Hikmah di Balik Musibah, Sebuah Episede Pengasingan Syaikh Muhammad Yusuf Al-Makassari ke Cape Town


Al-Makassari

Ketokohan Syaikh Abul Mahasin Muhammad Yusuf bin ‘Abdullah Al-Makassari (1626-1699 M= 72 th) –rahimahullah– di tengah masyarakat Muslim di Nusantara tidak perlu diragukan lagi. Keulamaan dan dan kehebatannya dalam ilmu agama sudah diakui dunia. Tidak ayal jika beliau termasuk tokoh yang disegani dan didengar masyarakat Muslim di masanya.

Pengembaraannya menuntut ilmu membuatnya harus berjalan mengembara ke berbagai pelosok tanah air, dan ketika minatnya belajar terus bertambah, ia pun segera mempersiapkan bekal guna melanjutkan perjalanan ke berbagai negeri yang lebih jauh dari tempat kelahirannya. Makkah dan Madinah tentu merupakan dua tempat yang tak akan luput dari jangkauannya. Selain dua kota suci tersebut, sejarah mencatat beliau juga melakukan perjalanan ilmiahnya ke negeri Saba’, Yaman. Di negeri inilah ia berkesempatan berjumpa dan nyantri pada Syaikh ‘Abdullah bin ‘Alawi bin Muhammad Al-Haddad (1044-1132 H), ulama kenamaan yang penuh karismatik di negeri tersebut. Gurunya yang satu ini, hampir semua orang mengetahuinya. Termasuk orang-orang di negeri ini, terutama kalangan. Atau bahkan karangan-karangannya lebih dikenal ketimbang penulisnya. Di antaranya ialah An-Nashaih Ad-Diniyyah wa Al-Washaya Al-Imaniyyah, Ad-Da’wah Al-Tammah wa At-Tadzkirah Al-‘Ammah, Risalah Al-Mu’awanah wa Al-Muzhaharah wa Al-Muazarah, Ittihaf As-Sail bi Jawab Al-Masail, dan sebagainya.

Bukti bahwa Syaikh Muhammad Yusuf bin ‘Abdullah Al-Makassari pernah nyantri pada ‘Abdullah bin ‘Alwi Al-Hadad, adalah bahwa gurunya tersebut beberapa kali mengisyaratkan Syaikh Yusuf dalam sejumlah karya tulisnya, antara lain dalam An-Nafais Al-‘Alawiyyah fi Al-Masail Ash-Shufiyyah. Isyarat tersebut tentu bukan hanya sekedar isyarat belaka, namun belih kepada keistimewaan yang ada pada diri Syaikh Muhammad Yusuf Al-Makassari. Bagaimana tidak, yang menyebutkan adalah ulama besar kenamaan yang dikenal oleh hampir kaum Muslim di berbagai belahan dunia.

Selain Makkah, Madinah, dan Yaman, beliau juga sempat mendaratkan kakinya di negeri Syam, tepatnya Damascus. Di sini, beliau berhasil berguru dan menimba ilmu dari Syaikh Abul Barakat Ayyub bin Ahmad bin Ayyub Al-Qurasyi –rahimahullah-.

Tidak kurang dari 30 tahun, Syaikh M. Yusuf Al-Makassari melalang buana menelusuri negeri-negeri Islam di Timur Tengah dalam rangkan mencari dan menimba ilmu dari para ulamanya. Setelah beliau merasa cukup dan beliau memandang bahwa negerinya sudah sangat membutuhkannya, beliau pun merasa terpanggil untuk kembali ke tanah airnya tersebut. Kembalilah beliau ke negerinya.

Penulis lupa apakah beliau sempat ke Makasar, namun yang jelas peran penting dan karirnya lebih terkenal di Kasultanan Banten. Di kerajaan Islam ini beliau diangkat dan dinobatkan sebagai qadhi penegak syariat Islam yang berlaku untuk semua penghuni kerajaan dan rakyat.

