliau karena sudah mengoreksi ketergelinciran pena saya tatkala salah menulis Al-Lalika’i menjadi Al-Lacknawi yang kemudian sudah saya perbaiki. Walhamdulillah]

Saya: Namun bukankah Imam Syafi’i juga mengajarkan aqidah-tauhid pada murid-murid beliau, ustadz? Kemudian muris-murid tersebut meriwyatkan hingga sampai pada pengumpul dan penulis aqidah-tauhid macam Ibn Khuzaimah dan Al-Lalikai, seperti halnya Kitab Ahkam [Baca: Ahkam Al-Quran karya Asy-Syafi’i yang dihimpunkan oleh Al-Baihaqi]…

Jika dikatakan bahwa orang yang beraidah Asy’ariyyah yang sumbernya dari “Al-Ibanah” dan “Maqalat Al-Islamiyyin” yang tak lain merupakan karangan pendiri madzhab Asy’ariyyah, yaitu Imam Abul Hasan Al-Asy’ari, msih kurang tepat methodnya; saya tidah tahu harus beri’timad ke kitab apa lagi? Karena sependek pengetahuan ana, pokok madzhab yang benar itu adalah apa yang diterangkan pencetusnya langsung. Wallahulmuwaffiq.

Sang Ustadz: Tidak dinafikan beliau mengajar akidah pada murid2nya akan tetapi adakah ditadwin seperti ilmu syariat serta usulnya? Adakah imam syafie tidak pernah mengajar ank muridnya tafisir, mustalah, lughah, nahu, balaghah, ishtiqaq, qiraat, dan laain2 lagi sehingga ditadwin dan samapai kepada kita? Kenapa tidak diambil ilmu nahwi imam syafie atau lughah kerana diddalam didalamnya banayak sekali perbahasan lughah??ajaib dikala ni manusia mula mendakwa aqidah imam syafie kenapa imam2 dahulu seperti asqolani, ghazali, fakhrurazi, qostolani, nawawi, ibnu solah, ibnu asakir tidak menyebut dan menyebar adakah mereka lalai atau malas?? sungguh ajaib

Anda perlu tahu yang diambil dari ibanah adalah kesemuanya akan tetapi apabila dibahaskan adalah mengikut method asyari yg asal sehingga terjadi khlilafiah dari sudut lafzi bukan maknawi kerna itu kita akan dpt diantara fakhrurazi dan baqilani ada khilaf tapi pada lafzi bukan maknawi begitu juga sanusi dan iji dan lain2 lagi

Saya: Sependek pengetahuan ana, ustadz, kalau orang mahu mentelaah muallafat Imam Syafi’i, pasti ia akan menjumpai ilmu-ilmu yang ustadz sebutkan di atas. Dalam hal syair, beliau punya Diwan yang amat masyhur sekali. Walaupun diwan ini bukan beliau yang mengumpulkan sendiri, sebagaimana Musan Imam Syafi’i, alangkah sangat tidak layak jika kita terburu-buru menafikan diwan atau musnad tersebut. Lagi pula tidak sedikit para imam yang membukukan aqidah Asy-Syafi’i, baik yang ditulis secara khusus maupun secar umum beserta aqidah imam-imam lainnya. Dan pendapat orang yang bersikeras tidak menerima adanya riwayat-riwayat yang diriwayatkan aimmah dari imam Syafi’i, tidak perlu digubris. Karena mungkin yang berpendapat ini tidak tahu bahwa umat ini punya keistimewaan sanadd yang tidak dimiliki umat-umat terdahulu. Adapun kenapa imam-imam yang ustadz sebutkan tidak ada kitab aqidah karangan mereka, tentu ini tidak benar. Sekali lagi, sekiranya muallafat mereka dibaca secara seksama, tentu mereka tidak akan lupun memerbincangkan masalah aqidah-tauhid walaupun mungkin tidak dibukukan secara khusus karena alasan tertentu. Dan patut disyukuri, sekarang ini banyak rosa-il jami’iyyah yang mulai memperhatikan pembahasan aqidah para imam dan ulama. Misalnya saja Al-Azhari. Walaupun beliau pakar bahasa yang berhasil menulis mu’jam, namun beliau tidak luput memperbincangkan aqidah dalam mu’jamnya itu. Akhirnya salah seorang mahasiswa doctoral atau magister berhasil mengumpulkan semua pembahasan yang beliau perbincangkan. demikian pula dengan imam-imam lain.

