Ketika Ulama Nusantara Mentafsirkan Kalimat Tauhid Lâ Ilâha Illallâh


Tauhid

Sebagaimana diketahui, bahwa syahadat merupakan kunci Islam. Setiap orang yang hendak memeluk Islam diwajibkan mengucapkan syahadat tersebut. Tentu saja tidak sekedar mengucapkan saja, namun juga harus mengetahui makna dan maksudnya serta mematuhi segala konsekuensinya.

Adapun tentang makna syahadat la ilaha illallah ialah tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, bukan seperti yang disalahpahami banyak orang yang hanya mengartikan tidak ada tuhan kecuali Allah. Makna yang benar inilah yang disepakati dan difahami ulama-ulama kita semenjak dahulu. Dan berikut adalah penjelasan ringkasnya.

Yang dimaksud dengan syahadat (أشهد) ialah aku mengakui dengan hatiku dan mengucapkan dengan lisanku. Karena syahadat adalah ucapan dan pengabaran apa yang ada dalam hati.[1]

Makna syahadat dan persaksian (لا إله إلا الله) ialah “tidak ada tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah”. Demikian makna yang paling tepat untuk syahadat tersebut. Adapun makna yang sering terdengar, bahwa tidak ada Tuhan selain Allah, maka kurang tepat dan malahan sangat fatal. Sebab, realita membuktikan bahwa ternyata ada tuhan-tuhan selain Allah yang disembah dan dipuja-puja. Ada pohon besar, ada batu, ada kuburan, ada akik, ada Ny. Roro Kidul, ada Ny. Blorong, ada kiai, dan ada-ada saja lainnya. Jika makna syahadat tersebut hanya sebatas ‘tidak ada tuhan selain Allah,’ maka konsekuensinya adalah tuhan-tuhan yang disembah tadi termasuk Allah. Sebab, jika dicermati lebih dekat, makna yang keliru ini ialah, tidaklah ada tuhan yang disembah dan dipuja-puja, kecuali itulah Allah. Mahasuci Allah terhadap apa yang mereka perasangkakan.

Oleh sebab itu sangat disayangkan manakala masyarakat Muslim didoktrin makna keliru semacam ini. Parahnya sebagian mereka asal ikut saja. Dan kesesatan hanya akan laku di pasar kebodohan.

Dan apabila diperhatikan, ulama-ulama Indonesia dari dahulu hingga sekarang pun sudah menggunakan arti yang benar di atas, bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah. Mari kita ambil contohnya.

  • Al-Ustadz Sulaiman Rasjid –rahimahullah– dalam buku fiqihnya bertajuk Fiqh Islam yang banyak dipelajari tidak saja di Indonesia, bahkan di Malaysia pula, ketika mengartikan syahadat (أشهد أن لا إله إلا الله) dalam azan, “Saya mengaku bahwa tidak ada tuhan yang sebenarnya patut di sembah melainkan Allah.”[2]
  • Al-Ustadz Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy (w. 1975) –rahmatullah ‘alaih– juga demikian mengartikan syahadat tersebut. Misalnya dalam Tafsir Al-Bayan, Tafsir An-Nur, dan buku Pedoman Dzikir & Doa.

Di tafsir ayat Kursi, beliau menjelaskan, “Allah yang diibadahi dengan sebenarnya, tidak ada tuhan yang diibadahi dengan sebenarnya, selain Dia.”[3]

  • Al-Ustadz A. Hassan Bandung (w. 1958) –rahmatullah ‘alaih– ketika mentafsirkan ayat Kursi dalam tafsirnya yang bertajuk Tafsir Al-Furqan[4] menjelaskan, “Allah itu, tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainakan Dia, Yang Maha Hidup, Yang Berdiri dengan sendiri-Nya.”

Dalam Syarah Bulugh Al-Maram[5], misalnya ketika beliau mentafsirkan hadits berikut,

أحب الكلام إلى الله أربع ، لا يضرك بأيهن بدأت : سبحان الله ، و الحمد لله ، و لا إله إلا الله

Katanya, “Ucapan yang amat disukai Allah, empat, yang engkau tidak dipandang salah dengan mana saja engkau mulai: Maha-suci Allah, dan segala puji kepunyaan Allah, dan tidak ada Tuhan yang sebenarnya melainkan Allah, dan Allah Maha Besar.”

Dikeluarkan-dia oleh Muslim.”

