Perkembangan Tafsir Al-Quran di Nusantara (1)


Indonesia

Al-Quran merupakan mukjizat teragung yang dianugerahkan kepada baginda Muhammad ﷺ yang berlaku hingga akhir zaman kelak. Kemukjizatannya tidak dapat dipastikan sampai di mana, dari mulai susunan kalimat, bahasa, jumlah huruf, susunan kata, kandungan, dan seterusnya. Kemukjizatannya ada yang sudah diketahui, dan banyak yang belum diketahui. Siapa pun yang memperhatikannya, ia akan menemukan begitu banyaknya keajaiban yang ada dalam Al-Quran.

Seluruh kebututahan manusia, seluruhnya terdapat dalam Al-Quran. Segala problematika yang dihadapi manusia, solusinya sudah dipecahkan dalam Al-Quran. Al-Quran akan menuntut siapa saja yang komitmen mengikutinya menuju kehidupan yang lebih bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Apatah lagi bagi masyarakat Muslim. Mereka tidak akan pernah bisa terlepas dari Al-Quran. Sama sekali tidak akan pernah bisa. Bahkan jika sekiranya sebentar lagi berpisah dari Al-Quran, terasa ada sesuatu yang tidak lengkap dalam kehidupan. Itulah Al-Quran.

Undang-undang kehidupan pun terdapat dalam Al-Quran. Al-Quran lah yang mengarahkan manusia menuju kebaikan dan mencegah manusia dari segala sesuatu yang membahayakan serta merugikan. Tentu saja dengan penjelasan dan kaidah yang sudah ditetapkan baginda Rasulullah ﷺ. Maka tidak mungkin bagi seorang Muslim yang hendak menjalankan keislamannya secara lebih sempurna kecuali dengan kehadiran Al-Quran dan As-Sunnah. Oleh sebab itu tidak heran jika keberadaannya cepar berkembangan di suatu komunitas Muslim meski masih bersekala kecil. Di Indonesia pun demikian. Dan inilah yang akan menjadi topik pembicaraan kita kali ini.

Adapun keutamaan Al-Quran, sungguh tidak dapat lagi terhitung. Banyak nas-nas yang membicarakan dan membicarakan keutamaan Al-Quran. Bahkan tidak sedikit dari kalangan ulama yang sengaja membukukan keutamaan Al-Quran. Antara lain kitab-kitab yang membahas tema ini ialah Fadhail Al-Quran karya Ibnu Katsir, Fadhail Al-Quran karya Abu ‘Ubaid, Fadhail Al-Quran karya Al-Faryabi, Fadhail Al-Quran karya Al-Mustaghfiri, Fadhail Al-Quran karya An-Nasa’i, Kitab Fadhail Al-Quran karya Muhammad bin ‘Abdul Wahhab At-Tamimi, Fadhail Al-Quran wa Tilawatih wa Khashaishih wa Tulatih wa Hamalatih karya Abul Fadhl Ar-Razi (371-454), Fadhail Al-Quran wa Ma Unzila min Al-Quran Bi Makkah wa Ma Unzila Bi Al-Madinah karya Al-Bajali (w. 294), Faidh Al-Mu’in ‘ala Jam’ Al-Arba’in fi Fadhl Al-Quran Al-Mubin karya Mulla ‘Ali bin Sulthan Muhammad Al-Qari (w. 1014 H), dan banyak lagi lainnya.

Sebagaimana yang telah saya singgung di atas, bahwa Al-Quran bertindak sebagai undang-undang kehidupan manusia, maka Al-Quran mutlak harus diketahui dan dipelajari setiap Muslim yang mukallaf, tanpa terkecuali. Jika ada seorang Muslim yang tidak mengetahui bahasa ‘Arab, maka ia harus berusaha bertanya kepada ulama yang sudah terpercaya keilmuannya atau membaca tafsir Al-Quran versi bahasanya yang dapat ia fahami. Masyarakat Muslim di kepulauan Nusantara sendiri merupakan bangsa non-‘Arab yang tentu saja banyak di antara mereka yang tidak dapat memahami bahasa ‘Arab. Maka dari itu, para ulama di kepulauan ini  sudah sedari lama mengupayakan untuk memecahkan keadaan ini. Mereka merasa terpanggil untuk mengajari manusia aturan-aturan agama mereka. Berangkat dari sini, para ulama pun beramai-ramai berusaha mengajari masyarakat Muslim akan Al-Quran. Salah satu usaha itu adalah dengan mentafsirkan Al-Quran dengan bahasa lisan setempat agar dapat dibaca dan dipahami masyarakat yang belum mampu memahami bahasa asli Al-Quran.

