Mengambil Pelajaran dari Hilangnya Kitab Ad-Durr Al-Mandhud Karya Abul Faidh Al-Fadani


Al-Harrani

Bagi penuntut ilmu, terutama ilmu hadits dirayah wa riwayah, kitab Ad-Durr Al-Mandhud Syarh Sunan Abi Dawud karya Al-Musnid ‘Alamuddin Abul Faidh Muhammad Yasin bin Muhammad ‘Isa Al-Fadani Al-Makki tentu tidaklah asing. Kitab tersebut seperti nampak jelas pada judulnya, merupakan penjelasan lebih lanjut untuk Sunan Abi Dawud. Penulisnya biasa menulis setelah selesai memberikan pengajian Sunan Abu Dawud. Jika pelajar-pelajar sudah bubar dari pengajian, Syaikh kemudian mencacat kembali apa yang tadi disampaikan di pengajian. Demikianlah hingga kitab tersebut dapat dirampungkan dengan ketebalan 20 jilid besar. Namun sayang, belum sempat tercetak, kitab tersebut sudah hilang. Apakah gerangan?

Sudah bertahun-tahun saya menelusuri keberadaan kitab tersebut dan bahkan bertanya pada beberapa murid Syaikh, namun belum memperoleh jawaban yang memuaskan. Sebagian sumber menyatakan hilang terbakar, dan bahkan ada yang tidak malu menuduh kaum ‘Wahhabi’ menjadi biang kerok hilangnya kitab besar tersebut. Si penuduh yang tak tahu tanggungjawan tersebut mengatakan bahwa kitab Ad-Durr dicuri kaum ‘Wahhabi’ karena iri dan hasad pada Syaikh. La haula wa la quwwata illa billah!!!

Padahal sejarah mencatat bahwa Syaikh memiliki hubungan dekat dengan ulama-ulama yang biasa dituduh ‘Wahhabi’. Kaum ‘Wahhabi’ pun menghormati beliau. Sangat menghormati.

Lalu bagaimana hilangnya kitab Ad-Durr? Alhamdulillah jawabannya baru saja saya temukan. Jawaban yang membuat hati lebih menerima dengan penuh ketulusan. Jawaban tersebut datang dari salah seorang murid Syaikh, yaitu Syaikh Dr. Khalid ‘Abdul Karim At-Turkistani yang beliau sampaikan dalam kitabnya yang bertajuk “Al-Fath Ar-Rabbani fi Tarjamah wa Asanid Syaikhina Asy-Syaikh Ibrahim Dawud Fathani wa Ba’dh Talamidzatih” pada hlm. ke-240. Cerita hilangnya kitab besar tersebut menjadi nasehat berharga bagi siapa saja yang masih memiliki akal da hati sehat yang mampu mengambil pelajaran dari peristiwa penting.

Syaikh Khalid mengatakan bahwa beliau pernah menanyakan pada Syaikh, kemudian beliau menceritakan, “Aku melihat kitab tersebut sudah dihujani air dari langit saat terjadi hujan hebat karena waktu itu atap perpustakaan tengah bocor dan tidak ada yang tersisa keculi kitab ini (yaitu beberapa bab shalat).”

Syaikh Khalid bertanya, “Apakah Tuan tidak sedih karena kehilangannya?”

Mari sebelum mendengar jawaban Syaikh, saya akan menantang pembaca; apa kira-kira jawaban Syaikh? Apakah beliau putus asa atau terpukul karena kitabnya yang sangat besar tersebut? Anda bisa bayangkan bagaimana kitab sebesar 20 jilid yang ditulis dengan tangan dalam rentang waktu yang tidak singkat tersebut? Tidak hanya letih badan, namun juga akal pikiran. Apakah karena hal tersebut kemudian Syaikh berkeluh kesah?

Saya yakin, jawaban yang terbetik dalam benak Anda sama sekali tidak ada yang benar. Kenapa? Simak jawaban Syaikh.

Syaikh berkata, “Anakku, yang nampak padaku ketika aku berhasil menyelesaikan kitab tersebut, dalam diriku tumbul rasa bangga diri dan ujub. Makanya kitb itu hilang. Dan ini karya-karyaku masih tersisa, tidak disentuh air. Alhamdulillah.”

Ma sya Allah. Syaikh sama sekali tidak pernah menyayangkannya. Bahkan beliau terkesan bahagia. Pasalnya karena kitab tersebutlah beliau merasa ujub dan bangga diri yang tentu saja dapat menggugurkan amal. Karena keberadaan kitab tersebut beliau merasa keikhlasannya tidak sempurna. Akan tetapi sungguh Allah Dzat yang Mahapenyayang. Allah tidak lantas membiarkan Syaikh tersesat karena kitabnya tersebut. Oleh sebab itu, Allah ingin meluruskan kembali niat Syaikh dengan dicabutnya kitab Ad-Durr dari muka bumi. Allahuakbar!

Sampai di sini, saya teringan ucapan Imam Malik ketika ada salah seorang muridnya yang melapor bahwa setelah Imam Malik menyelesaikan kitabnya Al-Muwatha‘ sehingga terkenal di seluruh penjuru dunia, berbondong-bondong ulama melakukan hal yang sama dengan judul yang sama pula. Lantas apa kata Imam Malik? Beliau berkata, “Apa saja yang diperuntukkan Allah, pasti akan kekal.” Sekarang Anda dapat menyaksikan sendiri, adakah Kitab Al-Muwaththa’ lain yang masih tersisa di muka bumi ini selain yang disusun Imam Malik?! Kalau toh ada, mungkin masih tersimpan dalam bentuk manuskrib. Hal ini menunjukkan bahwa Allah hanya akan menerima amal kebajikan yang benar-benar murni dikerjakan karena Allah semata, bukan karena tujuan lain.

Rasulullah pernah mengatakan yang kurang lebih demikian maknanya, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amalan kecuali yang ikhlas mengharap wajah Allah.”

Lalu, pelajaran apakah yang bisa Anda ambil dari hilangnya kitab Ad-Durr Al-Mandhud yang besar tersebut?

Jika Anda hendak berbagi faidah tentang kisah di ats, silakan tulis di kolom komentar. Semoga Allah membalas seluruh kebaikan Anda dengan balasan yang lebih baik.

Wallahua’lam.[]

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s