Menyadari Perkembangan dan Bahaya Sekte Syi’ah Bagi Aqidah Islam dan Kedaulatan Negara


syiah-sesat

Masuknya sekte ekstrime Syi’ah sudah dirasakan umat Muslim di negeri ini sedari kerajaan Islam pertama di Aceh. Sejarah mencatat, ada beberapa ulama Syi’ah yang saling berebut pengaruh dengan ulama-ulama mayoritas dari kalangan Ahlussunnah wal Jama’ah. Menurut Prof. Dr. A. Hasjmi –rahimahullah-, di antara tokoh Syi’ah kala itu adalah seorang yang disebut-sebut sebagai bapak sastrawan dunia Melayu, dialah Hamzah Fanshuri yang terkenal dengan keyakinan kufurnya bernama wihdatul wujud atau oleh orang Jawa disebut manunggaling kawulo gusti. Keyakinannya ini kemudian dihukumi kafir oleh Syaikhul Islam Muhammad Nuruddin bin Hasanji Ar-Raniri –rahimahullah– pada saat ia menjabat sebagai qadhi di masa kepemimpinan Shafiyatuddin. Tidak hanya itu, beliau juga menyarankan pada sang raja agar meminta masyarakat yang mengikuti paham Hamzah Fanshuri segera bertaubat, jika tidak maka mereka akan dibunuh. Selain itu, Ar-Raniri juga membakar seluruh karangan-karangan Hamzah Fanshuri dan karangan-karangan yang memiliki paham sepertinya. Sayangnya ada karangannya yang kala itu masih tersimpan di Kerajaan Banten yang berhasil terhindar dari peristiwa besar tersebut, yang pada saat ini masih dapat dikonsumsi orang-orang. La haula wa la quwwata illa billah.

Kiranya dapat diketahui, bahwa apa yang difatwakan Syaikhul Islam Muhammad Nuruddin bin Hasanji Ar-Raniri di atas bukanlah keputusan yang diambil tanpa berpikir panjang. Nampaknya beliau sangat menyadari betapa berbahayanya kependudukan kaum Syi’ah jika terus dibiarkan berkocol di bumi masyarakat Muslim. Keberadaan sekte Syi’ah benar-benar akan membuat bahaya terhadap eksistensi Kerajaan dan masyarakat Muslim. Sebagai ulama hebat yang juga pakar sejarah, ia tentu paham bagaimana pergolakan dan pengkhianatan Syi’ah terhadap masyarakat Muslim di awal masa-masa kekhalifahan Islam. Sebut saja, misalnya, Ibnul ‘Alqamah –akhzahullah– yang mempersilakan dan memberi bantuan pada kaum Tatar untuk bisa masuk istana kerajaan waktu itu. Seandainya bukan karena ada orang dalam seperti Ibnul ‘Alqamah yang member jalan setrategi, tentu kaum Tatar tidak akan pernah mampu menembus benteng Istana. Kemudian apakah yang terjadi setelah itu? Sejarah mencatat, ribuan kaum Muslim terbunuh seolah-olah binatang tak berdaya. Di mana-mana terdapat bercik darah, bahkan loteng-loteng rumah tidak lagi mengucurkan air hujan yang segar, namun justru mengucurkan darah-darah masyarakat Muslim yang menjadi korbat pembantaian kaum Tatar.

Oleh sebab itu, kita sebagai masyarakat Muslim Nusantara patut menaruh rasa syukur pada sosok Syaikh Muhammad Nuruddin Ar-Raniri yang berani mengambil keputusan jitu untuk membasmi dan memberantas kaum Syi’ah sejak awal kemunculannya. Semoga Allah membalas segala amal kebajikannya dengan balasan yang lebih baik.

Namun sangat di sayangkan. Di masa setelahnya, perhatian kaum Muslimin terhadap keberadaan Syi’ah kurang peka, bahkan terkesan santai dan masa bodoh. Akibatnya, sekte Syi’ah mulai menanam benih dan membuka agen di bumi Ibu Pertiwi. Lambat laun, mereka mulai berani dengan terang-terang mendemokan ajaran bejat mereka di tengah masyarakat Ahlussunnah wal Jama’ah.

Untuk sejarah perkembangan madzhab Syi’ah selanjutnya, alangkah baiknya jika kita dengarkan penuturan ulama besar yang pernah berguru pada Syaikh A. Hassan Bandung –rahimahullah-, bernama Dr. Muhammad Natsir (1908-1994) –rahimahullah– yang tak asing lagi. Beliau mengatakan tatkala member kata sambutan untuk buku Syi’ah dan Sunnah karya Dr. Ilahi Zhahir –rahimahullah– yang diterjemahkan oleh Ustadz Bey Arifin –rahimahullah– ,

“Semenjak permulaan tahun delapan puluhan mulailah berdatangan kitab-kitab mengenai aliran Syi’ah dalam bahasa Arab melalaui beberapa alamat di Jawa Tengah dan Jawa Timur dan beredar dari tangan ke tangan. Para alim ulama kita tahu, tapi diam.

