Tetap Mengikuti Imam yang Melakukan Qunut


doa

Permasalahan qunut memang masih terus menjadi perbincangan dan perdebatan di tengah kalangan ahli ilmu. Al-Imam Malik bin Anas berpandangan bahwa melakukan qunut pada shalat subuh hukumnya mustahab, sementara Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i memandangnya sebagai satu hal yang sunnah, lebih dari sekedar mustahab. Ulama lain, semacam Al-Imam Abu Hanifah An-Nu’man bin Tsabit berpendapat bahwa hal tersebut sama sekali tidak boleh dilaksanakan, karena qunut letaknya pada shalat witir. Lain dari pendapat-pendapat itu, segolongan ulama mengatakan bahwa qunut dilaksanakan setiap kali shalat wajib, sedangkan qolongan yang lain hanya memandang dilaksanakan pada bulan Ramadhan sahaja, ada lagi yang mengatakan hanya pada setengah akhir bulan Ramadhan, dan yang lain lagi berpendapat pertengahan pertama bulan Ramadhan.

Jadi, ringkasnya dalam masalah qunut setidaknya terdapat tujuh pendapat di kalangan ahli ilmu, seperti yang diketengahkan oleh Al-Qadhi Ibn Rusyd Al-Hafid Al-Andalusi –rahimahullah– dalam Bidayah Al-Mujtahid.

Dalam tulisan ini penulis tidak akan mengajak pembaca menelusuri masing-masing hujjah yang menjadi pijakan masing-masing pendapat dan sebab terjadinya perselisihan pendapat yang ada. Di sini penulis hanya akan mengajak pembaca untuk lebih bersikap bijak dan adil ketika ada yang berpendapat dan berpijak pada pendapat bahwa qunut tidak dilakukan di shalat apa pun atau mereka yang berbeda pendapat dengan imam shalat, apakah sebaiknya mengingkari sang imam ataukah bagaimana? Apatah lagi jika masjid yang biasa ia gunakan sebagai shalat berjama’ah selalu melaksanakan pendapatnya yang berbeda dengan pendapat si makmum. Haruskan meninggalkan shalat jama’ah karena hanya berbeda pandangan? Berikut kami nukilkan pernyataan beberapa ulama besar yang penulis anggap sebagai sikap yang bijak nun adil.

Sebelumnya harus disadari bahwa pendapat-pendapat yang ada di atas masing-masing memiliki dalil dan hujjah yang mendukung argument mereka, bukan reka-reka ataupun berdasarkan hawa nafsu sehingga perselisihan semacam ini termasuk perselisihan yang mu’tabar di tengah kalangan ahli ilmu.

Baiklah, berikut adalah pernyataan ulama yang penulis janjikan di muka.

Al-Imam Al-Laits bin Sa’d –rahimahullah– pernah menceritakan, “Aku sama sekali tidak pernah berqunut selama 40 atau 45 tahun kecuali di belakang imam shalat yang melakukan qunut.

Al-Imam Al-Laits melanjutkan, “Argumenku ialah hadits yang datang dari Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bahwa beliau pernah melakukan qunut selama sebulan atau 40 (hari?) mendoakan kebaikan untuk sebuah masyarakat dan mendoakan kejelakan atas masyarakat yang lainnya sampai Allah menurunkan ayat yang mencela, ‘Bukanlah menjadi urusanmu apakah Allah mau menerima taubat mereka atau akan menyiksa mereka lantaran mereka berbuat zalim,’ maka Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pun meninggalkan qunut. Beliau pun meninggalkan qunut setelahnya sampai beliau menjumpai Allah.”

Beliau berkata, “Semenjak aku berhujjah dengan hadits ini, aku tidak pernah berqunut.”

Sumber: Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid hlm. 112, karya Al-Qadhi Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Rusyd Al-Hafid Al-Qurthubi Al-Andalusi, cet. ke-2 Dar Ibn Hazm.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah pernah menyatakan terkait sejumlah permasalahan ijtihadiyyah yang diperselisihkan para ulama, semacam qunut shalat shubuh dan witir serta semisalnya,.

“Para ulama senada mengatakan bahwa jika dikerjakan salah satu dari kedua hal tersebut, ibadahnya tetap sah dan pelakunya tidak berdosa. Namun mereka bersinggung pendapat tentang mana yang lebih afdhal dan mana yang biasa Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam- lakukan. Dan masalah qunut dhalat shubuh dan witir, mengeraskan basmalah, serta sifat isti’adzah termasuk dalam pembahasan ini. Para ulama sepakat bahwa jika ada orang yang mengeraskan basmalah, shalatnya tetap sah, dan orang yang melirihkannya pun juga sah shalatnya; dan orang yang mengerjakan qunut shalat shubuh, shalatnya tetap sah dan yang tidak melakukannya pun sah shalatnya, begitu juga qunut ketika shalat witir.”

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin juga pernah ditanya sebagai berikut:

Di tempat kami dijumpai imam yang selalu melakukan qunut pada shalat shubuh, apakah kami harus mengikutinya? Pakah kami mengamini doanya?

” من صلى خلف إمام يقنت في صلاة الفجر فليتابع الإمام في القنوت في صلاة الفجر ، ويؤمن على دعائه بالخير ، وقد نص على ذلك الإمام أحمد رحمه الله تعالى ” اهـ .

Syaikh menjawab sebagai berikut, “Orang yang shalat di belakang imam yang melakukan qunut shubuh, seyogyanya ia mengikuti sang imam ketika qunut shalat shubuh dan mengamini doanyad dengan baik. Al-Imam Ahmad –rahimahullah– telah menegaskan hal tersebut.”

(Majmu’ Fatawa Ibn ‘Utsaimin XIV/177).

Demikianlah sikap beberapa ulama besar yang keilmuannya tidak perlu diragukan lagi, ketika menghadapi suatu keadaan dan kondisi yang terkadang berbeda dengan apa yang mereka pandang, tidak lantas kemudian bertindak konyol dan menyematkan gelar bid’ah untuk orang yang berbeda dengan mereka. Hal itu tentu selama perselisihan yang ada termasuk permselisihan yang mu’tabar dan diperbolehkan, yaitu yang memang ada dalil yang mendukung masing-masing pendapat.

Terakhir, masih ingat di ingatan penulis bahwa Syaikh Dr. ‘Abdul Karim bin Muhammad Amrullah –rahimahullah– pernah menulis sebuah risalah tipis dalam bahasa ‘Arab yang menjelaskan permasalahan qunut ini dengan menyebutkan argument masing-masing pendapat. Dalam risalahnya ini beliau pun bersikap seperti sikap ulama-ulama di atas, tidak bertindak ceroboh seperti tindakan segelintir orang di zaman ini yang belum mampu bersikap bijak.

Semoga bermanfaat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s