Dan berikut merupakan segelintir tokoh terkemuka Muslim Nusantara yang tercatat sejarah sebagai pentafsir Al-Quran. Akan tetapi menimbang beberapa hal, ada pula tafsir Al-Quran berbahasa ‘Arab yang saya cantumkan di sini supaya kita tidak lekas melupakannya.

  • Turjuman Al-Mustafid fi Tafsir Al-Quran Al-Majid

Kitab tafsir ini ditulis dan disusun oleh seorang qadhi Kerajaan Aceh bernama Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Fanshuri As-Sinkili Al-Jawi (w. 1693 M). Penulisan tafsir ini didasarkan antara lain kitab Anwar At-Tanzil atau yang lebih dikenal dengan Tafsir Al-Qadhi Al-Baidhawi, Tafsir Al-Jalalain karya Imam Jalaluddin Al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Al-Khazin, dan lainnya.

Turjuman Al-Mustafid terdiri dari 2 jilid besar yang dicetak bersamaan dengan Al-Quran di tengahnya. Tafsir ini memperoleh sambutan luar biasa dari masyarakat Muslim Melayu, bahkan oleh Daulah ‘Utsmaniyyah. Daulah Islam saat itu pun bahkan tidak sungkan-sungkan mencetaknya dalam jumlah besar meski mereka tidak memahaminya karena memang bukan bahasa ‘Arab, melainakan bahasa Melayu. Namun karena perhatian sang Sulthan terhadap tafsir tersebut serta kaum Muslim Melayu, kitab tafsir agung tersebut pun dicetak dan tersebar ke seluruh daerah di kepulauan Nusantara. Dan perlu diketahui pula, bahwa sebelum akhirnya dicetak, tafsir ini terlebih dahulu ditas-hih oleh ulama besar Melayu yang pakar di banyak keilmuan, beliaulah Syaikh Ahmad bin Muhammad Zain Al-Fathani –rahimahullah-. Citakan Sulthan ini di kemudian hari dicetak ulang oleh Maktabah wa Mathba’ah Sulaiman Mar’i Singapura dengan tas-hih ulang oleh Syaikh Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Marbawi Al-Azhari dan dimuraja’ah oleh pakar Al-Quran Mesir bernama Syaikh ‘Ali Muhammad Adh-Dhabba’. Selain itu, Turjuman Al-Mustafid juga dicetak di Maktabah wa Mathba’ah Musthafa Al-Babi Al-Halabi Mesir, Haidar Abad Bombay India, dan lainnya. Sedangkan untuk masa sekarang ini, Khazanah Fathaniyah Kualalumpur berusaha mencetakualang tafsir ini dengan didasarkan cetakan Konstatinipel Turki di atas.

  • Tafsir Hasyimi

Kitab ini, seperti dinukilkan oleh Dr. Mahmud ‘Abdurrahman Kedah –dosen Universitas Islam Madinah- ditulis pada abad ke-17 M oleh pengarangnya, yaitu Syaikh Muhammad Hasyim bin ‘Abdul Ghani yang berasal dari Pulau Penang.

Tafsir yang terdiri dari satu jilid ini diberi judul Tafsir Hasyimi dengan melihat penulisnya yang bernama Hasyim. Penulisannya dilakukan pada 25 Syawwal 1098 H/1686 M. Sedangkan metode penafsirannya dapat dikatakan persis dengan metode Syaikh ‘Abdurrauf bin ‘Ali Al-Fanshuri dalam Turjuman Al-Mustafid. Sedangkan untuk cetakannya, diriwayatkan dicetak di Bombay India dalam satu jilid, seperti yang saya kemukakan di atas.

