Baca Yasin, Berdoa, Tabur Bunga, dan Siram Air di Pemakaman


pemakaman-baqi-diperuntukan-bagi-jamaah-haji-yang-wafat-di-_121015181142-847

Pertanyaan: Kebanyakan kan orang kalau ziarah di makam kayak itu nyebar bunga sama baca Yasin atau doa yang lainny di sana. Nah itu bagaimana menurut islam? Dan sebaikny bagaimana?

Terimakasih.

Jawab:

الحمد لله رب العالمين ، و الصلاة و السلام على الرسول الأمين و على آله و أصحابه الطاهرين و من تبعهم بإحسان إلى يوم الدين ، أما بعد :

Permasalalahan semacam itu memang terus hangat diperbincangkan banyak orang dan bisa dibilang sangat sacral menurut pandangan sementara orang-orang di negeri ini. Permasalahan pertama yang ditanyakan, yaitu membaca surat Yasin di kuburan, terhitung sebagai tradisi menjamur di berbagai belahan negeri Islam. Tujuan dibacanya surat Yasin antara lain transfer pahala untuk penghuni kuburan. Padahal transfer pahala merupakan permasalahan yang mengada-ada yang sama sekali tak pernah dituntunkan dalam syariat Islam. Hasilnya, apa yang mereka baca sama sekali tak akan membuahkan pahala, bahkan cenderung dosa. Kenapa? Karena Islam tidak pernah menuntunkannya yang berarti perkara baru dalam agama atau istilah ilmiahnya adalah bid’ah.

Kuburan bukanlah tempat membaca Al-Quran. Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengatakan, “Kalian jangan menjadikan rumah-rumah kalian seperti kuburan yang tak dibacakan Al-Quran. Sebab, setan akan lari menjauhi rumah yang dibacakan surat Al-Baqarah” (HR Muslim)

Tetang perbuatan bid’ah, beliau menegaskan, “Setiap yang bid’ah itu sesat, dan setiap kesesatan tempatnya di neraka.” (HR Abu Dawud, At-Tirmidzi, dan lainnya)

Lain daripada itu, transfer pahala untuk orang mati tidak akan pernah sampai.

Allah Ta’ala berfirman, “Dan orang tidak akan mendapatkan kecuali apa yang telah ia usahakan.” (QS An-Najm)

Ketika mentafsirkan ayat di atas, Ibnu Katsir membawakan suatu riwayat dari Imam Muhammad bin Idris Asy-Syafi’i bahwa beliau menjadikan ayat di atas sebagai dalil atas pendapatnya yang mengatakan tidak ada transfer pahala.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengatakan, “Jika anak keturunan Adam (baca: manusia) meninggal, maka amalannya bakal terputus kecuali tiga saja: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.”

Selain daripada 3 amalan di atas, bisa dipastikan tidak akan pernah sampai pada mayit.

Jika demikian, maka tradisi-tradisi transfer pahala yang kerap diadakan sebagian orang semacam tahlilan, yasinan, gendurian, dan semacamnya termasuk perbuatan yang sia-sia yang tidak saja mendapat kelehtihan semata, namun juga dosa.

Allah Ta’ala pernah mengatakan, “Apakah kamu mau kami beritahu tentang orang-orang yang merugi amalannya? Merekalah orang-orang yang sesat perbuatannya  di dunia sementara mereka menyangka bahwa mereka telah melakukan perbuatan baik.” (QS Al-Kahfi)

Sedangkan bordoa di kuburan, maka perlu dilihat. Jika mendoakan kebaikan untuk si mayit, maka tidak mengapa. Akan tetapi jika berdoa bukan untuk si mayit, seperti untuk dirinya sendiri, tentu tidak pernah ada tuntunan. Bahkan dikhawatirkan akan timbul keyakinan bahwa berdoa di samping kubur lebih mustajab daripada doa di tempat lain. Lebih parahnya, jika nanti kemudian malah doa pada kuburan, tentu lebih berbahaya lagi. Ringkasnya, doa untuk diri sendiri di sisi kubur dinilai sangat berbahaya karena dapat menjadi sebab timbulnya kemusyrikan.

Permasalahan kedua, menabur bunga di pekuburan. Sekarang kita balik pertanyaannya, apa manfaat tabur bunga di pemakaman? Tabur bunga hanya membuang-buang duit. Toh penghuni kubur tak akan dapat manfaat dari bunga yang ditaburkan di atas pusarannya. Sekiranya nominal bunga itu disedekahkan, tentu lebih manfaat.

Kemudian, tabur bunga di pemakaman itu asalnya dari orang-orang kafir. Lihat saja tradisi orang-orang Nasrani, Hindu, Konghucu, dan semisalnya, pasti akan mudah dijumpai kebiasaan itu. Padahal ikut-ikut tradisi orang-orang kafir termasuk tindakan yang dilarang oleh syariat Islam.

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah mengatakan, “Siapa yang menyerupai suatu masyarakat, maka ia termasuk bagian dari mereka.”

Artinya, jika ada orang Muslim yang mengikuti kebiasaan orang kafir, berarti ia bisa ikut kafir pula. Demikian menurut penjelasan sebagian ulama.

