Khuthbah ‘Iedul Adh-ha: Hikmah Musibah


Ied

اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، اَللهُ أَكْبَر، كَبِيْرًا، وَ الحْمَدُ لِلّهِ كَثِيْرَا و سبحان الله بكرة و أصيلا.

الحمد لله بارى النسم، و مولى النعم، و المفاضل بين الأفراد و الأمم . فنبينا أفضل الأفراد، و أمتنا أفضل الأمم. أحمده سبحانه و تعالى و أشكره، و هو أهل الحمد و الشكر على ما أولانا من أفراد النعم، و ما حبانا به دون سائر الأنمم.

و أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له و أشهد أن محمدا عبده و رسوله، صلى الله عليه و على آله الأطهار و صحابته الأخيار.

<
          Saudaraku, sesungguhnya hari ini adalah hari “haji akbar” yang tak lain merupakan ‘îedul adh-ha. Disifati sebagai hari haji “akbar” karena mayoritas amalan haji dikerjakan pada hari ini; seperti melempar jamrah, menyembelah hewan kurban, menggundul kepala, thawaf ifadhah yang tak lain adalah rukun haji.

Pada hari seperti inilah Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– berkhuthbah di hadapan khalayak manusia di atas untanya yang bernama “Al-Qashwa’” agar orang berada di dekat dan jauh dapat mendengar. Di akhir khuthbahnya, beliau bersabda, “Ya Allah, saksikanlah bahwa aku telah menyampaikan (risalah-Mu).  Janganlah kalian setelahku nanti menjadi kafir, saling membunuh satu sama lain. Sejatinya darah-darah kalian, kehormatan-kehormatan kalian, haram atas kalian, seperti halnya keharaman hari kalian ini, di negeri kalian ini, di bulan kalian ini. Dan berpesanlah baik kepada para wanita. Karena sesungguhnya mereka (bagaikan) tawanan di sisi kalian (tawanan di rumah-rumah kalian). Perhatikanlah hak-hak mereka, bersikap baiklah pada mereka, dan waspadalah terhadap gangguan (keburukan akhlak) mereka.”

Saudaraku…

Ketahuilah bahwa Allah Ta’ala menjadikan kehidupan dunia ini sebagai ujian bagi manusia. Kesehatan adalah ujian. Kemiskinan adalah ujian. Kecukupan adalah ujian. Kesempatan adalah ujian. Gunung meletus adalah ujian. Tsunami adalah ujian. Gempa adalah ujian. Istri adalah ujian. Anak-anak adalah ujian. Mengerjakan ketaatan adalah ujian. Menjauhi larangan adalah ujian. Dan demikianlah seterusnya…

Kehidupan dunia seluruhnya adalah ujian bagi semua manusia. Tak terkecuali.

Saudaraku…

Jika Anda membeli mutiara, emas, ataupun barang-barang berharga lainnya, tentu Anda akan pergi ketempat penguji, apakah barang yang Anda beli itu asli atau tidak. Bagus atau tidak. Cacat atau tidak. Agar Anda nantinya tiada menyesal di belakang.

Dan di hadapan kita terdapat ujian yang lebih penting daripada ujian duniawi. Sebuah ujian paripurna. Itulah ujian kehidupan dunia yang merupakan sunan kauniyyah. Kenapa manusia harus diuji? Ya. Manusia diuji agar dapat dibedakan antara yang benar-benar jujur dan hanya sekedar memakai topeng kejujuran. Dengan ujian semuanya akan tersingkap. Dengan ujian semuanya akat terlihat.

Allah Ta’ala berfirman:

﴿وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ﴾

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.” [QS Al-Baqarah: 155]

Dengarkanlah Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di mengatakan tatkala mentafsirkan ayat ini, “Allah Ta’ala mengkhabarkan bahwasannya Dia harus menguji hamba-hambanya dengan berbagai cobaan. Hal tersebut agar menjadi jelas antara yang jujur dan dusta. Antara yang berkeluhkesah dan bersabar. Inilah sunntullah yang berlaku di tengah hamba-Nya. Karena kelapangan jika senantiasa dirasakan orang mukmin, tak pernah ada ujian, niscaya terjadilah percampuran yang merupakan kerusakan. Sedangkan hikmah Allah menuntut agar dibedakan antara orang yang baik dan orang yang buruk. Inilah faidah adanya berbagai ujian..”

