Mengenal Lebih Dekat Sosok Imam Al-Bukhârî dan Kitab Shahîhnya


Shahih Bukhari

Sosok Imam Al-Bukhari adalah sosok yang melegenda. Jasanya kepada kaum muslimin tidak diragukan lagi. Namanya disebut-sebut di seluruh seantero dunia, dari sejak ia lahir hingga detik ini dan bahkan hingga masa depan. Seakan-akan sosoknya masih hidup dan sosoknya berada di tengah kaum muslimin, meski sebenarnya beliau telah wafat ratusantahun silam.

Bagaimana tidak? Buku yang ditulisnya, Shahih Al-Bukhari, merupakan buku paling ountentik yang pernah ditulis manusia. Bukunya menjadi rujukan seluruh kaum muslimin dan lainnya tanpa terkecuali. Namun sayangnya tidak sedikit di antara kaum muslimin yang belum mengetahui sosok Imam Al-Bukhari kecuali baru sebatas namanya saja. Oleh karena itu berikut kami tuliskan seklumit sosok Imam Al-Bukhari. Tulisan ini kami sadur dari kitab Mâ Tamass Ilaih Hâjah Al-Qârî li Shahîh Al-Imâm Al-Bukhârî karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi –rahmatullah ‘alaih– yang ditahqiq oleh Syaikh ‘Ali bin Hasan bin ‘Ali bin ‘Abdul Hamid Al-Halabi Al-Atsari, cet. Darul Kutub Al-Ilmiyyah.

Perlu diketahui, bahwa tulisan ini kami nukilkan tidak secara keseluruhan. Terkadang catatan kaki pentahqiq kami hialangkan, namun hanya sedikit.

Bagian 1 : Seklumit Sosok Imam Al-Bukhari

Beliau bernama Abu ‘Abdullah Muhammad Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al-Mughirah (atau Al-Mighirah) bin Bardizbah.

Al-Imam Al-Hafizh Abu Bakar Ahmad bin ‘Ali bin Tsabit Al-Khathib Al-Baghdadi berkata, “Ibn Bardizbah adalah seorang penganut agama Majusi dan mati dalam keadaan seperti itu.” Beliau berkata, “Dan puteranya, Al-Mughirah, memeluk Islam di tangan Yaman Al-Bukhari Al-Ju’fi, wali Bukhara. Sedangkan Yaman ini adalah Abu Jadd ‘Abdullah bin Muhammad bin Ja’far bin Yaman Al-Musnadi, gurunya Al-Bukhari. Al-Bukhari dikatakan Al-Ju’fi karena beliau maulanya Yaman Al-Ju’fi.”

Al-Bukhari –rahmatullah ‘alaih– berkata, “Bagiku antara pemuji dan pencela sama saja.” [Târîkh Baghdâd (II/30)]

Beliau juga berkata, “Kuharap, aku bertemu Allah Ta’ala dan Dia tidak menuntutku karena aku menggunjing seorang pun.” [Thabaqât Al-Hanâbilah (I/276)]

An-Nawawi berkata, telah sampai riwayat padaku dari Al-Farbawi, beliau berkata, “Aku bermimpi melihat Abu ‘Abdullah Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari di belakang Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– sedangkan beliau tengah berjalan. Setiap kali beliau mengangkat kakinya, Al-Bukhari pun meletakkan kakinya di tempat itu.” [Târîkh Baghdâd (II/10)]

Dari Muhammad bin Hamdawih, katanya, aku mendengar Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari mengatakan, “Aku hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih.” [Târîkh Baghdâd (II/25)]

Imam Ahmad bin Hanbal –rahimahullah- berkata, “Khurasan tidak pernah mengeluarkan semacam Abu Zur’ah Ar-Razi, Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman As-Samarqandi Ad-Darimi, dan Al-Hasan bin Syuja’ Al-Balkhi.” [Riwayat-riwayat selanjutnya termaktub juga dalam Târîkh Baghdâd]

Al-Hafizh Abu ‘Ali Shalih bin Muhammad Jazarah berkata, “Tidak ada orang yang paling faham darinya.”

