Peringatan Kyai Shaleh Darat Terhadap Tradisi Pesta Kematian


13747617391701489334

Tradisi dan kebiasaan pesta kematian usai mayat dikebumikan sudah bukan sesuatu yang aneh di negeri kita, bahkan mungkin juga di beberapa belahan bumi lainnya. Oleh karena sudah menjadi tradisi itu, sehingga seakan-akan kebiasaan semacam itu menjadi sesuatu yang wajib harus dilakukan jika ada seseorang yang meninggal. Jika tidak, akan timbul berbagai komentar miring dan tidak enak didengar telinga. Entah itu dikatakan pelit lah, ra umum lah, aneh lah, kaku lah, dan tuduhan-tuduhan jelek lainnya.

Pasalnya, kebiasaan itu bahkan kerap dianggap bagian dari ritual penguburan mayit yang bernilai ibadah. Padahal, jika saja mereka sedikit membuka mata melihat apa sebenarnya yang dilakukan usai pemakaman mayit di masa baginda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, justru keadaannya malah sebaliknya.

Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa ketika jasad Ja’far bin ‘Abdul Muthallib dikebumikan, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– memerintahkan pada para shahabatnya agar mereka bersedia membikin makanan untuk keluarga duka karena mereka sedang mengalami kesedihan yang barang tentu membuat mereka tidak sempat memasak. Inilah yang disunnahkan. Adapun jika situasinya malah dibalik, yaitu masyarakat sekitar beramai-ramai mendatangi rumah duka dengan tangan kosong, justru akan membuat keluarga duka merasa tambah repot dan bertambahlah kesedihan. Apatah lagi jika tidak hanya dilakukan sekali, tentu kesedihan akan semakin menjadi-jadi dan memperbaharui kesedihan, membuat pihak keluarga kembali terpukul dengan kehilangan salah satu anggota keluarganya. Kenyataan seperti inilah yang kemudian membuat Imamuna Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i tidak menyukai adanya acara kumpul-kumpul atau dalam bahasa beliau disebut ma’tam di rumah duka usai pemakaman jenazah.

Tidak hanya Imam Asy-Syafi’i, sosok yang dibangga-banggakan dan dielu-elukan di negeri kita, akan tetapi juga sudah banyak ulama-ulama lain yang mengingatkan akan terlarangnya tradisi yang membuat kita mengelus dada tersebut. Di negeri kita sendiri para ulama kita juga tidak ketinggalan mengingatkan masyarakat Muslim agar tidak melestarikan tradisi itu. Dan berikut adalah di antara pernyataan dan peringatan seorang ulama besar asal negeri Semarang bernama Syaikh Muhammad Shalih bin ‘Umar Al-Jawi Al-Mariki As-Samarani –rahimahullah– atau biasa disapa Kyai Shaleh Darat. Peringatan ini beliau sampaikan dalam salah satu karya tulisnya yang bertajuk [Al]-Majmu’ah Asy-Syarifah Al-Kafiyah Li Al-‘Awwam pada halaman ke 89.

قال العلامة الكبير الجهبذ الشهير اللبيب النسيب الشيخ محمد صالح بن عمر الجاوي السماراني –رحمه الله- في كتابه المفيد المسمى بـــ مجموعة الشريفة الكافية للعوام ص 89 ما نصه :

أو ﯕا ايا حرام ﯕاوي صدقهان لمون انا اڠتسى ميت ايك تڠڳال انك چليكيك ٢ كڠ دوروڠ باليڠ مك اورا ونڠڳاوي سكڠ تركاهي ميت ڳناوي ياهور تانه لن نلوڠ دينالن فتوڠ دينا كلون يڍ قهاكن تركة الميت باليك حكومي ياهور تانه تلوڠ دينا متوڠ دينا ايك بدعة منكرة اورا ونڠ دين لاكوني

“Demikian pula haram mengadakan sedekahan apabila si mayit meninggalkan anak-anak yang masih kecil dan belum baligh, dengan menggunakan harta peninggalan si mayit untuk keperluan surtanah tiga hari, tujuh hari, dan menyedekahkan harta peninggalan si mayit. Bahkan surtanah tiga hari itu hukumnya BID’AH MUNKARAH, tidak boleh dilaksanakan.”

[Terjemah dinukil dari Soal-Jawab yang Ringan-ringan hlm. 57 karya KH ‘Abdurrazzaq Fakhruddin]

Jadi, status hukum pesta kematian yang kerap diadakan oleh sementara sebagian orang Muslim di negeri kita itu bid’ah munkarah yang sama sekali tidak boleh dikerjakan. Bid’ah merupakan suatu hukum yang diberikan pada setiap perkara-perkara baru yang dalam agama yang dinggap ibadah, yang di masa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para shahabatnya belum dikenal.