  • Tafsir Muroh Labid

Tafsir ini dikenal memiliki dua nama lain selain di atas, yaitu At-Tafsir Al-Munir Li Ma’alim At-Tanzil Al-Musfir ‘an Wujuh Mahasin At-Ta’wil dan Tafsir Nawawi Al-Jawi. Sedangkan nama yang diberikan penulisnya sendiri adalah Muroh Labid Li Kasyf Ma’na Quran Majid. Kitab yang terdiri dari dua jilid besar ini ditulis oleh seorang ulama besar asal Banten yang oleh dunia Islam dikenal dengan gelar Sayyid ‘Alim Al-Hijaz atau Sayyid ‘Ulama Al-Hijaz, seperti yang diriwayatkan oleh Al-Ustadz Khairuddin Az-Zirikli dalam Al-A’lam, beliaulah Syaikh Abu ‘Abdil Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin ‘Arabi bin ‘Umar Al-Jawi Al-Bantani –rahimahullah– yang oleh orang-orang Jawa biasa dikenal Kyai Nawawi Banten.

Dalam muqaddimah-nya, penulis menerangkan faktor yang mendorongnya berani menulis tafsir ini, yaitu permintaan dari sebagian orang-orang yang berkedudukan mulia di sekitarnya. Mendapat permintaan tersebut, penulis tidak serta merta mengabulkan permintaan karena khawatir terjerembak dalam sebuah hadits yang menyatakan,

“Siapa yang mengatakan tentang Al-Quran menurut akalnya, (meski pun) benar tapi tetap saja salah.”

(HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi). Dan juga hadits,

“Siapa yang mengatakan tentang Al-Quran dengan mendasarkan akalnya, sebaiknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.”

(HR At-Tirmidzi).

Akan tetapi karena keinginan mengikuti kaum Salaf dalam hal membukukan ilmu agar lebih kekal dinikmati manuisa, penulis pun bergegas mengabulkan permintaan tersebut.

Sedangkan sumber tafsir, sebagaimana dipaparkan dalam muqaddimah, antara lain penulis menyebutkan lima, yaitu Al-Futuhat Al-Ilahiyyah Hasyiyah Tafsir Al-Jalalain karya Al-Jamal, Mafatih Al-Ghaib atau At-Tafsir Al-Kabir karya Ar-Razi yang oleh sebagian ulama dikatakan segala sesuatu ada dalam tafsir ini kecuali tafsir, As-Siraj Al-Munir fi Al-I’anah ‘ala Ma’rifah Ba’dh Ma’ani Kalam Rabbina Al-Hakim Al-Khabir karya Syaikh Muhammad bin Ahmad Asy-Syirbini, Tanwir Al-Miqbas min Tafsir Ibn ‘Abbas karya Al-Fairuzabadi, dan Tafsir Abi As-Sa’ud Muhammad bin Muhammad Al-‘Imadi (w. 982 H) yang berjudul Irsyad Al-‘Aql As-Salim ila Mazaya Al-Quran Al-Karim.

  • Faidh Ar-Rahman fi Tafsir Al-Quran

Penulsinya merupakan ulama besar asal Semarang yang memiliki banyak murid yang di kemudian hari memainkan peranan penting dalam pertumbuhan intelektual tidak saja di kepulauan Nusantara, namun hingga manca negara, salah satunya adalah Syaikh Muhammad Mahfuzh bin ‘Abdullah Al-Jawi At-Tarmasi. Siapakah gerangan? Siapa lagi kalau bukan Al-‘Allamah Muhammad Shalih bin ‘Umar As-Samarani –rahimahullah-. Diriwayatkan bahwa kitab tafsir Faidh Ar-Rahman merupakan tafsir pertama yang ditulis dalam bahasa Jawa (dengan tulisan ‘Arab). Perlu diketahui bahwa di zaman penulis, pemerintah kafir Belanda sangat melarang Al-Quran diterjemahkan ke dalam bahasa daerah, walaupun tidak melarang masyarakat Muslim mempelajarinya. Nah, di saat situasi semacam ini Syaikh lah yang kali pertama membantah larangan ini dengan tindakan langsung, yaitu dengan ditulisnya tafsir ini. Memang ulama kita satu ini benar-benar perhatiannya pada umat tidak tanggung-tanggung. Khidmatnya luar biasa. Di dunia tulis-menulis beliau berhasil mewariskan banyak karya ilmiah pada umat. Hingga saat ini, kitab-kitab susunan beliau masih banyak dipelajari, meskipun ada beberapa titik kesalahan yang dimuatnya seperti umumnya manusia normal lainnya.

