Waktu-Waktu yang Mustajab untuk Memanjatkan Doa (1)


doa-

Sering kita dengar curhatan seseorang yang sudah sering memanjatkan doa kepada Allah bertahun-tahun lamanya, namun ia tidak kunjung memperoleh ijabah dari-Nya, padahal doa itu tidak putus-putuisnya dipanjatkan pada-Nya. Namun di lain kesempatan, kita menjumpai ada orang yang selalu Allah kabulkan permintaannya. Sehingga timbul pertanyaan, apakah yang membedakan antara kedua orang tersebut? Apakah ada tips-tips tertentu yang musti dilakukan agar doa dapat Allah kabulkan? Sebenarnya sebab-sebab terkabulnya doa itu sangat banyak, salah satunya memperhatikan dan memilih waktu dan kondisi tertentu yang kemungkinan besar doa dapat didengar oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Dan berikut akan kita sebutkan kapankah waktu dan kondisi tertentu itu yang terdapat peluang besar terkabulnya doa, berikut pemaparannya.

  1. Malam lailatul qadar.

Dari ‘Aisyah –radhiyallahu ‘anha-, ujarnya, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, apa menurut engkau jika aku mengetahui suatu malam lailatul qadar, apa yang harus kuucapkan?’ Beliau menjawab, ‘Katakan,

اللهم إنك عفو كريم تحب العفو فاعف عني

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahamemaafkan Mahamulia, Engkau cinta pengampunan, oleh karena itu ampunilah aku.’” (HR At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

  1. Berbakti pada kedua orangtua termasuk sebab terkabulnya doa.

‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– berkata, aku mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “Uwais bin ‘Amir, dari penduduk Yaman, dari Murad, kemudian dari suku Qarn, akan mendatangi kalian. Pada dirinya terdapat penyakit kulit, dan ia sembuh darinya kecuali sebesar dirham. Ia memiliki seorang ibu yang sangat ia sikapi dengan baik (baca: bakti). Sekiranya ia bersumpah atas nama Allah, tentu Dia akan mengabulkannya. Jika kamu bisa, ia memintakan ampunan untukmu, lakukanlah!” (HR Muslim)

  1. Di akhir shalat wajib.

Dari Umamah Al-Bahili –radhiyallahu ‘anhu-, katanya, “Ditanyakan pada Rasulullah, ‘Doa mana yang paling Allah dengar?’ Jawabnya, ‘Di pertengahan akhir malam dan di akhir shalat-shalat wajib.” (HR At-Tirmidzi)

  1. Memperbanyak ibadah sunnah setelah menyempurnakan ibadah wajib.

Dalam sebuah hadits Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, ujarnya, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya Allah berfirman, ‘Siapa yang memusuhi kekasih-Ku, Aku menyatakan perang melawannya. Tidaklah seorang hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Kucintai karidapa apa yang telah Kuwajibkan atasnya, dan hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku telah mencintainya, Aku lah pendengarannya yang ia gunakan mendengar, penglihatannya yang ia pakai ia gunakan memandang, tangannya yang ia gunakan memukul, dan kakinya yang ia gunakan berjalan; apabila ia meminta padaku, pasti Aku mengabulkannya, dan apabila ia meminta perlindungan pada-Ku, pasti Aku melindunginya.” (HR Al-Bukhari)

[Ath-Thufi berkata, “Para ulama setandar telah bersepakat, bahwa hadits ini merupakan majaz dan kinayah tentang bantuan, dukungan, dan pertolongan Allah pada hamba-Nya sehingga seolah-olah Allah Yang Mahasuci menempatkan diri-Nya pada diri seorang hamba sebagai alat yang dapat digunakan.”]

  1. Doa setelah bacan tasyahud akhir dan shalawat, sebelum salam.

Dalam sebuah hadits ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah ﷺ mengajari mereka (para shahabat) tasyahud dalam shalat. Kemudian terakhir beliau bersabda, “Kemudian ia boleh memilih doa apa saja yang ia kehendaki.” (HR Al-Bukhari-Muslim)

  1. Doa di antara azan dan qamat.

Dari Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu-, katanya, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Doa di antara azan dan qamat tidak akan ditolak.’” (HR At-Tirmidzi)

  1. Doa di pertengahan akhir malam.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah ﷺ bersabda, “Rabb kita Yang Mahamulia Mahatinggi, turun ke langit bungi pada setiap malamnya, ketika malam tinggal sepertiga malam terakhir. Ia berfirman, ‘Siapa yangberdoa pada-Ku, Aku pasti mengabulkannya, siapa yang meminta pada-Ku, Aku pasti memberinya, siapa yang memohon ampun pada-Ku, Aku pasti mengampuninya?’ (HR Al-Bukhari-Muslim)