Padahal, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– telah menegaskan, bahwa segala kebaikan yang berpotensi dapat mendekatkan diri ke Surga dan menjauhkan dari neraka, telah beliau sampaikan tanpa ada satu pun yang tertinggal. Demikian pula sebaliknya, beliau juga sudah mengingatkan segala sesuatu yang dapat menyebabkan seseorang terjerumus ke dalam jurang neraka. Adapun jika kemudian ada oknum yang membuat syariat dan ibadah baru dalam agama, maka itulah seburuk-buruk manusia. Karena secara tidak langsung ia telah menuduh baginda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– mengkhianati dan mengkorupsi syariat, tidak secara uruh menyampaikannya. Ia terkesan merasa lebih tahu kebaikan daripada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dan para shahabatnya.

Imam Malik pernah mengatakan, “Siapa yang membuat satu bid’ah, berarti ia telah menuduh Muhamman mengkhianati syariat. Sebab, Allah berfirman, ‘Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Islah telah Kurestui sebagai agamamu.’

Allah juga pernah mengatakan, “Hendaklah orang yang menyelisihi perintah-Nya waspada tertimpa fitnah atau tertimpa azab yang pedih.” (QS An-Nur: 63)

أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوْا مِنَ الدِّيْنِ مَا لَمْ يَأذَنْ بِهِ اللهُ

“Apakah mereka mempunyai sesembahan-sesembahan selain Allah yang mensyariatkan agama untuk mereka yang tidak Allah izinkan?” (QS Asy-Syura: 21)

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah bersabda,

                                 مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ     

“Siapa yang mengerjakan suatu perbuatan yang bukan termasuk dari perkara (agama) kami, maka ia tertolak.” HR Muslim

Beliau juga mengancam, “Waspadalah kalian terhadap perkara-perkara baru. Karena perkara baru itu bid’ah, dan setiap yang bid’ah tempatnya di neraka.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)

‘Abdullah bin ‘Umar mengatakan, “Setiap bid’ah itu sesat meskipun orang-orang menganggapnya baik.”

Al-Fudhail bin ‘Iyadh pernah mengatakan,

اِتَّبِعْ طُرُقَ الْهُدَى وَ لَا يَضُرُّكَ قِلَّةُ السَّالِكِيْنَ وَ إِيَّاكَ وَ طُرُقَ الضَّلَالَةِ وَلَا تَغْتَرّ بِكَثْرَةِ الهَالِكِيْنَ

“Ikutilah jalan hidayah, dan sedikitnya orang yang menempuhnya tidak akan mempengaruhimu. Waspadalah terhadap jalan-jalan kesesatan dan jangan tertipu dengan banyaknya orang yang binasa.”

Jike sedemikian berat dan bahayanya dampak bid’ah, maka termasuk bencana besar jika perkara itu masih mengakar dan menjamur di tengah masyarakat Muslim kita. Dan perlu digaris bawahi pula, bahwa bid’ah di sini tidak terbatas pada permasalahan yang menyangkut ibadah, namun juga berkaitan dengan i’tiqad dan keyakinan. Dalam masalah ibadah, misalnya, tahlilan, gendurian, mitoni, sedekah laut, sesajen, maulid nabi, sekaten, barzanjen, manaqiban, shalat raghaib, dan seterusnya. Sedangkan bid’ah yang menyangkut i’tiqad seperti Syi’ah, Ahmadiyyah, MTA yang biasa berafiliasi kemadzhab neo-Mu’tazilah, Khawarij, dan seabreg-abreg paham sesat lainnya.

Oleh karena itu, mari kita merapatkan barisan bersama-sama membasmi bid’ah dan keyakinan-keyakinan sesat lainnya agar ancaman seperti di atas tidak menimpa kita.

Ingat, jangan pernah menganggap bahwa tugas membasmi bid’ah dan kesesatan dilimpahkan semua ke para ulama. Masing-masing orang memiliki tanggungjawab yang tidak jauh berbeda dalam masalah ini, terutama jika sudah mengetahui ilmunya. Tentu saja dengan cara-cara hikmah dan penuh kasih saying agar manusia tidak menjauh dan lari sebelum mendengarkan apa yang kita serukan. Wallahua’lam. []

 

Kampus Pesantren Hamalatul Quran Yogyakarta

28 Agustus 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s