  • KRH Hadjid, murid termuda daripada KH Ahmad Dahlan, dalam bukunya, Pelajaran KHA Dahan: 7 Falsafah Ajaran & 17 Kelompok Ayat Al-Quran[6], menjelaskan lebih detail makna syahadat,

“Apa arti asyhadu alla- illa-hs illallah?

Arti kalimat syahadat ada tiga:

  • Aku menyaksikan, artinya aku ikrar mengakui dalam mulut, bahwa tidak ada sesembahan yang sebenarnya melainkan Allah Sendiri.
  • Aku percaya dalam hati dan membenarkan bahwa tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya kecuali Allah sendiri.
  • Artinya aku sanggup menyerahkan diri 100% menjunjung tinggi mengerjakan segala perintah-perintah mengamalkan arti kata La- ila-ha illallah dengan sebenar-benarnya.

Itulah arti syahadat yang sebenar-benarnya.”

  • Al-Ustadz Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani atau orang biasa mnyebutnya Nawawi Banten (w. 1314 H/1897 M) –rahimahullah– dalam tafsirnya[7] yang bertajuk Maroh Labid Li Kasyf Ma’na Quran Majid atau At-Tafsir al-Munir Li Ma’alim at-Tanzil Al-Musfir ‘An Wujuh Mahasin At-Ta’wil ketika mentafsirkan (لا إله إلا) mengatakan, “Maksudnya, tidak ada sesembahan yang benar yang ada di alam ini (إلا هو) kecuali Dia.”

Dalam kitab-kitabnya yang pun beliau mengartikan demikian. Misalnya di Kasyifah As-Saja yang tak lain merupakan komentar untuk kitab Safinah An-Naja pada halaman ke-14.[8]

  • Syaikh Salim bin ‘Abdullah bin Sa’d bin Sumair Al-Hadhrami Al-Batawi (w. 1271 H) penulis Safinah An-Naja Fima Yajib ‘Ala Al-‘Abd Li Maulah berkata demikian,

فصل : معنى لا إله إلا الله : لا معبود بحق في الوجود إلا الله

“Makna (لا إله إلا الله) ialah tidak ada sesembahan yang haq di alam semesta ini kecuali Allah.”

  • Syaikh Ahmad bin ‘Abdul Lathif Al-Khathib Al-Minangkabawi (w. 1334), imam, khathib, sekaligus pemateri di Masjidil Haram, menjelaskan dalam An-Nafahat ‘ala Syarh Al-Waraqat[9], “(لا إله إلا الله) dimaksudkan Tuhan yang disembah dengan benar. Namun jika dimaksudkan mutlak sesembahan, tentu yang ada malah kedustaan. Sebab, banyak tuhan-tuhan lain yang disembah secara tidak benar… Jika demikian, apa manfaatnya kalimat tauhid?!”
  • Syaikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah At-Tarmasi (w. 1338) berkata dalam Mauhibah Dzi Al-Fadhl ‘ala Syarh Ibn Hajar Muqaddimah Ba Fadhl (I/58)[10], “Ucapannya (لا إله إلا الله), artinya tidak ada tuhan yang haq di jagad raya ini selain Allah.”
  • Syaikh Ahmad bin Shiddiq al-Lasemi berkata pula dalam manzhumahnya untuk Safinah An-Naja yang bertajuk Tanwir Al-Hija[11],

معناهما اعلم صدقن و عتقدا * أن ليس معبود بحق وجد

إلا الله الواحد الفرد الصــــمد * …………………………

“Maknanya ialah ketahuilah, benarkanlah, dan yakinlah bahwa tidak ada sesembahan yang haq kecuali Allah, Yang Mahaesa, Mahatunggal, Dzat yang dituju semua makhluk.”

  • Dalam Sullam Al-Mubtadi fi Ma’rifah Thariqah Al-Muhtadi[12], Syaikh Dawud bin ‘Abdullah Al-Fathani (w. 1265) menjelaskan, “Dan maknanya engkau ketahui akan dia, dan i’tiqadkan akan dia, dan percaya ia, dan membenarkan dia akan bahwasannya tiada Tuhan yang disembah dengan sebenar-benarnya daripada wujud ini melainkan Allah, Tuhan yang Esa lagi Tunggal di dalam keesaan-Nya.”

Berikutnya Syaikh Muhammad Nur bin Muhammad Isma’il Al-Fathani[13] (w. 1363) menjelaskan sedikit lebih detail dalam Kifayah Al-Muhtadi[14], “Karena pada makna (لا إله إلا الله) itu menafikan ketuhanan daripada yang lain daripada Allah dan menetapkan ketuhanan itu bagi-Nya jua.”