Sang Ustadz: Seperti yang says katakan jika benarkan kitavperlu beraqidah imam syafie kenapa imam dahulu tidak mendakwa seperti manusia dikala ini mendakwa dengan aqidah imam syafie?? Jika mereka dakwa secara mudah tidak perlu kita mengikut ashairah tetapi kenapakah ashairah menjadi majoriti pegangan umat Islam dlm aqidah dan kenpaakah tidak dijadikn aqidah syafi dalam majoriti umt Islam? Begitu ajaib

Saya: Saya masih belum faham apa yang dimaksud dengan Asy’ari asal. Secetek ilmu yang saya miliki, mazhab Asy’ari yang asal itu ya yang bersumber langsung dari Imam Abul Hasan Al-Asy’ari sendiri. Bukan lainnya.Namun sangat kasihan mereka yang ta’assuf dan takalluf bertabir di belakang pemikiran akal dengan maksud agar aqidah Asy’ari yang asal terlihat bersesuaian dengan akal mereka.Makanya dalam menilai segala hal, saya selalu berusaha insof (adil). Tidak memperturutkan hawa nafsu. Kalau toh ada imam atau seseorang yang menyimpang dalam suatu hal, tidak lantas ditolak secara mutlak. Dan tetap berpedoman pada method ilmiah. Walhamdulillah.Dalam perpustakaan saya, tidak sedikit kitab-kitab yang ustadz singgung di atas. Mulai Nurul Zulam syarah Aqidatul Awwam, hingga syarah Juharah. Kitab Syaikh Ahmad Zaini Dahlan pun ada di tempat saya.

Maaf, ustadz, setahu saya ada banyak penegasan imam-imam yang menyatakan mereka beraqidah seperti aqidah Imam Asy-Syafii. Ambil contoh misalnya Al-Muzani dalam banyak kesempatan menegaskan hal tersebut. Saya yakin ustadz banyak mentelaah kitab-kitab syafiiyah. Baik dalam thabaqat, siyar, mauapaun lainnya. Pernyataan seerti ini kerap dijumpai.Namun sayangnya banyak orang yang karena belum tahu, sudah terburu-buru menyalahkan orang lain.Kalau saya diperkenankan mengusulkan kitab untuk dijadikan rujukan, kiranya ustadz sudi membacanya, saya akan mengusulkan Kitab “Manhaj Al-Imam Asy-Syafii fi Itsbat Al-Aqidah” dan “Juhud ِAimmah Al-Syafi’iyyah fi Taqrir  Al-Aqidah”.Wallahulmuwaffiq.

Sang Ustadz: Jika dikataan begitu perlu kita mempertikai ulama yag mentadwinkan pemikiran asyari dan methodnya melalui cara sebutan dan fahaman mereka sehinggakan tiada seorang yang mengingkarinya dikala dulu melaikan mereka yg cuba menghidupkan kembali fahaman muktazilah mujassimah dll lagi sehingga ramai ulama yg mengingkatinya.. jumlah kitab2 yang banyak bukan menujukan seseorag memahami method asyari tetapi taalum yang insof itu punca diri seseorang mengetahui meyhod adyari.

Saya begitu pelik hanya muzani seorang sahajkah yg bgitu dan kenapakah tidak diikuti oleh syafieah yang ,lain?? Adakah merka menyimpang jauh dari syafieah?? Sippakah pengarang kitab tersebut dan apakah isnad nya diambil fari ulama muktabar ataupun rekaannya sendiri??