Beliau juga mengatakan, “Sungguh kalian nanti bakal akan membeo kebiasaan-kebiasaan orang-orang sebelum kalian; sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sampai-sampai seandainya mereka masuk lubang biawak pun kalian akan mengikuti mereka.”

Mendengar perkataan beliau di atas, orang-orang bertanya, “Apakah mereka (yang dimaksud ‘orang-orang sebelum kalian’-pent)   itu Yahudi dan Nasrani?”

“Siapa lagi?!,” jawab tegas Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.

Adalagi permasalahan yang mirip pertanyaan kedua di atas, yaitu menyiram pusaran dengan air. Menurut pendapat Syafi’iyyah, Hanafiyyah, dan Hanabilah, perbuatan tersebut dianjurkan dengan tujuan agar tanah tidak habis diterjang angin. Alasannya karena Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah melakukan perbuatan tersebut pada makam Sa’d bin Mu’adz dan beliau memerintahkan  agar makam ‘Utsman bin Mazh’un diperlakukan sama.

Bahkan kalangan Syafi’iyyah dan Hanabilah juga berpandangan sunnah pula meletakkan kerikil-kerikil di atas pusaran mengingat riwayat dari Ja’far bin Muhammad, dari ayahnya, bahwasannya Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah menyiram dan meletakkan kerikil di atas makan puteranya Ibrahim.

Muhammad Nashiruddin bin Haji Nuh Al-Albani pernah megatakan, “Terdapat banyak hadits tentang menyirami makam dengan air, akan tetapi bermasalah, sebagaimana hal tersebut yang telah saya jelaskan dalam Irwa’ Al-Ghalil. Kemudian saya menjumpai sebuah hadits yang terdapat dalam Al-Mu’jam Al-Ausath karya Ath-Thabrani dengan derajat sanad yang kuat, bahwa Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– pernah menyiram makam puteranya Ibrahim, maka aku cantumkan dalam As-Silsilah Ash-Shahihah.”

Akan tetapi perlu diingat, bahwa alasan mengapa kubur disiram air dan diberi kerikil-kerikil adalah hanya semata-mata agar tanahnya tidak hilang diterpa angin. Ingat, di negeri Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– tanahnya adalah pasir yang mudah terbawa angin. Makanya perlu disiram air agar tidak terbawa angin. Adapun di Indonesia, rasanya tidak perlu menyiramkan air ke pusaran, apalagi dengan air kelapa, karena tanahnya yang tahan angin.

Adapun keyakinan sementara sebagian orang, bahwa mayit memperoleh manfaat dari air yang disiramkan ke makamnya, maka ini keyakinan yang tidak dibenarkan.

Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin mengatakan, “Adapun menyiram air di atas makam, bertujuan untuk mengenyalkan tanah, bukan seperti yang disangka orang-orang awam bahwa maksudnya adalah agar mayit merasa dingin. Sebab, mayit tidak bisa dingin karena air, akan tetapi yang dapat mendinginkannya adalah pahalanya. Namun agar tanahnya menjadi kenyal.”

Kiranya jawaban di atas dapat menjadi jawaban atas persoalan yang ditanyakan meski ringkas. Sengaja saya tulis secara ilmiah supaya dapat diketahui bahwa Islam itu bukan agama yang dibantuk berdasarkan akal dan pikiran, namun agama wahyu yang telah ditetapkan oleh Rabbul ‘alamin. Wallahua’lam.

 

Yogyakarta, 27 Agustus 2014

و كتبه الفقير إلى ربه : صاحب الموقع -عفا الله عنه-

Iklan

4 responses to “Baca Yasin, Berdoa, Tabur Bunga, dan Siram Air di Pemakaman

    • Mendoakan penghuni kubur secara khusus dan umum. Doa secara umum adalah seperti yang terdapat dalam Shahih Muslim:

      أن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يعلمهم إذا خرجوا إلى المقابر فكان قائلهم يقول : السلام عليكم أهل الديار من المؤمنين والمسلمين وإنا إن شاء الله للاحقون أسأل الله لنا ولكم العافية

      “Bahwasannya Rasulullah -shallallahu ‘alaihi wa sallam- dahulu mengajari doa jika memasuki kuburan dari shahabat Budaidah bin Al-Hashib -radhiyallalhu ‘anhu-:
      السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الدِّيَارِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللهُ لَلاَحِقُوْنَ أَسْأَلُ اللهَ لَنَا وَ لَكُمُ الْعَافِيَةَ
      “Semoga kesejahteraan senantiasa menyertai kalian, penghuni kubur dari kalangan mukmin dan muslim. Dengan izin Allah kami juga kelak akan menyusul kalian. Aku berdoa kepada Allah semoga Dia berkenan memberikan ampunan untuk kami dan kalian.”

  1. daripada anda berlelah2 nulis artikel yang tak berguna lebih baik anda berzikir…. semua tergantung keyakinan. lagipula segala sesuatu itu tuhan yang tau jadi kalo anda sok tau itu apa artinya

  2. orang meninggal terputus amalnya kecuali 3 hal. salah satu anak yg sholeh. kalau anak sholeh mengadakan doa brsama untuk orang tua (tahlilan). apa itu hal yg sia2? astagfirullohal azim.. coba di pikir lg? trus di benerin tu artikelnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s