Meninjau Acara Pesta Kematian


Fiqh_Islam__Sulaiman_RasjidDalam Fiqh Islam hlm. 189-190, Al-Ustadz Sulaiman Rasjid bin Lasa Lampung (1901-1976) -rahmatullah ‘alaih- mengatakan,

Kaum kerabat, tetangga, sahabat, dan handai tolan mayat hendaklah memberi makan keluarga (ahli) mayat karena mereka sedang dalam keadaan kalut, belum sempat mengurus makanan mereka sendiri.

Sabda Rasulullah ﷺ.

عن عبيد الله بن جعفر قال : لما جاء نعي جعفر حين قتل قال النبي ﷺ : اصنعوا لآل جعفر طعاما فقد أتاهم ما يشغلهم . رواه الخمسة إلا النسائي

Dari ‘Ubaidillah bin Ja’far. Ia berkata, “Tatkala datang kabar meninggalnya Ja’far karena terbunuh, Rasulullah bersabda, ‘Buatkanlah olehmu makanan untuk keluarga Ja’far, karena mereka sedang menderita kesusuahan (kekalutan). (Riwayat lima orang ahli hadits [Abu Dawud, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ahmad-pent] kecuali Nasa’i)

Itulah (memberi makan keluarga duka) yang disyariatkan dalam agama Islam, bukan sebagaimana yang biasa dilakukan di Indonesia; semua tetangga, sahabat yang dekat atau yang jauh, keluarga, teman, orang sekampung datang bramai-ramai berkumpul di rumah ahli mayat untuk makan-makan, dan ahli mayat terpaksa menyediakan makanan yang bermacam-macam, biarpun sampai menghabiskan harta peninggalan si mayat. Bahkan kalau kurang, hartanya sendiri dihabiskan pula. Kadang-kadang orang yang datang di tempat kematian tidak perlu berbelanja sepanjang hari karena keperluannya sudah ditanggung oleh orang yang sedang bersedih dan berdukacita karena kehilangan anak atau bapak yang dicintainya.

Selain dari perayaan pada hari matinya itu, diadakan pula ‘selamatan’ untuk makan-makan di hari ketiga dari hari meninggalnya, hari ketujuh, kesepuluh, empat puluh, seratus, dan seterusnya. Kesedihan itu selalu diperbarui, dan kerugian selalu ditambah-tambah. Semua itu hukumnya HARAM, tidak diizinkan oleh agama Islam yang mahasuci, lebi-lebih kalau ahli mayat itu ada yang belum sampai umur (belum balig).

عن جرير بن عبد الله البجلي قال : كنا نعد الاحتماع إلى أهل الميت و صنعة الطعام بعد دفنه من النياحة . رواه أحمد و ابن ماجه
Dari Jarir bin ‘Abdullah Al-Bajali. Ia berkata, “Berkumpul-kumpul pada ahli mayat dan membuat makanan sesudah mayat dikuburkan, kami anggap sebagian dari meratap (sama hukumnya dengan meratap, yaitu haram).” [Riwayat Ahmad dan Ibnu Majah]

Memang, kalau kita renungkan lebih jauh serta kita pikirkan dengan pikiran yang sehat dan tenang, alangkah sedihnya ahli mayat; sesudah ia kehilangan anak, buah hatinya, atau kehilangan bapak pemegang kemudi hidup dan penghidupannya, hartanya dihabiskan pula. Kalau tidak mengikuti kehendak adat, ia tercela di mata kaum adat yang berpikiran tidak sehat itu.”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s