Sedangkan objek daripada ujian adalah keimanan. Allah Ta’ala berfirman:

﴿ الم ۝ أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ﴾

“Alif lam mim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?”  [QS Al-‘Ankabut: 1-2]

Ujian yang Allah berikan kepada seorang hamba sebenarnya merupakan kebaikan yang kembali kepada hamba tersebut. Dengan ujian, seorang hamba akan merasa dirinya hanyalah makhluk yang lemah, hanya Allah lah satu-satunya Dzat yang Mahakuat. Sekiranya ujian tak pernah mengahampiri seseorang, tentu tak mustahil ia merasa memiliki kelebihan. Lihatlah Fir’aun. Sejarah mencatat bahwa selama hidupnya Fir’aun tidak pernah tertimpa penyakit. Ia melihat orang selainnya sering tertimpa sakit sehingga dirinya meresa memiliki kelebihan, berbeda dengan orang pada umumnya. Mulailah muncul rasa sombong dalam dirinya, sampai-sampai dia berani mengatakan, “Akulah tuhan yang paling tertinggi kalian.”

Saudaraku…

Ketika Anda tertimpa musibah seberapa pun beratnya, ingatlah bahwa Anda bukan satu-satunya manusia yang tertimpa musibah. Bahkan manusia mulia manapun pernah tertimpa musibah yang serupa, bahkan lebih berat. Sedangkan apa yang menimpa Anda tidak ada apa-apanya dibanding musibah yang menimpa mereka.

Imam Ahmad dan lainnya, telah ‘merekam’ sebuah hadits dari Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

أشد الناس بلاء الأنبياء، ثم الصالحون، ثم الأمثل فالأمثل، يبتلى الرجل على حسب دينه، فإن كان في دينه صلباً اشتد به بلاؤه، وإن كان في دينه رقة ابتلي على قدر دينه، فما يبرح البلاء بالعبد حتى يتركه يمشي على الأرض وما عليه خطيئة

“Manusia yang paling berat cobaannya adalah para nabi, kemudian orang-orang shalih, kemudian orang semisal mereka. Seseorang akan diuji berdasarkan agamanya. Sekiranya agamanya kuat, ujiannya semakin besar. Sementara jika agamanya lemah, ia akan diuji sesuai kadar agamanya. Ujian senantiasa menghampiri seorang hamba sehingga ia meninggalkannya berjalan di muka bumi sedangkan tak ada kesalahan padanya.”

Dengan demikan, ketika Allah Ta’ala memberikan ujian kepada Anda, tidak berarti Allah membenci dan murka kepada Anda. Bahkan boleh jadi ini merupakan tanda Allah mencintai Anda. Hal ini sebagaimana apa yang disabdakan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-:

إن عظم الجزاء مع عظم البلاء، وإن الله إذا أحب قوماً ابتلاهم، فمن رضي فله الرضا، ومن سخط فله السخط

“Sesungguhnya besarnya pahala berbanding lurus dengan besarnya ujian. Sesungguhnya jika Allah menintai suatu kaum, Dia pasti menguji mereka. Siapa yang ridha, baginya keridhaan (Allah), dan siapa yang marah (berkeluh kesah), maka baginya kemurkaan (Allah).” [HR At-Tirmidzi, beliau berkomentar, “Hadits hasan.”]

