Setelah Lima Tahun, Teka-teki Itu Baru Dapat Dipecahkan


Tanya

Sejenak melihat sejarah beberapa tahun silam. Tepatnya pada tahun 2009 M, ketika masih duduk di bangku kelas 11 MA. Tak sengaja ketika masuk perpustakaan yang kala itu bertempat di bangunan madrasah sebelah Utara yang kini telah “disulap” menjadi kamar mandi, terdengar Ustadzuna Aris Munandar sedang mengajar mata pelajaran aqidah (atau menurut istilah Depag: ilmu kalam) dengan penuh semangatnya. Dari penjelasan yang terdengar dari tembok sebelah, nampak jelas beliau tengah menjelaskan wujuh (segi) kemukjizatan Al-Quran. Saat itu beliau menjelaskan bahwa sebagian sekte sesat berpendapat bahwa segi kemukjizatan Al-Quran sehingga orang-orang Arab yang terkenal dengan kefasihan dan ketinggian bahasanya tidak mampu menandingi kefasihan dan keelokan bahasa yang terdapat dalam Al-Quran dalam berbagai segi, karena ketika Al-Quran diturunkan himmah dan ilmu tentang kefasihan bahasa langsung Allah angkat sehingga mereka tak mampu menandinginya. Sebelum turunya Al-Quran, mereka memang sangat lentur dalam bersyair dan menyusun bahasa. Namun kini sudah tidak lagi. Lantas kemudian beliau bantah pendapat tersebut.

Sayangnya saya lupa atau malah nggak dengar apa bantahannya. Sebab dalam benak, ada harapan besar kelak pada waktunya beliau pasti bakal menjelaskannya di kelas 12. In sya Allah.

Namun sayang. Setelah duduk di kelas 12, penjelasan tersebut belum sempat muncul. Karena ternyata kurikulum atau kitab yang dijadikan bahan pelajaran agaknya berbeda. Atau mungkin waktu beliau menjelaskan di kelas samping yang kala itu duduk manis Ust. Afit Nurul Husna, Ust. Kangtuji Aremania, Ust. Mas Muhroji, Ust. Subandi, dan konco-konconya, hanya tambahan dari beliau sendiri. Wallahua’lam.

Akan tetapi lebih dari itu, saat sudah duduk di kelas 12 bersama Al-Fadhil Badruz Zaman, Al-Fadhil Rijal Al-anbar, Al-Fadhil Muqimuddin Husni Arsyad, Al-Fadhil Fatwa Hamidan, Al-Fadhil Al-Syaikh Abu Salamah, Al-Fadhil Suepri Yanx’s To Solo, dan lain-lain, banyak hal yang kami dapatkan. Sudah berapa risalah yang dikhatamkan dalam kurun waktu 3 tahun. Mujmal Ushul Ahlissunnah fil ‘Aqidah, sebahagian Syarah Aqidah Thahawiyah-nya Dr. Shalih bin Fauzan Al-Fauzan, dan lain-lain. Walhamdulillah. Jazahullah ‘anna wa ‘an abna’ al-muslimin kulla khair.

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan.

Ternyata kalau ketemu saba ustadz, lupa terus nanyakan. Lagi pula munasabahnya berbeda. Malah pertanyaan-pertanyaan kontemporer dan fenomena modern yang suka kebahas. Dan manfaatnya pun tak kalah besarnya.

Ternyata setelah beberapa tahun itu, tepatnya 5 tahun kemudian, baru nemu jawabannya disinggung Imam Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad Al-Anshari Al-Qurthubi dalam tafsirnya yang bertajuk Al-Jami’ li Ahkam Al-Quran wa Al-Mubayyin Lima Tadhammanahu As-Sunnah wa Aay Al-Furqan (I/83) di bawah Bab Dzikru Nukat fi I’jaz Al-Quran. Setelah beliau membawakan 10 segi kemukjizatan Al-Quran, beliau menyinggung segi ke-11 yang menjadi pendapat An-Nazhzham dan sebahagian sekte Al-Qadariyyah yang intinya persis seperti di atas. Alhamdulillah. Sebuah nikmat besar serasa menemukan mutiara tiada duanya.

Jazallah masyayikhana wa murabbiyina ‘anna wa ‘anil Islam kulla khair wa athala a’marihim fi tha’atih.

@BinMarwadi

 

[https://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/371034609730915]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s