Saya: Baiklah, jawaban saya kali ini ada beberapa poin penting berkaitan ‘aqidah Imamuna Abu ‘Abdillah Muhammad bin Idris Asy-Syafi’I –radhiyallahu ‘anhu-:

1- Mawadhi’ di mana bisa kita jumpai ‘aqidah beliau:
1.1. Dalam kitab-kitab yang beliau karang. Seperti Al-Umm, Ar-Risalah, dan lainnya. Tentu dalam kitab-kitab itu tidak diragukan lagi ada sejumlah permasalahan ‘aqidah yang diperbincangkan yang lazim disebut masa-il musytarokah. Apatah lagi dalam ushul fiqih yang akan lebih jelas lagi.

1.2. ‘Aqidah Imamuna Asy-Syafi’i yang diriwayatkan melalui sanad dari masa ke masa, dari tabaqat ke tabaqat, dari generasi ke generasi. Hal semacam ini tentu sangat banyak kita jumpai dalam kitab-kitab i’tiqad yang ditulis dengan mencantumkan sanad atau silsilah rijalnya hingga Asy-Syafi’i, dan saya yakin Ustadz pun lebih tahu lagi daripada saya yang cetek ilmunya ini.

Seperti: “Syarh Al-I’tiqad” karya Al-Lalika’i, Al-Ashbahani At-Taimi dalam “Al-Hujjah” Abu ‘Utsman Ash-Shabuni dalam “‘Aqidah As-Salaf Ashab Al-Hadits” , dan bahkan Imam Al-Hakkari telah menulisnya secara terpisah dalam juz “I’tiqad Asy-Syafi’i”.

Kitab-kitab ini tentu saja sangat tidak laik untuk dilupakan atau diterlantarkan. Sebab jika diterlantarkan hanya akan menyebabkan kecerobohan besar dalam dirasat ‘aqidah Asy-Syafi’i. Karena memang salah satu keistimewaannya ialah naql yang secara langsung dari ulama-ulama masa silam melalui jalur periwayatan sehingga seseseorang (bahits) dapat memastikan mana riwayat yang sahih dan mana yang tidak sahih dari pembelajaran sanad tersebut.

2- Tentang ibarat, “Saya begitu pelik hanya muzani seorang sahajkah yg bgitu dan kenapakah tidak diikuti oleh syafieah yang ,lain??” saya jawab sebagai berikut:

2.1. Di sini saya hanya memberikan contoh dan isyarat. Karena saya fikir, sebagai orang yang berilmu macam Ustadz ini tidak perlu saya jelaskan dari A sampai Z atau dari Alif hingga Ya’. Karena saya tahu, itu sudahlah cukup. Apatah lagi sebagian orang mengatakan,

“و لا أحب أن أطيل بوصفه البيان، بل أكتفي بملح البنان، فالذكي يفهم الإشارة، ما لا يفهمه الغبي بألف عبارة، و البليد لا يفيده التطويل، و لو تليت عليه التوراة و الإنجيل، و المشاهدة، أعلى من الشهادة، و أقوى الوسائل في الإفادة”

Namun demikian, tidak mengapa saya sebutkan beberapa isyarat lain yang mudah-mudahan menambah faidah ilmiah i’tiqadiyah:

– Jawaban Abu Hamid Al-Isfirayini ketika ditanya tentang sejumlah permasalahan ‘aqidah, “Madzhabku dan madzhab Asy-Syafi’i serta madzhab ulama-ulama dunia lainnya berkeyakinan bahwa Al-Quran adalah kalam Allah…”

– Demikian pula Al-Karji, ustadz. Wallahua’lam. []

اللهم ارنا الحق حقا و ارزقنا اتباعه و ارنا الباطل باطلا و ارزقنا اجتنابه ……

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s