Bukan di Zaman Salaf (Sebuah Kisah Ahli Quran yang Amat Menakjubkan)


ahlul quran

Ini adalah cerita dan riwayat yang diriwayatkan dosen kami pada mata kuliah ushul fiqh. Beliau Syaikh Dr. Muhammad bin Muhammad Al-‘Azazi, penulis Mabahits fi Al-Awamir wa An-Nawahi.

Cerita yang mungkin sulit kalian percayai lantaran jarang terjadi. Cerita yang mungkin juga hanya kalian jumpai di buku-buku riwayat hidup orang-orang terdahulu.

Sepertinya kalian mulai penasaran apa cerita gerangan. Baiklah. Mari sejenak dengarkan riwayat menakjubkan ini.

Di tengah berlangsungnya pelajaran ushul fiqih, tepatnya pada pembahasan taklif, beliau menyebutkan definisi taklif tersebut. Menurut etimologi, taklif bermakna beban dan tanggungan. Namun, kata beliau, beban tersebut bisa saja berubah menjadi kesenangan mana kala diiringi dengan mahabbah (cinta). Ya. Tatkala seorang hamba mengerjakan suatu ibadah, katakanlah shalat, ia akan merasakan begitu manisnya berada dalam ibadah shalat karena ia tahu bahwa ia sedang bermunajat dengan kekasihnya, Allah ‘Azza wa Jalla. Dengan demikian, banyak orang shalih yang merasa sedih dengan cepatnya waktu bermunajat berlalu. Seakan ingin terus berduaan dengan sang kekasih tanpa henti dan tanpa berpisah.

Taklif akan benar-benar menjadi beban jika tidak ada mahabbah. Hanya dilakukan orang-orang yang ingin lekas terlepas dari kewajiban. Sehingga yang ada hanyalah rasa berat. Di saat itulah taklif menjadi beban.

Kemudian Syaikh menceritakan salah seorang gurunya yang hafal Al-Quran dengan hafalan yang sangat mengagumkan. Beliau hafal Al-Quran seperti beliau menghafal namanya sendiri, atau lebih dari itu. Boleh jadi beliau lupa nama beliau, namun tidak lupa hafalan Al-Quran.

Ma sya Allah.

Sampai di sini ceritanya? Tidak. Ada yang lebih mengagumkan lagi. Guru Syaikh kami tersebut biasa mengkhatamkan Al-Quran dalam shalatnya. Hah? Ya. Beliau membaginya dalam beberapa shalat. Hingga tidak lebih dari 5 hari, Al-Quran sudah selesai dibaca dalam shalat. Ini di hari-hari biasa. Lalu bagaimana di hari-hari Ramadhan? Beliau biasa mengkhatamkan 3 hari sekali dalam shalat!

Allahuakbar!

Syaikh bercerita, dalam shalat subuh saja, beliau menyelesaikan surat Al-Baqarah. Sementara dalam shalat isya’, beliau menghabiskan 2,5 jam.

Beliau memang terkenal memiliki masjid yang beliau imami. Mayoritas muridnya hafal Al-Quran. Dan Syaikh kami pun demikian. Beliau bercerita, di masa beliau menjelang akhir mengambil S2, beliau berhasil menyelesaikan dan mendemonstrasikan hafalan Al-Quran 30 juz dalam sehari saja!

Sekarang pertanyaannya, siapakah gerangan guru besar tersebut? Beliaulah Syaikh Prof. Dr. Usamah Abdul ‘Azhim Hamzah –hafizhahullah-. Seorang pakar usul, zahid, wara’, ahli ibadah.

Semoga bermanfaat!

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s