Biografi Syaikh Aman Palembang, Ulama Masjidil Haram


Masjidil Haram

Sejak masa Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-10 M, para pedagang Muslim dari Timur Tengah kerap menjalin hubungan dagang dengan masyarakat Nusantara, salah satunya yang cukup kuat adaah dengan masyarakat Palembang. Dalam beberapa kesempatan, mereka dimanfaatkan oleh para penguasa Sriwijaya sebagai utusan dalam misi diplomatik ke luar negeri. Namun, Islam menyebar dengan cepat baru dalam abad-abad menjelang jatuhnya Sriwijaya pada abad ke-14. Dan Palembang menjadi kubu Islam yang kuat dengan bangkitnya Kasultanan Palembang pada awal abad ke-17.[1]

Nampak Sultan Palembang mempunyai perhatian besar terhadap agama, dan mereka memotifasi tumbuhnya pengetahuan dan keilmuan Islam di bawah patronase mereka. Para sultan itu nampaknya melakukan usaha-usaha tertentu untuk menarik para ulama Arab agar mau tinggal di Palembang. Dampaknya, para migran Arab, utamanya Hadhramaut mulai berdatangan ke Palembang dalam jumlah yang semakin bertambah sejak abad ke-17 M.

Orang-orang Arab itu tentu telah memainkan peran penting dalam berkembangnya tradisi pengetahuan dan keilmuan Islam di wilayah Palembang. Sehingga tidak heran misalnya banyak ulama-ulama masyhur yang terus bermunculan dari kota ini.  Di antara mereka ialah Ja’far bin Muhammad bin Badruddin Al-Falimbani, ‘Aqib bin Hasanuddin bin Ja’far Al-Falimbani, Thayyib bin Ja’far Al-Falimbani, ‘Abdush Shamad bin ‘Abdurrahman Al-Falimbani, Syihabuddin bin ‘Abdullah Muhammad Al-Falimbani, Kemas Fakhruddin Al-Falimbani, Kemas Muhammad bin Ahmad, Muhammad Muhyiddin bin Syihabuddin, Fathimah binti ‘Abdush Shamad Al-Falimbaniyyah, ‘Abdullah Azhari Al-Falimbani, Wahyuddin bin ‘Abdul Ghani Al-Falimbani, Aman bin Al-Khathib ‘Abdul Karim, Muhammad Husain bin ‘Abdul Ghani Al-Falimbani, dan banyak lagi lainya.

Pada kali ini kita akan menelusuri agak panjang perjalanan intelektual salah satu dari mereka, yaitu Syaikh Aman Al-Falimbani. Beliau terlahir pada tahun 1296 H di kampung Muara Penang. Pada usianya yang baru ke-14 tahun, yaitu pada tahun 1310 H, Aman sudah mengadakan perlawatan ke Makkah Al-Mukarramah dalam rangka menuntut ilmu, sebagaimana tradisi umumnya para penuntut lainnya.

Di Tanah Suci ini, Aman berguru pada sejumlah ulama besar kala itu, seperti:

  • Sayyid Abu Bakar bin Muhammad Zainuddin Ad-Dimyathi, penulis Hasyiyah I’anah Ath-Thalibin
  • Syaikh ‘Umar bin Abu Bakar Bajunaid Al-Makki Asy-Syafi’i (w. 1354)
  • Syaikh ‘Abdul Qadir bin Shabir Al-Mandili (w. ?)[2]
  • Syaikh ‘Umar bin Shubh Sumbawa
  • Syaikh Muhammad Mukhtar ‘Atharid Al-Jawi (w. 1349), penulis Syarh atau Ta’liqat ‘ala Jami’ At-Tirmidzi
  • Syaikh ‘Abdurrahman bin Ahmad bin As’ad bin Ahmad bin Tajuddin Ad-Dehan (w. 1337)

Ternyata meski sudah berguru pada ulama-ulama besar Makkah Al-Mukarramah, belum juga membut dahaga Aman akan ilmu keagamaan dengan pelbagai cabangnya terobati. Oleh karena itu, kiranya ia merasa perlu untuk mendalaminya. Berangkat dari situ, ia kembali mengadakan perjalanan lagi ke luar Hijaz. Kali ini ternyata pilihan perjalanannya jatuh ke negeri Nabi Musa –‘alaihissalam-, Mesir Al-Mahrusah. Di negeri barunya ini, ia nyantri kepada sejumlah ulama Al-Azhar saat itu.

Pada tahun 1337 H, Aman mulai membuka pengajian. Ia pun dengan sangat tulus menjadikan rumahnya sendiri sebagai tempat berlangsungnya pengajian itu. Jadilah rumahnya sekan berubah laksana madrasah yang didatangi banyak pelajar dari berbagai wilayah. Berkat karunia Allah kemudian berkat jerih payah Syaikh Aman, mulailah nampak hasilnya. Banyak orang-orang yang menghadiri pengajiannya itu di kemudian hari meneruskan perjuangan menegakkan kalimat Allah yang Mahatinggi, seperti:

  • Syaikh Husain ‘Abdul Ghani Palembang, pemateri di Masjidil Haram dan di madrasah-madrasah negeri Kerajaan Saudi Arabia
  • Al-Ustadz Zainal ‘Arifin, pegawai di Kementrian Indonesia Untuk Luar Negeri
  • Al-Ustadz Nuruddin Kemas ‘Alawi
  • Al-Ustadz Amin ‘Ali Pangeran

Syaikh Aman sering melakukan safar ke Indonesia. Ia dikenal sebagi sosok ulama yang tidak pernah bosan menjalani aktifitas dakwah dan mengajar di tengah perjalanan-perjalanan yang beliau lakukan.

Dalam pada perjalanannya kembali ke Makkah, Syaikh Aman berkesempatan melewati India dan beberapa negeri Arab. Terakhir beliau melakukan perlawatan ialah ke Indonesia pada tahun 1361 H. Saat beliau berada di tanah kelahirannya, Palembang,  pada tahun 1362 H, beliau menjumpai ajalnya. Semoga Allah merahmati Syaikh Aman.

Syaikh Aman terkenal sebagi sosok yang suka menjaga diri dan tawadhu’. Siapa pun yang mengenalnya, pasti mencintainya.

Syaikh Aman meninggalkan banyak keturunan, di antara mereka ada yang hafal Al-Quran. Mereka adalah Muhammad Aman dan ‘Ali Aman. []

 

Kepustakaan:

  • Al-Jawahir Al-Hissan Fi tarajim al-Fudhala’ Wa Al-A’yan, Zakariya bin ‘Abdullah Bela Al-Indunsisi Al-Makki, Yayasan Al-Furqan 1427 H
  • A’lam Al-Makkiyyin, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al-Mu’allimi, Yayasan Al-Furqan 1421 H
  • Bulugh Al-Amani Fi At-Ta’rif Bi Syuyukh Al-Fadani, Mukhtaruddin bin Zainal ‘Abidin Al-Falimbani, Dar Qutaibah 1408 H
  • Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad XVII & XVIII, Azyumardi Azra, Prenada 2007 M

[1] Jaringan Ulama Timur Tengah dan Nusantara Abad XVII & XVIII (hlm. 304).

[2] Al-Jawahir Al-Hissan (I/…) dan A’lam Al-Makkiyyin (II/925).

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s