Sementara itu mulailah terbit buku-buku dan brosur tentang aliran Syi’ah dalam bahasa Indonesia. Ada berupa karangan sendiri, ada yang berupa terjemahan dari buku-buku Inggris. Diterbitkan di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan lain-lain serta mendapat pasaran pembaca yang luas juga, terutama di kalangan angkatan muda kita.

Selangkah lagi, kelompok-kelompok dari kalangan mahasiswa dan pelajar-pelajar kita sudah mulai ziarah ke Teheran melalui Kuala Lumpur dan New Delhi, sekalipun peperangan Iran-Iraq sedang berkobar. Sekembalinya membawa literature aliran Syi’ah.

Yang menarik perhatian pula ialah ada di antara pemuda-pemudia kita itu meletakkan  sebuah batu kecil di depan tempat sujud. Memang begitu antara lain cara shalat yang dilakukan oleh banyak penganut aliran aliran Syi’ah.

Sewaktu-waktu ada yang bersedia shalat berjama’ah bersama teman-teman lain berimamkan seorang yang bukan Syi’ah. Tetapi kemudian diulanginya lagi shalat itu juga sendirian. Menurut pelajaran yang mereka terima tidak sah shalat bila diimami oleh seorang yang bukan Syi’ah.

Kalau perkembangan sudah demikian, apakah para alim ulama kita patut mendiamkan saja? Tak patut dan tak boleh! Kata berjawab, gayung bersambut!”

[Perkataan Dr. Muhammad Natsir dinukil dari buku MUI bertajuk “Mengenal dan Mewaspadai Syi’ah di Indonesia” hlm. 140-141]

Kita katakan, jika di zaman Dr. Muhammad Natsir sudah sedemikian hebatnya gerakan kaum Syi’ah, bagaimanakah di saat ini? Jawabannya dapat Anda saksikan sendiri. Parahnya, Indonesia saat ini sangat lemah menjaga kesetabilan kedaulatannya, sehingga Syi’ah yang jelas-jelas sang penjahat kelas kakap tidak diawasi, tidak dilarang, bahkan dibiarkan. Parahnya, kita dapat menyaksikan ada pahlawan-pahlawan bayaran yang diklaim banyak orang sebagai tokoh Islam dan kaum cendikia, namun mulutnya tak kunjung berhenti memuji dan membela keberadaan sekte Syi’ah, sang penyamun gila seks itu. Entahlah, pahlawan-pahlawan itu dibayar berapa, sehingga mereka tetap saja mengorbankan orang sedunia demi kepentingan perut mereka.

Aduhai, betapa kita patut merasa iri dengan apa yang ditegaskan pemerintah negeri tetangga yang dengan jelas dan tegas melarang keberadaan sekte Syi’ah di negerinya. Owh, ternyata mereka sudah menyadarai betapa sekte sesat yang satu ini dapat membahayakan eksistensi negeranya. Makanya, mereka segera mengambil tindakan sebelum datang penyesalan yang tak berkesudahan.

Untuk itu, mari kita bersama-sama merapatkan barisan, membentik pasukan, bersama-sama membasmi dan memberantas hama Syi’ah di negeri kita, demi terjaganya ‘aqidah Islam dan negeri kaum Muslim. Apapun yang bisa Anda lakukan untuk membasmi Syi’ah, maka lakukanlah sejak dini! Entah dengan ceamah, membagi-bagi brosur dan buku tentang kesesatan kebejatan Syi’ah, atau dengan cara apapun. Dan jangan lupakan hal terpenting dan terurgen, selalulah berdoa pada Allah agar Dia berkenan menjaga dan melindungi kaum Muslim dari kesesatan Syi’ah dan semoga Dia segera mengangkat bencana terbesar ini.

Jika tidak, apakah Anda mau jika pada suatu saat nanti puteri dan isteri Anda diperkosa di depan mata Anda karena kebejatan Syi’ah itu? Atau maukah Anda jika Anda dipermalukan di depan keluarga Anda sendiri? Maukah Anda melihat dan menyaksikan Syi’ah tertawa lebar bak Iblis keluar dari neraka di atas penderitaan kaum Muslim? Lihatlah kaum Ahlussunnah di Iran, Irak, Suriah, dan Libanon, apa yang mereka alami? Mereka ditindas, dibunuh, diperkosa, dikubur hidup-hidup, dan diperlakukan dengan sikap keiblisan yang terlaknat.

Maka segeralah mengambil tindakan. Hanya ada dua pilihan, berjuang meraih kemenagan dan kesyahidan ataukah kalah di atas kebinasaan serta kehinaan? Walaupun sebenarnya kita sudah terlampau terlambar mengambil sikap tegas, namun hal itu jangan sampai mebuat kita patah semangat menegakkan kebenaran di atas cahaya Rabbul ‘alamin. Minimal, jika kita kelak ditanya di pengadilan Allah, terkait usaha apa yang pernah kita lakukan untuk membasmi Syi’ah, kita sudah dapat beralasan dengan amal usaha kita.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi negeri ini dan negeri-negeri kaum Muslim di seluruh belahan dunia dari cengkraman dan bahaya Syi’ah dan kaum kuffar. Aamiin. []

 

Gunug Sempu Yogyakarta, 27 Agustus 2014

Ditulis dengan air mata hati yang berlinang membasahi kalbu…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s