Selain di atas, berbagai manfaat yang dapat diperoleh dalam musibah sangatlah banyak, di antaranya:

  • Sebagai pelebur dosa dan penghapus kesalahan
  • Sebagai peninggi derajat dan kedudukan di akhirat
  • Membuat jiwa semakin merasa kurang dalam menunaikan haq Allah
  • Sebagai pembuka pintu taubat dan menghinakan diri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla
  • Sebagai penguat dan pengerat hubungan seorang hamda dengan Rabb-nya
  • Kuatnya iman terhadap qadha’ dan qadar Allah, dan berkeyakinan bahwa tidak ada yang dapat memberi manfaat maupun meberikan bahaya selain Allah
  • Mengingatkan kepada tempat kembali dan bahwasannya dunia hanyalah tenpat singgah

Saudaraku, kaum muslimin yang saya cintai…

Namun demikian di atas, realita mengatakan bahwa ketika menghadapi ujian, manusia terbagi menjadi beberapa mancam:

  1. Terhalang dari kebaikan. Ia menghadapi ujian tersebut dengan keluh kesah, marah, berperasangka buruk kepada Allah, dan menuduh qadar sebagai biang keroknya.
  2. Orang yang diberi taufiq. Ia bersikap sabar dalam menghadapi ujian dari Allah dan berperasangka baik kepada-Nya.
  3. Ia menghadapi musibah dan ujian dengan penuh keridhaan, bahkan bersyukur karenannya. Inilah tingkatan terbaik dari sebelumnya.

Seorang yang beriman, seluruh perkaranya adalah baik. Ia berada dalam kebaikan dan afiat. Imam Muslim ‘merekam’ sebuah hadits yang indah, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

عجباً لأمر المؤمن إن أمره كله خير، وليس ذلك لأحد إلا للمؤمن: إن أصابته سراء شكر فكان خيراً له، وإن أصابته ضراء صبر فكان خيراً له

“Sangat menakjubkan perkara seorang mukmin itu. Semua urusannya adalah kebaikan. Dan yang demikian itu tidak dimiliki kecuali orang yang mukmin. Jika ia ditimpa kelapangan, niscaya ia bersyukur. Maka itulah yang terbaik baginya. Sedangkan jika ia ditimpa kesempitan, ia bersabar, dan itulah yang terbaik untuknya.”

Oleh karena itu ketika tertimpa suatu ujian, wajib bagi seorang yang mengaku beriman kepada Allah agar:

  • Meyakini bahwa ini semua dari Allah Ta’ala dan memasrahkannya kepada-Nya
  • Berkomitmen mengerjakan syariat dan tidak menyelisihi titah Allah, sehingga ia tidak marah dan memaki masa
  • Mengerjakan berbagai sebab yang bermanfaat untuk menghilangkan bala’
  • Meminta ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya atas dosa-dosa yang selama ini diterjang

بارك الله لي و لكم في القرآن العظيم، و نفعني و إياكم بما فيه من الآيات و الذكر الحكيم، أقول قولي هذا و أستغفر الله لي و لكم فاستغفروه يغفر لكم، إنه هو الغفور الرحيم

 

[Usai Khuthbah Pertama]

الله أكبر الله أكبر، لا إله إلا الله، الله أكبر، و لله الحمد، الحمد لله الكبير المتعال ذي الفضل و الإنعام، أحمده و أشكره و أثنى عليه الخير كله. و أصلى و أسلم على أشرف خلقه و سيد أنبيائه و رسله محمد عبد الله و رسوله صلى الله عليه و آله الطاهرين و صحابته أجمعين.

Sadaraku…

Berikut merupakan berbagai hal yang jika direnungkan oleh seorang hamba, niscaya ujian dan cobaan yang menimpanya merasa ringan dihadapi:

  1. Hendaknya kita mengetahui bahwa bala’ yang menimpa kita adalah suatu ketetapan untuk kita, tidak bisa tidak. Dan inilah yang terbaik untuk diri kita.
  2. Hendaknya kita mengetahui bahwa banyak orang yang juga ditimpa musibah semacam ini, bahkan ada yang lebih berat lagi. Sehingga kita merasa tidak sendiri menghadapi suatu musibah dan ujian.
  3. Hendaknya kita mengingat musibah besar yang menimpa seluruh umat Islam, berupa dicabutnya nyawa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang bertanda terputusnya wahyu.
  4. Pengetahuan kita terhadap apa yang Allah janjikan kepada orang yang sabar dalam menghadapi ujian dan cobaan. Di antaranya adalah firman-Nya, “Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” [An-Nahl: 94]

Firman-Nya di surat As-Sajdah ayat ke-24, “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami.”