  • Tafsir Nur Al-Ihsan

Tafisr kita kali ini diusahakan oleh ulama yang menjabat sebagai qadhi Jitra, Kedah, yang bernama Al-Qadhi Muhammad Sa’id bin ‘Umar bin Aminuddin bin ‘Abdul Karim (1275-1350 H) –rahimahullah-. Kitab tafsir ini bisa dikatakan termasuk kitab tafsir termasyhur di kepulauan Nusantara yang masih dipergunakan hingga kini, utamanya di Malaysia. Untuk edisi cetaknya, dapat dijumpai dicetak dalam 4 jilid yang jika ditotal keseluruhan halamannya adalah setebal 1544 halaman. Salah satu penerbit yang kali pertama menerbitkannya ialah Mathba’ah Dar Al-Kutub Al-‘Arabiyyah Mesir pada tahun 1349 H.

  • Tafsir Al-Marbawi

Sesuai dengan judul terkenalnya, tafsir ini memang ditulis oleh Syaikh Muhammad Idris bin ‘Abdurrauf Al-Marbawi Al-Azhari yang terkenal karena sumbangan ilmu dan waktunya yang begitu besar untuk kepentingan masyarakat Muslim, Muslim Melayu khususnya. Betapa tidak? Beliau inilah yang mengenalkan banyak hal terutama dunia intelektual berupa kitab-kitab cetakan ke dunia Melayu. Beliau sendiri memiliki percetakan sendiri di Mesir yang lazim disebut Mathba’ah Al-Anwar. Dari percetakan muncul banyak kitab-kitab ke dunia Melayu, salah satunya Syarah Al-‘Aqidah Ath-Thahawiyyah karya Syaikh ‘Abdul Qadir bin ‘Abdul  Muthalib Al-Mandili As-Salafi –rahimahullah-. Sedangkan karya Al-Marbawi sendiri yang paling fenomenal adalah Bahr Al-Madzi syarah Shahih At-Tirmidzi sebesar 11 jilid atau 22 juz, Kamus Al-Marbawi, Syarah Bulughul Maram, dan tafsirnya.

Tentang kitab tafsirnya, ada yang memperkatakan bahwa beliau tidak sempat menulis hingga 30 juz, beliau hanya mentafsirkan beberapa surat Al-Quran, antara lain Tafsir Surat Yasin yang diambilkan dari Fath Al-Qadir Al-Jami’ Baina Fannai Ad-Dirayah wa Ar-Riwayah min ‘Ilm At-Tafsir karya Al-Qadhi Muhammad bin ‘Ali Asy-Syaukani –rahimahullah-, Tafsir Al-Fatihah, dan Tafsir Juz ‘Amma.

  • Tarjamah Al-Quran Al-Karim

Kata Dr. Mahmud ‘Abdurrahman Kedah –dosen Universitas Islam Madinah-, kitab tafsir ini ditulis oleh Syaikh Haji B. Jasin dan dicetak di Indonesia pada tahun 1362 H/1942 H di Indonesia.

  • Tafsir Al-Khazin

Penulisnya adalah Syaikh Haji ‘Umar bin Isma’il Nuruddin yang hidup antara rentang waktu 1287 H/1867 M-1366 H/1946 M.

  • Tafsir Hidayah Ar-Rahman

Sumbangan KH Moenawaw Chalil di dunia Islam tidaklah perlu diragukan lagi. Disamping tafsir Al-Quran di atas yang disusunnya dalam bahasa Jawa, beliau juga tercatat berhasil menyelesaikan Kelengkapan Tarikh Muhammad ﷺ sebesar 4 jilid besar (cet. Gema Insani Press), Kembali Kepada Al-Quran dan As-Sunnah, Biografi Empat Serangkai Imam Madzhab, Fiqih Islami, dan lain sebagainya. Walaupaun banyak di antaranya yang sudah tersembunyi dari publik, akan tetapi pengaruhnya masih tetap dapat dirasakan, terutama kitab sejarahnya yang paling masyhur itu.

