Adab Makan dan Minum (1)


sendok-1

Seorang muslim melihat makan dan minum sebagai sesuatu yang menjadi wasilah pada sesuatu yang lain, bukan maksud ataupun tujuan. Oleh sebab itu ia hanya makan dan minum dengan tujuan menjaga kesehatan badannya yang dengan hal itu dapat memungkinkan beribadah kepada Allah ‘Azza wa Jalla yang dengan sebab ibadah itulah kemudian akan menjadi sebab tercapainya kampung kebahagiaan di akhirat, surga yang dipenuhi kenikmatan yang tak pernah terbetik sedikit pun dalam benak manusia, bukan sekedar memenuhi syahwatnya belaka. Dengan niat seperti di atas, maka makan tidak hanya memperoleh kepuasan perut, namun juga membuahkan pahala karena niat yang baik itu.

Maka seorang muslim tidaklah akan memenuhi kebutuhan perutnya kecuali jika memang lapar dan berhajat. Dalam sebuah riwayat dikatakan, “Kami adalah sekumpulan kaum yang tidak akan makan kecuali jika lapar, dan apabila kami makan, tidak sampai kenyang.”

Dari sinilah seyogyanya seorang muslim dalam melakukan aktifitas makan dan minumnya memperhatikan beberapa adab yang telah digariskan oleh syariat.

Adab Sebelum Makan

  1. Memastikan bahwa apa yang dikonsumsi benar-benar dari sesuatu yang halal, baik makanan dan minumannya itu sendiri maupun cara memperolehnya, tidak ternodai sedikit pun unsur keharaman ataupun syubhat.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman (QS Al-Baqarah: 172),

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.”

Bagaimana jika makanan atau minuman yang dikonsumsi tidak halal? Segala sesuatu yang masuk ke perut seseorang dari yang haram akan berdampak buruk dan akan mengundang bencana hebat, baik di dunia maupun di akhirat.

Makanan ataupun minuman yang haram yang dikonsumsi akan berdampak pada doa yang dipanjatkan. Rasulullah ﷺ pernah bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu thoyyib (baik). Allah tidak akan menerima sesuatu melainkan dari yang thoyyib (baik). Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang telah kami rezekikan kepadamu.’” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menceritakan tentang seorang laki-laki yang telah menempuh perjalanan jauh, sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dari yang haram, maka bagaimanakah Allah akan memperkenankan do’anya?” (HR. Muslim)

Di samping itu, Abu Bakar Ash-Shiddiq –radhiyallahu ‘anhu– pernah menyatakan demikian, “Siapa yang dagingnya tumbuh dari pekerjaan yang tidak halal, maka neraka pantas untuknya.” (HR. Ibnu Hibban)

  1. Dengan aktifitas makan dan minum itu diniatkan sebagai penguat tubuh agar lebih mampu menunaikan hak-hak Allah ‘Azza wa Jalla agar apa yang menjadi aktifitas makan dan minum itu memperoleh pahala. Sebab, perkara yang mubah itu dapat berubah berpahala jika niatnya baik.
  2. Mencuci tangan jika diyakini ada kotoran atau belum pasti kebersihannya,
  3. Meletakkan makanannya pada suatu tempat di atas bumi, bukan di atas meja makan karena hal tersebut lebih dekat pada sikap ketawadhuan.

Anas bin Malik –radhiyallahu ‘anhu– pernah mengatakan, “Rasulullah ﷺ sama sekali tidak pernah di atas khawan dan sukrajah.” (HR At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

  1. Duduk dengan tawadhu’, yaitu dengan mendudukki kaki kiri dan melipat kaki kanan menopang perut.

Rasulullah ﷺ pernah bersabda,

ما آكل متكئا ، إنما أنا عبد آكل كما يأكل العبد أجلس كما يجلس العبد

 

“Aku tidak pernah makan sembari bersandar. Aku hanyalah seorang hamba. Aku makan sebagaimana hamba makan dan duduk sebagaimana hamba duduk.” (HR Al-Bukhari)

Imam An-Nawawi berkata,

“Al-Khaththabi berkata, ‘Muttaki’ di sini adalah duduk bersandar pada alas duduk (empuk) yang ada di bawahnya. Beliau berkata, Maksud beliau, beliau tidak duduk di atas alas empuk atau bantal-bantal seperti orang yang hendak makan banyak. Akan tetapi beliau duduk di atas satu kaki, sementara kaki yang lain ditegakkan (seperti orang hendak berdiri), tidak duduk dengan mantapnya (semisal bersila), dan beliau makan secukupnya. Demikian keterangan dari Al-Khaththabi. Sementara selain Al-Khaththabi ada yang menjelaskan bahwa muttaki’ adalah duduk condong pada lambungnya.”

  1. Merasa ridha dan cukup dengan makanan yang ada dan tidak memaki atau mencelanya. Jika suka, dimakan, namun jika tidak, tidanggalkan saja tanpa mencela.

Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu– berkata,

ما عاب رسول الله ﷺ طعاما قط ، إن اشتهاه أكله و إن كرهه ترك

“Rasulullah ﷺ tidak pernah mencela makanan sama sekali. Jika beliau suka, beliau makan, dan jika tidak suka, beliau tinggalkan.” (HR Abu Dawud)

  1. Boleh minum dari semua bejana suci selain emas dan perak, boleh minum dari sungai dan lainnya langsung dengan mulut.

Hudzifah –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguhnya Nabi ﷺ melarang kami dari (menggunakan) sutera, pakaian yang bercampur sutera, minum dengan bejana emas dan perak. Beliau bersabda, “Benda-benda itu untuk mereka (orang-orang kafir) di dunia dan untuk kalian di akhirat.” (HR Al-Bukhari-Muslim)

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Orang yang minum dengan bejana perkak hanya akan mengobarkan api neraka Jahannam dalam perutnya.” (HR Al-Bukhari-Muslim)

Menurut riwayat Muslim, “Sesungguhnya orang yang makan atau minum dengan perak dan emas.”

Dalam riwayatnya yang lain disebutkan, “Siapa yang minum dari bejana yang terbuat dari emas atau perak, maka ia hanya mengobarkan api neraka Jahannam dalam perutnya.”

  1. Makan berjamaah, entah bersama tamu, isteri, anak, kawan, pembantu, atau lainnya.

Rasulullah ﷺ bersabda,

اجتمعوا على طعامكم و اذكروا اسم الله يبارك لكم فيه

“Berkumpullah pada makanan kalian dan sebutlah nama Allah, niscaya Allah akan memberkahi makanan kalian.”  (HR Imam Ahmad dan Ibnu Majah)

Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Makanan satu orang cukup untuk dua orang, makanan dua orang cukup empat orang, dan makanan empat orang cukup untuk delapan orang.” (HR Muslim)

Wallahua’lam.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s