Penegasan Imam Madzhab yang Empat Tentang Haramnya Nyanyian & Musik


aghanySebagaimana telah diketahu bersama, bahwa status music dan nyanyian yang ada sekarang ini sudah sangat jelas. Lebih jelas daripada matahari di siang hari. Banyak ayat dan hadits yang menegaskan akan keharamannya. Tidak ketinggalan pula para ulama umat ini yang selalu berantusias mengarahkan umat Islam menuju jalan yang diridhai Allah dan agar mereka selalu berada jauh dari segala bentuk kemungkaran, termasuk music. Oleh sebab itu tidak heran jika kerap kita dengar ungkapan yang mengatakan, “Sekiranya bukan karena ulama, tentulah orang-orang sudah tidak ubahnya seperti hewan ternak.” Kenapa? Sebab merekalah yang bertindak sebagai pengganti tugas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam- usai beliau wafat untuk terus menyampaikan kebaikan dan ajaran Allah Ta’ala.

Dan berikut adalah nukilan dari penegasan imam-imam madzhab yang empat, Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal –radhiyallahu ‘anhum-, akan keharaman nyanyian dan mendengarkannya. Wallahulmuwaffiq.

  • Abu Hanifah (80-150 H)

Ulama-ulama bermadzhab hanafi telah menetapkan dalam kitab-kitab mereka bahwa mendengarkan nyanyian termasuk tindakan fasiq dan menikmatinya termasuk kekufuran.

Imam Abu Yusuf yang merupakan muris senior Imam Abu Hanifah dan pemegang tampuk kehakiman di masa pemerintahan Khalifah Harun Ar-Rasyid pernah menegaskan, “Seandainya aku mendengar nyanyian di suatu rumah, aku pasti akan memasukinya tanpa perlu permisi karena melarang kemungkaran adalah perkara wajib, sedangkan nyanyian termasuk kemungkaran.”

Sementara itu tersebut dalam Kitab At-Tatrakhaniyyah, salah satu kitab madzhab hanafi, bahwa diharamkan nyanyian dalam setiap tempat.

                                                   

  • Imam Malik bin Anas Al-Ashbahi (93-179 H)

Imam Malik pernah disodori sebuah pertanyaan tentang hokum nyanyian ada apa saja yang diperbolehkan untuk kalangan penduduk Madinah, lantas dengan tegas beliau menjawab, “Di tempat kami hanya orang-orang fasiq saja yang mau melakukannya.”

Pada kesempatan lain ada seseorang yang bertanya pada beliau tentang nyanyian, sejurus kemudian beliau malah balik bertanya, “Nanti pada hari kiamat, nyanyian itu akan bersama kebatilan atau bersama kebenaran?”

“Nyanyian akan bersama kebatilan,” jawab penanya.

Imam Malik bertanya lagi, “Kebatilan itu di mana tempatnya? Di surga atau di neraka?”

“Di neraka,” jawab penanya.

Selanjutnya Imam Malik berkata, “Pergilah, karena kamu sudah memberikan fatwa untuk dirimu sendiri (maksudnya sudah memperoleh jawaban atas pertanyaannya tadi).”

Imam Malik juga pernah berkata, “Jika Anda berada di depan sebuah rumah yang (tuan rumahnya) memiliki hutang padamu dan kamu ingin menagih hutannya namunkemudian Anda mendengar nyanyian, maka Anda tidak diperkenankan berdiri (di situ). Karena nyanyian termasuk kemungkaran yang tidak boleh Anda dengarkan.”

  • Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i

Ketika Imam Asy-Syafi’I keluar dari negeri Baghdad untuk menuju Mesir, beliau berujar, “Aku keluar dari Baghdad dan di sana ada sesuatu yang dibuat-buat oleh kalangan Zindiq yang mereka sebut At-Taghbir yang mereka gunakan sebagai alat untuk menghalangi orang-orang dari Al-Quran.”

At-Taghbir adalah suatu alat yang dipetik seperti halnya gitar.

Beliau juga menuturkan, “Seandainya ada orang yang mengundang orang-orang untuk mendengarkan nyanyian budak wanitanya, maka orang tersebut dianggap bodoh yang persaksiannya tidak boleh diterima. Dan karena hal tersebut, ia layak disebut dayyuts (manusa tak punya rasa cemburu).”

  • Al-Imam Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal Asy-Syaibani (164-241 H)

Al-Khalal –rahimahullah– menulis dalam Kitab “Al-Amr bil-Ma’ruf wan-Nahy ‘anil-Munkar”, “Abdullah putera Imam Ahmad mengatakan, ‘Aku pernah bertanya pada bapakku tentang nyanyian, lalu beliau menjawab, ‘Nyanyian tidak membuatku tertarik. Sebab, nyanyian hanya akan menumbuhkan kemunafikan dalam hati sebagaimana air dapat menyebabkan tumbuhnya kubis.’”

Suatu saat ada seseorang yang berjalan dengan membawa sebuah gitar. Sejurus kemudian Imam Ahmad bergegas bangkit lantas menghancurkannya. Beliau berkata, “Sekiranya nyanyian tidak haram, tentu gitar ini tidak boleh dihancurkan.”

Semoga bermanfaat!

Sumber: http://www.alukah.net/sharia/0/27254/

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s