  • Tafsir Al-Quran Al-Karim

Kitab tafsir ini diselenggarakan oleh 3 ulama hebat asal Sumatera Utara yang masing-masing bernama Syaikh ‘Abdul Halim Hassan Binjai, Syaikh Zainal ‘Arifin ‘Abbas, dan Syaikh ‘Abdurrahim Haitami –rahimahumullah-. Oleh karena kehebatan tafsir ini sehingga tercatat telah dicetak berkali-kali, pertamanya pada tahun 1368 H/1948 M.

Corak pentafsiran yang dipaparkan dalam tafsir ini boleh diakatakan mengikuti Tafsir Al-Manar karya Sayyid Muhammad Rasyid Ridha yang membawa nafas kemasyarakatan, yaitu mengupas berbagai problematika masyarakat modern saat di masanya. Sedangkan dalam masalah fiqih, para penulis tidaklah menganut madzhab taqlid buta, akan tetapi ketigannya lebih mengarah ke madzhab yang lebih moderat. Apa saja yang sesuai dalil, diambil, sementara yang keluar dari jalur kebenaran ditolak tanpa syarat. Apalagi Syaikh ‘Abdul Halim Binjai yang terlihat jelas telah menampakkannya dalam kitabnya yang berjudul Tafsir Al-Ahkam, sebuah tafsir yang hanya membahas ayat-ayat hukum fiqih.

  • Al-Furqan fi Tafsir Al-Quran

Syaikh A. Hassan Bandung. Siapa yang tak mengenalnya. Siapa pun pasti mengetahuinya. Bagaimana sepak terjangnya dalam mendakwahkan Sunnah di tengah masyarakat yang sudah terlanjur jumud, bagaimana tegarnya membela al-haq, bagaimana usahanya mendekatkan umat kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Walaupun jasadnya sudah lama tidak terlihat di muka bumi, akan tetapi perjuangannya masih dapat diraba. Seakan-akan beliau masih berada di tengah-tengah kita. Ya, itulah cermin ulama tanpa pamrih yang mewakafkan sebagian besar umurnya untuk kepentingan Islam dan kaum Muslim. Ah. Hassan Bandung, begitu orang memanggilnya. Cukuplah saya sebutkan beberapa karangannya di sini yang akan membuat pembaca yang budiman cukup merasakan ketokohannya, antara lain Syarah Bulughul Maram, Soal-Jawa 1-4, Al-Burhan, Al-Faraidh, Kitab Pengajaran Shalat, Apa Dia Islam?, ‘Aqaid, At-Tauhid, Debat Kebangsaan, Debat Luar Biasa, Debat Riba, Dosa-dosa Yesus, Halalkah Bermazhab?, Isa Disalib?, dan banyak lagi lainnya mencapai ratusan.

Sedangkan tafsirnya yang bertajuk Al-Furqan, awal mulanya diterbitkan berseri di sebuah majalah. Kemudian penulis menyusunnya dalam sebuah buku tersendiri namun sempat terhenti karena satu dan lain hal. Lantas, pada waktu telah luang penulis pun berusaha melanjutkan tafsirnya hingga benar-benar sempurna dan sampau terbit, yakni pada tahun 1928 M. Kitab ini memperoleh sambutan hangat dari seluruh lapisan masyarakat umum dan kaum intelektual. Banyak ahli yang sudah mencurahkan khitmatnya untuk tafsir ini, seperti yang terakhir diterbitkan menurut Ejaan yang Disempurnakan (EYD), walaupun edisi aslinya pun masih tetap bisa dijumpai dengan mudah. Tidak ketinggalan puteranya sendiri yang bernama Syakh ‘Abdul Qadir Hassan –rahimahullah–  turut berkhitmat pada tafsir ini dengan membuat fihris atau semacam daftar isi secara lebih detile.

Satu hal lagi yang kiranya perlu diketahui di sini ialah langkah Syaikh A. Hassan sebelum mulai mentafsirkan Al-Quran, yaitu dengan menyisipkan muqaddimah yang terdiri dari 35 pasal berkenaan dengan ulumul quran, yaitu beberapa ilmu Quran yang seyogyanya diketahui setiap orang yang hendak membaca tafsir Al-Quran agar di tengah perjalanan tidak menyandung batu kebingungan. Kemudian, di tengah tafsir, penulis juga tidak jarang membubuhi keterangan tambahan di tempat-tempat yang menurutnya layak diimbuhi. Keterangan-keterangan itu ditulisnya dalam format footnote, catatan kaki.

 

Bersambung…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s