Firman Allah di surat Al-A’raf ayat ke-137, “Dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka.”

Di ayat yang ke-10 dari surat Az-Zumar, Allah Ta’ala menjanjikan, “Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah Yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”

Di samping itu, baginda Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– juga mengatakan sebagaimana yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan An-Nasa’i, dari Abu Sa’id Al-Khudri –radhiyallahu ‘anhu-, “Tidaklah seorang hamba diberi pemberian yang lebih baik dan lebih luas melainkan kesabaran.”

Sementara itu Al-Hasan Al-Bashri –rahimahullah– pernah mengatakan, “Kesabaran merupakan salah satu dari perbendaharaan kebaikan. Allah tidak akan memberikannya kepada siapa pun kecuali kepada hamba yang mulia di sisi-Nya.”

Penulis Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin, Ibnu Qudamah Al-Maqdisi, meriwayarkan bahwa sebagian orang ‘arif biasa mengantongi sebuah kertas yang dilihatnya setiap saat. Dan dalam kertas tersebut terdapat ayat:

وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا ۖ وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ

Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami.” [QS Ath-Thur: 48]

  1. Boleh jadi Allah menguji kita dengan musibah ini untuk menolak keburukan dan bala’ yang lebih besar, sehingga Allah hanya menghendaki musibah ini.
  2. Musibah dan ujian ini membuka banyak pintu kebaikan, berupa kesabaran, harapan, dan menanti kelapangan. Semua hal itu bernilai ibadah.
  3. Boleh jadi selama ini kita ceroboh dalam menunaikan haq Allah dan tenggelam dalam kesemuan dunia, sehingga Allah ingin membangunkan dan menyadarkan kita dari ketidaksadaran kita ini.

Saudaraku…

Namun demikian, ketika kita tertimpa musibah, tidak berarti kita dilarang untuk melakukan sebab-sebab yang dapat menghilangkan musibah yang menimpa kita. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sendiri biasa melakukan sebab untuk meringankan dan menghilangkan musibah, sebagaimana yang akan segera kita lihat berikut. Dan di bawah ini adalah berbagai kiat untuk menghilangkan musibah:

Pertama, doa. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –rahimahullah– pernah mengatakan, “Doa meruapakan sebab untuk mengangkat bala’. Jika doa lebih kuat dari bala’, maka ia akan mengangkatnya, sedangkan jika lebih kuat bala’ daripada doa, maka tidak dapat mengangkatnya, namun akan meringankannya. Karenanya ada perintah mengerjakan shalat, doa,  istighfar, dan sedekah ketika terjadi gerhana dan terjadi berbagai hal besar.”

Kedua, shalat. Ketika Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tertimpa suatu hal berat, beliau segera mendirikan shalat. Diriwayatkan Ahmad.

Ketiga, bersedekah. Dalam sebuah atsar disebutkan, “Berobatlah dengan sedekah.”

Keempat, membaca kitab suci Al-Quran. “Dan Kami turunkan Al-Quran sebagai penawar dan rahmat kepada orang-orang yang beriman.”

                Kelima, berdoa dengan doa yang dituntunkan Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Allah Ta’ala mengatakan:

وبشر الصابرين الذين اذا أصابتهم مصيبة قالوا إنا لله وإنا اليه راجعون

“Dan berilah khabar gembira kepada orang-orang yang bersabar. Yaitu mereka yang jika tertimpa musibah, mereka mengatakan, ‘Sesungguhnya kita adalah milik Allah dan kepada-Nya lah kita akan kembali.’”

            Tidak ada orang yang tertimpa musibah, lalu kemudian ia membaca istirja’, melainkan Allah akan menggantikannya yang lebih baik untuknya.

سبحان ربك رب العزة عما يصفون و سلام على المرسلين و الحمد لله رب العالمين

Ket. : Khuthbah ini saya tulis berdasarkan kepercayaan Ustadzuna ‘Abdussalam [bin] Busyro [bin] ‘Abdul Mannan Secang, Lc. –hafizhahullah- satu tahun yang lalu kemudian dicoppy ke jama’ah shalat ‘idul adh-ha. Walhamdulillah. []

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s