  • Musnidul ‘Ahsr Syaikh Abul Faidh Al-Fadani (w. 1410) mengatakan dalam Al-Fawaid al-Janiyyah[15], “Maksudnya ialah tidak ada sesembahan yang haq melainkan Allah semata.”
  • Syaikh Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Fadani Al-Marbawi berkata dalam Bahr Al-Maadzi Syarh Mukhtashar Shahih At-Tirmidzi (IX/146) ketika menjelaskan potongan hadits di atas, “Islam pada syara’ itu ialah menurut dan menjunjung buat segala amal yang wajb lagi yang zhahir, sebagaimana diterangkan oleh Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan sabdanya, ‘Naik saksi akan tida tuhan yang disembah dengan sebenarnya di dalam wujud melainkan Allah dan bahwasannya Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– itu hamba Allah dan pesuruh-Nya.’”

Sengaja penulis menukil banyak ucapan ulama-ulama Indonesia agar pembaca yang budiman tahu bahwa dakwah yang selama ini kami serukan, khususnya agar lebih berhati-hati dalam mengambil ‘aqidah, bukanlah sesuatu yang baru. Sudah sejak lama didengungkan oleh pembesar-pembesar kita di masa silam.

[1] Syarh Al-Arba’in An-Nawawiyyah (hlm. 23) karya Ibnu ‘Utsaimin.

[2] Fiqh Islam (hlm. 65). Perlu diketahui bahwa buku ini diberi kata sambutan oleh Buya Hamka.

[3] Tafsir Al-Bayan hlm. 42, cet. Pustaka Rizki 212.

[4] Tafsir Al-Furqan (hlm. 81), Pustaka Tamaam Bangil 2014..

[5] Syarh Bulugh Al-Maram hlm. 699, cet. ke XXVIII Diponegoro 2011.

[6] Pelajaran KHA Dahlan (hlm. 137).

[7] Maroh Labid (I/93).

[8] Cet. Dar Al-Kutub Al-Islamiyah 1429 H.

[9] Hlm. 7 cet. Dar Al-Kutub Al-‘Arabiyyah Al-Kubra Mesir 1332 H dengan tash-hih Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawi.

[10] Cet. Dar Al-Minhaj Jeddah.

[11] Hlm. 5 bersama syarahnya Inarah Ad-Duja karya Muhammad ‘Ali bin Husain Al-Maliki Al-Makki cet. Mushthafa Al-Babi Al-Halabi wa Auladuh 13 Muharram 1379 H/19 Juli 1959 M.

[12] Hlm. 2-3.

[13] Beliau termasuk salah satu ulama Ahlussunnah yang menandatangani piagam kesepakatan ‘aqidah Ahlussunnah yang kemudian diterbitkan dalam judul Al-Bayan Al-Mufid Fima Ittafaqa ‘Alaih ‘Ulama Nejd min ‘Aqaid At-Tauhid. Lihat biografinya di Manaqib Asy-Syaikh Muhammad Nur bin Isma’il Al-Fathani oleh Muhammad bin Muhammad Nur Al-Fathani, Siyar wa Tarajim karya ‘Umar ‘Abdul Jabbar, Faidh Al-Malik Al-Wahhab Al-Muta’ali, Al-Mukhtahsar min Nasyr An-Nur wa Az-Zahar karya ‘Abdullah Abul Khair Mirdad, Nazhm Ad-Durar karya ‘Abdullah bin Muhammad Al-Ghazi Al-Makki, dan Muhammad Nur Al-Fathani Ketua Ulama Jawa di Makkah oleh Firman Hidayat Marwadi di Muslim.Or.Id.

[14] Hlm. 9.

[15] (I/25) cet. Dar Al-Basyair Al-Islamiyyah Beirut.

Iklan

One response to “Ketika Ulama Nusantara Mentafsirkan Kalimat Tauhid Lâ Ilâha Illallâh

  1. PENGAKUAN ISLAM.. ” LA ILAHA ILLALLAH ” ADALAH KALIMAT TAUHIDUL DZAT MAHASUCI YANG TIDAK BERBENTUK SEPERTI MAKHLUK ATAU MANUSIA ATAU PUN PATUNG BERHALA YANG MEREKA SEKUTUKAN..!!! ” MUHAMADAR RASULALLAH ” ADALAH KALIMAT TAUHIDUL SIFAT YANG TERPUJI YANG PERLU KITA IKUTI..!!! SHOLAWAT DAN SALAM.!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s