Seperti diketahui bersama, bahwa Kerajaan Banten telah beberapa kali turun ke medan jihad melawan penjajah kafir Belanda. Sang Sultan bertindak langsung turun ke medan jihad. Setelah beliau dan pasukannya dapat ditakhlukkan penjajah Belanda dengan berbagai tipu muslihatnya yang sudah tidak samar lagi, Syaikh Muhammad Yusuf Al-Makassari pun langsung mengambil alih memimpin jihad melawan Belanda bersama pasukan kaum Muslimin. Namun taqdir hanya ada di tangan Allah, pasukan yang beliau pimpin pun tidak jauh berbeda nasibnya dengan pasukan yang dipimpin sang Sultan sebelumnya. Beliau pun akhirnya berhasil ditangkap oleh kaum kuffar Belanda.

Oleh karena Belanda mengetahui pengaruh besar Syaikh Muhammad Yusuf Al-Makassari di tengah rakyat Nusantara, mereka pun berinisiatif mengasingkan Syaikh ke luar kepulauan Nusantara. Jauh nun pandangan. Awalnya beliau diasingkan di Pulau Saylan yang kini lebih dikenal sebagai Pulau Srilangka, namun karena beliau tidak mau diam berdakwah dan mengajarkan agama Islam, beliau pun segera dipindahkan pengasingannya ke Afrika Selatan, tepatnya di Cap Town. Saat keberadaanya di Saylan, tercatat banyak siak-siak (baca: santri/penuntut ilmi agama) yang berkesempatan dan memanfaatkan keberadaan Syaikh di pulau tersebut untuk berguru padanya. Umumnya siak-siak tersebut berasal dari India Selatan, kawasan terdekat dari Pulau Saylan. Salah satu dari sekian banyak siak tersebut ialah Syaikh Ibrahim bin Mi’an –rahimahullah-. Sama dengan aktifitas sebelumnya, beliau pun terus melanjutkan kegiatannya menyebarkan ajaran agama Islam kepada masyarakat setempat sehingga dengan keberhasilannya mngembangkan ajaran Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– di negeri ini, sejarah nasional negeri tersebut mencatatnya sebagai penyebar agama Islam penting di Cap Town secara khusu, dan Afrika Selatan secara umum.

Untuk mengenang jasa ulama besar tersebut, masyarakat Cap Town pun mengambilkan nama Syaikh menjadi sebuah daerah di daerah tersebut, yaitu Macassar sebagai bentuk penghormatan dan tandaterimakasih yang tak terhingga. Bahkan makam beliau pun masih dapat dijumpai di daerah tersebut yang -sangat sayang sekali- oleh masyarakat diberi bangunan kubah yang cukup megah. Wallahulmusta’aan.

Selain daripada itu, konon Nelson Mandela yang tak lain merupakan mantan presiden Afrika Selatan, menggelari Syaikh kita ini sebagai salah seorang putra terbaik Afrika Selatan.

Jika dilihat dari perjalanan dakwah Syaikh Abul Mahasin Al-Makassari di atas, tentu ada banyak faedah yang bisa disimpulkan terkait berjalan di medan dakwah. Bahwa bumi Allah sangatlah luas, tidak seperti kata sebahagian kata orang yang hanya memandang dunia selebar daun kelor. Ketika seorang da’i diusir dan diasingkan dari suatu daerah dan memang benar-benar tidak ada peluang berdakwah kecuali harus menyusun strategi di luar daerah tersebut atau berpindah daerah untuk menyusun trik dakwah yang lebih jitu, tidak mengapa menepaki langkah tersebut. Bukankah Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu memulai dakwahnya di Makkah selama beberapa tahun lamanya kemudian karena kondisi semakin tidak memungkinkan, beliau pun akhirnya harus keluar dari tanah kelahirannya tersebut menuju Makkah guna menyusun strategi yang dipandang lebih jitu dan efektif. Dan apa hasilnya? Dakwah beliau pun lambat laun meluas dan manusia mulai berbondong-bondong menerima Islam dengan tulus ikhlas seiring berjalannya waktu dan kegigihan dakwah yang tak kenal menyerah, tak kenal lelah, tak kenal waktu. Benarlah apa yang dikatakan pribahasa Indonesia kita, berakirt-rakit dahulu berenag-renang ketepian, bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian.