Beliau juga berkata, “Yang paling tahu masalah hadits di tengah mereka (penduduk Khurasan) adalah Al-Bukhari dan yang paling kuat hafalannya adalah Abu Zur’ah. Beliau paling banyak hafalan haditsnya.”

Muhammad bin Basysyar berkata ketika Al-Bukhari datang ke Bashrah, “Hari ini datang penghulu para pakar fiqih.”

Darinya beliau pula, ketika Al-Bukhari datang ke Bashrah beliau mendatanginya dan menggandeng tangannya dan merangkulnya seraya berujar, “Selamat datang kepada orang yang kubangga-banggakan sejak bertahun-tahun.”

Muhammad bin ‘Abdullah bin Numai dan Abu Bakar bin Abu Syaebah berkata, “Kami tidak pernah melihat orang semisal Al-Bukhari.”

‘Amr bin ‘Ali Al-Fallas berkata, “Hadits yang tidak diketahui Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, bukanlah hadits.”

‘Abdan bertutur, “Aku tidak tahu ada pemuda yang lebih ‘alim dari orang ini.” Beliau mengisyaratkan Al-Bukhari.

Ishaq bin Rahuyah berkata, “Wahai sekalian pakar hadits, tulislah (baca: belajarlah) dari pemuda ini. Karena seaindainya ia ada di zaman Al-Hasan Al-Bashri, tentu manusia bakal membutuhkannya, karena pengetahuan dan pemahamannya pada hadits.”

‘Abdullah bin Hammad Al-Amulli berkata, “Aku berangan-angan, aku sebagai rambut di dada Al-Bukhari.”

Dari Muhammad bin Ya’qub Al-Hafizh, dari ayahnya, ia mengatakan, “Aku melihat Muslim bin Al-Hajjaj di hadapan Al-Bukhari bertanya kepada layaknya bayi bertanya pada guru.”

Bagian 2 : Seklumit  Shahîh Al-Bukhârî

Kitab ini dinamai sendiri penulisnya, Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari, dengan Al-Jâmi’ Al-Musnad Ash-Shahîh Al-Mukhtashar min Umûr Rasûlillâh –shallallâhu ‘alaihi wa sallam- wa Sunanih wa Ayyâmih.

Adapun kedudukannya, maka para ulama telah mengatakan, bahwa ia merupakan kitab pertama kali yang hanya memuat hadits-hadits shahih saja.

Para ulama juga telah bersepakat, bahwa Shahih Al-Bukhari dan Shahih Muslim adalah kitab paling shahih yang pernah ditulis manusia. Dan mayoritas ulama berpendapat, bahwa Shahih Al-Bukhari yang lebih shahih dan paling banyak manfaatnya.

Al-Hafizh Abu ‘Ali An-Naesaburi mengatakan, guru Al-Hakim Abu ‘Abdullah, “Shahih Muslim lebih shahih.”

Sebagian ulama Maghrib (seperti Abu Muhammad bin Hazm dan Muslim bin Qasim Al-Qurthubi) mengamini pendapat beliau, dan sebagiannya lagi tidak senada. Namun yang benar, Shahih Al-Bukhari lebih shahih daripada Shahih Muslim. Imam Abu Bakar Al-Isma’ili telah menegaskan dalam Al-Madkhal, bahwa Shahi Al-Bukhari lebih kuat daripada Shahih Muslim dan beliau menyebutkan argumen-argumennya.

Imam Abu ‘Abdurrahman An-Nasa’i menuturkan, “Tidak ada buku yang paling baik, selain Shahih Al-Bukhari.”

