Menggapai Keuntungan Tiada Tara


 

SyahadatAllah menciptakan manusia bukan tidak sengaja atau tanpa tujuan. Tujuan itu tidak lain adalah agar manusia mentauhidkan Allah dan tidak mensekutukan-Nya dengan apa pun. Tauhid ialah mengesakan Allah dalam tiga hal yang menjadi hak preogatif-Nya, yaitu rububiyyah (penciptaan, kekuasaan, dan pengaturan), ibadah, serta asma dan sifat. Karena itulah Allah mengutus seluruh rasul-Nya untuk menyeru manusia agar senantiasa mentauhidkan Allah dan tidak mensekutukan-Nya dengan apa pun.

Dalam Irsyad Ats-Tsiqat (hlm. 5), Imam Asy-Syaukani –rahimahullah– menjelaskan, “Ketahuilah, sejumlah ulama besar Islam telah meriwayatkan bahwa seluruh syariat bersepakat menetapkan tauhid meski banyaknya jumlah rasul dan banyaknya kitab Allah yang diturunkan pada para nabi-Nya…”

“Maka tauhid merupakan agama penduduk alam semesta dari awal hingga akhir, yang dahulu dan yang akan dating.”

Namun sayang, tidak sedikit di antara masyarakat Muslim yang ternyata belum mengetahui dengan benar apa yang dimaksud dengan tauhid. Karena kejahilannya itulah banyak dijumpai berbagai penyimpangan dan pelanggaran terhadap tauhid, terutama terkait dengan tauhid ibadah. Padahal jika mereka menyadari, sekiranya dalam hal ini saja sampai cacat dan keliru hingga ajal menjemputnya, maka ibadah seluruhnya yang mereka kerjakan dari awal hingga akhir tidak akan pernah diterima dan pada hari kiamat ia akan dicampakan ke dalam api neraka selama-lamanya. Hal ini mengingat firman Allah, “Sekiranya mereka mensekutukan Allah, sungguh amalan yang mereka lakukan akan berguguran.” Dia juga menegaskan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa orang yang mensekutukan-Nya, namun Dia akan mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Dan siapa yang mensekutukan Allah, maka sungguh ia telah jauh tersesat.” (QS An-Nisa’: 116). Dalam surat yang sama pada ayat ke-48, Allah berfirman, “Siapa yang mensekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang amat besar.”

Sebesar apa pun ibadah yang dikerjakan seorang hamba, namun jika masih terus mempraktekkan kemusyrikan dan tidak taubat darinya hingga dibawa mati, maka ibadah tersebut tak akan bermanfaat meski rajin berpuasa, bersedekah, berhaji setiap tahunnya, dan sebagainya.

Allah berfirman, “Katakanlah wahai Muhammad, apakah kalian berkenan kami beri tahu terkait orang-orang yang paling merugi amalannya? Mereka adalah orang-orang yang amalannya sesat dalam kehidupan di dunia sementara mereka menyangka bahwa mereka telah berbuat kebaikan.” (QS Al-Kahf: 103-104)

Sebagaimana orang yang melanggar konsekuensi tauhid dengan mengerjakan kemusyrikan akan diberi ganjaran dosa terbesar, sebaliknya Allah akan menyiapkan pahala besar tak terhingga bagi siapa saja yang sukses mewujudkan tauhid dengan berbagai konsekuensinya dan menjauhi segala bentuk tindakan kemusyrikan. Hal tersebut dapat terlihat dengan sangat jelas jika kita memperhatikan beberapa ayat dan hadits berikut.

Allah berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkannya dengan kemusyrikan, bagi mereka adalah rasa aman dan mereka lah orang-orang yang memperoleh petunjuk.” (QS Al-An’am: 82)

Syaikh Shalih Al-Fauzan menjelaskan, “Dalam ayat ini terkandung keutamaan tauhid, yakni Allah akan menganugrahkan rasa aman pada orang-orang yang bertauhid sesuai kadar derajat mereka dalam bertauhid dan keterlepasaan mereka dari dosa dan maksiat. Ayat tersebut juga menunjukkan bahwa orang yang menyekutukan Allah dan mencampurkan tauhid dengan kemusyrikan, maka baginya tidak ada rasa aman –semoga Allah melindungi kita darinya-. Demikianlah bahaya kemusyrikan.” (I’anah Al-Mustafid I/58)

Kemudian pada ayat juga disebutkan keistimewaan kedua terkait orang yang bertauhid, yaitu tercapainya hidayah. Ia akan memperoleh petunjuk dalam beribadah kepada Allah berdasarkan ilmu dan diselamatkan dari berbagai praktek kemusyrikan dalam beribadah semacam riya’ dan terbebas dari perkara bid’ah.

Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkan, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Siapa yang bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah dengan benar kecuali Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba serta utusan-Nya, ‘Isa merupakan hamba Allah dan rasul-Nya, dan kalimat (kun)serta ruh dari-Nya Dia sampikan pada Maryam, surge benar adanya, dan neraka juga benar adanya, maka Allah pasti memasukkannya ke dalam surge seberapa pun amalannya.”

Sementara itu dalam Shahih Al-Bukhari diceritakan, suatu saat Mu’adz bin Jabal membonceng Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di atas keledai. Beliau bersabda, “Mu’adz, tahukah kamu apa hak Allah atas manusia dan hak manusia atas Allah?” “Allah dan rasul-Nya lebih tahu,” jawab Mu’adz. “Hak Allah atas manusia adalah agar mereka menyembah-Nya dan tidak mensekutukan-Nya dengan apa pun,” kata Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Dan hak hamba atas Allah ialah Allah tidak mengazab orang yang tidak mensekutukan-Nya dengan apa pun.”

Ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– diisra’kan, beliau diberi tahu bahwa ada tujuh puluh ribu dari kalangan umatnya yang masuk surge tanpa hisab dan azab. Sebabnya adalah seperti yang beliau katakana sendiri, “Mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta diobati dengan cara kai (pengobatan dengan besi yang dipanaskan), tidak berbuat tathayyur (menjadikan sesuatu sebagai tanda terjadinya suatu pristiwa), dan hanya kepada Rabb sajalah mereka bertawakkal.” (HR Al-Bukhari)

Dalam sebuah hadits yang masyhur, Allah berfirman kepada Musa –‘alaihissalam-, “Musa, sekiranya langit yang tujuh lapis dengan penduduknya selain-Ku dan bumi yang tujuh lapis dengan seisinya ditaruh dalam sebuah telinga timbangan dan ‘la ilaha illallah’ diletakkan dalam telinga timbangan yang lain, tentu akan lebih berat ‘la ilaha illallah’.” (HR Ibn Hibban & Al-Hakim)

Masih banyak ayat dan hadits yang membicarakan tentang keutamaan dan keuntungan tiada tara yang akan diraup seorang hamba yang sukses mewujudkan tauhid. Berbagai keuntungan itu dapat kita simpulkan antara lain sebagai berikut:

  • Tauhid merupakan sebab terbesar melenyapkan berbagai kesulitan di dunia dan akhirat dan sebagai pencegah turunnya azab.
  • Tauhid dapat mencegah seseorang berkekalan dalam neraka selama dalam hatinya terdapat tauhid meski sekecil biji sawi.
  • Orang yang bertauhid secara totalitas dan sempurna akan tercegah masuk ke dalam neraka. Dalam artian langsung dipersiahkan masuk ke dalam surga, mengingat hadits isra’ di atas.
  • Dengan bertauhid, seseorang akan memperoleh hidayah yang sempurna dan rasa aman yang sempurna di dunia dan akhirat.
  • Tauhid merupakan satu-satunya sebab tercapainya keridhaan Allah serta balasan baik dari-Nya.
  • Diterimanya serta besar kecilnya pahala ibadah lahir dan batin tergantung pada tauhid. Semakin kuat orang bertauhid dan ikhlas, semakin besar dan sempurna pula ibadah tersebut. Allahua’lam.
  • Dengan bertauhid, seorang hamba akan merasa lebih mudah melakukan berbagai ketaatan dan menjauhi segala kemungkaran.
  • Tauhid mampu memerdekakan seorang hamba dari penghambaan dan ketergantungan kepada selain Allah. Tentu ini merupakan kemerdekaan yang sejatinya.
  • Semakin besar tauhid seorang hamba, semakin besar pula pahala yang diperolehnya dari ibadah-ibadah yang dilakukannya meski terlihat kecil.

 

Artikel kali pertama diterbitkan oleh Buletin Al-‘Ilmu Palembang. Walhamdulillah. []

 

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s