Dari ‘Amr bin ‘Abasah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda, “(Waktu) terdekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah ketika pertengahan malam terakhir. Jika engkau mampu berdzikir pada Allah di saat itu, lakukanlah!” (HR At-Tirmidzi)

  1. Doa ketika ayam berkokok.

Telah shahih dari Rasulullah ﷺ, bahwa beliau pernah bersabda, “Apabila kalian mendengar ayam berkokok, mintalah karunia pada Allah; sebab ayam itu tengah melihat malaikat. Dan apabila kalian mendengar pekikan keledai, sebaiknya kalian memohon perlindungan pada Allah dari setan; sebab ia tengah melihat setan.” (HR Al-Bukhari-Muslim)

  1. Doa ketika ada panggilan shalat wajib.

Dari Sahal bin Sa’d, ujarnya, Rasulullah ﷺ bersabda, “Dua (waktu) yang tidak akan tertolak atau sedikit tertolak: doa ketika ada panggian dan ketika ada kesulitan saat terjadi saling serang-menyerang.” (HR Abu Dawud)

  1. Doa ketika dikumandangkannya qamat.

Dari Sahal –radhiyallahu ‘anhu-, katanya, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Ada dua waktu yang tidak akan pernah ditolak doa orang yang berdoa: ketika (qamat) shalat diberdirikan dan pada barisan di jalan Allah.” (HR  Ibnu Majah)

  1. Suatu waktu pada setiap malam.

Dari Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, ‘Sesungguhnya di malam hari ada suatu waktu yang apabila seorang meminta pada Allah kebaikan dunia-akhirat bertepatan dengannya, kecuali Allah akan mengabulkannya. Hal tersebut ada setiap malamnya.’” (HR Muslim)

  1. Suatu saat di hari Jum’at.

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah ﷺ menyebut hari Jum’at, sabdanya, “Padanya ada suatu waktu yang jika ada seorang hamba muslim berdiri menegakkan shalat meminta sesuatu pada Allah yang bertepatan dengannya, kecuali Allah bakal memberi permintaan padanya.” (HR Al-Bukhari-Muslim)

Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Sesungguhnya pada hari Jum’at ada suatu waktu yang jika ada seorang hamba Muslim meminta pada Allah kebaikan pada saat tersebut, kecuali Allah akan memberikan permintaan itu padanya; (waktu itu adalah) setelah ‘ashar.” (HR Ahmad)

  1. Doa ketika meminum air zamzam.

Dari Jabir bin ‘Abdullah –radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi Muhammad ﷺ, beliau bersabda, “Air zamzam itu sesuai keinginan orang yang meminumnya.” (HR Ibnu Majah dan Ahmad)

  1. Doa ketika sujud dalam shalat.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Antara hamba dan Rabb-nya yang paling dekat ialah saat ia dalam posisi sujud, karenaya perbanyaklah doa.” (HR Muslim)

  1. Doa ketika bangun dari tidur di malam hari.

Pada waktu ini ada doa khusus yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Dari ‘Ubadah bin Ash-Shamit –radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi Muhammad ﷺ, beliau bersabda, “Siapa yang terbangun di malam hari kemudian berkata,

لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَ لَهُ الْحَمْدُ ، وَ هُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ، الحَمْدُ لِلهِ ، وَ سُبْحَانَ اللهِ ، وَ لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ ، وَ اللهُ أَكْبَر ، وَ لَا حَوْلَا وَ لَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ

“Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah sahaja, tidak ada sekutu baginya, miliknyalah kerajaan, miliknyalah segala sanjungan, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, segala puji hanya milik Allah, Mahasuci Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Allah Mahabesar, tidak ada daya menghindari dosa dan upaya untuk melakukan ketaatan kecuali dari Allah”

Kemudian ia berkata, “Ya Allah, ampunilah aku,” atau berdoa; kecuali akan dikabulkan, apabila ia mengambil air wudhu dan mengerjakan shalat, pasti shalatnya akan diterima.” (HR Al-Bukhari dan At-Tirmidzi)

  1. Berdoa dengan doa yang pernah dipanjatkan Dzun Nun Yunus –‘alaihissalam-.

Dari Sa’d –radhiyallahu ‘anhu-, ia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda, “Doanya Dzun Nun, ketika ia berdoa dengannya di perut ikan ialah,

لَا إِلهَ إِلَّا اللهُ أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِيْنَ

‘Tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berlaku zhalim’

Tidaklah ada seorang Muslim yang berdoa dengannya pada suatu keadaan, kecuali Allah pasti mengijabahinya.” (HR At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim)

[Dinukil dari Min ‘Ajaib Ad-Du’a (hlm. 18-22) karya Khalid bin Sulaiman Ar-Rab’i, cet. Dar Al-Qasim 1427]

Bersambung, in sya Allah…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s