Adapun sebab ditulisnya kitab ini, maka mari kita persilahkan Imam Al-Bukhari sendiri menjelaskannya. Beliau mengatakan, “Aku di sisi Ishaq bin Rahuyah –rahimahullah-, seketika ada sebagian rekan berkata, ‘Sekiranya Anda menghimpunkan satu kitab ringkas berisi hadits-hadits Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-.’ Maka ucapan itu pun terpatri dalam sanubariku. Hingga aku pun mulai menghimpun kitab ini.” [Lihat Târîkh Baghdâd (II/9), Tahdzîb Al-Kamâl (1169), dan Thabaqât As-Subkî (II/221)]

Imam An-Nawawi berkata, telah sampai riwayat kepada kami dari berbagai jalan, bahwa Al-Bukhari mengatakan, “Aku tulis kitab Ash-Shahih ini dalam rentang waktu 16 tahun. Kuriwayatkan dari 600.000 hadits dan kujadikannya sebagai hujjah antara diriku dan Allah ‘Azza wa Jalla.” [Thabaqât Al-Hanâbilah (I/276), Wafiyyât Al-A’yân (IV/190), dan Muqaddimah Fathul Bârî (490)]

Imam An-Nawawi juga menuturkan, telah sampai riwayat kepada kami darinya (Imam Al-Bukhari). Beliau menuturkan, “Aku bermimpi melihat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Seakan-akan aku berdiri di hadapan beliau sedang di tanganku ada kipas yang kugunakan untuk membela beliau. Aku pun bertanya pada kalangan ahli tafsir mimpi tentang mimpiku. Mereka pun menjawab, ‘Engkau akan membela beliau dari kedustaan.’ Maka inilah yang mendorongku mengeluarkan kitab Shahih ini.” [Tahdzîb An-Nawawî (I/74) dan Hady As-Sârî (7)]

Al-Bukhari juga menuturkan, “Tidaklah kumasukkan dalam kitab Jami’ ini kecuali yang shahih saja, dan kutinggalkan banyak hadits shahih karena panjang.” Maksudnya supaya kitabnya tidak jadi besar. Sebab beliau memang memaksudkan ringkasan, bukan keseluruhan [Târîkh Baghdâd (II/9), Thabaqât Al-Hanâbilah (I/275), Tahdzîb Al-Kamâl (1169), dan Al-Manhal Ar-Rawiyy (I/123)]

Beliau juga mengenang, “Aku tidak pernah menuliskan satu hadits pun dalam kitab ini, kecuali aku mandi sebelum menulis dan kukerjakan shalat dua rakaat.”  [Târikh Baghdâd (II/9) dan Wafiyyât Al-A’yân (IV/190)]

Shalat apakah ini? Berikut penjelasannya.

‘Umar bin Muhammad bin Yahya mengatakan, aku mendengar Imam Abu ‘Abdullah Al-Bukhari berkata, “Aku menulis kitab Al-Jami’ di Masjidil Haram. Tidaklah kumasukkan satu hadits pun kecuali setelah aku  beristikharah pada Allah Ta’ala dan kukerjakan shalat dua rakaat dan aku yakin akan keshahihannya.”

Imam Abu Zakaria Yahya bin Syaraf An-Nawawi menceritakan, bahwa telah sampai kepada kami imam pakar fiqih yang shalih Abu Zaid Muhammad bin Ahmad bin ‘Abdullah bin Muhammad Al-Marwazi –rahimahullah-, bahwasannya beliau menuturkan, “Aku bermimpi melihat Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Beliau bersabda padaku, ‘Umatku benar-benar mempelajari fiqih namun tidak mempelajari kitabku.’ Kutanyakan pada beliau, ‘Wahai Rasulullah, apakah kitab engkau itu?’ Jawab beliau, ‘Jami’ (Shahîh) Muhammad bin Isma’il Al-Bukhari.’” Atau sebagaimana yang beliau ceritakan. [Siyar A’lâm An-Nubalâ’ (XII/438)]

Allahu a’lam wa ahkam.

Semoga shalawat beriringan salam tetap tercurahkan kepada baginda Nabi Muhammad, keluarga, para shahabat, dan seluruh pengikutnya.

Pondok Gede, Ahad 16 Maret 2014

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s