Bersikap Objektif dalam Berdakwah


Cermin-Diri

Upaya memberantas berbagai ritual yang menyelisi syariat Islam merupakan suatu kemuliaan tersendiri. Bahkan bisa dikatakan untuk di masa-masa sekarang ini amatlah lebih mendesak lagi. Betapa tidak? Hampir seluruh ritual yang ditekuni masyarakat Muslim saat ini tidak terlepas dari noda-noda bid’ah yang tentunya sangat tidak dianjurkan dan harus dimusnahkan serta disingkirkan sejauh-jauhnya agar tidak beranak di kemudian hari.

Apatah lagi jika kita mengingat kembali penuturan seorang shahabat yang melihat berbagai ritual bid’ah yang mulai muncul setelah wafatnya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwa tidak ada kesamaan lagi agama yang kalian lakukan dengan syariat yang berlaku di masa Nabi, hanya saja kalian masih menunaikan shalat jama’ah. Pernyataan ini muncul di saat para shahabat masih banyak yang hidup, lalu bagaimana dengan sekarang ini? Allahulmusta’aan.

Dan merupakan suatu kenikmatan manakala kita masih bisa menyaksikan banyak ulama, da’i, dan thalabatul ‘ilm yang berupaya memberantas bid’ah dan mendakwahkan Sunnah. Namun di saat yang sama, ada hal lain yang sangat memperihatinkan di tengah mereka yang menisbatkan diri pada Sunnah. Memang banyak di antaranya yang mentahzir ritual-ritual bid’ah (idhafiyah) yang menjamur di masyarakat, namun di satu sisi banyak yang kemudian justru melupakan dirinya sendiri, apakah ia sudah melakukan ritual tersebut yang sesuai sunnah?

Kita lihat, misalnya, ada orang yang mengingkari dan mentahzir ritual shalawat berjama’ah yang diiringi rebana atau shalawat bid’ah semacam shalawat nariyah. Akan tetapi, ternyata ia sendiri sangat qushur bershalawat pada baginda Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Ada lagi orang yang mengkecam ritual berjabat tangan usai shalat berjama’ah. Namun di saat yang sama ia sendiri tak juga berjabat tangan jika bertemu. Apalagi jika bertemu di masjid, seakan sudah dianggap bid’ah. Padahal jika sekiranya memang baru bertemu di masjid dan sebelumnya belum sempat berjabat tangan, tidak mengapa berjabat tangan. Meskipun usai shalat (usai zikir).

Yang lain mentahzir jama’ah tabligh yang mendatangi rumah-rumah untuk menyampaikan dakwah bid’ah mereka. Namun di saat yang sama ia sendiri tak pernah mendakwahkan sunnah dari pintu ke pintu.

Yang di sana mengecam acara maulid nabi karena alasan cinta Nabi. Namun di saat yang sama ia sendiri jarang menampakkan kecintaan pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-; misalnya dengan membaca sejarah perjuangan beliau, melakukan sunnah-sunnah beliau, dan yang tak kalah penting lagi, adakah kerinduan yang menghujam dalam hati untuk bisa berjumpa dengan beliau? Adakah harapan besar itu?

Dan masih banyak contoh lainnya.

Tentu saja yang keliru bukan pengingkaran bid’ah itu sendiri. Namun alangkah baiknya jika pengingkaran tersebut diiringi perilaku sunnah yang lebih disyariatkan. Dengan demikian, tuduhan bahwa ‘Wahhabi’ membenci shalawat dapat tertepis dengan sendirinya. Atau tuduhan tidak cinta Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– karena tak suka mengadakan acara maulid, dapat ditanggulangi karena ternyata yang mengingkari ritual tersebut sangat rutin puasa senin-kamis, rajin membaca buku sirah nabawiyyah, rajin menjalan shalat sunnah, dan seterusnya.

Lihat contoh permasalah riil di masyarakat, ada yang menuduh bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab –rahimahullah– membenci Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– karena pengingkaran beliau terhadap bid’ah idhafiyah. Akan tetapi tuduhan itu dengan mudah dapat ditepis dengan adanya karya ilmiah beliau tentang sirah nabawiyah yang bertajuk “Mukhtashar Sirah Ar-Rasulshallallahu ‘alaihi wa sallam-“. Kalaulah beliau membenci diri Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, tentu beliau tak akan menyisihkan waktu untuk menulis kitab yang penuh berkah tersebut.

Lah kalau kita misalnya hanya mentahzir bid’ah idhafiyah namun di satu sisi tak pernah mengerjakan yang sunnah, bagaimana kita bisa membela diri jika ada tuduhan miring semacam di atas?!

Kita ingkari ziarah kubur ke makam para wali-wali karena ada nilai syaddur-rihal (safar menyengaja ziarah), namun di waktu yang sama kita tak pernah menziarahi kubur sama sekali meski di makam yang tersekat!?

Semoga Allah memberikan kita kekuatan memberantas bid’ah dan mengiringinya dengan kemampuan melaksanakan Sunnah dengan sebaik-baiknya. Wallahua’lam.

(Kalimat yang semisal pernah diungkapkan Ustadzuna Aris Munandar)

Semoga bermanfaat!

@BinMarwadi

 

[https://www.facebook.com/firmanhidayat.almarwadi.5/posts/370474116453631]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s