Hukum Sutrah (Pembatas) dalam Shalat


cordova
Pertanyaan: Banyak rekan-rekan bersikap keras dalam masalah sutrah sampai-sampai mereka menunggu ada sutrah (kosong) dalam masjid karena tidak dijumpai ada tiang yang kosong dan mengingkari orang yang shalat tidak menghadap sutrah. Sebagian mereka malah ceroboh menyikapi masalah itu. Manakah yang benar? Apakah garis dapat menggantikan posisi sutrah saat tidak dijumpai sutrah? Apakah terdapat dalil yang menjelaskan hal tersebut?

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz –rahmatullah ‘alaih– menjawab:

Shalat menghadap sutrah memiliki status hukum sunnah muakkadah, bukan wajib. Apabila seseorang tidak mendapati sesuatu yang menancap tegak, kiranya garis sudah mencukupinya. Argumen yang menjadi alasan pendapat kami adalah sabda Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apabila salah seorang kalian hendak shalat, seyogyanya ia shalat menghadap sutrah dan mendekatinya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan sanad shahih.

Sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Shalat seorang muslim akan terputus jika di hadapannya tidak dijumpai seperti pelana hewan: wanita, keledai, dan anjing hitam.” Diriwayatkan oleh Muslim dalam Shahih-nya.
Dan sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apabila salah seorang kalian hendak menunaikan shalat, hendaknya ia menaruh sesuatu di hadapannya, jika tidak ada sebaiknya ia menunjamkan sebuah tongkat, jika tak ada seyogyanya ia membuat sebuah garis; kemudian orang yang lewat di depannya tak pengarus.” Diriwayatkan Imam Ahmad dan Ibnu Majah dengan sanad shahih.

Al-Hafizh Ibnu Hajar –rahimahullah– mengatakan dalam Bulugh Al-Maram, “Telah diriwayatkan secara sah dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, bahwasannya pada suatu ketika beliau pernah shalat tanpa menghadap sutrah. Itu menjadi bukti bahwa sutrah bukan perkara wajib. Hukum itu dikecualikan jika shalat di Masjidil Haram. Sebab, orang yang shalat tidak memerlukan sutrah mengingat riwayat dari Ibnu Az-Zubair –radhiyallahu ‘ahuma-, bahwasannya Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– shalat di Masjidil Haram tanpa menghadap sutrah padahal orang-orang thawaf (berlalu lalang)di depannya.

Dan diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– yang dapat menjadi argumen tentang masalah tersebut namun status sanadnya dha’if.

Juga karena Masjidil Haram merupakan tempat yang ramai ghalibnya dan tak mampu terhindar dari orang yang lewat di depan orang shalat. Oleh sebab itu, pensyariatan sutrah menjadi gugur karena alasan di atas. Masjid Nabawi dapat juga disamakan hukumnya pada waktu ramai. Demikian pula dengan tempat-tempat ramai sebagai bentuk pengamalan dari firman Allah -‘Azza wa Jalla-, “Bertaqwalah kalian pada Allah menurut kemampuan kalian.” (QS At-Taghabun: 16)

Sabda beliau –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Apabila aku memerintahkan kalian sesuatu, maka laksanakanlah semampu kalian.” Kevalidatisannya disepakati. Wallahu waliyyut taufiq.

Dijawab oleh: Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz dalam Tuhfah Al-Ikhwan hlm. 81-82.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s