Keberhasilan Syaikh Abul Mahasin Al-Makassari tentu tidak berarti tanpa ada halangan dan tantangan yang menghadang. Berdakwah di negeri orang tentu tidak seperti berdakwah di negeri sendiri. Apalagi tabiat penduduk dan bahasa lisan yang berbeda, tentu membuat jalan dakwah semakin terjal dan curam. Namun sebagai da’i yang benar-benar mengetahui perjalanan dakwah Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menganggap terjalnya jalan tersebut sebagai sebuah kelaziman yang harus dihadapi dan dilunakkan dengan disertai rasa tawakkal dan harap kepada Allah agar dimudahkan. Dengan demikian, dakwah akan semakin menyenagkan dan termotifasi.

Di antara peninggalan ilmiah Syaikh Muhammad Yusuf bin ‘Abdullah Al-Makassari ialah sebagai berikut:

1. Al-Barakah As-Saylaniyyah.
Menurut sejarah, seperti yang dinyatakan oleh Azyumardi Azra, kitab tersebut ditulis sewaktu Syaikh diasingkan ke Pulau Saylan. Seperti yang telah penulis singgung di atas, pengasingan Syaikh tidak lantas membuatnya diam dan membisu. Beliau terus melancarkan dakwah dan mengajarkan ajaran Islam di tempatnya diasingkan.

Kitab ini sudah pernah ditahqiq dan dipelajari oleh ‘Ali Saputra untuk syarat memperoleh gelar akademis di Fak. Arab dan Adab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta 24 Jumadal Ula 1429 H (2008 M).

2. An-Nafy wa Al-Itsbat fi Al-Hadits Al-Qudsi.
Seperti kitab sebelumnya, kitab ini juga sudah ditahqiq oleh Muhammad Fikri Al-Kaaf guna memperoleh gelar akademis (SS) pada universitas dan fakultas yang sama pada tahun 1431 H (2011 M).

3.  Kasyf Kull l-Asrar.
Kitab tersebut ditahqiq Dr. Nabilah Lubis untuk memperoleh gelar doctoral dengan judul Syekh Yusuf Al-Taj Al-Makasari, Menyingkap Intisari Segala Rahasia yang di kemudian hari diterbitkan oleh Mizan Bandung. Pada bberapa tahun silam saya pernah menjumpai buku tersebut di Perpustakaan Umum Yogyakarta. Walhamdulillah.

Yusuf Al-Makassari

Berikut kami nukilkan dari Wikipedia terkait kawasan Macassar yang menjadi medan dakwah dan saksi bisu Syaikh Muhammad Yusuf bin ‘Abdullah Al-Makassari -rahimahullah-.

“Macassar is a small town in South Africa, close to Strand and Somerset West, with an approximate population of 38,136.

Macassar’s history is closely tied to the Strand as it is from here that its first inhabitants came. The kramat (shrine) of Sheikh Yusuf (Tuanta Salamaka) of Bantam, in Macassar, is one of the South African Muslim community’s holiest places. The Sheik, who was exiled by the Dutch in 1694, made Macassar his final resting place although his followers, who were mainly fishermen, found the sea off Macassar rather uninviting and moved further along the coast to Strand’s Mosterds Bay.

The Macassar Dunes Nature Reserve, in Baden Powell Drive, forms part of the vital coastal dune system, one of the biodiversity hotspots of the Western Cape. These dunes have been under enormous threat from conflicting activities, including cattle grazing and 4X4 vehicle use.

Macassar is a predominantly coloured area close to the Macassar Dunes, whose population historically work in the fishing and boatmaking industry. Unlike its neighbour Mitchells Plain, it is not ravaged by crime and drug abuse which is so prevalent amongst other underprivileged communities in the Western Cape.”

Semoga bermanfaat!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s